
“Kamu sudah punya calon istri, Har?”
Tak hanya orang tua Hartadi yang menanti jawaban, tapi Arow juga yang sengaja tidak ikut campur pun mengarahkan bentuk tatapan yang sama. Hartadi percaya mereka akan tercengang jika dia mengungkapkan nama perempuan yang ingin dia nikahi.
Hartadi tidak menepis, pria itu mengangguk disertai keseriusan yang tergambar di wajahnya.
“Punya, Pak.”
“Har, kamu nggak sedang mencari alasan aja kan?” ucap Wening terkesiap mendengar pernyataan putranya, namun di sisi lain dia bahagia mendengar kabar ini. Tapi gelengan tegas Hartadi menyudahi keraguan sang Ibu.
“Mana pernah aku nyusun alasan hanya semata-mata mau lari dari situasi. Aku kalau nggak senang, nggak setuju, ya langsung ngomong.”
“Kamu nggak mau kenalin perempuan pilihanmu ke Bapak dan Ibu?” ucap Wening mulai menyunggingkan senyum, walau masih diliputi perasaan cemas jika Hartadi kembali gagal membangun biduk rumah tangga.
“Lain kali, Bu. Yang jelas perempuan ini nggak punya benang merah yang membuatku dilarang nikahin dia. Hubungan kami cukup kompleks, tapi nggak sebuntu masa laluku.” Jelas Hartadi sambil bangkit dari duduknya.
“Kami tunggu ya, Har.” Ucap Triawan membiarkan Hartadi menentukan momen paling tepat memperkenalkan mereka dengan perempuan pilihan pria itu.
Menyadari Hartadi berdiri, Arow kontan meninggalkan kursinya dan menatap jam tangan.
“Wuihh, hampir jam sebelas malam. Aku pamit pulang dulu deh, besok harus menunaikan kewajiban di kantor kita yang tersohor. Dan nggak boleh bangun kesiangan.”
“Jam segini masih pagi buat kamu, Ar. Nggak mungkin betah kamu sendirian di kamar.” Celetuk Hartadi sambil mengambil air dari dispenser.
“Saking paginya sampai kepengen tidur nih, Mas. Kerja sama keluarga nggak santai sama sekali. Meeting sehari tiga kali, makan nasi aja dua kali dalam sehari,” ucap Arow bermaksud lari dari topik yang dipantik Hartadi, karena kakek dan neneknya ikut menyimak.
__ADS_1
Yupz, pamannya benar, jam sebelas malam bukan waktunya Arow bersemedi di dalam kamar seorang diri. Arow memerlukan kehangatan dari pihak kedua yang memiliki jari-jari lentik dan pinggul ramping.
Sepengetahuan Arow, Hartadi pemain kelas berat dalam dunia malam. Pria itu memanjakan kebutuhan dasar mereka sebagai kaum laki-laki, juga peminum alkohol yang tidak pernah tumbang. Hanya saja Hartadi handal mengatur kebutuhan, hingga hal-hal tersebut tidak menjadi candu.
“Langsung pulang atau keluyuran dulu?” tanya Wening saat Arow meminta tangannya untuk salim.
“Pulang dong aku kan mau bobo, Eyang Uti…” jawab Arow sambil mengukir senyum manis, kemudian menyalimi tangan kakeknya.
“Inget ya Ar, kamu itu cucu pertama laki-laki harus memberikan contoh yang baik dan tidak mencoreng nama baik keluarga”
“Iya, Yang. Tenang aja, dan kalaupun ada apa-apa di kantor, aku pasti minta jalan tengah sama Papa dan Mas Har. Jadi pertimbangan nggak hanya dari satu kepala aja.”
“Oh, Bagus itu. Kayaknya cara berpikiran kamu semakin dewasa?” ucap Triawan mengamati cucu pertamanya.
“Ah, yang bener?” Ucap Arow terkesan.
“Kamu memang ga minat dari dulu, Har.” Jawab Triawan dengan fakta sangat jelas diketahui oleh keluarga besar mereka. Sementara Hartadi hanya menyeringai kearah ayahnya.
“Aku nggak mau otak makin terbelah. Posisiku hanya sebagai peran pendukung di Brata Group udah cukup bergengsi.”
Selesai membasahi tenggorokannya, Hartadi menyimpan gelas pada top table granit dapur. Dia sapukan pandangannya ke penjuru dapur bersih kediaman orang tuanya tersebut. Dia kehilangan jejak Velo yang seingatnya tadi sedang menuang susu almond.
Ya… pertanyaan ayahnya mengenai Sania menjadi faktor Hartadi teralih dari Velo. Ingin memastikannya dengan lebih jelas, Hartadi mendekati rak dan Menemukan mug putih yang digunakn Velo tadi tengah dikeringkan disana. Yang artinya, perempuan itu sudah berpindah ke kamar.
“Bu, Velo kalo nginep di sini pake kamar yang mana?” tanya Hartadi santai ketika berjalan ke arah ibunya dan duduk di samping Ibunya. Tidak terdengar benar-benar mau tahu.
__ADS_1
“Di lantai dua yang dekat kamar Pranita. Dia sering diminta Ibu menginap, jadi barang-barangnya banyak di kamar itu.” Jawab Wening tanpa menaruh curiga, perempuan itu menahan kantuk dan menepuk lengan suaminya, “Pak, ada baiknya kita istirahat di kamar sekarang. Dari pagi kan Bapak sudah banyak kegiatan.”
“Iya, Bu.” Jawab triawan sambil tersenyum atas perhatian dari istrinya.
Tanpa mengeluh, Hartadi menunggu orang-orang yang saat ini bersamanya di meja makan untuk pergi.
Di mulai dari Arow yang menjauhi mereka, namun orang tuanya masih menduduki kursi semula. Setiap detik dan menit yang kian bertambah, dia semakin tidak sabar menyingkir dari sana untuk menaiki tangga rumahnya.
Duduk dalam ketenangan palsu, Hartadi mengusap bibir bawahnya berulang kali untuk menghalau keinginan hati yang agresif. Dia biarkan terlebih dulu orang tuanya memasuki kamar. Selepas sura pintu di tutup dan kunci di putar, tubuh Hartadi bergerak tanpa di komando.
Diinjaknya lantai dua, sebuah pintu menjadi target Hartadi ketika melangkahkan kaki. Nafasnya tidak memburu, Hartadi sangat senyap bahkan saat memutar knop dan mendorong pintu perlahan-lahan. Pupil matanya melebar akibat penyesuaian dengan penerangan yang hanya berasal dari lampu di atas nakas.
Hartadi menemukan perempuan yang dia cari-cari sedang tertidur di atas ranjang sambil mendekap guling. Sungguh, Hartadi tidak akan melawan dorongan gelap dalam dirinya untuk membuat Velo terjaga.
***
Menjadi anak terakhir dari tiga kakak terpuji dalam akademis dengan kemasan luar cemerlang, tidak membebankan Hartadi sedari dulu. Hakikatnya nama keluarga yang berat Hartadi pikul, namun dia mencari celah agar hidupnya tak harus memenuhi tuntutan sebagai Bratadikara.
Pembangkang dan keras kepala, ayahnya sering sekali mengutarakan dua karakteristik tersebut ketika berselisih paham dengannya sejak remaja. Tapi nyatanya, Triawan harus bungkam setelah Hartadi menyodorkan hasil akhir pendidikan yang memuaskan. Prinsip Hartadi tidak mengapa dia liar, asalkan pusat kepintarannya selalu runcing.
Dan… bukankah malam ini Hartadi patut dicela liar?
Mendatangi kamar perempuan tanpa permisi maupun mohon ijin, kemudian terdiam memandangi dengan hasrat yang mulai membujuk untuk dibukakan jalan. Meskipun kamar orang tuanya berada di bawah lantai ini, desir hasrat untuk maju sangat kuat dan semakin menantang untuk diteruskan.
“Vel…” Hartadi mendaratkan bisikan tepat di telinga Velo sambil menyisir rambut perempuan itu. Berdiri di sisi ranjang dengan tubuh membungkuk, sengaja merayu Velo agar terbangun. “Langsung tidur aja kamu?!”
__ADS_1
Dan akhirnya Velo pun menggeliat, terganggu dengan bisikan dan sentuhan Hartadi. Tak lama Velo pun memeluk gulingnya dengan erat.
“Ck… lama-lama dibuang aja ni guling.” Kesal dengan Hartadi melirik guling tersebut dengan bengis.