
Bibir Asri rasanya kaku. Baiklah, dia sudah melihat sendiri interaksi menakjubkan antara putrinya dan Hartadi. Kedua tangannya yang asalnya berada di atas dadanya diturunkan lalu memeluk putrinya.
“Mamih ga kuat, liat kamu sayang.”
“Aku lagi apes aja, Mih.” Ucap Velo melingkari pinggang ibunya. Kesedihan yang tadinya sempat pergi, sekarang harus mati-matian dia tahan agar tidak membuatnya menangis di depan ibunya.
Hartadi melirik ibu dan anak itu yang sedang bertukar kasih sayang sambil berdeham.
“Aku keluar dulu ya Mba, Vel…” ucap Hartadi mengerti bahwa ibu dan anak itu pasti butuh kesempatan bicara berdua tanpa kehadirannya.
“Har, nggak panggil doktenya lagi? Mumpung Velo udah bangun.”
“Menurut dokter kondisi berat Velo di kaki kiri dan leher.” Ucap Hartadi berusaha tenang.
Bukannya sok tau, memang penanganan Velo oleh dokter yang berjaga di UGD hanya diketahui oleh Hartadi, jadi pria itu bisa memastikan dengan yakin bahwa Velo tidak mengalami kondisi buruk lainnya.
“Kalau Velo sama Mba selesai ngobrol, aku minta dokter periksa lagi kondisi Velo. Aspal kan cukup keras, mungkin ada lebam ringan aja di bagian tubuh lain.”
Velo setuju dengan ucapan Hartadi. Beberapa titik di punggungnya memang menguarkan nyeri, sepertinya memang ada lebam bekas jatuh di sana. Namun, Velo tidak meminta langsung dipanggilkan dokter melihat ibunya disini dan tidak begitu terkejut menyaksikannya bersama Hartadi, pasti ada yang sudah pria itu katakan.
“Harus, pokonya Velo harus di periksa ulang. Mba takut ada yang terlewat, Har. Soalnya pernah ada anak temen Mba jatuh dari motor, emang awalnya biasa cuma pusing aja, tapi beberapa hari kemudian akibatnya langsung fatal. Koma, Har.” Ucap Asri lebih tenang dari sebelumnya. Lalu dia mengusap keningnya tatkala mengingat sesuatu. “Astagfirullah, Mba lupa ngasih kabar si kembar…”
Hartadi mengerut keningnya, ketika mengingat janji dengan rekan kerja Velo di telepon. Kurang baik kalau kamar rawat inap terlalu banyak orang, dan peraturan rumah sakit juga tidak mengijinkan.
“Bisa bentrok sama rekan kerjanya Velo yang mau kesini, Mba. Kalau si kembar langsung kesini. Aku nggak berhak ngelarang, tapi ada baiknya minta mereka dateng selepas magrib.”
__ADS_1
“Iya, bagusnya rekan kerja Velo dulu yang dateng. Apalagi mereka udah nyempetin mampir setelah pulang kerja.” Ucap Asri mengangguk menyetujui ucapan Hartadi.
“Rekan kerja?” ucap Velo sambil mengerutkan kening. Dia tidak menyangka kalau pria itu diam-diam sudah melakukan banyak hal saat dirinya sedang tidur.
“Iya, namanya Aruna. Dia telepon ke handphone kamu.” Jelas Hartadi sambil mengedikkan dagu ke arah handphone Velo yang tergeletak di atas nakas hampir kehabisan baterai.
Merasa tidak ada hal yang dibicarakan lagi dengannya, Hartadi mengirim anggukan pada Velo dan Asri sebelum melangkahkan kaki keluar kamar inap.
Dan, sekarang kesempatan Velo memperjelas hubungannya dan Hartadi di depan ibunya.
Walau sadar, harusnya Velo yang pertama kali menjelaskan komitment nya dengan Hartadi pada sang ibu, karena dia memang pantas diberi penjelasan yang detail dari sang putri, karena menjadi orang yang tidak tau apa-apa terkadang menyakitkan. Berdasarkan karakter Hartadi, Velo sudah bisa menebak jika ibunya sudah diberitahu oleh pria itu langsung ke intinya.
Jujur nih ya, sekarang Velo tidak benar-benar senang dengan keadaan dirinya yang segala terbatas. Gips yang terpasang di kaki kirinya dan nyeri yang timbul di seluruh badannya yang baru terasa sangat membatasi pergerakannya. Velo sudah sangat yakin kalau Hartadi pastinya nggak akan mau melewati waktu dua puluh empat jam hanya untuk menemaninya di kamar rawat inap. Pria itu punya dunianya sendiri.
Siapalah Velo yang berani menyabotase Hartadi hanya karena rasa takutnya. Tapi, sekarang perempuan itu memang benar-benar ketakutan. Hatinya mulai was-was, Velo tidak ingin diminta ibunya untuk pulang ke rumah utamanya sehabis keluar dari rumah sakit. Dan sudah dipastikan selama pemulihan kakinya, Velo akan sulit diperbolehkan tinggal sendiri. Apalagi akan aneh kalau dia bersikeras ingin pulang ke apartement.
“Vel…” panggil sang ibu dengan halus sambil mengelus punggung tangan Velo lembut.
Velo tertegun saat kedua netranya tertancap kearah jedua netra sang ibu yang menatapnya dengan sendu.
__ADS_1
Biar wajah sang ibu terkesan lembut, tapi perempuan itu contoh nyata perempuan yang disebut tangguh. Dari dulu, sang ibu menjalani pahit manisnya kehidupan tanpa umpatan. Asri Arumi menjadi motivasi Velo untuk sama tangguhnya menantang kehidupan.
“Ada yang harus Mami denger, Vel?” ucapnya mengulas senyum. Merasa bersalah karena dia telah lalai memahami putrinya dengan baik.
“Ada.” Jujur dia rindu saat-saat bertukar kasih sayang seperti dulu, saat dia merasakan kedua tangannya digenggam sang ibu. “Mami mungkin tau aku mau ngomongin apa. Mas Har pasti udah nyampein sesuatu selagi aku tidur.”
“Kenapa” lirih Asri tidak tahan lagi. “Kenapa bisa Har yang mau melamar kamu, Nak? Kenapa kamu pilih ipar Mamih? Jelasin, tolong buat Mamih ngerti perasaan kamu. Mamih ga pengen kamu salah langkah untuk melangkah ke masa depan.”
Asri memang sudah mendengar dari mulut Hartadi, bahkan dia sempat tidak setuju jika pria itu mengikat Velo. Karena sudah pasti tanggapan dari keluarga suaminya yang mengisi pikirannya dan akhirnya jadi keputusan Asri untuk menolak.
Menghela napas, Velo memisahkan sesak di dadanya. Ya… Mana mungkin dia baik-baik aja ketika sang ibu mengiba melihat ke arahnya. Kenapa harus Hartadi yang meminta restu? Sementara ibunya mungkin beranggapan di luar sana jodoh Velo sedang mempersiapkan diri sebelum dipertemukan. Permainan waktulah yang menjadi penghalang.
Mungkin di pikiran sang ibu Velo hanya tersesat dalam ketidaksabarannya menunggu jodoh, takdir or what ever you say. Persepsi orang akan berpusat pada usianya yang sudah memasuki tiga puluh tahun, wajar jika sibuk mencari suami. Namun, daya melindungi diri dari ayah tirinya mulai menyusut. Sebelum dayanya habis, Velo perlu segera menikah agar meraih kebebasannya sendiri.
Velo mengelak untuk bertukar tatap. Pandangannya mengedar kemana saja asal tidak pada netra ibunya.
“Dari dulu aku nggak jadi pemilih, tapi masih belum juga bikin aku beruntung dalam hal cinta. Semakin lama aku sadar, sosok laki-laki yang aku harap menjadi suami ga berdasar dari seberapa besar cintanya aja.”
“Aku perempuan biasa, Mih. Aku pengen hidup aman dan nyaman. Sekarang, laki-laki yang bisa kasih aku dua-duanya hanya Mas Har. Dan, aku yakin Mas Har emang bisa. Aku ga berekspetasi, tapi feeling aku yang mengambil peran.” jelas Velo tanpa da kebohongan yang keluar dari mulutnya.
“Kamu nyaman dan aman di samping Hartadi? Iya?”
__ADS_1