
“Jujur, aku takut gila.” Velo mengulas senyum, bedanya kali ini bentuk kegetiran. Memacu kembali langkahnya menggunakan kruk, dia sadar tidak selamban kemarin ketika gips masih terpasang.
“Selain dulu ketakutan sama Papih, aku beneran takut jadi gila. Tekanan tinggal serumah sama Papih, ngebuat aku nggak konsen ngelakuin banyak hal.”
“Aku punya perasaan risih setiap nerima tatapan Papih, apalagi kejebak di rumah kalau Mamih tiba-tiba ada acara tanpa papih. Aku ngerasa terancam, Mas. Tatapan mata papih nggak bisa bohong, dia punya nafsu sama aku.” Velo melepas kruknya. Dia sandarkan alat bantu berjalan tersebut ke sisi lemari. “Bawaannya mau cepet-cepet masuk kamar, kadang nggak keluar sampai pagi. Aku capek ngehadepin situasi kayak gitu. Kadang hampir diracunin sugesti sendiri. Gimana nggak mikirin pergi dari rumah?”
“Adanya si kembar juga anugerah di masa sulit aku.” Velo membuka lemari wardrobe. Memindai pakaian mana yang harus dia sisihkan ke atas ranjang untuk di kemas. “Aku bersyukur mereka ada di pernikahan Mamih dan Papih. Fokus Mamih ke si kembar, cukup ngelabuin mamih kalau aku sempet ketakutan sama suaminya. Makin besar, si kembar nggak jarang nempelin aku di rumah. Papih lumayan susah deketin aku untuk maksud tertentu. Sayangnya, keputusan aku tinggal sendiri udah final.”
Sesaat yang rupanya cukup lama, Hartadi tidak melakukan hal lain. Dia memandang tubuhnya di sentral kamar Velo, demi memandangi punggung perempuan itu. Mendengar perlakuan tidak senonoh kakaknya terhadap Velo berulang kali pun, hatinya tetap sepanas pertama kali.
“Kamu pernah datengin psikiater, selain karena insiden di mobil Mas Adi?”
“Emangnya aku belum pernah bilang, ya?” Velo palingkan wajahnya ke mana Hartadi berdiri. Ekspresi menuntut Hartadi menjelaskan bila dia belum menceritakan apapun.
“Beberapa tahun lalu sebelum masuk Royal WSC, aku langganan ke psikiater. Selain tempat nyalurin unek-unek yang dipendam, psikiater bantu arahin aku untuk tetap balance ngejalanin hidup. Bisa berteman sama siapa aja, nggak takut pacaran. Intinya, nggak narik diri dari lingkungan sosial.”
Ok, Enough!
Menahan lidah memaparkan balasan, Hartadi membalikkan tubuh agar terlepas dari kejujuran yang Velo limpahkan melalui netra perempuan itu. Napas Hartadi berhembus kasar, upayanya mengurai amarah yang dia maklumi kehadirannya. Akhir-akhir ini, hanya mendengar nama kakak keduanya pun berhasil memancing emosi. Lebih lagi sesudah mendengar penuturan Velo tadi.
__ADS_1
“Mas, ambilin koper aku dong?” Velo memutus nuansa muram yang bersumber dari sosok pria di tengah kamar.
Dia tidak senang, biarpun kisahnya yang memiliki andil membuat Hartadi tampak berusaha keras mengontrol emosi. “Lojel kuning. Tuh, di sudut kamar.”
Pandangan mata Hartadi masih sarat akan amarah, tetapi menuruti permintaan tolong Velo. Pandangannya lantas menyusuri sudut kamar. Ketika menemukan objek yang diminta, dia mengambil handle koper.
“Mau pakai koper ini lagi?”
Sekali liat, Hartadi langsung mengenali koper kuning tersebut. Velo mempergunakannya selama dia di Samarinda. Dia menoleh ketika tidak sengaja menangkap anggukan pelan Velo. Dia melempar sirat penuh pertimbangan.
“Kalau pake koper segede ini, kamu kesannya pindahan ke rumahku. Apa memang pengennya gitu?”
“Aku nggak Cuma masukin baju ke koper. Sekalian perlengkapan skincare aku loh. Kamu cek aja sendiri ada berapa macem di rak. Please Mas, nggak usah komen berat-beratin koper. Aku butuh skincare, oke?” Velo meraih beberapa kaos dari urutan kiri pintu wardrobe nya yang dibuat tinggi mencapai plafon. Sebagian baju terusannya digantung, sedangkan pakaian dalamnya tersimpan di laci terbawah. Bagian atas lemarinya hanya berisikan koleksi tas yang dilapisi dust bag.
“Kamu masukin bajunya sambil duduk sini. Jangan ngerasa gips udah nggak dipasang, artinya sembuh total. Kaki kiri kamu belum bisa lama-lama berdiri.”
“Iya... Iya...” Velo tidak ingin mendebat. Nada bicara Hartadi saja yang terdengar menusuk, padahal dikatakan demni kebaikan Velo. Dia jarang tersinggung, karena sejatinya Hartadi memang yang ‘seperti’ itu.
“Lubricant gel?”
“Apa, Mas?” Velo mengerutkan kening sambil duduk di pinggir ranjang. Tumpukan pakaian telah berada di sebelahnya, karena dia memindahkan satu persatu. Kebetulan lemari wardrobe dan ranjangnya berdekatan, berbeda dengan letak kamarnya di kediaman Hartadi.
__ADS_1
“Lubricant gel?” Hartdai mengeraskan rahang kala kakinya menghampiri rak putih asal swedia yang letaknya berdekatan dengan meja rias Velo. Matanya memincing, menghakimi keberadaan benda yang terselip diantara botol-botol kosmetik Velo. “Velove L Williams, kamu simpen barang ini di apart?”
“Lub— lubricat?” Velo melebarkan mata menyadari kesalahannya membiarkan Hartadi mengitari area pribadinya. Bahu dan punggung Velo kian menegang, ketangkap basah atas sesuatu yang berlipat ganda lebih memalukan dari ‘thong’ miliknya pagi ini.
“Aahhh itu punya temen SMA aku itu, Mas. Mau aku jadiin kado pernikahan, tapi keburu lupa kasih.”
Hartadi melipat kedua tangannya ke depan dada. Berpose angkuh, tidak beranjak ke mana pun. Masih terpaku memperhatikan botol berkemasan biru, seolah ini waktu perdananya melihat gel pelumas.
“Mau kasih ini buat kado pernikahan teman? Nggak salah pilih?”
“Dasarnya niat lucu-lucuan aja, tapi Akhirnya aku dan temen-temen kirimin dispenser kok, makanya jadi lupa ngasih ‘itu’.” Jelas Velo sambil mengemasi pakaiannya untuk disusun ke dalam koper, menjadi tugas yang teramat berat dikerjakan Velo kali ini. Namun semesta bberbaik hati menyelamatkan wajahnya, dia dan Hartadi saling membelakangi berkat posisi duduknya sejak awal.
“Singkirin dari sini kalo emang nggak dipake. Buang sekalian. Nggak usah nyimpen yang beginian.” Hartadi menjauh dari rak kosmetik Velo. Dia menggelengkan kepala tiap menemui kalangan muda yang memberikan kado pernikahan berupa ****** ataupun alat-alat penunjang kepuasan seksual. Dia pun mendatangi pesta bujangan, para sahabatnya telah banyak yang menikah, tetapi tidak terpikirkan memberi salam tempel barang murahan seperti itu.
“Buangin.” Velo membuka resleting koper. Mulai memindahkan atasan yang didominasi kaos rumahan ke dalam koper kuning yang telah terbuka di atas ranjang. Memang dia pura-pura santai, sejujurnya napas saja terjeda sekian kali. “Aku nggak pakai. Nggak tau deh kalo nanti nikah, perlu gituan apa nggak? Tergantung partner aku nanti gimana kan?”
“Mas buangin sekarang. Tanpa gel macam ini, jelas bisa sama-sama puas. Yang butuh lubricant gel, berarti performa intro nya masih lemah.” Hartadi tidak jadi memutar tumit, sebab dia benar-benar memusnahkan benda itu dari kamar Velo. Meraih botol lubricant gel dari brand ****** ternama tersebut, dia segera menyeret kakinya keluar kamar Velo dan mencari tempat sampah di luar pintu apartment.
Ditinggalkan seorang diri dalam kamar, Velo menggunakkan kesempatan itu untuk menelungkupkan tubuhnya. Tangan yang terkepal bergerak memukul-mukul permukaan ranjang. Wajah terbenamnya pun terasa menghangat. Selepas insiden terjatuh di dalam kamar, Velo mengulang kembali rupa-rupa tidak tertebak. Apa sebabnya hati sang Ibu yang masih tidak merelakan?
Uniknya, Velo kali ini diselamatkan oleh kedewasaan Hartadi yang menjalankan pola pikir. Bila pria lain mengetahui dirinya menyimpan gel pelumas di dalam kamar, dia yakin akan digoda habis-habisan. Bukan sebaliknya diinterogasi secara sinis, persis yang dilakukan Hartadi terhadapnya tadi. Entah dia harus tersenyum atau meringis menyadari kenyataan ini.
__ADS_1
Velo mengangkat sedikit wajahnya demi mengasihani apa yang menimpanya di depan Hartadi. Tidak lupa, jemarinya menyisipkan helai-helaian rambut yang menjuntai ke belakang telinga.
“Velo, kenapa nggak lo buang dari dulu sih? Nggak cukup kejadian thong? Lo tega sama diri sendiri.”