Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Bujang Paling Diincer di Royal WCS


__ADS_3

Hartadi harus selalu menanamkan dalam kepala seberapa berbisa mulut perempuan yang akan menikah dengannya ini. Akan jadi seperti apa kehidupan pernikahannya nanti? Tiba-tiba, Hartadi mulai membayangkan banyak hal di mana tergambar dirinya dan Velo dalam sebuah hunian. Rasanya tak akan membosankan.


         Enam tahun yang lalu, Velo melakukan ketidaksengajaan yang mengharuskan Hartadi memperbaiki pondasi kehidupannya. Mereka saling menarik diri untuk menghindari pertemuan dan tegur sapa ketika harus disatukan dalam acara-acara penting keluarga. Konspirasinya, tak lama lagi mereka ingin menyatukan diri dalam ikatan pernikahan.


         Mereka tidak bisa mengelak dari serangan keluarganya, jika Bratadikara sudah menerima berita tersebut. Hartadi tidak sabar melihat wajah-wajah syok keluarganya yang tidak percaya bahwa Velo, cucu perempuan pertama di Bratadikara dari garis Triawan Bratadikara akan bergelar istrinya. Pasti menjadi babak yang seru.


“Nanti malem saya bantuin beres-beres keperluan Bapak ke Jakarta. Mau jemput saya atau shareloc aja?” Velo menurunkan pelan tangan Hartadi dari dagunya, bukan artinya terganggu atas perlakuan pria itu.


“Saya jemput aja sekalian pulang kerja.” Hartadi melirik jam tangannya, teringat saran Velo untuk menyempatkan diri beristirahat. “Masih ada waktu beberapa jam buat tidur. Saya balik dulu, Vel. Berkat kamu hari ini tugas saya berlipat-lipat.”


“Hidup harus ada lika-likunya, Pak. Enam tahun tanpa saya si pembuat onar ini, kehidupan Bapak pasti semulus aspal baru. Boleh sesekali ada batu sandungannya, supaya ngerasa ‘hidup’.” Velo mencuri satu kecupan kilat di pipi kanan Hartadi sambil menumpu kedua tangan pada bahu pria itu.


Velo menyelesaikan aksi kecupan kilatnya dan memindai reaksi Hartadi. “Ngerasa kan? Lebih hidup nggak?”


Dalam hati Velo menggigil usai menjalankan aksi dadakannya. Jika Aruna dan Livia menyaksikan tingkahnya sekarang, mereka akan kompak berseru ‘ganjen’ kepadanya disertai cibiran yang khas. Mau bagaimana lagi? Velo tidak mungkin main gila, kecuali di depan Hartadi yang tahu benar siapa Velo.


         Sedangkan Hartadi hanya membalikkan kecupan Velo dengan tatapan lurus tanpa mau repot berkomentar. Yang lebih menyurutkan keinginannya mengkonfrontasi kecupan Velo adalah ucapan perempuan itu.


         Apa selama ini Hartadi sudah benar-benar merasa hidup? Tapi, biarlah ia sendiri yang merenungkan kebenarannya tanpa harus Velo saksikan.


“Abis kena cium kamu kok rasanya suram ya, Vel? Saya ngerasa nggak ada semangat hidup. Mirip hisapan dementor,” sarkas Hartadi enteng tanpa mengambil pusing delikan Velo yang tidak terima disamakan dengan dementor. “Saya pulang dulu deh. Lihat kasurmu jadi kangen tidur.”


         Sedari awal Velo memang menyarankan Hartadi untuk beristirahat, tidak harus memaksakan diri untuk menemukan keputusan secepat pria itu mampu. Bersyukur, sekarang mereka sudah mencapai komitmen dan saling mengerti bahkan lebih dari yang diharapkan Velo.


“Istirahat, Pak. Nggak usah mainin handphone sebelum tidur, nanti tahu-tahu waktunya berangkat ngantor. Sayang kan waktunya?” Velo mengingatkan sebab dia tahu benar ketertarikan pria pada benda bernama gadget, yang dia ketahui dari sebuah jurnal penelitian.


“Saya nggak suka lama-lama pegang handphone.” Hartadi membalas singkat dan jujur. Tidak ada rencana membuka forum debat baru bersama Velo, tapi memang sial, perempuan itu kembali menyinggungnya dengan telak.

__ADS_1


“Iya soalnya Bapak lebih seneng lama-lama pegang perempuan. Saya tahu kok.” Velo mendahului Hartadi mencapai pintu kamarnya, membuka pintu tersebut lebar-lebar dan tersenyum seakan tak mengatakan apapun. “Hati-hati di jalan, Pak.”


Hartadi pamit dari kamar hotel yang Velo tempati seraya menjitak lembut tentu saja puncak kepala perempuan itu sebagai ganti rugi atas kalimat sindirannya. Di tengah langkah menuju lift, Hartadi mulai menyusun strategi yang dipergunakannya usai mendarat di Jakarta.


***


Beberapa jam berlalu sejak diskusi panjangnya dan Velo, Hartadi sudah berada di ruang kerja Royal WCS Company didukung oleh laptop kantor yang tidak pernah dibawa pulang. Layar pun sudah menampilkan tiga kolom yang terisi wajah dua sahabatnya, sekaligus Hartadi sendiri.


“Wuiihh... Ada berita apa nih yang musti kita denger? Muka lo nyimpen rahasia besar, Har. Samarinda nggak ada problem kan?” Haris paling tidak sabar menunggu Hartadi berbicara lebih dulu pada sesi video call mereka.


“Enggak ada, Ris. Gue sempet ngecek kondisi Samarinda lewat Bimo, waktu nih bajingan satu minta video call sebelum makan siang.” Ada senyum bermain di bibir Maestra untuk Hartadi.


“Gue taruhan ini persoalan pribadi. Mau kawin lo, Har?— Eit, bukan kawin tapi nikah.” Maestra meralat dengan tampang mengejek, sedangkan Hartadi hanya mendengus tak terpengaruh sama sekali.


“Lagak lo pake nebak-nebak segala. Gue mau liat muka lo berdua aja makanya video call. Ada yang aneh dengan request gue di group, hah?” Hartadi tak langsung mencetak tujuan di muka, ia sedang menikmati wajah bingung Haris, sementara Maestra hanya tertawa tanpa suara.


“Samarinda stabil, terus lo mau apa? Lo nggak mungkin rajin ngumpulin gue sama Haris buat hal sepele. Gue nggak denger tuh payment ngadat, nggak denger juga PAO dan CPO lagi seret, dan nggak denger tongkang sandar tapi barang nggak loading. Semuanya oke.” Maestra mencecar Hartadi dengan segala ketidakmungkinan. “So, kasih gue profil cewek lo.”


“Gue nggak ada bilang subjek hari ini gue dan cewek yang kalian hayalin. Mas-mas sekalian, gue mau nagih persetujuan aja sebagai formalitas karena lusa gue mutusin join di Jakarta lagi,” jelas Hartadi sembari mengusap bibir bawahnya menanti respon kedua sahabatnya.


 



...Maestra...


__ADS_1


...Haris...



...Hartadi...


“Anjir, kalau tau begini gue nyebrang juga ke ruangan lo, Mae! Gue butuh temen diskusi perihal kegabutan Hartadi kerja lagi di Jakarta.” Haris spontan berdiri dari duduknya, Nampak tidak sabar menyambangi ruang kerja Maestra yang berada di depan ruangannya sendiri.


 "Cih.. Gue liat-liat lo lebay banget. Lo nggak lagi puber kedua kan? Kasian bini lo, Har." sambar Hartadi melihat tingkah Haris. Diantara mereka bertiga yang berstatus tak lajang hanya Haris, sementara dirinya belum pernah menikah dan Maestra adalah duda beranak satu.


"Amit-amit." sembur Haris akhirnya menempati kursinya kembali. "Nggak ada ya, istilah gue puber kedua. Kalau pun puber lagi, gue genitnya sama Val seorang. Lo berdua kali lagi puber kedua, tapi sah-sah aja ye' kan namanya juga single dan duda."


"Wah, kenapa gue di ikut sertakan?" Maestra menghindar dari topik Haris. "Sekarang yang paling bener kasih pertanyaan buat Hartadi, kenapa tiba-tiba ngacir ke Jakarta? Mulai jenuh di Samarinda?"


"Pengen suasana baru aja. Gur nggak maen tinggal Samarinda tanpa pertimbangan. Dari pagi gue evaluasi, hasilnya Samarinda emang udah siap mandiri tanpa gue harus standby di sini terus." Hartadi merangkai kata dengan rapih.


"Gue udah lama nggak bonding sama Mason dan Avery, anggap aja itu jadi salah satu alasan kepulangan gue." Hartadi menambahkan keterangannya, agar Hris dan Mestra yang terlanjur sangat mengenalnya ini tak menodongnya untuk jujur. Velo akan dia perkenalkan di waktu yang tepat.


"Gue nggak yakin hanya kuda-kuda di Cahari yang mendasari kepulangan lo, jangan nyalahin gue, karena nggak percaya kali ini. Gue keewat mengenal lo, Bro." Maestra tertawa ngakak. "Abis ini gue tugasin sekretaris gue untuk kirim email buat penarikan lo ke Royal WCS Company Jakarta. Selamat datang kembali, Har."


Haris belum selesai dengan rasa penasarannya. "Udah jelas ini urusan perempuan dan langkah serius, ya? Berarti bukan cewek Kalimantan kalau lo ajak tinggal di Jakarta. Langkah yangbbagus kok buat laki-laki sematangbdan semapan lo."


"Gue sama Maestra sama, nggak percaya sama alasan buluk lo tentang bonding sama kuda. Tapi, selamat mau ngumpul disini lagi." Haris pun mengacungkan ibu jarinya.


Jalan terbaik untuk pulang dengan tidak sendiri, apa pemahamannya sudah benar? Pikir Hartadi sebelum membalas ucapan selamat dari para sahabatnya.


Ket:

__ADS_1


PAO \= Palm Acid Oil


CPO \= Crued Palm Oli


__ADS_2