Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Issue Tersendiri


__ADS_3

Sejujurnya, sah-sah aja sih adik Velo tidak sengaja menjumpai mereka dalam keadaan ini. Pemuda itu harus membuka mata mengenai hubungan mereka di luar konteks keluarga, agar tidak memakan mentah-mentah sudut pandang dari kubu orangtuanya.


Terlebih Hartadi mengenal sifat Adiputra, ada kemungkinan kakaknya sudah menghasut anak-anaknya agar berbalik memusuhi dirinya dan Velo. Sebab, persepsi ketiga adik-adiknya Velo kepadanya buruk sekali. Faktanya, dia pun berkorban demi masa depan Velo yang selama ini menanggung beban batin ulah ayahnya sendiri.


Velo segera menjangkau bibir. Khawatir bila sisa pertautan intens mereka tadi mengacaukan pulasan lipstik di bibirnya. Jangan sampai warnanya bergeser ke sekitar bibir yang memperjelas kegiatannya dan Hartadi di kamar ini.


“Lebih tepatnya aku malu dipergoki mereka, biarpun adikku udah gede. Aku yakin hal-hal intim bukan suatu yang tabu buat lingkungan pergaulannya sekarang. Tapi, aku tetep mau kasih contoh yang baik. Nggak asal kelihatan gatel sama laki-laki. Mereka pasti ajuin kalo aku kayak gitu.”


“Kamu ngerti kan? Seumuran si kembar lagi doyan keluar masuk club sambil bawa pacar. Mamih pengen ngebatasin, tapi setelah dipikir-pikir, takutnya mereka malah nggak pamit kalau mau keluar malem lagi. Kalo mereka bertiga sih bisa betah ada di rumah, tapi Bara, Badar, Badil dan Bariq... Hah, mereka beneran mirip Arow. Kayak alergi kalo kelamaan diem di rumah.” Velo mendesahkan pemaklumannya untuk ke tujuh adik kembarnya itu.


“Kami nggak ada yang ngelarang si kembar nyicip dunia malam— kayak kamu dan Arow yang bebas. Sebagai gantinya, kami masukan ke si kembar kalau setiap tindakan punya resiko. Hamilin perempuan, ya harus berani tanggung jawab. Pakae narkoba, ya harus berani ditangkap. Aku bilang, nama Bratadikara nggak bakal selamanya nyelametin hidup mereka,” tuturnya tegas yang mendapat anggukan paham Hartadi.


Mengambil pengalaman hidup, Velo berani sumpah bila tidak ada yang dapat memastikan di mana batu sabdungan dalam jalan kehidupan. Seberapa teguh menjadi hamba Tuhan terbaik, tidak akan membuatnya lupput dari pelik kehidupan.


Tidak memungkiri, Velo begitu menyayangi si kembar. Karena itu, dia tidak segan mengatakkan pahit di depan agar mereka berpikir ulang ketika ingin mencoba hal-hal baru. Sedangkan baginya yang selama ini bertahan, menelan semua kepahitan hidup tidak terlepas demi kebahagiaan adik-adiknya yang mempercayai keharmonisan keluarga. Motivasi terbesarnya untuk tidak terjatuh dan berujung pesimis.

__ADS_1


Perlahan-lahan matanya meredup. Suara ketiga adiknya kembali memenuhi benaknya di luar kesadaran. Sesungguhnya, Velo terluka menerima tuduhan ketiga adiknya mengenai dirinya yang mengesampingkan keluarga. Dia dituding tutup mata atas kesehatan Ibunya demi bersenang-senang bersama seorang pria. Berharap diam menjadi senjata utama, baginya tuduhan semacam itu tidak perlu dibersihkan. Sebab, menyambung konflik dengan sang adik merupakan sesuatu yang sangat tidak dia harapkan.


Hingga kesadarannya timbul ketika Hartadi meminta Biyan, Basha dan Binad memasuki apartment. Velo tertampar kesadaran bahwa dia tidak boleh lepas tangan. Tidak benar bila menutup tudingan ketiga adiknya itu melalui diamnya saja. Dia mengingat sorot mata dingin ketiga adiknya terpancang pada setiap pergerakan Hartadi, membuktikan seberapa berbahaya otak manusia saat membuat kesimpulan hanya dari satu sisi.


Jika bersikeras menyingkirkan konflik, Velo harus membayarnya dengan membiarkan mereka bertiga menyimpan kesimpulan buruk terhadap Hartadi. Dan, otomatis dia berubah pikiran. Dia tidak ingin adik-adiknya kian salah paham.


“Aku salah nggak ngabarin mereka si kembar, tapi aku udah ngehubungin Bara duluan.” Velo meyakini seutuhnya perhatian Hartadi masih ditunjukan padanya, meskipun pria itu belum menyuarakan tanggapan. “Aku nyoba berdamai aja sama rasa cemasku sendiri untuk tau keadaan Mamih gimana, lebih parah atau lebih baik dari bayanganku. Bara terima teleponku tanpa berpikir macem-macem. Bara bahkan minta aku terangin hubungan kita. Adikku nggak mau salah nempatin diri.”


“Kedepannya, masih ada keluarga besar yang nanti penjelasan kita kalau sepakat menikah.” Velo sedikit merunduk, mengembalikan penuh atensinya pada Hartadi. Kali ini dia hadapi sirat keseriusan Hartadi yang karismatik dengan tenang. “Bukan keluarga kamu dan keluarga Mamihku, tapi keluarga Papihku— L Williams yang aku sendiri nggak tau mereka ada dimana. Meski kita nggak sedarah, tapi kamu tau setiap orang punya kepala yang isinya nggak tertebak. Ada yang gampang terima, mungkin ada penentangan untuk suatu alasan. Sewaktu-waktu kamu capek, kasih tau aku ya?”


Tangan Velo menyusuri bahu Hartadi, telapaknya merasakan halus serat kemeja pria itu. Menyadari sepasang mata menariknya untuk bertukar pandang, Velo turuti dengan menatap lurus Hartadi. Menantang mata Hartadi yang seakan memperingatinya untuk tidak sembarangan berucap.


Velo tidak asal bicara. Hartadi seharusnya mengakui kebenaran dari ucapannya barusan, bukan memandangnya dengan pendar muak seperti sekarang. Seolah dia mengarang kata untuk meragukan Hartadi. Pikirannya tidak ke sana, dia hanya mulai ‘terlalu’ memikirkan Hartadi. Untuknya akan berat menyaksikan Hartadi memendam lelah seorang diri, apalagi tidak ada keterikatan rasa kepadanya.


Sebaik-baiknya Hartadi mengusahakan hubungan mereka di antara banyaknya kerumitan, pria itu tetaplah manusia yang terkadang hati, pikiran, dan mulutnya tidak satu suara. Dia benar kan?

__ADS_1


“Kamu pikir aku bakal nyerah, makanya kamu ngomong begitu?” Hartadi berbisik pelan. Menyadarkan diri berkali-kali demi menjernihkan pikiran. Bila tidak begitu, bisa saja perkataannya pada Velo akan terdengar keterlaluan.


*****


Hartadi sudah mencoba memperingatkan Velo, tetapi rupanya perempuan itu memang ingin mereka kembali membicarakan hal percuma seperti ini.


“Kita nggak bisa maju kalau kamu masih setengah-setengah anggap aku mampu. Dengar ya Vel, aku ini goal oriented selama hidup. Aku selalu tetapin tujuan yang jelas. Tujuanku sekarang bukan Cuma bisnis... bisnis... dan bisnis— sekarang ada kamu. Terus kamu pikir aku orang yang gampang capek, karena orang lain punya penghakiman buat kita?”


“Di kantor Samarinda, kamu percaya diri bilang kenal aku. Kamu nilai aku punya aspek untuk jadi suami kamu. Kamu bukan berharap, tapi yakin sama aku. Kamu minta aku stay di samping kamu ngejalanin hidup. Tapi, semua itu nggak lebih dari omong kosong. Aslinya kamu ngeraguin aku.” Hartadi mengeraskna rahang. Sudah lama dia tidak merasa marah pada seorang perempuan.


“Nggak usah pakai alasan cinta. Sekarang nggak cinta pun aku udah sejauh ini ngebelain kamu, hidup kamu, dan keinginan kamu nutup kebejatan Mas Adi dari keluarga kita. Belum cukup?” desak Hartadi seraya memincing.


Hartadi menangkup tangan Velo yang mendarat di bahunya. Kelembutan tangan itu tidak mengurangi niatnya mencengkram erat, kemudian dia turunkan pelan tanpa melepas pandangan dari netra Velo.


“Lama-lama capeknya bukan proses untuk nikahin kamu, tapi kebiasaan kamu yang selalu bikin kita kembali ke nol. Aku nggak mau tau seribet apa pemikiran kamu.”

__ADS_1


“Yang jelas waktu kamu minta aku jadi suami— rasanya kamu ngegampangin hubungan kita, kamu kayak ngasih gambaran mulus perjalanan kita sampai pernikahan, kamu menormalisasi perbedaan usia kita. Tapi yang semakin aku sadar sekarang, kamu justru punya issue tersendiri,” ucap Hartadi dengan lugas tanpa ragu.



__ADS_2