Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Beda enam belas tahun itu seksi


__ADS_3

AUTHOR POV


“Terus kenapa kalo Andre masih single, Vel? Kok saya cium bau-bau…” Resha menatap Velo dan Hartadi secara bergantian, berlagak menjadi inspektur karena pria itu ikut menyadari perubahan ekspresi Velo.


“Nggak ada apa-apa Pak, saya taunya kalo Pak Andre udah punya istri. Kayaknya salah denger dari orang kantor,” elak Velo menyimpan soal Livia dan Andre untuk dirinya sendiri.”


“Bau apa Res? Jangan cari perkara deh…” ucap Hartadi menantang Resha sambil bersidekap.


Meskipun Hartadi juga bertanya-tanya apa pentingnya kelajangan Andre untuk Velo, tapi sungguh tidak tepat jika bertanya di hadapan para sahabatnya yang siap mengulik.


Velo terbatuk kecil sebab tenggorokannya mendadak gatal, lalu mencuri lihat Hartadi yang masih menguarkan aura tak bersahabat. Hari ini Hartadi menjadi bulan-bulanan semua pria yang berkumpul di sini, tidak heran emosinya cepat terpancing.


“Mungkin Velo punya kandidat yang cocok buat bang Andre? Who knows” ucap Kelly menurunkan ketegangan yang terjadi antara Velo, Hartadi dan suaminya.


“Oh, saya tadi nyangkanya Velo lagi nyari cadangan  selain Hartadi. Diliat-liat Andre menang dari Hartadi, karena lebih muda nggak sih?” Haris berpura-putlra mencapit potongan wagyu, namun keisengannya kembali membuat hambar rasa makanan yang sedang ditelan Hartadi.


“Haris… Haris… utang lo banyak hari ini sama gue,” decak Hartadi kesal, bertanya-tanya kenapa dia bisa bersahabat dengan Haris.


“Hah, hutang gimana maksudnya?” ucap Haris tak mengerti.


“Ck, utang bikin emosilah!” gertak Hartadi mengetatkan rahang. Sementara Velo mengernyitkan kedua halisnya melihat Hartadi penuh tanya.


“Mas Har, age gap kita nggak ada masalah kan?”


Hartadi menaikan satu alisnya mengira-ngira tujuan Velo menanyakan hal tersebut. Karena perempuan itu sangat tau isi kepala Hartadi mengenai perbedaan usia mereka. Hartadi bahkan sudah mengingatkan Velo bahwa pasti akan ada saja orang lain yang membahas usia mereka.


Di lain sisi Velo mengharapkan tanggapan positip dari Hartadi atas pernyataannya. Masalah ‘age gap’ ini dapat berjilid-jilid, jika Velo tidak memutuskannya sekarang. Padahal, Velo sudah mengatakan tidak ada masalah dengan perbedaan usia mereka.


“Mas Har ini kan seusia kamu, Yang. Sedangkan Velo sendiri bilang kan dia kelahiran 1992. Perempuan berusia dua puluh sembilan pantes-pantes aja kok sama yang umurnya empat puluh lima tahun.” Ucap Valerie yang beropini berlawanan. “Mau cari usia berapa coba? Aku aja tiga puluh empat pilih kamu!” lanjut Valerie sambil menghadiahi cubitan kecil di perut.


“Duh repot deh gue kalo udah diserang bini!” Ucap Haris menggaduh kesakitan karena cubitan pedas Valerie.

__ADS_1


Sementara Hartadi memincingkan matanya tajam ke arah Haris, kemudian menurunkan pandangannya ke arah wajah Velo yang sedang memperhatikan Valerie dan Haris.


Ok, bukan waktunya egois. Pikir Hartadi.


Di raihnya tangan kiri Velo yang berada di bawah meja dan menelusupkan jari-jarinya diantara jemari perempuan itu. Velo sudah banyak menangkis pancingan para sahabatnya agar Hartadi marah, dia berinisiatif untuk tidak memperkeruh suasana.


“Iya Har, kenapa dengan age gap kita?” Hartadi mengumbar senyum angkuhnya, lalu bertatapan dengan Velo yang sedang menguasai rasa terkejutnya sendiri. “Beda enam belas tahun itu seksi, iya kan Vel?”


***


“Vel—”


“Pak—”


Ucap keduanya berbarengan saat mereka sudah berada di dalam mobil. Keduanya saling bersitatap canggung menjauhkan diri masing-masing. Sekarang mereka tengah berada di basement menjauhkan diri masing-masing sampai duduk mereka pun mentok ke jendela.


Acara di kediaman Resha berjalan baik, ya… Setidaknya untuk Velo, karena Hartadi menganggap undangan teman-temannya hari ini sangat menguras kesabarannya. Hm… Jugling show dari Chef Juna dengan alat masak Teppayakinnya hanya  segelintir hiburan, sisanya jebakan.


“Kamu duluan, Vel.” Ucap Hartadi memberikan kesempatan, ya.. alasannya klise saja ‘ladies first’


“Saya juga mau ngucapin makasih sama kamu. Tiba-tiba dateng kerumah ngajak kamu, dan kamu juga langsung okein, diserang pula sama pertanyaan-pertanyaan rese dari temen-temen saya sampai semua kamu hajar, semua pasti nggak gampang kan? But, at the end of the day kamu tetep ngejaga harga diri saya di depan mereka.” Hartadi lalu mengusap tengkuknya tanpa sadar.


“Saya Cuma belajar nempatin posisi aja. Di mata temen-temen Bapak, saya judulnya pasangan Bapak. Masa saya ikut mojokin? Nanti yang ada Bapak bete sama saya,” tutur Velo yang tersenyum geli.


“Mereka itu bener-bener ngeselin. Tapi saya yakin Vel, kalau perempuan yang saya bawa tadi bukan kamu, mereka nggak bakal selebay tadi.” Hartadi tidak meragukan statement nya yang satu ini.


Semua sahabat Hartadi berpikir yang akan mereka temui adalah seseorang yang benar-benar baru. Tidak mereka kenali sebelumnya dan mungkin jauh dari kenalan bisnis, atau hubungan pertemanan.


Nyatanya, wajah mereka pias begitu menemukan Velo yang memperlihatkan diri dari balik punggung Hartadi lalu menyapa mereka dengan ramah. Dan tak ayal, mereka membutuhkan beberapa menit untuk menyadari penglihatan mereka tidak salah.


Velo mengangguk setuju. “Mereka nggak kepikiran sayalah! Misalnya kesebar di group WA kantor, tajuknya begini ‘Si Velo mantan sekretaris Pak Har muncul setelah lima tahun pamit dari Royal WCS dan kembali dengan status calon istri.”

__ADS_1


“Nggak mungkin kesebar, kecuali Haris ember ke sekretarisnya,” ucap Hartadi mengingat mulut Haris yang sering tak sengaja hilang kontrol, apalagi sekretaris Haris termasuk orang lama di Royal WCS Company Jakarta.


Hartadi melihat Velo mengangguk kecil tanpa melihat kearahnya, Hartadi akan mengambil kesempatan yang mengganggu pikirannya semenjak meeka keluar dari kediaman Resha.


Hartadi sudah menunggu instruksi Velo untuk menentukan bagaimana langkah mereka ke depannya, namun seakan tidak ingin lagi menuntut dan menunggu Hartadi sendiri yang membuka jalan bagi komitmen mereka.


Apa Velo tidak membahas komitmen pernikahan mereka usai mereka sampai di Jakarta, karena tidak ingin memaksa memburu-buru Hartadi? Seakan sudah melempar kartu, Velo memberi peluang Hartadi memainkan kartunya.


Hartadi cukup tau orang seruwet dan sedetail apa Velove Bratadikara, karena itu dia keheranan sendiri melihat Velo tidak membahas apapun lagi.


“Vel, kamu mau langkah saya selanjutnya seperti apa? Ngenalin kamu ke orang tua saya? Saya dateng ke rumah kamu? Selanjutnya, kita bertunangan? Atau, apa yang kamu harapkan?” cecar Hartadi pada Velo. “Saya pengen kamu ngasih lampu hijau buat tau saya harus melakukan yang mana dulu?”


Seketika Velo terdiam mengerjapkan mata atas antisipasi rasa terkejutnya, perlahan dia melihat ke arah Hartadi yang tersinari lampu dari plafon basement sehingga membuatnya mampu melihat jelas wajah Hartadi yang harus dia akui tampan dan berkarisma.


Satu halis Hartadi terangkat mengirim sinyal agar Velo tidak membuatnya menunggu. Harusnya Velo sadar diri, dia yang memohon untuk berkomitmen, maka harus dia pula yang mengarahkan.


Tidak usah berharap Hartadi yang berinisiatip, walaupun pernikahan mereka nanti disepakati akan seserius pernikahan orang-orang yang saling mencintai. Dan tentu saja Hartadi ingin Velo mendikte rencana mereka menuju pernikahan.


Velo benar-benar tidak ingin di bodohi dengan rasa sentimen, dia sudah menimbun perasaan tersebut saat tau betapa sulitnya bersama pria yang di cintai. Tekadnya hanya mencari ‘suami’ yaitu Hartadi.


Anehnya, Velo mendadak kian sensitif setelah melihat pendar cinta sahabat-sahabat Hartadi terhadap istri mereka.


Sejak awal cinta sepakat di kesampingkan, batin Velo.


“Oh, langkah selanjutnya?” gumam Velo sambil menaruh lengannya pada tasnya. “Mungkin dengan Bapak pulang ke rumah Eyang dulu? Saya tau mereka belum dapet kabar Bapak pindah ke sini. Bahkan udah ada di Jakarta selama dua hari.”


Hartadi menautkan pandangannya pada Velo. “Kenapa kamu malah minta saya pulang?”


“Terus Bapak mau ujuk-ujuk dateng dan bilang mau menikah sama saya? Duh, saya yang bisa disidang Eyang Putri kalo Bapak nggak Smooth,” keluh Velo tak ingin membuka lembar perkara baru.


“Vel, saya nggak mungkin tanpa strategi,” ucap Hartadi menangkis pemikiran Velo. “Tapi kayak yang saya bilang tadi, saya pengen tau kamu maunya gimana? Kalau saya ambil keputusan saya sendiri, ya bisa aja, tapi kamu oke nggak?”

__ADS_1


pengumuman ya... untuk sampai bulan Oktober Velo sana Mas Har ga akan absen update ya... so selamat menikmati cerita tentang mereka ya...


 


__ADS_2