
“Kenapa setiap laki-laki yang mau serius sama aku selalu papih nilai nggak layak? Kasih tau aku laki-laki seperti apa yang layak. Mau sampai kapan aku sendiri? Aku mau punya rumah tangga, suami yang saying aku. Semuanya, Pih!”
“Berkaca dari pengalamanmu, Vel. Siapa aja laki-laki yang kamu bawa ke hadapan Papih! Contohnya, Caesar Medika—kamu masih ingat dia kan?” Adiputra menyipitkan mata. Rupanya, Velo memanfaatkan momen ini untuk memberontak padanya dengan disaksikan Asri dan Hartadi. “Punya anak di luar pernikahan dan tidak menikahi Ibu dari anaknya. Bagaimana bisa Papih pervayakan kamu ke tangan bajingan itu? Sejarah di masa kuliahnya aja udah tercela!”
“Tapi Caesar bertanggung jawab penuh atas anaknya. Dia ngerawat Audrey sendirian karena Ibu anaknya menolak untuk dinikahi, Pih!” Velo tak mau kalah selagi memiliki kesempatan, namun bukan Caesar yang ingin dia bicarakan. Menarik napas, Velo enggan terbawa nafsu memperlebar pembahasan. “Cukup kita ngebahas Caesar. Sekarang aku mau tau laki-laki seperti apa yang bisa Papih terima untuk jadi pendamping Velo.”
Tanpa sadar Asri meremas lengan suaminya kuat. Seketika matanya kosong memandang Velo. Perkataan putrinya sungguh menyayatnya sebagai seorang Ibu. Velo menumpahkan kekecewaannya, karena sang ayah kerap menolak pria yang dating meminta restu baik-baik. Lalu bibir Asri menipis, mengantisipasi gertar tangis yang ingin tersuarkan. Dia percaya Adiputra melakukannya demi kebaikan Velo.
Sejak kemarin Asri menahan diri. Dia menyimpan kenyataan dari suaminya bahwa Hartadi telah meminta restu untuk menikahi Velo. Bagian dirinya belum siap membagi berita tersebut, sebab Adiputra sangat menjaga putri mereka dan tidak sembarang pria yang diijinkan untuk bersanding dengan Velo. Asri membiarkan Velo bersama Hartadi bila putrinya menginginkan, tapi dia belum bisa membayangkan tanggapan suaminya.
“Mas, nggak ada salahnya kita terima siapa pilihan Velo. Selama ini kita udah berusaha ngejaga Velo. Aku yakin Velo sekarang mampu memilih mana laki-laki yang terbaik.” Ucap Asri sambil tersenyum pada suaminya, walaupun raut pria itu sontak berganti sengit.
“Menurutku, kita nggak bisa selamanya ngebatasin Velo. Aku nggak mau Velo kehilangan pilihannya lagi. Kita coba terima ya, Mas?”
“Aku ngebebasin Velo cari dan jalin hubungan dengan siapapun, As. Setelah tahu latar belakang laki-lakinya, barulah aku membatasi hubungan mereka. Aku ngelakuin itu untuk kebaikan Velo, putri kita satu-satunya.” Jawab Adiputra melembutkan tatapannya. “Biarpun aku nggak bisa menjadi wali nikah Velo, tapi aku harus memastikan putri kita nggak salah pilih.”
Asri memahami magsud baik suaminya, tapi Velo sudah tidak berada di masa remaja yang berpeluang besar labil dalam menentukan pasangan. Terlebih mereka mendidik Velo disertai menanamkan norma dan nilai-nilai agama.
“Mas, tolong. Aku nggak mau Velo tertekan, karena kita terlalu banyak menuntut urusan pribadinya.”
__ADS_1
“Memangnya siapa laki-laki yang dipilih Velo sekarang? Kamu tau Velo lagi berhubungan dengan siapa?” Adiputra memincing kala Asri mengangguk ragu. Firasatnya tidak baik saat istrinya melirik Hartadi. Seakan memberi sinyal bahwa pria itulah yang memiliki hubungan special dengan putrinya.
“Asri, sebentar. Kamu berusaha bilang kalau adik mas yang kelakuannya preman ini laki-lakinya? Jangan bercanda kamu.” Tawa tidak percaya Adiputra keluar tanpa bisa dicegah. Dagunya digedikkan ke arah Hartadi diiringi pandangan meremehkan. “Masuk akal kalau Har menyukai Velo. Logikanya putri kita tumbuh menjadi perempuan menarik. Sementara, Velo? Velo nggak mungkin punya hati ke Har yang jelas-jelas banyak nyusahin dia dari dulu.”
Merasa sudah waktunya membubuhi kebenaran di depan Adiputra diperkuat dengan tekadnya sendiri, Hartadi pun bangkit dari kursi. Sikap tubuhnya tidak gentar maupun bimbang. Dengan sejelas-jelasnya dan lantang, dia akui keseriusannya pada Velo.
“Aku mau menikahi Velo, Mas.”
Velo pun memejamkan mata.
Akhirnya, Hartadi mengatakan itu di depan ayah tirinya. Ingin rasanya dia mengucapkan beribu-ribu terima kasih untuk Hartadi yang sudah sudi menolongnya.
“Main-main kamu sama Mas?! Cabut omongan ngawurmu tentang menikahi Velo. Sekarang, Har!”
“Aku bukan tipe laki-laki yang mudah berkomitmen. Sekali aku katakana mau menikahi Velo, aku pasti akan perjuangkan itu sampai terjadi.” Hartadi menampik tuduhan Adiputra bila dia bermain-main dengan tidak mengikutsertakan emosi. “Kenapa Mas sebut aku nggak layak? Aku nggak punya anak dari hubungan di luar pernikahan, aku nggak punya hubungan dengan perempuan lain. Usahaku lebih dari satu, aku bisa menafkahi Velo tanpa kekurangan. Bagian mana yang nggak layak untuk menjadi suami Velo?”
Meloloskan lengannya yang dicekal Asri, Adiputra memutari ranjang Velo menghampiri Hartadi. Diterjangnya sang adik, lalu dia raih kerah baju pria itu sambil mencerca tanpa henti.
“Mas nggak percaya kamu mau nikahin Velo gitu aja! Kamu simpan dendam ke Velo, makanya kamu mau ngejebak dia dalam pernikahan? Iya kan?!”
__ADS_1
“Dia rela bikir onar dan dicap buruk orang-orangmu di Royal WCS. Supaya kamu pisah sama Lintang. Ingat Har, kamu pacaran dan parahnya lagi berhubungan badan sama Lintang. Padahal, kalian sepersusuan!” tumpahan emosinya membuat Adiputra tidak tanggung lagi untuk menyerang adiknya. Dia mengguncang keras kerah Hartadi yang berada dalam cengkramannya. “Sadar seberapa kotor kamu, Har. Sadarkan dirimu kenapa nggak layak buat Velo?!”
“Aku bener-bener sadar, Mas. Tapi, Velo emang kelewat baik. Dia kasih aku pemakluman, meskipun aku sekotor yang kamu bilang.” Hartadi memisahkan tangan Adiputra dari kerah bajunya. “Velo tau siapa aku, Mas. Dan luar biasanya dia bisa memahami semuanya. Jadi, kamu bersedia kasih aku ijin bersama Velo atau… atau aku nikahin anak kesayanganmu tanpa restu ayah tirinya. Gimana, Mas?” ucap Hartadi dengan dagu terangkat pongah, meskipun dosanya sudah ditelanjangi Adiputra bagaikan pria itu manusia paling suci.
Hartadi masih berdiri berhadapan dengan sang kakak. Dia berusaha mengulurkan tangan yang langsung ditampik oleh Adiputra. Senyumnya terkulum sinis.
“Mas Adi, Mba Asri, pikirkan baik-baik seberapa pantas aku buat Velo. Jangan bandingkan aku dan laki-laki lain yang dulu punya sejarah dengan putri kalian. Dosa dan keburukan tiap orang berbeda-beda kan? Mas juga nggak luput dari keburukan yang mungkin aku nggak tau. Nggak heran, kita ini manusia kan?!”
Velo hampir tersenyum menontoni taktik Hartadi menghajar kakak keduanya melalui kata-kata. Napas ayah tirinya yang berhembus kasar mengontrol amarah menarik perhatiannya. Tanpa sebab jantung Velo berdegub tak karuan, apalagi saat ayah tirinya menarik diri dan menoleh pada ibunya dengan ekspresi tidak terbaca.
“As, kamu tunggu di sini aja. Aku mau urus administrasi dulu. Hari ini Velo keluar dari rumah sakit dan harus pulang ke rumah. Biar dokter Yuliana yang merawat dan memantau kondisi Velo.”
“Papih, aku belum jawab setuju!” Velo terbelalak panic. Seruannya tidak tertahankan, tetapi Adiputra tidak mendengar seruan Velo dan melengos pergi sampai menutup pintu pun terdengar bunyi bantingan yang membuat ibunya terkesiap.
“Velo?” Hartadi memanggilnya dengan lembut.
Menunda Hartadi yang hendak mengatakan entah apa, Velo menolehkan kepala pada sang ibu yang memucat. Dia menggeleng pelan untuk mengungkapkan ketidak setujuannya.
“Mih, dokter Yuliana bisa ngerawat aku di Apartment. Di sana aku nggak bakal sendiri, aku bisa minta tolong Daniah buat bantu aku dua puluh empat jam. Aku Cuma perlu di rumah sakit semalam lagi aja. Mih, Please.”
__ADS_1
“Kenapa berat banget tinggal di rumah lagi, Vel?” Asri bertanya pedih. “Ada apa?”