
“Audrey??”
“Dree??”
Hartadi memandang sekitar, dia melihat sumber dari banyak teriakan refleks di rumah makan beratap kayu ulin tersebut. Yang paling mengundang perhatian Hartadi berasal dari Velo, serta mantan kekasih perempuan itu.
Velo tidak sadar sudah meninggalkan kursinya juga Hartadi. Dia bergegas menghampiri anak perempuan yang tertelungkup di atas paving block. Lutut anak perempuan itu menghantam permukaan kasar di bawahnya dengan keras.
Masih duduk di kursinya, Hartadi mengamati betapa telatennya Velo membantu anak perempuan yang dipanggil Audrey itu. Velo mengupayakan tangisan Audrey surut dengan membangunkan anak perempuan itu berdiri, lalu meniup-niup lukanya dan menenangkannya tanoa kikuk.
Tak lama, Caesar menghampiri dua perempuan dalam pandangan Hartadi. Saat ini mereka terlukis seperti keluarga. Mereka mungkin hampir menjadi keluarga kecil dan manis, namun masanya telah berganti.
Kini, Velo memilihnya untuk menjadi keluarga perempuan itu. Membuat Hartadi mendapatkan gelar baru nantinya yaitu suami dari Velove L Williams.
“Velove L Williams…” nama yang sesungguhnya sangat cantik untuk diucapkan berulang kali olehnya.
***
Anak perempuan pemilik mata hijau itu mulanya tak sadar siapa yang membantunya berdiri dan meniup luka di lututnya. Namun ketika memandang lama wajah Velo, tangisan anak itu mengencang. Seketika memeluk Velo yang setengah berlutut agar roknya tidak mengenai paving block.
Alih-alih tidak mengingatnya lagi, anak perempuan itu masih menyimpan wajahnya dalam memori.
Ada kerinduan yang berdesir di hati Velo melihat Audrey Medika. Anak perempuan Caesar yang terlahir ketika usia ayahnya cukup muda dan mengemban tanggung jawab pendidikan. Anak yang Velo sayangi setiap harinya, karena dulu dia ingin menjadi ibu sambung yang baik.
“Sakit ya, Dree? Liat lukanya lagi sini, bisa infeksi kalau kelamaan nggak dibersihin. Ucap Velo sambil mengusap rambut Audrey.
“Sakit banget!” rengek Audrey.
“Iya, nanti diobatin biar nggak sakit lagi. Terus pakai plaster kesukaan Audrey yang ada gambar-gambar Disney.” Velo mengingat jika Audrey adalah penggemar nomor satu kartun Disney. “Masih koleksi nggak?”
__ADS_1
“Masih, di kamar banyak.” Jawab Audrey sambil masih terisak. Lalu wajah Audrey menjauh dari leher Velo. “Tante Velo udah nonton Luca belum? Aku streaming di Disneyplus. Rambut Luca lucu loh Tan, keriting mirip keong.”
Velo mengerjap atas pertanyaan yang tidak di duga-duga tersebut. Sejujurnya dia mengira Audrey akan menuntut ketidakhadirannya usai memutuskan hubungan dengan Caesar. Entah alasan apa yang dipakai Caesar, Audrey mengajaknya bicara seakan mereka masih sedekat dulu.
Otaknya kini sedang memikirkan siapa Luca dari Disney. Ditambah lagi Audrey menatapnya dengan serius, mengharap Velo memgetahui siapa Luca yang dimaksud. Meskipun hidung Audrey masih merah akibat tangisannya tadi.
“Eu… Luca ya, hmm Tante belum sempet nonton, karena harus kerja sampe sore trus udah pulang langsung tidur. Kalau tugas sekolah Audrey tetep ngerjain kan?!”
“Audrey!”
“Daddy!”
Tangan anak perempuan yang memeluk Velo terlepas dari lehernya ketika mendengar suara ayahnya.
Bahkan belum sempat membalas dengan anggukan sekalipun, karena Audrey sudah berganti memeluk ayahnya dan melapor betapa sakitnya luka di lutut anak perempuan itu.
“Daddy aku jatoh!” ucap Audrey sambil merengek pada Caesar manja ketika dia masuk ke dalam pelukan Caesar. Air matanya kembali jatuh saat Audrey menunjukan luka di lututnya.
Dengan berkaca-kaca, Audrey menatap ayahnya meminta perhatian. “Aku mau langsung pulang aja. Bilangin Oma kalo aku mau cepet pulang. Luka aku makin perih, Daddyyy!!!”
Dalam kesempatan tersebut, Velo bersitatap dengan Hartadi yang masih duduk di kursinya dan memperhatikan tanpa mencela. Jujur saja, sesungguhnya Velo tidak bisa menebak dan mengartikan sorot mata pria itu.
Velo jadi dirundung tidak enak hati, saat dia mengingat begitu spontan menghampiri Audrey yang terjatuh. Apa yang terbesit dalam benak pria itu saat melihatnya khawatir pada Audrey, anak dari mantan kekasihnya?
“Vel, makasih udah nolongin Audrey. Dia tadi mau cuci tangan sendiri, tapi kesandung tali sepatunya yang aku lupa iket ulang.” Ucap Caesar sambil mengangkat Audrey ke dalam gendongannya, walaupun anak perempuan itu sudah cukup besar.
Suara lembut yang ditunjukkan Caesar padanya mengharuskan Velo menahan diri untuk tidak membuang wajah, sebab adanya Audrey di antara mereka, Velo harus bersikap kooperatif dengan memperhalus tutur katanya terhadap Caesar.
Semoga saja ucapannya saat di kantor tempo hari sudah menjelaskan bahwa dia tidak membuka peluang untuk kembali bersama. Menjalin hubungan dengan Caesar untuk yang kedua kali akan memerdekakan ayah tirinya. Mengikatkan diri dalam komitmen bersama Hartadi adalah pencapaian terbaik Velo.
__ADS_1
“Awasi Audrey dengan baik,” ucap Velo tidak memberi senyuman pada Caesar.
“Tante Velo udah selesai kerja di luar negeri? Kok ada di sini?” ucap Audrey membuat wajah Caesar menjadi pucat pasi. “Main ke rumah lagi dong, Tan. Aku kangen di temenin nonton dan di buatin spaghetti yang ada udangnya.”
“Sayang, Tante Velo sibuk kerja…” ucap Caesar yang berusaha mencegah sang outri melucuti kebohongannya di depan Velo.
“Tante Velo udah di sini Daddy, udah pulang. Iya kan Tante?” ucap Audrey besikeras tanpa melihat perubahan pada wajah ayahnya. “Aku mau Tante Velo main ke rumah. Aku bosen sama Mbak Nina terus, apalagi mbak nggak ngerti bahasa inggris.”
“Daddy paham Dree, Cuma kamu nggak bisa maksa Tante Velo. Nanti Daddy ajak sepupu-sepupu kamu nginep di rumah.” Caesar terdengar tegar, tapi matanya terlihat sendu setiap kali melihat Velo.
Sementara Velo tersenyum sambil melihat sinis Caesar. Tidak mempedulikan Caesar yang salah tingkah, karena ketahuan mencari alasan. Tapi baguslah, alsan itu terbilang wajar.
Dari awal Velo sudah menduga jika Caesar membuat karangan untuk menutupi ketidakhadirannya di depan Audrey. Namun keinginan Audrey yang menginginkan Velo untuk main ke rumah putrinya itu menerbitkan segaris senyuman tulus.
“Tante nggak bisa sering-sering maen ke rumah Audrey. Tapi, kapan-kapan Tante bakalan mampir ke sana, ya?” ucap Velo tanpa penuh kepastian.
“Kenapa nggak bisa langsung, Tante? Audrey punya sopir kok yang bisa anter jemput Tante. Iya kan Dad?” Audrey mengerling pada Caesar meminta dukungan dari sang ayah.
Sementara Caesar mengangguk sambil menunduk, mengalah dengan keinginan Audrey, “Iya, ada sopirnya Audrey.”
“Bukan masalah sopir, Dree. Sekarang Tante lagi makan sama temen. Kasian dong kalo ditinggal sendirian. Padahal kan kesininya bareng sama Tante.” Jelas Velo menghindari ajakan Audrey yang bisa meninggikan harapan Caesar.
“Temen?” Audrey mengerutkan keningnya lalu matanya menyapu ke sekitar rumah makan tersebut. “Yang mana temen Tante? Nggak ada teman perempuan-perempuan kayak Tante yang semeja barengan. Aku sama temen-temen sekolah kalo makan di kantin selalu barengan loh."
Harusnya Velo mempertegas dengan siapa dia makan. Karena mungkin itu penting untuk diketahui oleh Caesar.
Seolah tidak menyadari raut wajah Caesar yang serius menyimak pembahasan kali ini, Velo mengarahkan Audrey ke satu titik dimana Hartadi sedang duduk mengawasinya sambil menyesap wedang jahe.
“Laki-laki yang duduk di sana, temennya Tante.” Ucap Velo sengaja diperbesar agar Caesar juga mendengarnya.
__ADS_1
“Ih, jutek amat muka omnya!” seketika Velo pun tertawa karena tidak menyangka akan tanggapan Audrey saat melihat Hartadi.