
Saat duduk di dalam mobil bersama Hartadi, senyum samar Velo mendadak muncul tanpa bisa dicegah. Tujuh tahun lalu Velo pernah ada di posisi yang sama, tapi lihat dirinya dan Hartadi, telah menjadi dua manusia matang yang ditempa oleh waktu dan alam semesta. Mereka tidak semuda dan sedekat dulu, ada banyak perubahan yang terjadi dalam waktu enam tahun.
Velo tidak tau bagaimana Hartadi memandangnya sekarang. Velo pun tidak tau siapa Hartadi di sampingnya sekarang. Velo hanya memegang tekad dan rasa percaya yang dimilikinya untuk pria itu. Seketus apapun Hartadi terhadap Velo, pria itu telah membagi banyak hal esensial sebagai bekal untuknya maju.
"Pak, ini mobil kepunyaan kantor atau pribadi?" rasa keingintahuan Velo mendadak muncul, beserta niatnya ingin menutup kebisuan diantara mereka. Tidak lupa dirinya memasang sabuk pengaman, karena suatu kemustahilan jika Hartadi memasangkan benda itu untuknya..
"Hmmm... Bentar-bentar..." ucap Velo sambil mengamati dalamnya mobil Jeep Wrangler yang dikendarai Hartadi.
"Kayaknya ini punya Bapak sendiri deh.... Ck, mana ada kantor mau sponsorin mobil jeep tipe ini? paling banter Camry lah ya... liat medan kayak di sekitar sini memang begini..."
"Cih... Kamu nanya sendiri, jawab sendiri. Kalau itu disebutnya apa, Vel? Stupid atau Bodoh?" Hartadi tau benar tampangnya saat ini cukup sangar. Sesangar matahari yang sepertinya membuat Velo takut akan terpapar sinarnya.
Sesaat Hartadi melihat ke arah Velo karena tidak terdengar sahutan dari lawan bicaranya. Dia melihat Velo mengeluarkan satu strip permen karet rasa blubery mint, lalu perempuan itu mengunyah dua butir permen sekaligus tanpa membalas ucapan Hartadi lebih dulu. Tengilnya ini yang sejak dulu membuat Hartadi kesal berhadapan dengan Velo.
Sedangkan Velo tidak menyahuti pertanyaan sarkas Hartadi dengan kekesalan. Anggap saja mentalnya sudah kebal. "Saya naksir mobilnya Pak Har deh, kesannya ganteng dan gagah."
"Oh.. Akad aja sekarang!" ketus Hartadi tanpa melihat Velo. Dan tiba-tiba pergerakan refleks perempuan itu mengagetkannya. "Velo, ngapain kamu pegang-pegang saya?!"
"Lah... Kan barusan Pak Har ngajakin saya akad, dan saya denger jelas banget persis intonasi Bapak yang biasanya." Velo tidak mengindahkan protes Hartadi yang terganggu akibat sentuhannya di lengan pria itu. "Berarti Bapak nggak ragu lagi atas permintaan saya dong?"
__ADS_1
"Ck... Apa sih kamu!" Hartadi menarik lengannya dari Velo. Kembali terulur bebas untuk memegang setir Jeep yang terlapisi kulit.
Entah Hartadi harus menanggapi Velo secara sengit atau menertawakan anggapan konyol yang bersarang di otak perempuan itu. "Kamu bilang suka sama mobil saya, ya saya tawarin kamu buat akad mobil ini. Dan kalau kamu nggak paham artinya, akad itu kata lain dari 'Sepakat jual-beli'."
"Hah... Hampir aja saya ngerasa diatas angin," sindir Velo atas kosakata yang digunakn Hartadi. "Hmmp.. Hati-hati pakai kata akad sama saya ya, Pak. Seumur hidup baru Pak Har yang saya kasih warning."
Hartadi mengusung senyuman penuh ejekan. "Bukan salah saya. Mungkin kamu kurang gaul."
"Ih, mana ada saya kurang gaul?!" dengan wajah juteknya, Velo menatap Hartadi. "Gini ya Pak, Bapak tuh harus waspada sama sisi lembutnya perempuan--- temasuk saya."
"Jangan sekali-kali buat perempuan baper kalau beneran nggak ada hati. Maubdari kata-kata kek, dari perlakuan kek. Just DON'T" ucap Velo sambil memangkas jarak bahunya dengan Hartadi. Berbisik di samping wajah pria itu yang tengah mengarah lurus menatap jalanan. "Sidang paripurna aja kalah sama dramanya perempuan yang sakit hati. Bapak pernah pengalaman kan?!"
"Makanya saya ulang, siapa tau miskom kayak tadi lagi. Kalau Bapak masih fifty-fifty sama saya, jangan sampai saya baper duluan. Lebih baik Bapak judes terus sama saya biar aman." Velo mencari tissue di dalam tas-nya, lalu membuang sisa permen karetnya pada tissue dan disimpan untuk dia buang nanti.
"Well... Jujur aja ya Pak, laki-laki macem Pak Har ini yang bisa buat saya terpesona tanpa harus banyak aksi. Bapak keren loh, sadar nggak?" ucap Velo yang terbilang santai. Dia jelas-jelas sadar telah menggoda Hartadi. Yang diakuinya begitu jantan dan tampan pada hari ini.
Ck... Keren?
Batin Hartadi geli saat mengulang ucapan Velo.
Ya... Kesabaran Hartadi selalu diuji saat Velo mengeluarkan kepintarannya dalam berkata-kata. Harusnya Hartadi mampu memperkirakan, jika Velo akan gigih melobinya menjadi suami. Alasan yang Hartadi berikan tempo hari pun sepertinya tak dianggap oleh Velo. Namun, Hartadi serius mengenai tidak adanya keinginan untuk menikah tahun ini.
__ADS_1
Apalagi calon istrinya adalah Velove El Wiliams atau lebih tepatnya sekarang adalah Velove Bratadikara.
Malas mengompori Velo dengan kalimat lain, Hartadi memfokuskan pandangannya ke depan. meskipun, sesekali mencuri pandang ke sisinya dimana Velo duduk. Pada akhirnya, perempuan itu diam setelah menutup percakapan dengan kalimat skakmat.
"Mau makan dimana, Pak?" celetuk Velo pada akhirnya, sebab bingung tidak tau ke mana arah mereka sekarang ini.
Velo melihat Hartadi yang sedang memyetir mobilnya melewati sungai Mahakam. "Saya nggak vegan sih, defisit kalori aja supaya timbangan stabil. Boleh saya request makan siang selain nasi padang?"
"Ck... Urusan makan aja ribet kamu, Vel. Di rumah makan padang kan ada ayam bakar, saya denger itu aman dikonsumsi orang yang lagi diet." ucap Hartadi tidak heran kalau Velo mengtur setiap makanan yang masuk ke tubuhnya, larena penampiln Velo selalu tampak ideal.
"Saya nggak diet, Pak...." sergah Velo meralat dengan penuh penekanan. "Cuma ngatur jumlah kalori yang di konsumsi setiap hari aja kok."
"Hah... Itu sih hanya permainan nama aja, ujung-ujungnya tetep diet. Udah Vel, makan nasi padang sekali ini nggak akan ngejebol timbangan kamu." Hartadi menunju sebuah rumah makan padang yang semakin dekat di depan mereka. "Tuh, langganan saya makan disini. Simpang Raya."
"Cih... Nggak ada bosennya ya, dari dulu makan nasi padang." gerutu Velo disertai alis yang menukik kesal.
"Dijaga makannya dong, Pak. Jangan keseringan makan yang bersantan. Mau semuda apapun penampilan Bapak dibanding umur, Bapak tetep udah tua."
Velove menahan senyum ketika mengusili Hartadi. "Pak Har emang harus secepatnya beristri, biar ada yang ngingetin ini dan itu, saya bener kan?!"
"No comment lah kalau udah bawa-bawa istri." Ketus Hartadi mendengar Velo yang terus melibatkan topik yang amat sensitif untuk dibicarakan sekarang. Tak lama, suara kekehan Velo pun memenuhi kesunyian diantara mereka.
__ADS_1