Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Dandy bukan laki-laki yang tepat buat Velo dan sebaliknya.


__ADS_3

Beberapa detik melonggarkan belitan lidah, Hartadi tak kuasa. Dia tarik lagi kepala Velo mendekat. Hartadi dalami bibir ranum Velo hingga puas sambil mempertemukan pusat tubuh mereka dari luar pakaian, alhasil erangan Velo lolos berikut geramannya sendiri.


Hartadi pun agak terengah dipengaruhi situasi tarik menarik antara dirinya dan batasan yang digariskan. Kali ini Hartadi menaruh ciuman tepat diatas pinggang Velo yang terlihat, membekas hangat pada bibirnya saat dia menjauh.


“Jangan lupa tidur.”


“Bakal susah tidur sih kayaknya,” jujur Velo sambil mengatur napas walau hati tidak berhenti berdebar, tapi dia rapihkan kaosnya sekali lagi dan mengangkat tubuhnya untuk duduk. “Hati-hati keluar dari kamar, Eyang kalo susah tidur suka duduk di depan TV.


“Saya paling beralasan dari balkon,” Hartadi tidak beranjak dari tempat dia berdiri. “Besok pagi saya anterin kamu ke kantor. Siangnya Mardi yang antar mobil kamu.”


“Makasih.” Ucap Velo turun dari ranjangnya. “Nanti saya kasih tips sopir Bapak. Dia bisa bela diri ga sih? Orangnya keliatan asik buat dijadiin sopir saya, jadi minat buat di tikung, nih!”


“Dia nggak bisa bela diri. Di suruh nabrak mobil Mas Adi aja udah ketakutan. Gimana ngelindungin kamu kalau ada apa-apa?” ucap Hartadi sengaja mengalihkan pandangannya ke penjuru kamar, daripada matanya tertuju ke arah kaki Velo.


“Yah, sayang banget!” ucap Velo lalu melangkah ke kamar mandi, namun sejenak melirik  Hartadi yang masih berdiam diri. “Bapak nggak jadi keluar?”


“Saya mau tidur bareng kamu.” Ucap Hartadi datar, menggunakan segala kesempatan yang ada untuk mengetes ‘Calon Istrinya’. Setelah itu, barulah dia keuar dari kamar yang menyesakkan itu dan mendinginkan kepala.


“Punya kamar sendiri kenapa milih disini? Jangan sampe pagi-pagi pas Eyang Putri buka pintu kamar ngeliat kita tidur sebelahan di atas kasur. Yang ada geger satu kompleks karena jeritan Eyang Putri.”


“Kalaupun iya saya tidur satu kamar sama kamu, nggak mungkinlah saya ngebiarin kebablasan sampai pagi dan kepergok Ibu. Saya pastinya cabut lebih dulu sebelum Ibu bangun.”

__ADS_1


“Mmhhhhmmm…. Speaking like a pro.” ucap Velo sarkas. “Berarti kemungkinan dulu temen-temen tidur Bapak selalu ditinggal sebeluk matahari terbit? Duh, kasian banget.” Ucap Velo sambil tersenyum jail kearah Hartadi.


***


“Nak, kamu mau Eyang kenalin lagi? Dandy memang kurang siap buat kamu, Vel. Waktu itu dia baru dikasih tanggung jawab besar oleh Kakeknya, lagi sibuk dioper pekerjaan untuk naik jabatan.” Ucap Wening sambil menuangkan teh dari teko porselen putih.


“Dandy bukan laki-laki yang tepat buat Velo dan sebaliknya, Eyang. Dandy laki-laki yang baik dan nyenengin, Velo nggak nyesel kok pernah punya hubungan sama dia.” Ucap Velo sesantai mungkin, tidak mencampurkan keaslian hatinya yang dilanda resah akibat intensnya tatapan seseorang.


“Kalian putus secara baik-baik kan?” ucap Wening sambil menyajikan sepiring nasi beserta temannya untuk sang buah hati yang sedang duduk di samping suaminya. Sementara Velo hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan sang Nenek.


“Kita putusnya pakai komproni kok dan saling sepakat. Nggak ada berantem-berantemnya. Dandy kalem banget kalau dikonfrontasi.”


Bukan ‘Kalem’ dalam artian sebenarnya hanya saja Velo sedang memperlembut kalimatnya saja.


“Sayang banget ya, Vel? Padahal, Eyang lihat kamu serasi loh sama dia. Anaknya baik dan nggak neko-neko, karena Eyang tau gimana dia dapat pendidikan dari kecil.” Ucap Wening masih menyayangkan, namun perempuan itu tidak mengulik alasan keduanya menyerah untuk bersama.


“Kamu harusnya ketemu yang udah matang, Vel. Jadi nggak berlama-lama dengan istilah pacaran.” Saut Triawan yang dari tadi fokus dengan tab nya dan sekarang ikut nimbrung dengan istri dan cucunya.


“Iya, Eyang. Velo nggak akan lama-lama pacaran. Semoga Velo dipertemukan dengan orang yang tepat.” Ucap Velo mengukir senyum untuk membalas perhatian Kakeknya.


Sebenarnya hati kecil Velo tidak pernah mengubah harapan. Masih sama semenjak dia memasuki usia matang, apalagi pemikiran keluar dari rumah untuk tinggal mandiri dan menjauhi ayah tirinya selalu terlintas. Velo sangat berharap bertemu dengan orang yang tepat— tepat dari sudut pandang Velo yang sederhana.

__ADS_1


Velo butuh seseorang yang tepat untuk berani menikahiya, membawanya keluar dari lingkungan yang menebarkan cemas setiap harinya. Semakin tidak bisa tidur nyenyak di kamarnya, Velo memperjuangkan diri dengan nekat membeli apartment dan mengemasi barang-barangnya qalau sang ibu menangis tak setuju berpisah.


Berat bagi Ibunya untuk merelakannya, tapi lebih berat bagi Velo hidup serumah dengan ayah tirinya. Dia benar-benar ketakutan.


Wening mengusap punggung Velo, yang mulai menyuap roti gandumnya. Sengaja Wening menyiapkan roti gandum dari toko bakery langganannya untuk sarapan Velo.


“Tetap harus liat bibit, bebet dan bobotnya ya, Nduk… Boleh kamu menganggap Eyang kuno, tapi itu berguna buatmu kalau ada apa-apa di tengah rumah tangga. Percaya sama Eyang, Vel.”


Kedua tangan Hartadi sama sekali belum menyentuh makanan yang disajikan oleh sang Ibu sebagai sarapan paginya. Tidak mau mengakui, tapi memang dia tersindir atas paparan ibunya mengenai ‘perempuan baik-baik harus dipertemukan dengan pria yang baik pula.’


Dan lebih terkutuknya lagi, semalaman suntuk matanya tidak mampu dikalahkan. Mandi dan keramas menggunakan air dingin memang menyegarkan dirinya yang letih, juga mengusir kantuknya, namun belum cukup memadamkan hasrat yang menyelubungi dari ujung kepala sampai kaki.


Dalam kondisi uring-uringan yang Hartadi sembunyikan dengan ahli, Ibunya justru membuka topik menjengkelkan. Sebagai pria yang penuh kekhilafan yang disengaja, sudah pasti Hartadi seolah dipojokan. Sebab kini Velo sedang menjalin komitmen bersamanya, jadi dia merasa dibandingkan dengan pria culun bernama Dandy.


“Aku jadi penasaran ‘Spesifikasi’ apa yang Ibu butuhin buat calon suami idealnya Velo. Pastinya, satu tipe sama Dandy yang Ibu sebut-sebut tadi ya?” ucap Hartadi sinis serta meremehan sanjungan sang ibu pada pria yang bernama Dandy.


“Hm, anak yang polos dari keluarga berada. Sayangnya, baru dibebankan tanggung jawab perusahaan. So, masih plin plan dalam hidup dan belum siap naek level jadi suami. Gitu kan, Bu?” Hartadi melihat Ibunya sambil mengangkat sebelah halisnya. “Tapi, aku ragu ada laki-laki dewasa yang sepolos anak bayi.”


“Har…” Sang Ibu mengernyitkan dahinya menyadari betapa sinisnya ucapan putra bungsunya itu. “Kenapa tiba-tiba ngomel ke Ibu?”


“Masih sebal karena persoalan kemarin kali, Bu…” Triawan menurunkan tensi di antara sang istri dan anak bungsu mereka. Dari tadi pria itu mendengarkan drama antara Ibu dan anaknya itu dengan santai. Triawan tidak khawatir Hartadi melewati batas pada Ibunya.

__ADS_1


__ADS_2