Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Merampas Calon Istri


__ADS_3


Hai-hai para readers ku yang setia sama Mas Har dan Velo, khusus untuk hari ini gw kasih bonus deh 2 episode...


biar kalian pada semangat kasih komen, Fav, juga like nya...


Happy Reading...


“Ck, pikir sekarang, mana bisa gue lempeng pas tau lo mau nikahin Velo? Jangan berharap deh Har…”


“Di rumah Resha, gue nggak dapet kesempatan buat nanya ini. Jadi, lo serius sama Velo? Komitmen kalian nggak sekedar kepentingan pribadi? I mean, alasan kalian memutuskan nikah bukan karena dikejar usia kan?” pendar jenaka dari Maestra pun berganti datar.


“Hah, selama lo kenal gue, hitung jumlah perempuan yang gue biarin satu meja bareng kita semua. Kalau lo udah berhasil hitung, gue yakin lo nggak bego menilai keseriusan gue sama Velo,” ucap gue nggak ngasih penjelasan spesifik, tapi cukup mengenai intinya.


Gue lalu berjalan mendekati Maestra untuk memberi tepukan ringan di bahunya sambil ngeluarin senyum devil gue. “Gue cabut duluan, ya? Mentang-mentang jomblo betah banget lo di kantor. Kelonin anak lo tuh!”


“Dih, belagu amat yang mau jadi manten. Hati-hati, Har. Godaan di saat niat baik udah digenggam tuh berat. Setan dimana-mana, bagusnya lo nempel terus ke Velo biar waras,” ucap maestra memberikan saran. “Sana gih jemput Dek Velo. Kasihan kalau kelamaan nunggu Masnya dateng.”


“Cih, Kampret!” belum sempat gue balas Maestra sudah ngacir ke ruangannya. Gue pun buru-buru berjalan ke arah lift untuk turun. Sebelumnya gue emang udah minta supir buat siap-siap di lobi utama.


Selama gue nunggu lift ke lantai bawah gue meriksa pesan whats’up dari Velo, dan tak ada satupun balasan dari Velo. Sepertinya Velo tidak menemukan kesempatan membalas pesannya, mungkin sedang berhati-hati di depan Adiputra. Untung saja dalam situasi tak terduga ini, Velo langsung berpikir menggunakan fitur live location.


Terkejar atau tidak, Velo harus gue susul dan mastiin kondisi perempuan itu aman, sebelum Mas Adi yang gue rasa gila itu melangkahi batas lagi untuk kedua kalinya antara seorang ayah dan anak.


“Cari jalan tikus dan salip-salip aja, Mar. saya pengen kamu ngegas malam ini.” Ucap gue saat gue berada di dalam mobil. “Kamu pasti hapal jalan tikus Jaksel kan?”


“Hapal dong, Pak,” jawabnya bersemangat menekan pedal gas mobil dan melaju kencang. Dan gue hanya terus fokus merhatiin titik dimana Velo sedang berada. “Tapi Pak, tujuan kita kemana kalau boleh tau? Misalnya Bapak sebut tempat, mungkin saya bisa lebih ngegas dari ini,” ucapnya sambil ngelirik gue dari rear-view mirror. Gue hanya menggeleng pelan melihat Mardi dari rear-view mirror.


“Belum tau. Diliat dari jalannya, saya pikir ke arah Kemang.”


Waktu nggak berhenti berputar, jalan-jalan besar disesaki kendaraan yang menerjang kemacetan agar cepat sampai rumah, lalu mengistirahatkan tubuh usai berkegiatan. Dan gue hanya menghela napas sambil melihat ke luar kaca jendela mobil, sambil pikiran gue kalut karena Velo masih belum ngasih kabar.

__ADS_1


Gue nggak peduli berapa lama perjalanan yang gue tempuh. Tiga puluh menit? Satu jam? Dua jam? Gue sendiri ragu buat jawabnya. Satu hal yang pasti, keberadaan Velo dalam mobil Mercedez Benz hitam yang berjarak tiga meter dari mobil gue.


“Mar, kamu nggak boleh lengah dari mobil hitam itu. Jarak satu meter lebih aman, jadi nggak usah mepet di belakang. Posisi kita sekarang udah bagus.” Ucap gue sambil memutar otak gue apa langkah selanjutnya.


“Siap Pak!” jawab Mardi sigap.


Gue pun mengikuti menulis kode keinginan Velo di pesan whats’up yang berupa kata ‘Halo’ yang artinya ‘benar’. Karena gue sendiri liat gumpalan tissue yang di buang oleh seseorang di dalam mobil yang tak lain pasti Velo.


Membuntuti kemana mobil di depan sana bergerak, mereka mulai memasuki kompleks di mana terdiri dari rumah-rumah megah yang dihargai miliaran. Dan, rumah asli Adiputra sekitar dua puluh menit dari sini.


Kalau memang pria itu membawa Velo ke salah satu rumah di kawasan elite ini, sudah pasti rumah rahasia Adiputra yang diinvestasikan entah untuk apa.


“Kita mau berenti dimana, Pak? Atau, mau berenti langsung di belakang mobil itu?” Mardi menunjuk mobil hitam yang berada di depan kita.


“Berhenti tepat di belakangnya Mar. Atau nggak, sekalian deh kamu senggol dikit bampernya, gores oke, pemyok lebih oke lagi.”


“Penyokin boleh Pak?” Mardi melotot kaget.


“saya mulai ya Pak, Bismillah saya nggak keenakan gas.” Ucap Mardi sambil menarik napas karena mungkin jantungnya hampir copot ketika gue suruh hal yang gila.


“Bisa nggak, Mar? Kalo nggak bisa kita tukeran posisi sekarang biar saya yang penyokin sendiri. Tapi, besok-besok kamu nggak usah kerja sama saya lagi!” ucap gue udah nggak sabar.


“Ampun Pak, iya saya penyokin sekarang.” Ucap Mardi tegas.


AUTHOR POV


Biarpun Mardi tidak sering berjumpa dengan anak bungsu Triawan Bratadikara tersebut, tapi selentingan kabar bagaimana karakter dan pencapaian Hartadi sudah sering dia dengar, jadi otomatis Mardi mengikuti keinginan Hartadi saja.


Lagipula tidak mungkin Hartadi menjebloskan mereka ke dalam masalah jika tidak percaya diri mengatasi konsekuensinya.


Duk…

__ADS_1


Hartadi bertepuk tangan atas keberanian Mardi mewakilinya. Bibirnya menipis penuh kepuasan dan adrenalin. Mercedez Benz kepunyaan Kakaknya pun sedikit maju dari yang seharusnya, itu berkat hantaman kecil dari bamper belakang.


Namun tidak cukup melukai orang-orang yang ada di dalam mobil tersebut. Ada Velo dan Adiputra, mengurangi permainan Hartadi yang sesungguhnya ingin lebih kasar. Kalau saja hanya Adiputra, mungkin mengukir luka di bagian pelipis pria itu tidak masalah.


“Pak Har… gawat!” ucap Mardi semakin mendekatkan tubuhnya ke jok saat seorang pria dari kursi depan mobil tersebut keluar dan kelihatan ingin mendamprat mereka.


“Kalem aja, ini udah bagian saya, bukan kamu lagi. Kamu cukup jadi saksi sopir sialan ini mati gaya ngeliat saya. Ekspresi sengaknya bener-bener minta dipecat.” Ucap Hartadi melihat tajam ke arah sopir Adiputra yang berdiri di sisi pengemudi, mengetuk kaca mobil sambil berkacak pinggang.


“Keluar!!” teriak sopir itu sambil masih menggedor kaca jendela berang.


Hartadi menurunkan kaca jendelanya pelan dan memanggil nama sopir itu dengan santai.


“Anto, kamu harusnya ngelus-ngelus mobil saya bukan menggedor-gedor kacanya! Berani kamu?”


“Mas Hartadi?!”


Anto mantan supir pribadi sang Ibu. Rupanya mengundurkan diri, karena mendapat gaji yang menggiurkan  sebagai sopir pribadi Adiputra. Hartadi sudah paham kenapa pria itu ada di dalam mobil kakaknya.


“Ck… Hebat kamu ya, jadi antek-antek Mas Adi!” Hartadi melakukan pandangan penuh cemooh pada sopir itu. “Hah, mukamu tadi itu udah kayak paling berkuasa. Saya sampai nggak ada apa-apanya dibanding kamu!”


“Maaf, Mas. Saya nggak tau kalau ini mobilnya Mas Har. Sekali saya bener-bener minta maaf. Saya bener-bener nggak tau. Mas Adi minta saya buat datengin mobil ini untuk meminta pertanggung jawabannya karena sudah nabrak!” jelas Anto menunduk takut, apalagi kalimat Hartadi sangat jelas mengibarkan bendera perang.


“Mas Adi lagi sama anak perempuannya kan? Velo?” Hartadi melemparkan pertanyaan yang mengubah wajah Anto menjadi seputih pualam, lalu menyuruh pria itu melakukan hal yang ‘ “Jemput Velo dan antarkan dia ke sini!”


Anto tergagap bingung dan ketakutan. “S- saya… nggak…”


“Nggak bisa? Ck, dikasih tugas kecil begini kamu nggak mampu? Makanya lain kali kamu nggak usah sok, Anto!” Hartadi tersenyum sinis atas respon klasik Anto. Pria itu jelas kesulitan menentukan posisi harus menurutinya atau Adiputra.


Sudah waktunya Hartadi menuntaskan kepentingannya di sini. Velo tidak boleh dibiarkan berdua dengan Adiputra, karena bisa saja kakaknya itu mencuri kesempatan selagi supirnya pergi. Hartadi harus merampas calon istrinya lebih cepat.


 

__ADS_1


__ADS_2