
Dari kursi yang berseberangan dengan Velo, Sania mengusap telapak tangannya tanpa sadar sambil menatapi Hartadi. Perempuan itu tidak yakin mengapa sensasi dari telapak tangan Hartadi masih membekas, tapi anak dari Triawan Bratadikara tersebut bukan kelas teri.
Sedangkan dari seberang kursi Sania, Velo tidak perlu repot-repot mengira arti dari gelagat perempuan itu. Sania nampak tertarik dengan Hartadi, karena tatapan Sania tak surut dari sosok Hartadi sejak jabat tangan keduanya telah usai.
Agak konyol, namun Velo bertambah jeli sejak dimintai tolong sang nenek untuk memfilter calon istri Hartadi. Mungkin juga, kejelian tersebut meningkat karena dia merasa ‘Terancam’.
Harapan keluarga bersumber dari keinginan orang tua Hartadi dan Sania, berhasil menguasai atmosfer di sekitar Velo.
“Kamu bisa masak nggak?” Bisik Hartadi yang tiba-tiba dan membuat Velo berjengit. Dia pun mendelik pada Hartadi yang sudah mengesampingkan tubuhnya, sehingga mereka hampir tidak berjarak. Pria itu melakukannya tanpa peduli berpasang-pasang mata dapat memergoki perilaku tersebut.
Hartadi memblokir benak Velo untuk berfikir sebab napas Hartadi yang panas berhembus ke telinganya. Menciptakan geliat tidak nyaman dari sisi terdalam Velo, untuk itu dia menyikut pelan perut rata Hartadi agar sedikit menjauh.
Berusaha untuk tidak terpengaruh, Velo pun mengingatkan Hartadi akan keberadaan Sania. “Bapak ngapain ngajak saya ngomong? Tuh calonnya ngeliatin terus!”
Sania memang tidak kunjung beralih pada Hartadi. Perempuan itu seperti sedang memindai pria yang digadang-gadang dapat merajut masa depan dengannya tersebut. Diperkuat tekad ayahnya Sania yang terpampang di depan mata, perjodohan yang tak kentara ini pasti akan terus berjalan.
Sayangnya, Ibu Hartadi bukan tipikal orang tua yang menyodorkan putranya hanya dikarenakan ketamakan. Keluarga Sania bolehlah terpandang, tapi Wening tetap meminta Velo memerhatikan hal-hal lain dari Sania yang mungkin luput dari pandangan mereka.
“Kamu mengharapkan Sania yang saya ajak ngomong?” Hartadi tau Sania sedang melihat ke arahnya, tapi dia tidak ambil pusing.
Velo menahan lutut Hartadi. Seorang pun dari mereka tidak ada yang tau, karena pergerakannya di bawah meja, “Bisa geser? Harus banget ya mepet-mepet.”
Sementara kedua orang tua bertukar kisah masing-masing anak, Hartadi berbisik lagi ke telinga Velo dan luar biasa cari mati ketika dia mendaratkan bibirnya di sana, tipis dan ringan. “Takut ketauan Eyang-Eyang kamu ya, Vel?!”
“Jangan gila. Saya nggak mau mereka tau komitmen kita dengan cara yang salah,” Velo mewanti-wanti, merasa tegang menerima kedekatan Hartadi yang menantang mereka untuk disidang oleh Bratadikara senior.
“Tapi nggak ada salahnya kan, kasih peringatan ke Sania kalau saya ada pawangnya!” Hartadi mengangkat satu alisnya ketika Velo tiba-tiba berpaling kepadanya dengan pendar tidak percaya.
“Disini bukan Cuma Sania, bisa aja sasaran bapak nggak tepat!” ucap Velo sambil berusaha mengambil jarak aman.
__ADS_1
“Saya bukan amatir!” telan Hartadi sambil mengeliminasi jarak, dan menyia-nyiakan usaha Velo untuk membuat mereka tetap duduk dengan semestinya.
“Tapi nggak harus nekat—"
“Permisi!” ucap Chef yang baru saja hadir di hadapan mereka dengan membawa troli yang berisikan makanan, dan otomatis Velo pun langsung menarik diri untuk menjauhi Hartadi.
“Silahkan Chef.” Ucap ayah Hartadi mempersilahkan chef itu dibarengi senyuman kalem. “Waktunya isi perut.” Lanjutnya pada rekannya itu.
“Saya tiba-tiba langsung lapar,” kelakar Haritanu sambil mengusap kedua tangannya tidak sabar.
Makanan sudah tersaji di atas meja. Sebagai penikmat makanan makanan Indonesia, Ibu Hartadi menatap satu persatu hidangan yang berbasis Nusantara itu dengan puas. “Terima kasih untuk hidangan malam ini Chef,”
Lain dengan sekitarnya, Hartadi awasi orang-orang yang sibuk berbicara dengan Chef itu. Dia pastikan tidak ada yang menjadikannya pusat perhatian selain Sania.
Hartadi lalu merunduk untuk mendekatkan wajahnya pada leher Velo. Dia benamkan di sana, membaui aroma yang menarik minatnya dari sekedar makanan terbaik yang terhidang di atas meja. Bibirnya lagi dan lagi menjatuhkan kecupan, lalu dia menjauh secepat pergerakan awalnya.
Velo lalu menghela napas kesal lalu memberi lirikan pedas pada Hartadi. Dia tidak suka permainan Hartadi untuk menghentak Sania menjauh.
“Episode perjodohan sialan ini bisa aja panjang. Tapi saya mau Sania tau posisinya sekarang. Rengekan anak perempuan terkadang bisa membuat ayahnya mencari jalan pintas. Dan saya malas dibikin pusing.” tandas Hartadi begitu tenang, karena dia tau apa yang sedang dikerjakannya.
Velo memahami perangai Hartadi, kemudian dia menggeleng untuk menghindari cekcok mereka berkat sang nenek yang meminta bantuannya.
“Bapak harus tetep inget, ada Eyang dan Eyang Putri. Hati-hati, ini belum saatnya.” Bisik Velo sambil berlalu.
Sedangkan Hartadi bersikap seolah tidak ada apa-apa meski kening Sania kian mengerut heran. Biarlah perempuan itu berperang dengan isi pikirannya. Dia memberikan kebebasan pada Sania untuk berpendapat mengenai hubungannya dengan Velo, karena itu tujuannya.
Sejak bergabung di meja ini, Hartadi sudah melihat semuanya. Antusiasme kepala keluarga Dermawan yang mengiklankan putrinya, menganggap Sania memiliki kemampuan seimbang dalam bisnis maupun tugas dasar seorang istri, ditambah lagi kecantikannya.
Hartadi jadi menganggap tawaran Haritanu Dermawan bagaikan promo kadaluarsa, tidak menarik dan basi. Karena Velo dengan segala misi menjadikannya suami, menawan Hartadi untuk tidak menyongsong perempuan lain. Dan Hartadi tidak keberatan jika bertahan, dia pun malah semakin ingin menetap dengan berbagai macam resiko.
__ADS_1
***
“Kamu anak dari Kakak keduanya Hartadi?”
“Iya, kenapa?”
Tersisa Velo dan Sania dalam balut persaingan yang mulai kentara.
Andaikan Sania tidak mengetahui gelarnya sebagai anak pertama Adiputra dan cucu perempuan pertama walaupun tiri, dari pemilik kediaman mewah ini, Velo yakin perempuan itu akan mendesaknya untuk jujur.
Hartadi sukses memainkan rencananya. Seperti yang ditegaskan Hartadi, pria itu tidak pantas diragukan karena bukan seorang amatir. Salah besar jika Velo mencemaskan Hartadi gagal memberi peringatan pada Sania. Perempuan itu buktinya tengah kebingungan atas kedekatan ‘Tidak Biasa’ dirinya dengan Hartadi.
Sekian menit lalu Velo nyaris meninggalkan teras untuk mengikuti sang nenek. Ya… Wening mengajak mereka semua mengunjungi rumah kacanya. Namun Sania tidak juga bangkit dari tempat duduknya, lalu perempuan itu menahan Velo untuk tetap di tempat ketika yang lain sudah menjauh.
Velo menyanggupi, dia percaya diri jika hanya berdua dengan Sania. Sania mulai memutar otak untuk memuaskan rasa penasarannya.
“Saya nggak konsumsi minum apa-apa, saya juga nggak lagi berkhayal. Tapi saya baru aja melihat sikap yang abnormal dari Hartadi dan kamu.”
Velo memiringkan kepalanya, memandang perempuan yang menatapnya ragu-ragu itu dengan tenang. “Abnormal? Seperti apa?”
“Hartadi menyentuh kamu, saya lihat semuanya. Kalau saya mengartikan sendiri, Hartadi jelas mengingatkan kalau saya sebagai orang lain dilarang masuk ke dalam hidupnya. Dia mau saya tau diri.”
“Mba Sania bisa mempertahankan persepsi seperti itu. Tapi kalau kurang puas, silahkan Mba tanyakan sendiri ke Mas Har.” Jelas velo tidak membenarkan dan menyalahkan, memang sengaja membuat jawaban mengambang.
Sania masih bimbang dan tidak mengatakan apapun lagi, saat Velo hendak beranjak. “Oh ya, Mba Sania mengikuti Eyang Putri. Kalau mba mau diterima dalam keluarga besar ini, Mba dilarang menolak datang ke rumah kaca beliau, atau nilai Mba akan berubah minus.” Ucap Velo sambil tersenyum kecut ke arah Sania.
Tak lama kakinya melangkah keluar teras berjalan menjauhi Sania tak melihat lagi kearah belakang. Cone heels yang dikenakan Velo kembali menginjak rumput yang terawat dengan baik. Membebaskan ke mana hatinya melangkah, Velo mendekati pendopo kecil di tengah taman.
Dia meraba saku rok ingin memastikan adanya sekotak rokok, tak lama Velo menipiskan bibirnya gemas, dia lupa sedang di rumah siapa. Sang Nenek tau dia anak yang bandel dalam urusan rokok.
__ADS_1
Pernah sekali Velo merokok di depan Neneknya, tapi sirat tidak suka dari sang nenek, menanamkan rasa kapok untuk merokok di depannya lagi.