
Ketika telah siap, Hartadi membacakan hasil pengamatannya secara singkat. “Langsung aja ya Ris, Samarinda udah update harga baru CPO per kilo. Ada kenaikan tiga ribu delapan ratus dari harga lama. Plus, banyak kolam udah di-tag buat pasokan lokal.”
“Har, bisa kita diskusikan sesuatu dulu? Selesai diskusi pertama, kita langsung bahas CPO.” Haris meminta baik-baik, sebab Hartadi siap-siap dalam mode siap menyerang ini harus diperlakukan spesial.
“Apa?” desak Hartadi dingin.
“Ini…” Haris menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
Pria itu bingung harus mulai dari mana, tapi dengan payah tetap dia usahakan agar menjadi penengah. Atas niat tersebut, Haris mempersilahkan sekretaris Hartadi yang berdiri di sudut ruangan untuk mendekat.
Sekretaris itu belum menjadi karyawan tetap. Masa percobaan dan evaluasinya masih panjang, karena di terima semenjak kedatangan kembali Hartadi di Royal WCS Jakarta.
Sayang sekali, sekretaris itu di pecat oleh Hartadi sebelum mencapai satu minggu.
“Karin, sini!” perintah Haris dengan memberi isyarat supaya sekretarisnya Hartadi itu ceoat-cepat, dan perempuan itu tampak takut mendekati Hartadi.
“I… iya Pak?!” saat Karin telah sampai di sisi meja Hartadi dan kursi Haris. Kepala Karin tidak sanggup terangkat, karena hanya rambutnya yang sekarang terlihat oleh dua petinggi Royal WCS di ruangan tersebut.
Deheman terdengar dari Haris. “Pak Har, Karin ini mungkin harus beradaptasi lebih lama. Apa Pak Har tidak bisa mempertimbangkan kembali keputusan tadi?”
“Tidak bisa, Pak Haris.” Jawab Hartadi tegas dan sangat sulit di goyahkan.
“Setidaknya, Karin di pertahankan dulu selama tiga bulan. Tapi sesuai keputusan Pak Har, Karin akan tetap diberhentikan setelah probation-nya selesai. Bagaimana?” Haris memberi solusi, agar pihak HRD memiliki kesempatan untuk mencari sekretaris lain dan kontrak Karin tidak harus diputuskan sebelum waktunya.
Hartadi menatap datar Haris, berkata-kata seolah sekretarisnya tidak berada di sana. “Bilang HRD, kasih saya sekretaris yang becus.”
“Coba jelaskan sama saya, apa yang kurang dari Karin?” ini memang bukan kewajiban Haris, tapi Hartadi Bisa menjadi-jadi jika tidak cepat ditangani.
Dengan lugas di jawabnya Haris. “Jangan mencarikan saya sekretaris yang visualnya seger aja, karena tampang cantik tidak selalu dibutuhkan. Sekretais saya harus puny skill, kecepatan dan ketelitian. Dan yang paling penting lagi, bukan seseorang yang cari perkara dengan mancing-mancing saya.”
“Maaf, mancing?” Haris tau dan menangkap sinyal yang kurang baik. Kesalahan fatal Karin sudah terbayang dari dalam kepala pria itu.
Hartadi memundurkan kursinya seraya bersandar nyaman. Tatapannya sekarang tertuju pada Karin, mengamati perempuan itu tanpa minat dan dengan pedas berkata. “Resume kamu bisa jadi sampah, kalau dibarengi kelicikan kamu,”
__ADS_1
“Maaf, Pak…” Karin mencicit ketakutan.
“Saya tidak suka kamu memandang saya gampangan. Di sini, kamu yang bekerja untuk saya. Kurang ajar kan kalau kamu berani-berani menggoda? Apa kamu berfikir naik kelas bisa segampang itu?” lugas Hartadi.
“Bukan, maksud saya…” Karin tergagap malu. Sekretaris itu tidak tau ujungnya akan begini, karena mencoba peruntungan untuk mencoba mendekati atasannya yang masih lajang tersebut.
“Ck… Saya malas ya, memarahi kamu lagi. Teguran saya di awal rasanya sudah cukup. Tapi, saya ingatkan kamu untuk tetap profesional dimana pun kamu bekerja. Pemecatan kamu tidak berubah, Karin.” Hartadi membulatkan keputusannya.
Melengos dari Karin Hartadi kembali mengajak Haris bicara. “Saya persingkat aja, intinya tidak ada pertimbangan ulang. Karin secara resmi saya pecat. Tingga HRD yang keluarkan surat bercap untuk dia. Tolong Pak Haris bantu sampaikan.”
Hartadi sedang kusut akibat mimpinya dengan Velo, tetapi sekretaris baru yang diberikan HRD semakin membuatnya berang. Di pecat sajalah, dari pada dikemudian hari mencari peluang memprovokasinya.
Kembali memikirkan mimpi sialnya, Hartadi masih tidak tau penyebab bunga tidur itu hadir. Amat nyata, hingga Hartadi harus menyerahkan diri di bawah pancuran airnya pada jam tiga pagi.
Kasarnya, Hartadi belum pernah melihat Velo dalam keadaan polos. Lalu mengapa dia memimpikannya?
Entah yang semalam dapat di sebut mimpi buruk atau mimpi manis.
***
“Baik. Saya nanti bantu follow-up ke HRD.” Haris mengikuti keinginan Hartadi untuk memecat Karin.
Jika di posisi Hartadi, pria itu akan melakukan hal yang sama dengan memberhentikan sekretaris penggoda.
Ketukan pelan pada daun pintu menghias ketegangan di ruangan kerja Hartadi. Peia itu langsung mempersilahkan seseorang di luar sana untyk masuk, merasa pembahasannya dengan Haris dan Karin bukanlah hal yang penting.
Tak lama kepala Maestra menyembul dari sela pintu yang terbuka beberapa jengkal, diikuti keseluruhan badan pria itu yang menapaki ruang kerja Hartadi dengan senyum yang tersungging di bibir. Segelas kopi Sturbucks melengkapi penampilan Maestra.
“Oh, anda di sini juga, Pak Haris?” ucap Maestra menegur Haris, tapi tidak beranjak dari ambang pintu karena mendapati dua wajah tertekan di ruangan tersebut. “Mmhh… Atmosfernya lagi kurang bagus, ya?”
“Ada keperluan apa?” sambar Hartadi dingin kearah Maestra.
__ADS_1
“Wo... Hohoho… Rileks, Pak Har…” ucap Maestra masih formal, karena kehadiran sekretaris Hartadi masih berada di antara mereka.
Bersahabat sejak kuliah, Maestra dengan gampangnya dapat menebak suasana hati Hartadi. Sampai hari ini pun begitu, dari wajah sangar Hartadi pun Maestra sudah tau.
Dan sudah pasti ada yang mengganggu pria itu. Entah berhubungan dengan apa kali ini. Haris saja tidak menggunakan mulutnya dengan lihai seperti biasa. Namun, ini menjadi momentum yang tepat.
“Ya, terus?” todong Hartadi, mulai jengkel karena terlalu banyak orang di ruang kerjanya.
“Huft… Di jam tiga sore begini memang hawa-hawanya suntuk dan bikin malas. Makanya, saya bawa tamu spesial. Siapa tau bisa mengurangi kejenuhan kita semua, apalagi Pak Har.” Ucap Maestra begitu apik dan juga diselingi senyuman jail untuk Hartadi.
“Ck… Awas aja kalau ternyata tamu ini semakin merusak mood saya. Semua yang ada diruangan ini harus angkat kaki!” ucap Hartadi dingin sambil berdecak.
“Tenang aja, saya pilih-pilih kok orang yang mau dijadikan tamu untuk Pak Har. Sebentar, saya ajak orangnya ke sini dulu karena masih di ruangan saya.” ucap Maestra masih begitu tenang menebar senyum, walaupun sedang diawasi Hartadi.
“Kalau nanti sudah tau orangnya, tolong dimaklumi kenapa ada di ruangan saya ya? Soalnya tadi sempat jadi pusat perhatian orang-orang di bawah,” lanjut Maestra sambil berlalu dari ruangan Hartadi dan jadi semakin membuat teka-teki, membuat semua orang yang ada di ruangan itu penasaran.
Keheningan kembali menyergap, karena tidak ada satupun yang berniat membuka suara termasuk si empunya ruangan. Tinggalah Hartadi dengan pose menempatkan kedua tangannya di atas lengan kursi.
Hartadi tidak menggubris Haris di kursi seberang mejanya, maupun Karin yang tidak dipersilahkan meninggalkan ruangan. Hartadi hanya sedang menunggu, siapa tamu spesial yang Akan dipertemukan Maestra.
Beberapa menit kemudian, ketukan sepatu terdengar lebih dari seorang. Salah satunya mengiramakan ketukan yang cukup familier untuk Hartadi. Pertemuan top heels yang lancip dengan lantai marmer.
Sebuah nama terlintas dalam irama ketukan yang percaya diri dan— periang? Namun, dia tidak yakin benar.
“Nah, sekarang boleh dilihat tamu spesial kita,” Maestra muncul di ambang pintu.
“Lah, Velo? Main juga akhirnya ke kampung lama. Masuk sini?!” ucap Haris bercanda luwes, seakan dia lupa beberapa menit yang lalu menyaring semua kata yang keluar demi memghindari konflik dengan Hartadi.
Ya… tamu yang dimaksud Maestra adalah perempuan yang menjadi tokoh utama dalam mimpi Hartadi tadi malam.
__ADS_1
“Nunggu dikasih izin sama yang punya ruangan dulu, Pak.” Jawab Velo manis.