
Di tengah kesinisannya menanggapi kedua pria itu, Hartadi menerima kartu beserta struk yang diangsurkan kasir sambil menahan gondok.
Paling menguji kesabarannya adalah saat pria berkemeja putih menertawai ucapan sendiri. Seakan yang keluar dari mulut pria itu merupakan lelucon sepele. Yang sebetulnya tidak, sebab serangkum kalimat tadi terkesan melecehkan Velo.
“Lo nawarin gue, Nyet. Terus sekarang ngarep gue ijinin samper dia duluan? Mana bisa!” sembur pria itu terpancing oleh mulut temannya.
“Muka lo ogah-ogahan! Nyari lewat dating app setengah hati, gue bantu kenalan sama cewek-cewek di kantor juga males, terus sekarang nemu yang narik hati lo kok maju mundur? Mau lo apa?!” si kemeja putih balik mencaci bertepatan saat Hartadi melintas untuk kembali ke mejanya.
Kini rasanya Hartadi tengah mempermainkan anak-anak kecil. Mereka saling meributkan siapa yang berhak menghampiri Velo, bahkan salah satunya tau bila Velo awalnya tidak sendiri.
Tapi, cerobohnya tidak mampu mengenali wajah pria yang sebelumnya bersama perempuan incaran mereka. Mereka hanya menancapkan atensi pada Velo, berbekal asumsi perempuan itu bebas untuk di dekati.
Hartadi lantas mengabaikan mereka ketika tiba di mejanya, lalu memposisikan diri untuk membenahi duduk Velo. Terutama menahan kepala Velo yang terkulai ke belakang, sebab sofa memanjang Noru tidak memiliki sandaran punggung yang tinggi. Kemudian dia menurunkan scraf Velo yang melorot, sehingga bahu perempuan itu tidak terlihat lagi.
“Jangan senyum-senyum kamu. Kita pulang sekarang.” Hartadi memasukkan handphone Velo ke dalam tas.
Jari telunjuknya sempat menjawil hidung perempuan itu. Kesal mendapati bibir Velo menyajikan senyuman lebar, seakan senang membuat dia repot. Walau Velo tampak cantik berpadu dengan pipi yang memerah alami.
“Phu...” Velo mengerucutkan bibir berusaha mengulangi perkataan Hartadi. Jemarinya menyapu helai rambut yang menempel ke pipi. Pulang? Aku sama khamuuu??”
“Iyalah. Kamu mau pulang sama siapa? Pulang dianter bocah kayak mereka? Nggak bakal kukasih,” ketus Hartadi seraya menyugar rambut ketika menegapkan punggung.
Dia sendiri jadi meracau tidak jelas. Membasahi bibir selagi memutar pandangan ke sekitar, dia sedang mencari waiter yang sekiranya dapat membawakan kruk Velo sampai tempat parkir.
Velo mengerjap payah demi mengurangi buram yang semakin pekat tiap kali memandang sesuatu.
Energinya seperti terampas, tapi adrenalin dalam dirinya terpompa untuk terus bicara dibandingkan diam. Dia sudah tidak tau apa yang mulutnya keluarkan.
“Phulangnya kemanaaahh?? Ke rumah kamuuuhhh... atau ke rumahkuuhhh??”
”Ke kamarku.” Sekalian saja Hartadi lampaui garis kewarasan. Alisnya menyatu kala Velo mengikik senang atas jawaban melencengnya.
Dia maklumi, namanya juga orang mabuk. Kemudian, dia palingkan wajah ke sisi kanan saat seorang waitress melewatinya bersama nampan kosong. “Mbak, bisa minta tolong?”
“Iya, Pak?” ucap Waitress itu sambil menyunggingkan senyum ramah.
__ADS_1
“Saya mau turun, tapi... ehmm... istri saya kan mulai rewel, mau digendong aja biar cepet. Mbaknya bisa bantu bawain kruk is—hm, istri saya sampai parkiran?” Hartadi tidak biasa mengucapkan label palsu itu, alhasil ucapannya sering terjeda.
Ada yang tiba-tiba membebani pinggangnya. Perlahan Hartadi menunduk, dia mendapati sepasang lengan membelit pinggangnya dari samping. Velo memeluknya yang tengah berdiri, sementara perempuan itu duduk sembari menyandarkan setengah wajah ke sisi pinggangnya.
Hartadi terdiam, tidak memprotes ataupun cepat-cepat membebaskan diri.
Hartadi mengambil sikap tenang. Memisahkan kedua tangan Velo dan menurunkannya dengan pelan, biarpun tenaga perempuan itu nyatanya cukup kuat untuk bertahan. Dia kira akan mudah membuat Velo lepas.
Bibirnya baru saja mengulum sabar, namun Velo mengibarkan tanda-tanda keributan. Dia yang tadinya ingin membelakangi, harus dihadapkan pada rengekan Velo yang tidak biasa.
“Ish... berani-beraninya ngobrol sama chewek lainnn! Mas Hartadiiiii, kamuuuhh selingkuuhhh!!! Kamuuuuh... nggak sayang akuuh!!” Velo membentak-bentak diiringi mata yang menyipit benci.
Kedua tangannya terus dihempaskan keatas paha, amat kasar hingga menimbulkan suara telapak tangan yang beradu dengan kulit berlapis katun celana.
“Velo,” tegur Hartadi yang seketika menarik tangan perempuan itu agar tidak menyakiti diri sendiri. “Udah, kamu apa-apaan sih?”
“Kamu apa-apaan sih?” desis Velo membeokan Hartadi dengan mimik menyebalkan.
Namun tidak melawan lebih keras, sebab berat yang bagaikan menekan puncak kepala hingga tengkuknya membuat dia meringis tidak betah.
Telapak tangan Velo membekas kemerahan ketika Hartadi mengusapnya untuk mengurangi perih. Dengan begini, dia tidak bisa berlama-lama. Maka itu, dia segera menahan tangan Velo di saat menanyakan kembali kesediaan waitress yang berdiri kikuk tersebut.
“Saya bisa bantu, Pak.” Waitress itu kemudian memohon ijin sebelum mengambil kruk Velo.
Melambai pada seseorang yang ada di depan bar, waitress itu mengoper nampan ke tangan waiter lain yang datang mendekati meja Hartadi dan Velo. Sekaligus memberi informasi bahwa dirinya akan membantu tamu sampai tempat parkir.
Meloloskan tali tas Velo hingga tersemat di atas bahu, Hartadi tidak mengukur kepantasan lagi demi mengangkut Velo dari lounge ini secepat mungkin. Dia menggiring tangan Velo mengalungi lehernya seraya membungkuk, bersiap mengangkat perempuan itu ke dalam gendongannya.
“Besok-besok jangan harap aku bolehin minum lagi. Awas aja sampai ada yang berani ngajak kamu minum tanpa bilang aku.”
“Hmmm, nyaman banget. Di surga ya?” Velo membisik rendah bernada sensual.
Kepala Velo yang sejajar dengan leher Hartadi terangkat. Merangsek kian dekat, Velo bersandar nyaman meskipun satu tangannya yang mengalung mulai menjajah ke mana-mana.
“Nikah yuk? Kamu laki-laki kann?”
__ADS_1
Hartadi belum merespons, karena berkonsentrasi memindai meja dan sofa yang mereka huni sejak petang.
Siapa tau ada barang yang luput dari matanya, lalu berakhir tertinggal. Amat jeli Hartadi perhatikan, tidak ada barang mereka di sana selain sisa-sisa makanan dan minuman.
Berganti sikap, wajah Velo pun tidak menekuk bengis seperti tadi ketika menuduh Hartadi berselingkuh.
Adrenalin yang masih membuncah tanpa bisa dikuasai, memainkan sesuatu dalam diri Velo.
Meski tenaganya seakan-akan tidak berhenti dikuras, dia enggan membuat tangannya berlaku sopan. Hidungnya mengendus kulit seseorang diikuti tarikan napas berat yang bukan miliknya.
“Pengennn. Boleh?” Velo mengakungkan tangan malas-malasan pada pria yang kini mendekapnya.
Kelopak mata Velo meredup pelan menampakkan bulu-bulu mata lentiknya. Dia tau gelitik rasa asing dan rasa kantuk yang saling berebut ingin menguasainya. Karena itu, dia mendesah untuk mewakili kebingungannya.
“Pengen apa?!” Hartadi bertanya galak dengan urat mengetat. ******* dan keberanian Velo saat ini ingin sekali dia akhiri.
“Kamu lebih baik diem ya, Vel? Mas minta kamu diem. Oke?”
“Sun dulu baru diem, Maskuuuu,” sahut Velo mengarahkan telunjuknya pada bibir.
Selepas menyantap makanan dan meneguk minuman, warna lipstik Velo memang memudar. Namun, bibir Velo tetaplah mengikis kemantapan Hartadi untuk berfikir lurus.
Bagaimana pun, alkohol sedang mengendap dalam tubuh Hartadi. Biarpun dia tidak mabuk dan sudah mengesampingkan rasa yang di sebut hasrat, tetapi bila terus digoda akan membahayakan pula.
Tidak sekedar naluri yang mendorongnya, alkohol memang dibuktikan meningkatkan gairah bercinta.
Shitttt, Hartadi baru saja menggunakan kata ‘bercinta’.
Hartadi sekejap memalingkan wajah ke kiri dan ke kanan guna memastikan mereka tidak meraup perhatian, karena ucapan ambigu Velo yang sedikit lantang.
Lalu, keningnya mengernyit tatkala sadar keberadaan mereka di sebuah lounge dengan beragam manusia yang tidak sungkan menampilkan jati diri.
Jadi, untuk apa dia sibuk menjaga citra?
*****
__ADS_1
Hadeuuuhhh Vel Vel... mabok segala, pake mancing2 Mas Har lagi...
gimana nih reaksi Mas Har nanti???