
Pria bertubuh tinggi itu memenuhi muka pintu mobil yang terbuka lebar. Ekspresi Hartadi tampak tidak terganggu, tetapi tatapan menghunusnya berpotensi membuat Velo menggigil.
Pasti tidak ada perempuan yang berani membentak Hartadi sebelum dirinya. Mau bagaimana lagi, dia terlanjur menggunakan nada tinggi karena emosi. Pembahasan rumah sangat sensitif buatnya.
Entah berapa kali Velo menepis, hatinya tetap membisikan kata ‘Takut’ meskipun hanya menatap pagar kediaman orang tuanya dari luar. Parahnya, dia telah berada di dalam. Lehernya menjadi sesak, bagaikan terhimpit sesuatu. Velo didera kebingungan, mencoba tenang sudah dia lakukan, tapi ketika sampai di rumahnya musnah sudah apa yang diusahakannya tersebut. Hadirnya Hartadi sekarang tidak sampai menenangkannya, karena pria itu singgah hanya sebentar saja di sini.
“Bapak ngerti kan?” Sambungnya merendahkan suaranya.
“Omongan kamu, isi pikiran kamu, saya ngerti.” Ucap Hartadi sambil menahan tengkuk Velo agar perempuan itu tidak bisa membuang wajahnya lagi.
Matanya menatap tajam kearah mata Velo dengan pandangan resah yang tadinya tersembunyi, tapi saat ini ibarat buku yang terbuka. Bukan suatu kebohongan sekedar untuk memberi Velo ketenangan, dia sungguh mengerti ketakutan kakak si kembar itu.
“Saya kan udah bilang, jangan mikir yang berat-berat. Kamu milih saya buat perjuangin kamu, saya terima jadi suami kamu, dan kamu bisa percaya kalau saya tekanin semuanya bakal baik-baik aja?” Velo menatap lekat mata Hartadi, dan Velo tidak ragu mengenai kemampuan pria itu.
“Saya percaya.”
"Good, itu jawaban yang saya mau. Saya usahain sebisa mungkin kamu nggak ngalamin hal traumatis lain lagi. Waktu sampai sini saya sempet mikir, beli rumah yang di seberang kamu bisa jadi solusi. Tiap pagi dan pulang kerja saya bisa rutin nengok kamu. Papih kamu mau ngelarang juga nggak masalah selagi kita satu komplek. Prosedurnya tapi tetep makan waktu satu dua harian. Tapi, saya udah photo nomor agennya."
Hartadi mana tau kediaman besar di seberang mau dijual. Jika dia tidak teliti melihat adanya iklan agen properti terpasang pada pagar tingginya bangunan itu. Ketika mobilnya melintasi rumah yang dijual, buru-buru dia keluarkan handphone dan memotret iklan tersebut. Selain demi menjangkau Velo, itung-itu buat simpanan yang bisa dia pasarkan kembali pada teman-temannya. Tak lama konsentrasinya kembali pada Velo. Otomatis instingnya menajam saat dia tidak menerima celotehan dari perempuan itu. Jengah akan kebisuan Velo, tangannya yang bersarang di tengkuk Velo tanpa sadar mendorong kepalanya kian mendekat. Hingga dia merasa napas hangat saling menyapa, barulah Hartadi menuntun Velo agar mengatakan lebih banyak, apapun itu dia pasti akan mendengarkan. Velo masih sering menyembunyikan tikah laku asli Adiputra, agar menghindarinya dari amarah dan tidak ingin diminta berterus terang di depan keluarga.
__ADS_1
"Vel, kamu masih punya kesempatan buat ngomong bebas. Cuma kita berdua sekarang, nggak pengen gitu kamu manfaatin? Kamu mau diem sampe Papih Mamih kamu sadar kalau kita nggak masuk-masuk?" Tanya Hartadi punya tujuan. Hartadi tidak melupakan kehadiran asisten rumah tangga rumah ini, namun perempuan paruh baya itu berdiri cukup jauh dari posisi mobil mereka diparkirkan.
"Apa sih?!" Velo menjatuhkan telapak tangan ke dada Hartadi. Senyumnya terkulum hambar seraya memberi tekanan pada telapak tangannya, mengusahakan jarak aman diantara dia dan Hartadi. "Nggak usahlah Pak, sampe beli rumah. Saya ngebebanin banget. Mahar aja saya belum minta, coba kurangin belanja yang milyaran dulu."
"Kamu udah ada gambaran mau mahar apa?" Hartadi memiringkan kepala. Tiba-tiba penasaran dengan pembahasan pernikahan.
"Belum." Refleks Velo menggeleng. Dia membiarkan tangan Hartadi meninggalkan tengkuk menjalar di sepanjang tulang punggungnya, lalu diam di sisi pinggangnya. "Saya belum mikir tentang mahar. Mau konsep adat pernikahan apa juga nggak kepikiran. Dulu ragu buat mikir kesana, nanti jatohnya cuma sekedar angan-angan terus sakit hati. Tapi, nggak apa-apa mulai saya pikirin? Bapak nggak keberatan kan?"
"Nggak apa-apa, mulai sekarang kamu boleh pikirin itu. Saya nggak keberatan. Pernikahan kamu sama saya memang seharusnya sesuai kemauan kamu. Kan calon pengantin perempuannya kamu, Vel." Ucap Hartadi saat menjawab pertanyaan Velo tanpa berpikir dua kali. Dia memang ingin mengadakan pesta pernikahannya sesuai keinginan Velo berapapun kocek yang harus dia keluarkan.
Membicarakan pernikahan membuat sepasang binar mata Velo tak ayal mempesonanya, membuat Velo antusias. Dari matanya saja Hartadi tau, kalau pernikahan adalah impian Velo. Impian yang sempat tidak berani bersarang di hati dan benak perempuan itu.
"Makasih Mas Hartadi. Aku beruntung banget punya calon suami yang Royal. Gimana kalo udah resmi jadi suami? Nanti dikasih uang bulanan berapa ya?" Ucap Velo menahan senyum mengarah kearah Hartadi.
Sedangkan pria didepannya itu hanya mendengus sinis membuat pincingan Velo terbit. Sama-sama memupuskan tawa paksa, yang nyatanya menyiksa. "Oh iya, Pak. Anak sulung ketemu anak bungsu emang nikahnya harus besar-besaran ya?"
"Velo... Velo... Dapet mitos dari mana kalau anak sulung ketemu anak bungsu resepsi pernikahannya harus besar? Semua pasangan dan keluarga bebas mau gelar resepsi sederhana atau besar dan meriah sekalian. Yang penting nggak ngurangin esensinya."
"Denger dari orang-orang, Pak." Ucap Velo sambil menyingkirkan helaian anak rambut yang menghalangi pandangannya yang sedang terfokus pada Hartadi. "Kalau Papih nggak juga ngerestuin pernikahan saya sama Bapak, mungkin akad dan resepsi pernikahan kita nggak bisa senormal orang lain. Keluarga dan sahabat Deket aja mungkin yang diundang ya, Pak?"
"Nggaklah, akad dan resepsi pernikahan kita buat apa nurutin sikapnya Mas Adi? Dia itu cuma ayah tiri. Yang pantas menikahkan kamu adalah saudara dari Ayah kamu atau kalau tidak ada hakim nikah, soalnya kan kamu sendiri ga tau keberadaan keluarga dari ayah kandung kamu, kalau aja ada, saya pasti akan susah minta restu keluarga ayah kamu." Hartadi tentu saja menepis mentah-mentah.
__ADS_1
"Saya bakalan minta ijin sekali lagi demi menghormati dia. Tapi kalau Mas Adi tetep sombong pertahanan obsesinya, nggak merelakan kamu untuk saya, dia yang akan malu. Saya adik kandungnya sendiri. Mau koar-koar saya nggak pantes sih terserah aja. Mas Adi yang nggak punya muka. Kehidupan seksual adiknya kok dijadiin tumbal buat nurutin nafsu kadalnya."
Velo terdiam ada tersirat pemikiran dimanakah keluarga dari Ayahnya? Pernah Velo mencari tau dimana keluarga Ayahnya tapi nihil. Dia tidak mendapatkan kabar sama sekali, seakan keluarga Ayahnya itu lenyap ditelan bumi.
Terakhir Ibunya bercerita kalau keluarga Kakeknya L Williams memilih membuang sang Ayah karena tidak mengikuti perintah dan aturan adat dari keluarga besarnya dan memilih menikahi Ibunya. Sejak saat itu Ayahnya tidak pernah berhubungan lagi dengan keluarganya dan memutus hubungan dengan keluarga besarnya.
"Non,"
***
"Hah... Akhirnya tiba juga di Indonesia..." ucap Seorang pria yang diperkirakan umurnya tujuh puluh tahunan lebih.
"Pak... Apa kamu yakin dia tinggal di sini? Dan mungkin kita bertemu dengannya?" tanya wanita paruh baya yang mengamit tangan pria di sampingnya sambil bertanya pada ajudannya.
di Ajudan itu hanya terdiam, bingung harus menjawab apa, kedua orang tua itu sangat berharap bertemu dengan anaknya, sementara anaknya sudah tidak ada di dunia ini lagi.
"Terakhir saya mendapat kabar Tuan Muda berada di negara ini Nyonya Besar..."
"Lalu bawa kami ke hadapannya!" ucap pria paruh baya itu dengan tegas.
Ada raut kerinduan di matanya juga ada rasa kecewa karena dia benar-benar meninggalkan keluarganya tanpa kabar sama sekali sampai sekarang.
__ADS_1