Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Curi Start


__ADS_3

"Kamu hotelnya dimana? Masih sanggup begadang nggak?"


What the---


Velo mengusap bibir bawahnya yang kemerahan selagi berupaya memahami maksud pertanyaan Hartadi.


"Bapak abis minum?" dengan blak-blakan Velo mempertanyakan kondisi terkini Hartadi yang diragukannya stabil.


"Barusan minum kopi sedikit." Hartadi menyeringai masam menemukan kecurigaan Velo, tapi dia ladeni saja dengan kalem. "Saya nanya hotel kamu dimana dan sanggup begadang atau nggak buat 'diskusi' masalah kamu. Bukan nyari pelampiasan setelah mabuk."


"Saya pikir kan ya gitu deh, Pak..." Velo tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya, alhasil jadi belepotan sendiri. "Saya shareloc aja ke WA nya Pak Har, ya? Saya juga sanggup begadang kok, tadi udah sempet tidur soalnya."


"Ya udah, share aja. Saya bentar lagi ke tempat kamu. Jangan lupa telepon resepsionisnya, supaya kamu nggak harus turun dan saya nggak repot minta akses lagi. Oke?"


Hartadi memang terbentuk menjadi pribadi yang matang. Bagi kehidupannya, implusif menjadi tindakan yang terlarang.


***


Selagi menunggu Hartadi sampai, Velo merenungkan sikap pasifnya yang tidak membalas satupun pesan dari Ibu dan ketujuh adik-adiknya. Velo tidak bisa berbohong, jadi lebih baik dirinya tidak mengabari mereka dan secepatnya kepentingannya di Kalimantan.


Mami


Sayang, kamu lagi nggak di Apartement kan? Kamu dimana, Nak? jangan bikin Mami migrain


Bara


Kak, Lo dimana sih? Nggak usah sok sok'an kabur deh...


Badar


Kemana sih? Gue takut lo di culik Kak, asli.


Badil


Kak, jangan bikin kita stress gara-gara lo ngilang dong


Bariq


Kak... Marah ya?


Basha


Kak Velo.... Kakak ga sayang sama kita ya? kok Kakak pergi gitu aja tanpa ngasoh tau kemana?


Binad

__ADS_1


Cowok mana yang bawa lo pergi kan? biar gue hajar!


Biyan


Woy... Paling ga kasih kabar napa? pergi diem-diem bae!


Velo menghapus pesan dari barisan terakhir di aplikasi What's Up nya. Kontak bernama Papih dan satu nomor yang tidak dia simpannya sebab Velo sudah hapal di luar kepala. Nomor itu milik Adiputra, yang lebih sering digunakan pria itu untuk mengiriminya pesan.


Apakah Velo mengeluh dengan kondisinya? Tidak. Apakah Velo memperjuangkan diri untuk bahagia? Iya. Bagi Velo, berperang dengan sumber masalah yang bersembunyi di lingkungan terdekatnya memang sulit. Namun ketika membicarakan bahagia, Velo mengusahakannya setiap hari.


Terkadang Velo malu melihat tindakannya di sosial media. Melabeli dirinya 'SnowWhite yang malang di sangkar emas', Velo sering kali memberikan masukan dan dukungan kepada siapa saja yang mencurahkan isi hati mereka mengenai pengalaman hampir dilecehkan dan terlecehkan yang kejamnya dilakukan oleh keluarga terdekat.


Bibir Velo membentuk senyuman yang mengandung pahit di hati.



Dengan sadar Velo meremehkan dirinya, bagaimana bisa ia secara dewasa dan menggebu-gebu memberikan solusi untuk orang lain? Sementara, dikehidupannya Velo tak mampu meruntuhkan sumber masalahnya sendiri.


"Enggak Vel, Lo nggak cengeng!" gumamnya pada diri sendiri sambil mengipasi wajahnya agar panas yang menyengat mata tidak terasa lagi. "Iihh.. Pak Har lama banget deh, padahal kan jalanan sepi di jam-jam segini!"


Dan benar saja, Hartadi pun datang lima belas menit kemudian sembari menenteng dua gelas kertas yang Velo pikir iti pasti kopi. Tidak sampai disitu, Hartadi memberikan gelagat aneh ketika enggan masuk, tanpa memperdulikan pintu yang dibuka lebar oleh Velo.


"Pak, nunggu apa lagi sih? Ayo masuk!" ucao Velo untuk yang kedua kalinya, agak senewen memang menghadapi Hartadi meskipun malam ini penampilannya memikat mata.



"Saya serius loh Pak..." ucap Velo sambil bersandar di pintu kamar hotelnya, bertatapan dengan Hartadi yang menatap ke arahnya dengan dingin. "Mau masuk nggak? Terus itu kenapa liatin saya nya gitu banget, ya? Menurut saya tatapan Bapak sangat kurang sopan. Namanya baru bangun tidur, ya maklumin ajalah kalau saya kusut."


"Lebih sopan mana sama kamu yang nyambut tamu di jam tiga pagi, tapi nggak pakai bra?" ucap Haryadi sambil melengos dari Velo. Ucapannya tetep ya dalam mode dingin, tapi ahartadi bermaksud baik mengingatkan Velo yang mungkin lupa memkai benda keramat itu di tubuhnya.


“Bra?” Alis Velo  bertaut ketika mengulang kata terakhir yang terucap dari Hartadi. Matanya segera turun ke bawah untuk memastikan apakah benar ia tidak menggunakan pakaian dalam, seingatnya tadi— “Oh, ****!”


“Yeah, ****,” timpal Hartadi diikuti perasaan lega melihat Velo menyadari kecerobohannya sendiri.


“Tutup pintu. Jangan buat saya nunggu lebih dari lima menit. Oke, Vel?”


“Ck… Dari tadi dong bilangnya, Pak. Enak banget curi star duluan. Inget ya, kita belum sepakatin apa-apa.” Wajah Velo keruh ketika menutup pintu cukup keras di depan Hartadi, tak peduli kritik Hartadi mengenai sopan santun terhadap yang lebih tua.


Sedangkan di lorong hotel, Hartadi memandang pintu bertuliskan tiga digit angka tersebut dengan dengkusan heran. “Curi star apanya sih anak ini? Suka ngasal kalau ngomong.”


Mulut Hartadi boleh bicara sesuai skenario yang ia mau. Bersikap enteng seolah yang dilihatnya tadi tidak memberi efek apa-apa. Namun dirinya lantas mengulum bibir, ketika benaknya memproyeksikan bayangan samar dari balik terusan tipis selutut yang dipakai Velo.


Pemandangan yang memang tak diperhitungkan pada saat Velo membuka pintu kamarnya, sukses menguji sisi tergelap Hartadi. Untung saja kewarasannya masih sekokoh akar. Terkadang Hartadi lupa jika Velo sudah bertransformasi menjadi perempuan dewasa yang menawan dan… seksi.


Bunyi kunci yang sedang diputar terdengar dan Hartadi menyabarkan diri hingga Velo kembali berdiri di ambang pintu. Alis Hartadi terangkat satu, Velo telah mengganti terusan tipis yang membahayakan tadi dengan kaos putih dan sweatpants hitam.

__ADS_1


“Beli kopi di mana, Pak? Di sini lumayan susah cari Star*** ya, kemaren ketemunya di Big Mall Samarinda.” Velo melirik gelas kertas di tangan Hartadi yang ebetulan sedang melangkah masuk ke dalam kamarnya.


“Saya beli di bawah. Mereka melayani dua puluh empat jam.” Hartadi mengedarkan pandangannya ke seisi kamar hotel yang di tempati Velo. Sesuai perkiraannya sebelum datang ke sini, perempuan itu memilih kamar yang paling berkelas.


“Kamu masih terima uang bulanan dari Mas Adi?” Hartadi tiba-tiba dibuat penasaran dengan pemasukan Velo, apakah murni hasil kerja keras perempuan itu sebagai sekretaris teladan atau ada campur tangan dari Papa tirinya.


Velo menghampiri Hartadi di mana pria itu menduduki sebuah kursi empuk berwarna hijau daun, bersisian dengan jendela besar yang tertutupi gorden jenis blackout. Setelah duduk di depan Hartadi, Velo merapal dalam hati agar obrolannya dengan Hartadi kali ini menghasilkan sesuatu yang baik.


“Papih masih ngirim uang setiap bulan, malah setiap minggu kadang-kadang. Cuma saya nggak pernah pakai lagi dari mulai magang, merasa udah mandiri aja secara finansial.” Velo menerima gelas kertas yang diangsurkan Hartadi. “Nggak enak juga keterusan pakai uang Papih, nanti jadi lampu hijau buat Papih terus fokus ke saya.”


“Gimana karir kamu sebagai sekretaris? Sejauh ini oke-oke aja atau punya pencapaian tertentu?” Tanya Hartadi masih menjaga percakapannya dengan Velo berjalan santai, lalu menyuruput kopi hitamnya yang dia bawa tadi.


“Karir saya begini-begini aja, flat dan nggak mungkin mengalami banyak peningkatan. Mau sampai kapan juga, profesi sekretaris yang pro dan makmur tetep ditentukan dari seberapa tinggi profesi orang yang kita dampingin.” Velo menjawab diplomatis.


Dari gelas kertas yang dipegangnya, Velo dapat mencium aroma khas vanilla latte. “Kebetulan saya gandeng direktur tertinggi kedua di Almeda Group, orangnya santun dan nggak pernah mempersulit kerjaan saya. Ukuran gaji, cukup puas karena setara sama tanggung jawab harian saya.”


Hartadi menggumamkan pengertiannya dari penjabaran Velo, yang sekali ia dengar langsung mudah diterima. Tak menampik potensi Velo menjadi Sekretaris potensial sejak lama, Hartadi lah yang mengukuhkan dirinya sebagai bos pertama ketika Velo mulai merajut pengalaman kerja.


         Cerita yang panjang, rumit, dan berbekas. Serangkaian itu kesimpulan Hartadi setiap kali mengingat masa lalu, di mana kehadiran Velo pun menjadi salah satu bumbu dari drama yang menjanjikan.


“Ada kerjaan sampingan yang kamu punya?” itu pertanyaan lain dari Hartadi, sengaja ingin mendengarkan lebih banyak cerita kehidupan Velo.


Hartadi telah mengamatinya sejak mereka duduk berhadapan, Velo nampaknya tak ingin meributkan alasan Hartadi hadir selarut ini. Velo seakan mengikuti kemauan Hartadi, membicarakan apapun yang dimulainya, tanpa terbesit untuk mendebat— selayaknya yang biasa terjadi.


         Velo menerima sinyal baik dari bagaimana Hartadi dating mala mini. Begitu tenang, cara Hartadi bertanya pun tidak sesadis hari-hari lalu. Hatinya agak berdesir, menanti kesempatan yang mungkin saja diberikan Hartadi.


Membalas Hartadi di awali anggukan, Velo tersenyum tipis. “Usaha kecil. Saya jualin tas, dompet, dan belt dari brand semacam Coach dan Tory Burch. Lumayan untuk jadi sampingan,” jawabnya ringan.


“Link siapa yang bantu kamu oper barang dari luar?” Tanya Hartadi lagi.


Hartadi berpikir, apa mungkin hal-hal semacam ini juga diketahui Adiputra? Hartadi tidak bisa menghilangkan prasangka, karena bajingan itu mengutus seseorang untuk mengintai Velo.


         Kenapa Kakaknya itu senang mempersulit diri dengan menyukai anak tirinya sih? Batin Hartadi kesal.


“Saya punya sahabat di Canada yang jadi personal shopper selama usaha ini jalan. Jadi, kita tek-tokan aja dan bersyukur nggak pernah berselisih. Sama-sama jaga kepercayaan,” ucap Velo santai dan mengingat seorang lainnya. “Admin  dan pengiriman dipegang satu orang, kapan-kapan saya kenalin.”


“Berarti kamu financially stable? Serratus persen nggak ada campur tangan Mas Adi lagi?” selidik Hartadi lebih serius.


Velo tidak kalah serius dari Hartadi, ia mengangkat dagu dan senyum tersungging apik dari bibirnya yang penuh. “Seratus persen. Saya bisa jamin nggak lagi bohong ke Bapak. Rekening tempat Papih biasa ngirim uang itu beda sama yang bener-bener saya pakai. Ibaratnya, itu rekening mati.”


“Bagus. Saya suka langkah kamu ngehindarin Mas Adi sejauh ini. Jangan pernah sekali-kali pakai uangnya lagi, ngert?” Hartadi mendapat persetujuan Velo dari simpul tangan membentuk OK.


Hartadi lalu menatap lurus lawan bicaranya yang berwajah oval dengan rambut panjang membingkai wajah.


“Vel, sekarang saya Tanya dan tolong kamu jawab sesuai hati. Apa artinya pernikahan untuk kamu?”

__ADS_1


__ADS_2