Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Kamu Nggak Perlu Saya Lagi Untuk Jadi 'Tong Sampahmu'


__ADS_3

“Ck, Ish… Ngapain sih, Pak? Bikin kaget!”


Lekas Velo menengadahkan tangan ke arah Hartadi, mengemis kembali benda pipih yang digenggam erat pria itu. Meskipun, dia sedikit bingung kenapa ekspresi Hartadi tampak keras.


“Balikin handphone saya, Pak. Dari kemaren nggak ngintipin  medsos saya nih… Oh iya, Bapak mau saya follow di instagram?”


“Sok sok an pake liat medsos emangnya kamu selebgram apa?!”


“Ck… Gini-gini followers saya banyak, Pak. Meskipun ga centang biru yang penting eksis, tiap kali saya update pasti banyak yang nge like.”


“Jujur kamu! Kemaren kamu di telepon atau di kirimin chat nggak bener kan?” ucapnya mulai serius tanpa melukis keramahan.


Velo memilih beringsut mundur sampai punggungnya bersandar penuh pada bantal, Velo berupaya sesantai mungkin seraya menarik tangannya yang semula terulur. Biarlah Hartadi menguasai handphonenya. Apalagi, sirat keseriusan pria itu tidak main-main.


“Pak, saya nggak terima pesan atau chat aneh-aneh kok. Buktinya saya masih santai mainin handphone.”


Hartadi menggeleng tidak percaya. Sikap santai yang Velo berikan padanya kini hanya sebentuk perisai. Dia sangat yakin ada sesuatu yang keliru.


“Kamu nggak mau pegang handphone ini dari kemaren. Sampai saya bawa ke mana-mana pun kamu nggak sadar. Baru tadi kamu gunain lagi. Udahlah Vel, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Ceritain ke saya ada apa?”


“Apa yang mau diceritain? Nggak ada.” ucap Velo sambil menghela napas singkat. Dia putar pandangannya ke layar televisi yang gelap. “Kemaren itu, saya emang nggak mau pegang hape. Emang murni mau istirahat kok, tangan saya males pegang apa-apa, badan kayak capek. Bapak tahu sendiri kerjaan saya kemaren Cuma tidur, bangun, tidur, bangun lagi.”

__ADS_1


“Banyak alasan kamu.” Ucap Hartadi menggeser kasar kursi di sampingnya menggunakan kaki sembari memasukan handphone Velo ke saku celananya. “Sekarang kamu susah jujur, ya?”


Tersenyum walaupun sulit, itu yang saat ini dilakukan Velo mendengar nada bicara Hartadi yang menghunusnya tajam. Matanya tidak lagi menerawang kosong. Sejenak Velo persiapan hati, lalu kembali bertukar tatap dengan pria yang sudah tentu enggan menarik diri, sebelum dia berkata jujur. Tapi, haruskah? Haruskah dia membebankan satu hal lagi ke pundak Hartadi?



Mulutnya terkunci rapat, sedangkan matanya tidak berpindah dari Hartadi. Velo benar-benar sadar kalau pria itu amat berjasa baginya sejak menginjak Jakarta. Hartadi tidak mengeluarkan keluhan berarti, seakan pria itu  menjalani atas sebuah keharusan. Dia menarik napas lebih dalam, ingin menyelaraskan hati yang gelisah memikirkan peranan Hartadi belakangan ini dalam kehidupannya.


Ada bagian dirinya yang semakin takut bergantung di tangan Hartadi. Maka itu, Velo memilah mana yang harus dia ceritakan dan mana yang sebaiknya dia simpan sendiri. Namun, ada pula bagian dirinya yang memberi pemakluman. Tidak salah jika dia bergantung pada Hartadi. Karena, bukankah itu bagian tujuannya ketika mengharapkan komitmen dengan pria itu? Agar dia terbebas, merasa tidak harus cemas terhadap apapun selagi Hartadi berada di kubunya.


Velo mendesis ketika bibirnya tersengat pedih. Dia tidak sadar sejak tadi telah menggigit bibir. Semakin terdiam, kata hatinya semakin merecoki tanpa ampun dan mencetak resah. Hatinya membidik sisi logikanya, bahwa wajar saja Hartadi turut mengetahui ancaman ayah tirinya. Adiputra sudah berlalu terlalu jauh dan menempatkan dirinya seperti tawanan tanpa rantai.


Sungguh. Mengedepankan diri sendiri tidak selalu menyenangkan buatnya.


“Kamu bisa datengin saya jauh-jauh ke Kalimantan, tumpahin semua masalah kamu ke saya. Kenapa kali ini nyimpen sendiri? Kamu nggak perlu saya lagi untuk jadi tong sampahmu?” Hartadi menyugar rambut demi menahan emosi. “Saya nggak bisa baca pikiran kamu, Vel. Kamu ngeliatin saya doing, tapi nggak ngomong apa-apa. Gimana saya bisa ngerti?”


Memerhatikan kekesalan yang bertumpuk dari wajah Hartadi, Velo ingin berkompromi dengan dirinya untuk tidak lagi menutupi kebenaran. Tetapi, keraguan masih mengganjal hati sehingga mulutnya enggan memulai kata-kata yang tepat.


“Kenapa ngomongnya gitu sih, Pak?” gumam Velo pada akhirnya, merujuk pada sindiran Hartadi mengenai ‘tong sampah’.


“Ya, kasih tau saya ada apa?” Hartadi menuntut tidak sabar. “Saya nggak sembarangan bilang ada yang ngirimin kamu macem-macem Cuma berdasarkan firasat nggak tentu. Saya punya benang merahnya, Vel. Lagian saya udah cukup nahan diri untuk nggak bahas ini kemarin. Perhitungan saya ada di kondisi kamu. Nggak ngotak kalo kemaren saya maksain kamu ngomong.”

__ADS_1


Velo melebarkan mata. Seketika telapak tangannya dingin. Punggungnya pun tidak senyaman saat pertama kali dia bersandar. Karena itu, Velo mengganti posisi duduknya menjadi tegap.


“B- benang merah? Magsudnya?”


“Gini, Vel…” ucap Hartadi melunakan suaranya, dia perlu mengurai suasana tegang yang membebat mereka jika dia ingin mendapatkan kejujuran Velo. “Waktu saya kemaren nunggu di luar kamar, ada telepon masuk ke handphone kamu. Nomornya nggak kamu simpen. Tapi, tetep saya angkat. Setelah dengar suara saya, telepon itu langsung di matiin. Masih masuk akal kan saya Tarik benang merah antara telepon itu dan kecelakaan kamu?”


“Karena sebeum kamu kecelakaan di depan restoran, saya tau ada yang kamu tutupin. Kamu bisa cerita ke saya, tapi kamu milih nggak ngelakuin itu. Saya juga nggak bisa ngulik lebih banyak, karena kamu harus balik ke kantor,” jelas Hartadi berprasangka kakak keduanya telah melakukan suatu hal buruk di waktu tersebut.


Hartadi terdiam cukup lama. Dia singkirkan gengsi, kemudian terbuka kalau dirinya memikirkan Velo dan berkata, “Sikap pura-pura saya nggak ngenalin kamu di restoran itu, karena orang-orang suruhan Papihmu ngikutin saya lagi. Saya nggak mau mereka lapor yang negatif tentang kamu, apalagi kamu makan siang bareng laki-laki lain. Mas Adi bisa aja nggak seneng dan tanpa piker panjang ngerencanain sesuatu. Dan terbukti, ternyata firasat saya bener kan?!”


“Pak, udah. Saya paham. Saya minta maaf nggak bilang apa-apa sama Bapak…” ucap Velo sambil meremas selimut. Hatinya nyeri, kenapa Hartadi bisa memikirkan sampai ke sana? Sementara, dia begitu sombong menyangkal dan menampung masalahnya seorang diri.


Hartadi tidak menuruti Velo, pincingannya kian tajam. Jangan sebut dia kejam, namun beginilah caranya membuat seseorang bicara.


“Di depan mata saya, kamu dicelakakan mereka. Orang-orang itu jelas ngincer kamu. Sampai kamu terbaring di sini dan nggak bisa jalan, masih mau nutup-nutupin?”


“Saya nggak bakal nyudutin kamu buat speak up ke keluarga kita, kalaupun emang bener Mas Adi yang bikin kamu berakhir di sini.” Ucap Hartadi dengan telak. “Saya nggak tau bentuk telepon atau pesan yang kamu dapet. Tapi, saya punya asumsi Mas Adi udah peringatin kamu sebelum orang-orang itu buat celaka. Iya kan?”


“Hah… Saya bukan nutupin tanpa tujuan. Intinya, saya pasti ngebebanin Bapak lagi kalo berani-beraninya cerita. Maafin saya, Pak.” Ucap Velo serak sambil menggapai kedua bahu Hartadi.


__ADS_1


__ADS_2