
Dagu Velo kemudian agak terangkat ke arah pelaku yang membuat ban kempes mobil ayahnya. Hartadi tidak menunjukan kesulitan di wajahnya, meskipun harus mengangkat Velo di tengah matahari yang menyinari begitu bebasnya.
Dirinya sudah memakai sunscreen dan body lotion dengan Spf tinggi, tidak tau kalau Hartadi. Dipikir-pikir, pria itu terbiasa terkena matahari berdasarkan area Royal WCS Samarinda cukup panas dan kerontang.
Tanpa sadar dia telah memandangi Hartadi untuk sekian detik yang tidak singkat.
Tiba-tiba, Velo tidak tahan ingin bertanya.
“Bapak nggak suka brewokan kayak cowok kantoran jaman sekarang?” ucap Velo tidak mengoreksi kalimatnya.
Biarpun dia menerima lirikan bahwa pertanyaannya cukup konyol untuk diutarakan. Memangnya aneh menanyakan selera memelihara janggut?
“Pak?”
“Kenapa nanya-nanya brewok? Tipe kamu cowok yang punya beard table?”ucap Hartadi yang sebenarnya malas meributkan hal remeh.
“Enggak, saya sukanya yang kayak Bapak.” Jawab Velo mengalihkan pandangan, tidak ingin bertemu mata dengan Hartadi. Tapi, bibirnya segera mencetak rekor lain mengingat sudah cukup lama dia mewanti-wanti Hartadi akan suatu hal pribadi.
Padahal, ucapan awalnya saja belum diberi respon. “Bapak… masih ‘oke’ kan?”
Hartadi disambut Mardi yang langsung membukakan pintu mobil begitu sampai. Mendudukan Velo di kursi tengah, dia menyusul di samping perempuan itu dan meraih tisu untuk menyeka titik-titik keringat pada keningnya.
“Oke apanya? Jangan mulai ya, Vel. Kamu sepotong-sepotong ngomong, saya nggak bakalan ngerti.”
Berhubung Mardi masih berada di luar mobil selesai menutupkan pintu, Velo tidak menunda jawabannya. Tanpa menggunakan cicit malu-malu, dia libas dalam sekali penjelasan.
“Saya emang ngelarang Bapak main sama perempuan-perempuan itu. Tapi barusan jadi kepikiran, Bapak sendiri masih oke kan? Perlu… pelepasan nggak?”
__ADS_1
Baru saja menjejalkan tisu ke tong sampah kecil di dekat kakinya, Hartadi mengerahkan satu tangannya yang lain menutup mulut Velo. Giginya beradu kian mengetat, walau mungkin Velo tidak melihat. Dia lepaskan tangannya turun, lalu mendecakkan lidah menghindari topik menyesatkan itu.
“Kalau perlu, memangnya bisa bantu?”
“Misalnya bisa?” sambung Velo membuat tengkuk Hartadi kaku.
Hartadi memejamkan mata sesaat. Dia mengusir ricuh dalam batinnya menerima intonasi lembut yang sialnya terdengar centil bagai undangan maju.
Tanpa benar-benar menatap Velo, dia jentik pelan kening perempuan itu hingga terdengar suara mengaduh.
“Ish, capit hidung aja deh. Jangan sentil kening. Lebih sakit!” Velo menggerutu sambil mengelus keningnya.
“Lain kali nggak usah nantangin,” tandas Hartadi seketika mengunci mulut Velo. Baguslah, perempuan itu sadar dia tidak sedikit pun bercanda ketika mengungkapkannya.
“Saya nggak nantangin.” Velo melengos disemprot Hartadi. Kemudian merengut seraya menggeser sedikit demi sedikit duduknya ke tepi, mendekati kaca jendela mobil dan bermonolog dalam hati.
Velo merotasi bola matanya, haruskah dia menampilkan wajah masam setelah Hartadi membantunya? Situasi hari ini tertolong lebih baik di tangan Hartadi. Sambil mengusap tengkuk, Velo menoleh ke sampingnya.
“Makasih, Pak.” Velo menyematkan senyuman setengah ragu. “Untuk kemarin dan hari ini.”
“Sama-sama.” Hartadi memandang lurus ke depan.
***
“Vel, lama banget sih kamu?” Hartadi tidak tahan mengomeli Velo. Sudah hampir dua menit sudah berlalu pria itu menunggu, tapi Velo tidak kunjung memperpendek jarak mereka. Menatap nyalang, Hartadi membaca isi kepala perempuan itu dengan mudahnya. “Oh, bisa turun sendiri?”
“Saya pakai kruk deh, Pak. Jangan digendong terus. Sekalian ngebiasain, jadi kalo misalnya butuh sesuatu bisa jalan sendiri. Kalau terus dimanjain gini tar kalo Bapak ga ada, saya minta gendong siapa?” Velo menurunkan tangan yang hendak mampir ke bahu bidang Hartadi.
__ADS_1
Tangannya lunglai ke pangkuan. Ada rasa tercekik saat menyadari dirinya benar-benar telah sampai di kediaman orangtuanya. Dia tidak berhalusinasi.
“Bener mau maksain pake kruk sekarang? Mba Asri bilang kamar kamu di lantai dua loh. Saya sih oke-oke aja kalau harus gendong kamu sekali lagi sampai kamar. Nanggung juga.” Hartadi berusaha mengabaikan komentar Velo mengenai dia yang memanjakan perempuan itu— tapi, apa benar? Dia tegapkan pinggangnya sambil melakukan pernapasan berulang, harus Hartadi akui bahwa kediaman Adiputra memiliki udara yang segar.
Velo masih termangu di tempatnya, memandang lepas tanpa tujuan dan sesekali menggigiti bibir bawahnya. Tidak harus susah payah bertanya, Hartadi tau kalau perempuan itu sebetulnya enggan menapaki rumahnya sendiri dan dia tampak seperti anak kecil yang tersesat. Dia terkesan atas keberanian Velo mengambil keputusan nekatnya angkat kaki, lalu menanggalkan segala kenyamanannya di rumah itu demi menjauhi Adiputra. Pernah datang ke kediaman Adiputra sekali, Hartadi ingat fasilitas lengkap bagi seisi rumah pun tersaji.
Mengamati sekitar lebih jeli, komplek perumahan elit Adiputra jauh dari kebisingan dan polusi kendaraan. Sejak mobilnya terparkir di halaman, Hartadi tidak berhenti menikmati lingkungannya yang teduh. Hampir satu tipe dengan rumah pribadinya. Jarak antara rumah utama dan gerbang kediaman Adiputra pun cukup ideal. Jelas kakaknya itu mencari kediaman yang kondusif untuk mengundang kolega partai serta rekanan bisnisnya. Diperkuat keamanan berlapis yang memerlukan akses khusus.
Dan kedepannya, Hartadi akan total mencari cara untuk sering berkunjung menemui Velo.
Dengan berat hati, Velo mengerling sebuah kruk yang dipegang asisten rumah tangganya.
Dia menimbang sesaat resiko keras kepala, jika dia tetap ingin menggunakan penyangga kaki tersebut. Napasnya dihembus terang-terangan, tetapi dia tidak boleh malas pada situasi terjepit ini.
“Beneran. Saya pengen banyak gerakin kaki. Daripada makin kaku dan nyerinya nggak hilang-hilang. Sekalian saya lawan.”
“Sakit nggak harus selalu dilawan. Inget kecelakaan kamu kapan kan? Ya, wajarlah kalo masih sakit dan perlu bantuan orang lain termasuk saya. Kamu balik ke rumah ini buat pemulihan. Kalo kaki kamu udah sembuh dan bisa ngapain aja sendiri, kamu nggak di sini.” Ucapan Hartadi langsung diberi picingan pedas dari Velo.
Namun, balasan yang dia lakukan rupanya menaklukan perempuan itu dalam sekejap. Hartadi mengusap-ngusap pelan kerutan di tengah sepasang alis Velo. Velo sengaja mendiamkan perlakuan Hartadi pada keningnya lalu mendesah karena tida suka dengan pendapat Hartadi.
“Pak, itu berlaku kalo Bapak lagi sama saya. Saya suka-suka aja mau digendong depan atau belakang kayak kemaren malem. Cuma pas Bapak pulang, nggak mungkin orang rumah saya dimintain tolong terus!
Papih bisa besar kepala tau saya begini, nggak bisa ngapa-ngapain!”
“Harus bisa sendiri. Saya nggak boleh diem, mesti nyobain belajar pakai kruk. Mau ke kamar mandi nggak usah heboh manggilin orang rumah. Semakin terbiasa pakai kruk, pulih cepet ataupun enggak, saya punya power buat pulang ke apartement. Bapak kan tau saya nggak mau kelamaan di sini! Saya nggak mau, Pak.” Ucap Velo sedikit berteriak sambil memalingkan muka dan merngatupkan bibir dengan rahang mengeras. Velo segera memadamkan panas yang bersemayam dalam dada. Terpejam sekilas, kekesalannya sedikit terpancing sebab Hartadi berkata seolah dia akan terjebak lama di rumah orang tuanya.
__ADS_1