
“Pak Maestra dan Pak Haris kok bisa tau Bapak ke Jakarta bareng perempuan? Emang mustahil banget ya Bapak kerja di pusat lagi kalau bukan ngebawa pulang perempuan?” celetuk Velo sambil mendekatkan dirinya kearah Hartadi.
Hartadi mengusap pelipisnya sambil berfikir. “Maestra dan Haris nggak pernah kepikiran saya ngelepas Royal WCS Samarinda dan pulang ke Jakarta, jadi mereka ringkas aja ngira saya mau nikah. Mereka tau jiwa saya di Cabang Samarinda kayak apa, karena hidup saya lagi ancur-ancurnya waktu membangun cabang itu.”
“Ck… pantesan aja saya dimusuhin satu kantor. Gara-gara saya nyusahin idola mereka, ya?” cebik Velo senyum masam. “Cabang Samarinda diresmiin lima tahun lalu, saya juga kebetulan masih kerja di pusat. Pas dapet info Cabang Samarinda, saya justru mikirnya Bapak cerdas banget nyari pelarian yang menghasilkan.”
Hartadi terdiam setelah mendengar kalimat Velo dengan heran mengerutkan kedua halisnya. “Bentar Vel, satu kantor musuhin kamu?”
“Hmmh… Orang-orang kantor pusat nggak pernah ramah ke saya semenjak Bapak pergi. Pak Maestra mindahin saya ke HR, tapi mereka semua nggak ada yang welcome. Makanya, saya resign, dari pada makan hati setiap dateng ke kantor dikucilin mulu, saya selalu dijadiin upik abu pak, kalo Bapak belum tau, Eh… masih mending deng upik abu daripada nggak dianggap ada… lebih parah lagi kan?!” jelas Velo tertawa hambar mengingat kisah kelamnya saat di Royal WCS Jakarta.
“Jujur, saya nggak tau kalo karyawan pusat berubah ke kamu dan mereka bersikap kurang professional. Saya minta Maestra masukin kamu ke divisi lain, tapi saya nggak dapet laporan atau kisi-kisi mereka jadi begitu sesudah masalah kita selesai,” tutur Hartadi sedikit membela diri.
Memang selama ini tidak ada yang menyampaikan perubahan besar karyawan Royal WCS terhadap Velo. Baik kedua sahabatnya, orang-orang kantor yang mengenalnya secara pribadi, karena itu dia terkejut mendengar fakta tersebut dari Velo setelah tahun-tahun yang terlewati.
Tidak melepas tanggung jawab dan memecat Velo, Hartadi meminta perempuan itu ditempatkan ke salah satu department pada kantor pusat. Sementara dirinya, mencari jalan keluar dari kerumitan hidupnya dengan melepas kursinya di Jakarta dan bertandang ke Samarinda membentuk pencapaian baru.
Velo menggigit kuku ibu jarinya, lalu sekilas menertawakan perkataan Hartadi. “Mana ada yang mau nyinyirin saya ke Bapak? Backround asli kita sebagai keluarga bukan rahasia umum di kantor. Ya pasti takut di depaklah mereka!”
“Mana ada sih saya terapin nepotisme? Saya tau kamu kompeten dari IPK dan hasil studi, makanya saya terima rekomendasi Mas Adi buat angkat kamu.” Ucap Hartadi menatap lurus Velo. “Berarti orang-orang pusat nggak nilai saya netral dong?”
“Hm.. Mereka susah mau nilai netral.” Velo mengedikan bahu. “Simple nya gini Pak, ngapain bos angkat anak kakaknya buat jadi sekrearis kecuali ‘titipan’? udah biasa kan hal-hal semacem itu ngebentuk kesan Bapak nggak netral?”
“Ck… pangkat tinggi pun memang serba salah di mata karyawan,” sinis Hartadi seraya mendengus. “Apa ya reaksi mereka nanti kalo tahu kamu naik pangkat jadi istri saya? Kejang-kejang kali.”
“Hmmmm… seru juga nih kalo saya petantang-petenteng dateng ke kantor pakai gaya sosialita berstatus istri Hartadi Bratadikara. Masalahnya, mereka nggak tau kalo saya Cuma anak tirinya Papih. Tar jadinya disebut-sebut hubungan terlarang lagi?” Velo terkekeh sebab menemukan potensi gossip dikalangan Royal WCS.
Hartadi bersandar pada pintu mobil yang masih tertutup, lalu menyipitkan matanya ke arah Velo tak percaya. “Tumben kamu mikirin omongan orang Vel? Di mata saya kamu itu tipe-tipe yang bodo amat sama omongan orang lain.”
“Emang saya bodo amat kok pak.” Velo mengeluarkan Lip balm sambil memoles bibirnya tanpa peduli diamati Hartadi. “Tadi tuh saya Cuma ingetin Bapak. Sembilan puluh delapan persen karyawan di pusat nggak tau saya ini keluarga tirinya Bapak.”
__ADS_1
“Bagus, karena nggak ada untungnya juga mikirin orang lain.” Ucap Hartadi sambil menghidar dari pemandangan di sampingnya. Dengan dongkol, Hartadi menolehkan kepalanya ke kanan dan sedikit membelakangi Velo, tak ingin kembali terpengaruh oleh pesona Velo.
Di luar ekspetasi, Hartadi menangkap beberapa sosok yang sangat dikenalinya. Segera Hartadi memastikan Velo sudah siap atau belum, karena beberapa sosok yang sedang berjalan bersama-sama itu mungkin akan menghampiri mobilnya.
Dan benar saja, awalnya Haris menunjuk-nunjuk mobil Chevrolet Camaro yang serupa Bumblebee dalam transformers, namun beberapa detik kemudian tertuju pada mobilnya seolah mengetahui Hartadi berada di dalamnya.
“Vel, temen-temen saya lagi jalan kesini,” ucap Hartadi sambil membunyikan jari-jari tangannya hingga terdengar suara berderak dari tulang. “Mereka ribut terus, ngarep banget ketemu orang yang bikin saya pulkam. Padahal, belum dikasih tau apa-apa sama saya.”
“Sampai sengaja bikin acara ngumpul-ngumpul gini, Pak?” Tanya Velo santai sambil mengikuti pandangan Hartadi menemukan wajah-wajah tidak asing tengah beriringan menuju mobil mereka.
Sepertinya para sahabatnya Hartadi itu dateng lebih awal dibandingkan mereka, karena sangat begitu antusias… Mungkin ya?!
“Kamu ngerasa kecepetan nggak ketemu temen-temen saya? Komitmen kita kayaknya baru dua hari yang lalu deh.” Ucap Hartadi sambil mengambil ponselnya yang berada di atas dashboard, lalu memasukkannya ke saku celana.
“Kalau saya ngerasa kecepetan atau belum siap, nggak mungkinlah ngabisin waktu make-up dan ikut Bapak sekarang.” Ucap Velo buru-buru merapihkan rambutnya yang tergerai, memperjelas helai-helai rambutnya yang hitam.
Jadi kedatangan Hartadi ke Apartement nya bukan sekedar mengunjnungi ‘calon istri’. Hartadi mendapat undangan paksa dari para sahabat yang sudah menyiapkan acara kecil-kecilan untuknya, lalu mengolok akan menggunakan jasa detektif swasta kalau Hartadi tidak mengikutsertakan pasangannya.
Velo sendiri tidak gugup saat diajak menemui sahabat-sahabat Hartadi. Selain telah mengenal dua diantaranya, Velo cukup percaya diri dengan penampilan dan kemampuannya beradaptasi.
“OK, saya Cuma mastiin aja kamu nggak ngutuk saya diam-diam, karena nggak pertimbangin kesiapanmu,” ucap Hartadi bersiap-siap menurunkan kaca jendela yang bersisian dengannya.
“Saya ngutuk Bapak diam-diam sih, tapi di luar konteks pertemuan dadakan ini,” sahut Velo menghentikan semua gerakan yang ingin Hartadi lakukan, karena pria itu reflex mengesampingkan wajahnya sehingga kembali beradu tatap dengan Velo.
“Kamu ngutuk saya apaan?” Tanya Hartadi serius.
‘Supaya Bapak hilang selera sama perempuan lain dan bilang tidak pada teman tidur.’ Ucap Velo dalam hati sambil memperhatikan wajah Hartadi.
“Rahasia. Masa bilang-bilang?” ucap Velo mengaitkan tali tasnya ke atas bahu, melempar kode agar Hartadi melihat ke belakang. “Pak, itu…”
__ADS_1
Hartadi berdecak kesal sebab ucapan Velo membuatnya penasaran, namun wajah Haris sudah melongok dari balik kaca jendela mobil yang sudah diberi kaca film gelap. Mau tidak mau, Hartadi harus menahan kesalnya dan menurunkan perlahan kaca jendelanya.
“Har, lelet banget sih?!” semprot Haris begitu tidak ada lagi kaca yang membatasi mereka. “Lo kan bintang utama hari ini, tapi ngaretnya kebangetan. Untung aja Chef Juna sepupu gue, doi masih terima gue undur nyajiin teppanyaki buat kita.”
“Bukan salah gue. Ngasih kabar ngumpul-ngumpul pas hari H!” Hartadi balik menyemprol Haris, sekaligus menumpahkan kekesalan karena diganggu sebelum Velo sempat memuaskan rasa penasarannya.
Velo masih menjadi pengamat, karena satupun dari sahabat Hartadi belum ada yang menyadari kehadirannya. Cukup memberi Velo kesempatan menyaksikan interaksi Hartadi bersama para sahabatnya.
Rasanya nostalgia melihat mereka mengobrol, dulu scene seperti ini adalah makanan sehari-harinya, saat Velove berumur dua puluh empat tahun, dan sedang naif-naifnya memandang cinta.
“Ck… minggir deh Har, di samping lo ada cewek! Ada badan lo jadi nggak kelihatan!” Haris tiba-tiba menjadi pihak yang paling rusuh, dengan cepat pria itu menarik bahu Maestra mendekat dan meminta Hartadi tidak menutupi pandangan mereka.
“Ih, berisik lo!” desis Hartadi menurunkan telunjuk Haris yang hampir teracung ke arahnya, namun dia tahu sebetulnya ditunjukan untuk Velo di belakang tubuhnya.
Velo heran dengan keramaian di sekelilingnya. Kalau tidak salah, dirinya yang tengah diributkan Hartadi dan dua sahabatnya kan? Seakan ada kekesalan tertentu yang coba pria itu lampiaskan pada kedua sahabatnya. Hartadi pun tidak memperlihatkan tanda-tanda mengalah.
Tidak ingin menjadi ajang tebak-tebak buah manggis , Velo agak memajukkan tubuhnya dan menyapa mereka dari balik punggung maskulin Hartadi.
“Pak Haris, Pak Maestra, apa kabar?” ucap Velo memamerkan senyumnya. Sementara Hartadi hanya mendengus membuang napas saat Velo menyapa mereka.
Satu, dua, ti…
“VELO???!”
__ADS_1
Hayoo.... mana nih fansnya Velove sama Hartadi???
jgn lupa like komen favorit ya.. biar authornya seneng ngebut nulis bab selanjutnya...