Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Ledakan Di Samarinda


__ADS_3

Adiputra mengusap lembut kepala putrinya. Matanya terpaku pada kedua kaki Velo. Sekian detik dia berbinar puas, namun sekejap mata berganti pendar simpati.


“Loh, berarti fraktur kamu masih perlu penanganan. Kamu bisa ngerasa baik-baik aja, tapi belum tentu tubuh kamu benar siap. Bisa makin parah retak di tulang kaki kamu kalau sejak awal udah kurang ditanganin.”


“Aku yang punya badan, Pih. Aku paling tau kondisi aku sendiri, dibandingkan dokter yang meriksa aku di sini. Kaki aku emang belum bisa dipakai jalan, tapi aku sehat dan bisa ngerjain aktifitas seperti biasa.” Velo menekankan dengan getir. Dia tidak menjauhi sentuhan Adiputra, dibiarkannya saja pria itu menjatuhi usapan pada rambutnya. Sementara dia menanggung sendiri hatinya yang remuk redam.


Kelopak mata Velo meredup sedih jika diingatkan kembali siapa yang mengirimnya ke rumah sakit. Meskipun tidak Velo ungkapkan, dia mengenal kekecewaan yang sekarang tertimbun sesak dalam hati. Dia tidak ingin membeci ayah sambungnya. Dia tidak ingin menyimpan kebencian pada ayah dari adik-adiknya. Batinnya pun tidak letih bertanya, mengapa? Mengapa harus dia yang mengalami ini?


Kenangan semasa kecil Velo bersama sang Ayah tiri tentu saja berharga. Air mata kerinduannya mampu menitik tiap kali kenangan-kenangan itu terputar dalam kepala. Ayah kandungnya tidak sempat mendatangi sekolahnya, sekalipun tidak sempat menatapnya penuh kebanggaan atas prestasi. Tapi, Adiputra melakukan semua untuknya. Wajar jika dirinya begitu patah, ketika figure ayah untuknya itu bahkan tega mencelakai.


“Vel, kamu kok nggak pengen banget ditangani sakitnya sampai tuntas? Nggak betah di rumah sakit?” Adiputra menegur putrinya melalui intonasi rendah. Terdengar seolah tabah menghadapi anak perempuan yang mulai keras kepala dan sulit diberi nasehat.


Sesungguhnya Adiputra tau magsud di balik perkataan ‘sehat dan baik-baik saja’ yang terus diulang Velo. Perempuan itu ingin membuktikan jika ancamannya tidak mempengaruhi apapun. Meskipun kaki Velo dibuat tidak berdaya untuk sementara, kebebasan masih tergenggam tanpa goyah. Baik, dia akan ikuti alurnya.


Dan dengan mulus, Adiputra mengambil kesempatan sambil mengikutsertakan istrinya. Menatap sang istri sangat serius, Adiputra meminta persetujuan perempuan itu untuk memulangkan Velo.


“As, apa nggak sebaiknya kita bawa pulang Velo dan rawat jalan di rumah? Kebetulan keluarga Mas punya kenalan dokter orthopedic. Mas bisa atur jadwal kunjungannya ke rumah.”


Wajah Asri cerah bukan main. Perempuan itu lekas mendekati sang suami. Berdiri di sebelah ayah dari anak-anaknya, Asri mengaitkan tangannya ke lengan pria itu memberikan dukungan penuh.

__ADS_1


“Aku setuju, Mas. Dokter orthopedic yang kamu bilang ini dokter Yuliana kan? Yang nanganin patah tulangnya Bapak waktu kecelakaan di Klaten? Aku yakin dia bisa bantu proses penyembuhan Velo.”


“Iya, dokter Yuliana yang itu.” Adiputra membenarkan. Makin semangatlah istrinya ketika dia melempar barisan informasi lain. “Hari ini secepatnya aku hubungin dokter Yuliana supaya jadwal kunjungan Velo disepakati. Dokter Yuliana cukup banyak jadwal praktek, karena dia praktek di rumah sakit dan klinik pribadinya. Tapi, dokter Yuliana orang yang tepat untuk kesembuhan fraktur Velo.”


Pandangan Adiputra berlabuh di wajah Velo yang cantik. Tak punya belas kasihan, dia abaikan kedua mata perempuan itu yang menyimpan amarah dan pilu bersamaan.


“Itu pun kalau Velo setuju rawat jalan. Papih nggak mau maksain kemauan Papih dan Mamih. Kamu mau rawat jalan di rumah dengan support dokter Yuliana, Papih akan usahain. Mau tetap di rumah sakit ini bareng Masmu, ya Papih bisa apa?”


Velo menatap kedua orangtuanya bergantian, rasa bimbang menderanya. Dia hanya dapat termanggu memikirkan pilihan. Andaikan rumahnya tidak dihunni oleh seseorang yang menyayanginya dengan salah, Velo pasti menyambut ajakan pulang ke rumah dengan sukacita.


“Dirawat jalan aja ya, Vel?” Asri melepas kaitannya dari lengan suaminya. Dia beranjak duduk di pinggir ranjang Velo. Memandang putrinya dari dekat, Asri membelai ringan pipi Velo seraya meminta langsung kesediaan perempuan itu. “Kalau kamu di rumah, mamih bener-bener tenang. Setiap hari Mamih bisa sama kamu dan Menuhin keperluan kamu sampai sembuh.”


Adiputra menatap lurus penuh perhitungan kepada pria yang sukses membubarkan orang-orang suruhannya di rumah sakit. Satu dua kali Hartadi mengusiknya sok serba bisa. Membuatnya memupuk kesal, karena gagal menjalankan sekian rencana. Dari tampang tenang adik bungsunya yang tidak terbaca, Hartadi mungkin sudah tau kisahnya dan Velo. Namun, fakta tersebut tidak lantas membuatnya menjadi mimpi buruk.


“Gimana, Vel? Kamu mau di rumah?” Asri bertanya kembali diakhiri senyuman kecil teruntuk putrinya yang masih terdiam.


Seakan satu-satunya yang dirinya miliki sebagai jalan keluar, Velo melarikan tatapannya pada Hartadi. Dia curahkan resah melalui caranya menatap pria itu.


****

__ADS_1


“Har, ada ledakan di Samarinda! Titik ledakannya di sekitar tangka nomor tiga. Gue dapet kabar kalau ledakan memang bukan skala besar, tapi tangki bagian luar kita jadi cacat. Coba lo telepon Bima, biar kita tau situasi terkininya!” Maestra menyerukan segelintir berita itu melalui telepon.


Meskipun terkejut akan berita itu, tidak lantas membekukan otak Hartadi. Lidahnya pun masih lancar membalas Maestra, langsung pada inti dan menghindari basa-basi di saat genting.


“Oke, gue hubungin Bima. Pastiin salah satu dari lo atau Haris bisa gue telepon lagi nanti.”


****, kebetulan macam apa ini?


Handphone masih bertengger di sisi telinga. Hartadi berdiri di sudut kamar rawat inap, pikirannya carut marut oleh segala kemungkinan. Melihat kakaknya dari posisi di mana dirinya berdiri, dia meletakkan curiga atas ledakan asing yang tiba-tiba terjadi di area tangka Royal WCS Samarinda. Belum pernah terjadi ledakan serupa berkat tingkat keamanan yang terkontrol baik. Ini pertama kali perusahaannya mengalami hal tersebut.


Perlu diingat bahwa Hartadi percaya siapa pun yang terlalu dibutakan nafsu dapat bertindak di luar akal sehat. Nafsu seksual maupun nafsu akan materi, kedua-duanya tetap berpotensi mencuci otak seseorang untuk berbuat nekat. Tad dapat dipungkiri, peristiwa ledakan Royal WCS Samarinda sangat bertepatan ketika Adiputra menjenguk Velo dan meramu percakapan hingga perempuan itu harus memutuskan bertahan di rumah sakit atau menempuh rawat jalan.


Menjauhkan handphone dari telinga setelah Maestra memutuskan sambungan, Hartadi lekas menelepon Bima.


“Bim, gimana kondisi tangki? Nggak ada kebocoran kan?”


“Bagian luar tangka mengalami kerusakan , Pak. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda kebocoran. Kalau penyebab ledakan udah kami dapatkan hasilnya, baru tim akan cek keseluruhan tangka. Beruntung nggak ada korban ledakan, Pak.” Jawab Bima dengan napas memburu menjelaskan, banyak juga suara di belakang Bima.


“Usut tuntas, Bim. Perketat keamanan sekitar. Siapa tau ada yang lalai mengikuti prosedur keamanan.” Ucap Hartadi sambil satu tangannya bertolak pinggang. “Lo kasih peringatan ke satpam untuk melarang orang lain masuk ke area kantor dan tangka selama pemeriksaan. Mau alasan keperluan dengan orang kantor atau janji audit, jangan ada yang masuk lagi. Semua area harus steril dan hanya tim lo aja yang di sana.”

__ADS_1


“Oke, Pak. Apa karyawan harus dipulangin juga? Lebih susah bikin area steril selama mereka masih stay di kantor. Jam makan siang nanti karyawan pasti keluar semua.” Bima memberikan masukan. Pembubaran karyawan dapat dilaksanakan, jika mendapat mandat langsung dari pemilik perusahaan.



__ADS_2