Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Memperjuangkan Restu


__ADS_3

AUTHOR POV


Kesungguhan dari dari suara Hartadi mendesirkan ketakutan  di dalam hati Asri. Tangannya yang sedang menggenggam pada tangan Velo pun sedikit melonggar.


“Velo pernah lancang masuk ke dalam pribadi kamu, Har. Mbak tau hubungan kalian juga nggak sejalan. Nggak ada satu pun yang bisa mendamaikan kamu sama Velo, kamu juga tetap menjauhi anak Mba. Terus, kenapa sekarang kamu tiba-tiba mau nikahin Velo?” tanya Asri heran.


“Hubungan kami—”


“Kalian pasti bersama…” potong Asri tiba-tiba. Satu pemahaman muncul di benak Asri. Dia sudah merasa kehadiran Hartadi hari ini tidak lahir dari keaengajaan semata. “Jujur Har, kamu ngomong sama Mba kalau kamu nggak sengaja ketemu Velo, tapi sebenernya nggak kan? Kamu bohongin Mba Har. Kalian memang…”


Asri memutus ucapannya lalu memijat pelipisnya. Jika keluarga suaminya menerima informasi ini, apa yang akan mereka lakukan pada Velo?


Dia sudah menikah dengan Adiputra belasan tahun, melahirkan keturunan berdarah Bratadikara, sehat dan tampan, tapi fakta tersebut tidak membuat semua keluarga suaminya berbalik menyukainya, begitupun mereka pada Velo. Asri terdiam menenangkan diri atas pernyataan Hartadi padanya tadi, disekanya kedua sudut mata yang hampir dia loloskan air matanya. Keraguan besar terlukis di wajah Asri, tapi itu tidak lantas menggoyahkan  Hartadi.


“Siang ini, aku sama Velo  emang nggak sengaja ketemu. Aku nggak bohongin Mba. Atasan Velo ngajak dia makan siang, Mba. Sedangkan aku lagi sama rekan kerja lain. Bukannya kebetulan ini malah menguntungkan? Aku yang bawa Velo ke sini.”


Asri terdiam mencerna apa yang dikatakan Hartadi. Andai saja Hartadi tidak memperdulikan itikad Velo menjaga hati sang Ibu, maka sudah dipastikan pada detik ini Asri sudah mengetahui kebusukan suaminya.


“Kami udah menyelesaikan masa lalu dan bergerak ke depan. Harus dipahami, kalau aku dan Velo nggak lagi seperti yang Mba ataupun keluarga lain tau. Perubahan signifikan yang Mba sebut barusan juga ada prosesnya.”


Kesabaran Hartadi dipertaruhkan agar mengantongi restu. Situasinya tidak semengerikan ketika dia mendatangi keluarga Lintang beberapa tahun silam. Setidaknya, ini bukan pengalaman pertama. Walaupun jika didalami, Asri hanya lapisan pertama restu sebab yang menantinya kemudian adalah orang tuanya sendiri.

__ADS_1


“Kami nggak mungkin sibuk ngabarin semua orang karena udah baikan, kan? Lagian kita bukan anak remaja lagi, Mba. Penyelesaian masalah pun nggak bertele-tele.” Ucap Hartadi dengan percaya diri dapat memberi pengertian pada Asri, biarpun dia mendapati penolakan kentara perempuan itu atas ijin yang di pintanya.


“Hah… Mba butuh waktu buat mencerna semuanya, Har. Mba akan coba pahami kalau hubungan kalian memang berubah lebih baik dari yang terakhir Mba tau.” Ucap Asri terlihat dari raut wajahnya yang mulai gundah.


“Mengenai pernikahan, Mba mohon kalian pikirkan lagi. Mba belum bisa menentukan jawaban yang kamu butuhin. Mba mau denger Velo pas dia bangun nanti. Maafin Mba ya, Har.” Melihat ke arah Hartadi meminta pemaklumannya.


Pertama kali memasuki keluarga suaminya, Hartadi tidak pernah memandang sebelah mata dirinya dan Velo. Mungkin nggak terlalu peduli juga, tapi dia hargai penerimaan pria itu selma ini. Jadi menolak ijin Hartadi menikahi Velo pun , Asri tidak boleh asal bersikap.


Semula dalam bayangan Asri, hari ini akan berjalan selayaknya hari-hari yang lalu. Tapi secara mengejutkan, hari ini roda kehidupannya berputar ke sisi yang berlawanan. Belum selesai dengan kesembuhan putrinya, sekarang dia dihadapkan pada penentuan besar sebagai Ibu tatkala seorang pria meminta restunya untuk meminang Velo.


“Mba nggak yakin melepas Velo jadi istriku, karena semua ini kesannya mendadak atau Mba punya pendapat lain? Supaya aku tau dimana poin yang harus dipikirkan ulang. Apa aku nggak nyebutin kata cinta?” tanpa memperhalus kata, Hartadi bertanya telak di depan Asri. Hartadi memang tidak bisa bermanis-manis mulut, apalagi situasi yang menegang akibat keberanian Asri memintanya untuk mundur.


“Itu salah satunya Har.” Asri tidak bisa menerangkan ataupun  menjelaskan apa yang dia takutkan dari hubungan Hartadi dan Velo, karena itu dia balas seadanya saja.


Asri yakin, akan ada waktunya  pria lain yang datang melamar Velo dengan cinta dan memberikan keluarga bahagia untuk putrinya. Asri akan meminta Velo untuk bersabar sedikit lagi meskipun waktu akan terus menambah usia putrinya.


“Maaf, Mba ngerasa berat ngelepasin Velo jadi istrimu. Kalau kamu masih menunggu restu sekarang, nggak ada yang berubah dari Mba. Belum bisa…”


Memang yang bergelar janda dahulu itu dirinya, tapi Velo adalah putrinya dari suami pertamanya. Tidak semua keluarga Bratadikara menerima kehadiran putrinya. Asri khawatir kemalangan yang dia dapatkan terulang. Impian Asri, sang putri mendapatkan keluarga baru yang menyambut kedatangannya penuh suka cita tanpa ada bibir yang melukiskan senyum benci.


“Ada beberapa hal di luar cinta yang mendominasi seseorang  untuk melangkah maju ke pernikahan. Sebelumnya, apa Mba pernah menanyakan pendapat Velo tentang pernikahan yang dia butuhkan? Pria seperti apa yang dia cari?”

__ADS_1


Asri dibuat diam oleh rentetan kata-kata Hartadi yang sangat mengenainya. Seakan tersadar, Asri belum sekalipun mempertanyakan pernikahan dan pria seperti apa yang diinginkan untuk putrinya.


“Mba nggak pernah nanya kan?” ucap Hartadi lebih pedas dari sebelumnya.


Sementara Asri langsung kecewa pada dirinya sendiri. Asri terlanjur terpaku pada hal  lain hingga hal yang sesederhana itu pun tidak dia ketahui.


“Aku menunggu Mba menanyakannya sama Velo. Setelah jawabannya Mba dapat, silahkan tentukan lagi. Mba kasih aku restu  buat nikahin Velo atau benar-benar menentang.” Ucap Hartadi berdiri dari duduknya, tidak menunggu reaksi Asri. Hendak berlalu keluar dari kamar rawat inap, sejenak dia pandangi sosok Velo.


Gips dan plester menggantikan heels yang biasa menjadi hiasan di kedua kaki Velo. Inginnya perempuan itu tau bagaimana momen krusial di mana dia memperjuangkan restu. But it’s okay, Hartadi bukan seseorang yang gila sanjungan. Namun, Velo akan tau sejauh mana keseriusannya pada komitmen mereka jika diberi kesempatan menyaksikannya.


Kalau Asri tetap punya alasan untuk tidak memberi restu because in the name of goddamn love that is always hailed by everyone, perempuan itu akan menangis bila tau pernikahan sangat dibutuhkan Velo agar terlepas dari Ayah tirinya. Kalau obsesi Adiputra tidak ada, Velo pun pasti tidak mungkin memimpikan dia berlabel suami Velove.


“Maaf, Mba terlalu cepat ambil keputusan.” Ucap Asri ketika Hartadi sampai di pintu kamar.


Hartadi terdiam menahan langkah  untuk tidak meninggalkan kamar rawat inap. “Aku pikir juga gitu, Mba.” Balas Hartadi dengan intonasi yang masih tenang membalas perkataan Asri yang bernada sesal.


“Dan satu lagi…” ucap hartadi menggantungkan ucapannya sekian detik. “Poin melindungi yang menjadi harapan Mba untuk suami Velo, itu aku penuhi. Aku nggak harus kasih bukti dan janji ke Mba, tapi Velo tau apa yang udah aku lakukan buat dia.”


Selepas melengkapi basa-basinya dan membiarkan Asri menemani Velo, Hartadi berjalan menjauhi kamar rawat inap perempuan itu. Dia mengeluarkan handphone sambil menduduki salah satu kursi tunggu yang kosong tidak ada orang lain, yang menguntungkan Hartadi untuk menghubungi ‘Orang Lapangan’ yang digagasnya.


“Bagaimana area di sekitar saya? Clear?”

__ADS_1



__ADS_2