Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Jam Rawan Kantuk


__ADS_3

Singkat aja, Hartadi sekarang sudah berdiri di depan Velo sambil mengamati hasil dari bagaimana keras kepalanya perempuan itu. Wajah Velo tampak kepayahan mengamati sakit yang mungkin terbit dari kaki kirinya. Sakit itulah yang sebenarnya membuat Hartadi menjadi lebih berguna di dalam kamar rawat inap ini selain tugas remehnya, yaitu menemani Velo dan menumpang tidur.


Sementara yang Hartadi baru sadari, berhadap-hadapan dengan tinggi yang setara membuatnya leluasa menatap jernihnya mata Velo. Iris perempuan itu tidak terlalu hitam, ada seberkas warna madu ketika dijatuhi sinar lampu. Terjebak keindahan memikat di depan mata bukan murni keinginannya, dia terperangkap begitu saja. Namun, Hartadi tidak menyangkal magnet yang muncul tiap kali mereka dekat akhir-akhir ini.


“Mau digendong di belakang atau di depan?”ucap Hartadi sambil menumpukan kedua tangannya ke sisi samping kanan kiri tubuh Velo. Bertukar pandang sejenak dengan jarak tidak lebih dari dua jengkal. “Mana yang aman buat kaki kamu?”


Dan tanpa sadar Velo mengusap gipsnya. Malu-malu bukan karakter sejatinya, namun sekarang Velo berharap dia dapat mengubur  wajahnya dimana pun. Tiba-tiba resah berkumpul dalam dada. Tatapan Hartadi kian membuatnya seolah didalami dan dikenali.


“Kaki saya tetep ngegantung, jadi sama aja sakitnya.”


“Jadi, kalo gitu terserah saya?!” ucap Hartadi sambil menaikan sebelah halisnya.


“Nggak, nggak!” tolak Velo dengan wajah memerah, Velo menyela sebelum pria itu memutuskan. Bila ada kesempatan memeluk punggung maskulin yang merasuki mimpinya, bukan Velo namanya jika menangkis kesempatan tersebut mentah-mentah. “Berhubung Bapak nanya, saya mau digendong dibelakang, boleh?”


“Boleh. Saya ngikutin request yang punya kamar.” Hartadi beringsut mundur. Menghadapkan punggungnya ke arah Velo, dia rendahkan tubuh sekiranya saja agar perempuan itu mudah menggapainya. Sudah siap menyambut bobot dan menopang kedua kaki Velo, Hartadi harus mengerutkan kening kala tak satupun pertanda perempuan itu melakukan  pergerakan.


Menahan decakan yang ingin lidahnya ciptakan, Hartadi memiringkan kepalanya kesamping untuk memeriksa Velo. Pemandangan yang dia dapati malah membuat punggungnya sontak menegap. Hartadi mengusap pelipisnya heran.


“Ngapain sih malah bengong? Saya nungguin kamu. Emangnya kamu udah nggak kebelet?”


“B-balik badan lagi, Pak!” ucap Velo sedikit berteriak.


Hartadi pun melirik Velo tidak senang akan seruannya barusan. Velo yang melihat tatapan Hartadi pun langsung nyengir dan mengkoreksi intonasinya tadi.

__ADS_1


“Eu… tadi saya keingetan sesuatu, makanya bengong. Sorry-sorry.”


Sebelum Hartadi meradang sebab merasa dipermainkan olehnya di jam rawan kantuk. Velo dengan sigap memegangi bahu Hartadi lalu memaksa pria itu kembali berbalik. Ketika punggung Hartadi telah dihadapannya, barulah Velo bisa bernapas lega. Sejujurnya dia sempat terpesona oleh seorang Hartadi. Bukan magsudnya melakukan kegiatan tong kosong yang disebut ‘bengong’.


Hartadi nyaris memergokinya salah tingkah. Malu sekali rasanya bila pria itu mengetahui dirinya terpesona untuk sesuatu yang sepele.


Menarik napas, Velo mengupayakan hatinya untuk tidak gaduh saat kedua lengannya mengalungi leher Hartadi. Dengan reflek kedua matanya ikut terpejam, merasakan tubuhnya terayun merapat dan tangan-tangan Hartadi berada di sekelilingnya.


“Mmh… besok kerja, Pak?”


Dan kali ini Hartadi benar-benar mendecakkan lidah. Dia sangat gerah mendengar kalimat yang sebetulnya amat biasa itu. Namun, itu berhasil mengingatkannya pada mimpi panasnya yang sempat bersarang. Mimpi sialan yang satu hari penuh mempersulit kinerja otak dan pekerjaan kantornya.


“bisa ganti pertanyaan?”


“Pak, ini resume dua kandidat yang sudah final untuk mengisi kekosongan jabatan sebagai sekretaris Bapak. Saya selaku talent acquisition juga mewakili HRD, memohon maaf sebesar-besarnya atas kelalaian kami karena sudah mempekerjakan sekretaris yang tidak kompeten.”


Hartadi meraih berkas yang diangsurkan padanya dan menekuni isi resume dengan senyap, Hartadi membalas permintaan maaf karyawan Royal WCS itu melalui sebuah anggukan sekadarnya. Memperlihatkan sikap dewasa atas hasil kinerja mereka tempo hari yang meloloskan perempuan binal sebagai sekretarisnya. Belum satu minggu terpenuhi, perempuan itu sudah berani mengeliminasi jarak dengan sentuhan kurang ajar.


Pagi ini meja tamu dalam kamar rawat inap Velo dialihkan fungsinya menjadi meja kerja dadakan Hartadi. Segelas Americano dan classic tuna tostie yang dibelikan Mardi di gerai Sturbuck terdekat, masih rapih dalam reusable bag. Niatnya ingin sarapan selagi bersantai, namun Haris menghubunginya jika karyawan Royal WCS telah sampai di rumah sakit. Dia memang akan mendekam di sini, walaupun Velo tidak keberatan bila dia pergi bekerja.


Mengapa terdengar bagai istri yang mengijinkan suaminya berangkat mencari nafkah meski sedang sakit dan butuh ditemani?


Ck, lidah Hartadi berdecap dengan sendirinya. Bisa-bisanya dia berpikir demikian di tengah diskusinya bersama seorang karyawan.

__ADS_1


Hartadi membalik berkas ke halaman berikutnya. Tanpa sadar bergumam ketika menemukan surat pendukung yang dia perlukan untuk membuat keputusan tepat. Lalu, dia angkat kepala menatap karyawannya.


“Saya sih condong pada kandidat yang pengalaman bekerjanya lima tahun ini. Dia juga melampirkan surat rekomendasi dari atasan sebelumnya dan sertifikat kompetensi di bidang administrasi perkantoran. Dokumen pendukungnya juga cukup memuaskan.”


 “Buatkan jadwal interview dengan saya. Lebih baik saya ikut menyaring sebelum kalian nyatakan lolos. Kemarin saya lepas tanggung jawab ke kamu dan HRD, tapi hasilnya zonk. Dan tolong kamu ingat, saya butuh yang professional.” Ucapnya sambil mengembalikan berkas ke tangan karyawan kantornya itu. Sindiran kerasnya untuk kelalaian yang mereka hasilkan, otomatis membuat karyawan itu menunduk takut.


“Iya, Pak. Saya usahakan mencari yang terbaik dan profesional untuk mendampingi tugas-tugas Bapak di kantor.” Ucap karyawan itu sambil menyimpan berkas ke dalam map.


Sebetulnya, tangan perempuan itu tidak berhenti gemetar menemui petinggi kantornya seorang diri sekaligus minta maaf.


“Ada lagi yang sekiranya perlu saya siapkan untuk interview nanti, Pak?”


“Itu aja hari ini. Kalau jadwal interview udah fix bisa kamu e-mail atau hubungi saya lewat Whats Up.” Ucap Hartadi sekaligus menutup percakapan sambil mengangkat Ipad-nya, memperhatikan percakapan dalam grup Royal WCS Samarinda. Hari ini dijadwalkan tongkang akan bersandar. Sebab itu, dia memastikan segala persiapan untuk proses pemuatan nanti berjalan lancar.


Tak lama, karyawan Royal WCS itu pamit. Sebelum berlalu pergi, karyawan itu mengucapkan kalimat basa-basi sopan untuk perempuan yang sudah terjaga di atas ranjang. Karyawan itu tidak tau apakah benar bosnya dan perempuan itu berkencan, tetapi gossip yang menyerbu di kalangan karyawan senior menyebut perempuan itu mantan sekretaris Hartadi.


Di saat bunyi pintu tertutup memenuhi ruangan, Hartadi menyingkirkan Ipad ke sisinya dan beranjak mendatangi Velo dalam langkah pasti. Matanya menatap Velo dengan seutas tekad. Tanpa  ucapan selamat pagi, Hartadi merebut handphone dari tangan Velo. Tampang perempuan itu berangsur-angsur sengit.


“Ck, Ish… Ngapain sih, Pak? Bikin kaget!” ucap Velo yang semula mengernyit seketika menghilang. Namun, bibirnya mempertahankan cebik kesal. Perbuatan tiba-tiba Hartadi mengejutkannya setengah mati. Padahal, dia sedang asik menelusuri halaman instagramnya.



__ADS_1


__ADS_2