Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Mengganti Sentuhan Papih Dengan Sentuhannya


__ADS_3

“Dingin,” gumam Velo hampir tidak terdengar. Dari sekian banyak kata-kata pada KBBI, mengapa hanya itu yang bisa terucap darinya? Dingin?


Hah… yang benar saja, batin Velo menanggung malu.


Hilang sudah kemahirannya memainkan kalimat. Perhatian Hartadi ini bagaikan magis yang mampu menyilap Velo. Mulut dan pergerakannya terkunci, hanya gerakan pelan dari handuk dingin di pipinya yang menyadarkan bahwa ini nyata.


Apa Hartadi sudah bisa bersimpati? Terakhir kali, Hartadi mengusap rambut Velo persis seperti orang membersihkan beling. Jika benar Hartadi semakin mahir memberi perhatian, Velo harus bersiap-siap untuk tidak terlalu cepat ‘jatuh’ pada pria itu.


Menyukai Hartadi yang sinis dan galak tidak sesulit yang terpikirkan. Seantero Royal WCS Jakarta sudah memberinya bukti sejak hari pertamanya bekerja dengan pria itu. Mereka mengidolakan sosok Hartadi yang sama sekali tak lembut itu.


 


“Dingin?” satu alis Hartadi terangkat.


Pria itu lalu memusatkan handuk pada sudut bibir Velo, masih kental dalam ingatannya seberapa hebat rasa bibir itu, namun lekas diusirnya bayangan serta rasanya. “Biar kamu seger. Tadi kamu layu banget, mirip sayur nggak laku.”


Velo mengambil kesempatan, dia lirik Hartadi yang jaraknya dekat sekali dengannya. “Saya nggak laku?”


“Sayur yang nggak laku,” koreksi Hartadi, tidak membiarkan kesalahpahaman mereka memanjang. “Kalau kamu sendiri bukannya udah laku? Marketingmu bagus, Vel. Buktinya saya di sini sekarang.”


Hanya sanggup mengerjap, Velo mengulum bibir karena enggan membalas Hartadi. Dia tengah menguasai diri agar tidak debar hatinya tidak terdeteksi.


Sialan, batin Hartadi mencaci.


Dalam diam meringis setelah mendengar ucapannya pada Velo. Tidak pandai mencairkan suasana, rasanya basi sekali bahan candaannya tadi. Apalagi, Velo tidak memberi respons apapun. Perempuan itu hanya diam, tetapi menghindar setiap mata mereka hampir bertemu.


Entah datang dari mana, tiba-tiba lahir keprihatinan dari Hartadi untuk Velo. Perempuan itu seharusnya dapat menikmati kehidupan pribadinya dengan bebas. Tanpa adanya ikut campur seorang ayah tiri pencemburu.


Selayaknya individu, Velo mendapat hak untuk berpetualang cinta dan memadu kasih bersama pria yang diinginkan. Berkat Adiputra, Velo mencari pria sesuai yang ‘dibutuhkan’ misinya agar terlepas dari obsesi pria itu.

__ADS_1


‘Papa bilang, dia tergila-gila sama saya.’


“Di mana Mas Adi sentuh kamu, Vel? Tunjukkan ke saya tepatnya di bagian mana.” Hartadi sudah mendengar sendiri titik mana saja yang disentuh Adiputra, tetapi dia ingin Velo menunjukkannya sendiri dengan tangan perempuan itu.


Velo termenung sebentar tanpa memberi apa yang diminta Hartadi. Wajahnya masih berpaling dari Hartadi, namun kini dia tolehkan kembali dan memandang langsung ke dalam hitam dari mata pria itu yang juga memaku ke arahnya.


Sungguh, dia tak memahami jalan pikiran Hartadi. Mengapa pria itu menanyakan hal sensitive yang sudah jelas akan memberikan efek kurang baik terhadapnya? Jangan katakana, Hartadi sudah lupa detail malam dimana dia dilecehkan. Sedangkan, Velo baru saja menceritakan dan belum melewati dua puluh empat jam.


Ucapan Velo terdengar kering, tidak sadar meremas ujung kaosnya yang oversized. “Saya udah kasih tau Bapak. Kenapa saya harus tunjuk lagi sih?”


Hartadi menempatkan handuk dalam genggamannya ke atas wastafel di samping closet. Punggungnya sedikit merunduk agar menyamai wajah Velo . Pendar penolakan terpampang dari bagaimana cara Velo memandangnya saat ini, namun diselingi oleh kegelisahan.


Dengan keyakinan penuh, Hartadi memisahkan tangan Velo dari bagian kaos yang sudah mengerut akibat remasan perempuan itu. “Saya harus tahu di mana titik sentuhan Mas Adi, karena saya ingin mengurangi ketakutanmu. Selama ini, kamu nggak bisa menghilangkan rasa sentuhannya kan?”


“Dengan cara apa, Pak? Saya udah pernah ikut beberapa terapi, tapi nggak pernah ada yang signifikan membantu saya. Mual dan rasa sentuhannya terus ada.” Velo menggeleng kuat. “Nggak bisa.”


Setelah malam menyakitkan yang merenggut kewarasannya selama seminggu, Velo hampir tidak pernah mengabaikan bagian yang terlecehkan. Dia menggosok kasar bagian yang sempat disentuh Adiputra, sesering mungkin hingga muncul kemerahan.


Lain dengan kepahitan dalam mulutnya, perasaan bersalah telah mengkhianati sang ibu menjadi terror terbesar setiap mengingat pelecehan Adiputra. Biarpun Adiputra yang bertanggung jawab sepenuhnya untuk malam itu dan Velo hanyalah korban, perasaan bersalah itu tidak pernah bilang.


Pergerakan Hartadi berpindah posisi ke bawah dan duduk dengan kedua lutut menekuk, kontan saja mengejutkan Velo. Perempuan itu bergegas meraih bahu Hartadi, terburu-buru membangunkan pria itu dari posisinya.


“Pak, berdiri dong! Ngapain sih?” Velo kesulitan, akhirnya dia menarik sebelah lengan Hartadi. Meskipun sudah menggunakan kedua tangan, Hartadi tidak bergeser dan masih bergeming di posisi semula.


Hartadi memberikan tatapan intens selagi tangannya sibuk menggulung celana panjang Velo. “Orang sering bilang, obatnya patah hati yang mutlak adalah menemukan cinta yang baru. Kamu boleh aja menilai saya sok tau Vel, tapi saya berniat menginterprestasikannya untuk kondisi kamu.”


“Pak…” Velo was-was bukan main, tetapi jantungnya berdegub kencang seakan tau apa yang ingin dilakukan Hartadi. “Bapak berniat menggantikan sentuhan Papih sama sentuhan Bapak sendiri?”


“Tentunya saya lebih gentle. Saya nggak ada maksud buat melukai kamu. And, I’m gonna use my tongue and hands. Jadi, saya butuh izin kamu.” Ucap Hartadi membenarkan dengan tegas. Cepat atau lambat dia akan menikahi Velo. Tidak akan Hartadi biarkan sentyhan Adiputra masih membekas dalam traumanya Velo.

__ADS_1


“Saya nggak yakin bisa.” Bisik Velo penuh keraguan.


“Belum yakin nggak menjamin tidak berhasil .” Hartadi menumpangkan satu kaki Velo ke atas bahu kanannya, lantas dikecupnya betis Velo mendeklarasi tekadnya.


***


Situasi canggung melekat pada mereka mereka semenjak Hartadi menyamarkan jejak sentuhan ayah tiri Velo yang tertinggal. Melalui sentuhan Hartadi sendiri, khususnya bibir pria itu, panas dari napas dan sentuhan samar lidahnya benar-benar mengaburkan ketakutan Velo.


Sayangnya, Velo tak benar-benar tahu apakah rasa mual akan datang kembali jika mengingat kenangan ‘malam’ itu.


Velo memperbaiki posisi duduknya yang tidak nyaman. Mengapa Range Rover yang dikendarai Hartadi pada hari ini terasa begitu sesak dan sempit? Lebih parahnya kehadiran bantal kepala berdesain sporty yang mengusik Velo, karena menyebabkan kepalanya pusing.


 



“Minum terus dari kita berangkat. Apa nggak kembung?” sindir Velo tanpa melirik Hartadi, sementara dia sendiri sedang serius melihat ke luar jendela.


“Saya haus. Dan jalan satu-satunya ngurangin haus ya dengan minum kan?” balas Hartadi sambil menutup botol air mineral yang sudah habis, dia pun mengambil kesempatan beberapa detik untuk memastikan ekspresi Velo sembari menempatkan kembali botol kosong itu ke cup holder.


“Oh, haus? Kapan-kapan Bapak main ke apartement lagi, saya usahain nggak lupa suguhin minum deh.” Balas Velo sekadarnya, bingung harus menanggapi ‘kehausan’ Hartadi seperti apa.


Hartadi mempertahankan harga diri, maka dari itu dia tergerak melepaskan seatbelt dan mengibaskan tangan. “Santai ajalah. Lagian saya ke rumah kamu bukan nyari minum, ini ulah temen-temen saya yang ribut terus.”


Velo berani mempertaruhkan logam mulia seberat lima gram miliknya, jika Hartadi tidak haus dalam artian sebenarnya. Hartadi memegang janji untuk memperlakukannya secara ‘gentle’, tetapi tidak di sangka-sangka, mereka malah termakan keintiman yang menguji janji Hartadi sendiri.


Setahu Velo, ada berbagai macam cara yang dilakukan seorang pria untuk berperang dengan hasrat mereka. Dari gerak-gerik Hartadi, Velo belajar bahwa minum juga bisa menjadi salah satu jalan keluarnya. Di samping itu, Velo harus akui calon suaminya tersebut memiliki control diri yang sangat baik.


Hayoooo..... lanjutin ga nih? bablasin jangaaaann????

__ADS_1


sabar ya... jalan mereka berdua masih panjang... 🤭


jgn lupa like, favorit dan komen tentunya, biar authornya semangat terus ya..


__ADS_2