Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Bahasan Malam Ini Sama Bapak Tentang ‘KITA’.


__ADS_3

“Saya udah minum. Terus?”


“Mmmhhh...” Velo mengusap sudut bibir dimana tersisakan jejak air yang telah diminumnya. Mengikuti Hartadi memindahkan gelas dari hadapan mereka. “Bapak serius sama saya kan?”


“udah sejauh ini masih nanya?” Hartadi menyambar tanpa jeda. Sorot matanya sengit, dia tidak menyangka pembahasan mereka akan kembali ke titik nol. “Kamu beneran mau nanya itu, Vel? Kalo emang Cuma itu, kamu nggak perlu susah payah satuin kita di meja makan sampai ‘ngorbanin diri’ makan mie instan. Dan, lebih baik saya istirahat ke kamar kan?”


“Intro, Pak. Pertanyaan tadi intro aja kok, jangan langsung kebawa emosi gitulah... saya paham Bapak baru pulang kerja, pasti mood Bapak lagi anjlok banget. Tapi, saya udah nanti-nanti duduk semeja begini bareng Bapak.” Ucap Velo terdiam dengan mata yang tidak berpaling dari wajah Hartadi. “Saya berharap bisa ngomong dari hati ke hati soal hubungan kita. Lupain masalah saya sama Papih, ini gimana hubungan pribadi kita sebagai dua individu yang sepakat bersama. Orang sering ragu masuk ke dunia pernikahan, tapi saya dan Bapak memberanikan diri.”


“Dulu... saya buat sederhana, yang paling utama Bapak nggak nolak saya. Makin ke sini, pikiran saya makin kompleks.” Ya... tidak ubahnya seperti perempuan pada umumnya, Velo ingin mencetak pernikahan yang harmonis. “Saya nggak punya persiapan apa-apa, saya yakin Bapak nggak ada bedanya. Saya ngerti peran istri, Bapak juga paham peran suami, dan hal-hal yang nggak boleh diingkari dari pernikahan—tapi, bukan perkara materi itu aja. Sebelum pegang peran selepas menikah, ada poin-poin yang harus kita bicarain. Jadi, malam ini bahasan saya sama Bapak tentang ‘kita’.”


Hartadi tertegun selama sekian menit. Dia sadar sudah menghabiskan waktu merenungkan kerisauan Velo yang benar-benar tersampaikan, sampai sebagian dirinya menjadi linglung. Bila tadi matanya seakan berkabut sebab otaknya tidak fokus, sekarang dia mengadu pandang tidak ragu.


“Hah... Saya optimis hubungan pribadi kita bukan ganjalan. Karakter kamu sama saya emang nggak sama, tapi sejauh ini kita berhasil ngatasin itu. Saya sadar punya ego setinggi langit, kamu keras kepalanya cukup buat saya ngebatin. Tapi, saya tau kita mulai coba buat seimbang.”


Velo hanya terdiam mencerna kata-kata dari Hartadi tadi, Hartadi yang melihat sikap Velo pun terdiam. Ingin rasanya menyebrangi meja dan segera memeluk perempuan itu, tapi dengan cepat dia hiraukan.


“Vel, hubungan pribadi kita nggak akan murahan, istilahnya bukan sekedar ambil untung. Kamu supaya jauh dari Mas Adi, sedangkan saya memanfaatkan label suami untuk kebutuhan seksual. Nggak begitu ya, Vel? Saya tulus sama kamu. Dan, ngeliat hubungan pribadi kita yang punya komitmen pernikahan ini—di mata kamu apa yang sekiranya belum tepat? Kamu berhak kasih tau saya.”


What?? Hartadi tulus padanya?

__ADS_1


Dan tidak perlu mendebat, Velo memang merasakan sendiri kebenaran dari perasaan tulus itu.


Hendak mengengemukakan jawaban, Velo harus menahan lidahnya mengecap kata kala Hartadi masih menyimpan kata-kata untuknya. Dan kali ini, efeknya meniupkan rasa haru di hati kecil Velo.


“Saya mau pernikahan yang nggak setiap saat diisi pertengkaran. Walaupun jujur, saya suka adu argumen sama kamu.” Velo melihat kearah pria itu tersenyum sampai ke ujung mata. Ada nada tawa yang disisipkan meskipun sekilas. Suara pria itu seakan-akan tidak terbebani. “Tapi, hidup damai impian semua orang kan? Nggak terkecuali saya. Kamu sama saya bisa kerjasama dalam pernikahan nanti, karena semuanya jelas baru bagi kita berdua. Nggak ada yang timpang, nggak ada yang benar, dan nggak ada yang salah. Saya rasa kita mampu belajar bersama-sama, Vel.”


Pelupuk maya Velo dinaungi panas, siap menjatuhkan sebulir air mata. Dia telah mendarat dalam babak kehidupan dimana seorang pria menawarinya bersama-sama melangkah. Dia tidak dipaksa berjuang seorang diri lagi.


***


Nyatanya, perbincangan tidak berakhir hanya sekedar mendengar kata demi kata berkesan Hartadi yang menyentuh jiwa perempuan Velo. Laju air matanya pun sebatas di pelupuk mata. Sebab, dia terlebih dahulu menepis sudut-sudut mata melalui gerakan sekilas yang tidak kentara. Enggan memberi peluang bagi Hartadi menyaksikannya larut dalam tangis. Velo menarik napas, melepas sesak yang terasa begitu tangis tak dibebaskan.


Mengurai renungan, Velo membelokan tatapannya pada objek lain. Dalam kebisuan, dia bener-benar meresapi kedewasaan Hartadi menanggapi topik yang dia lemparkan tiba-tiba malam ini. Namun, fokusnya tidak boleh hilang. Baginya berbincang di meja makan ini masih berlanjut. Selagi menentramkan hati dan membiarkan senyap menjadi teman mereka untuk sebentar, dia melirik kemana Hartadi duduk.


Pria itu pun membalas lirikannya dengan wajah tanpa riak, tidak seketika mengkonfrotasinya agar membuka suara. Saling mengerti, jika Velo membutuhkan jeda untuk menentukan sikap. Menit berganti, akhirnya dia meluruskan pandangannya kembali.


“Setuju, sama-sama belajar dan saling kompromi. Jujur loh, saya terkesan sama kemauan tanggung jawab Bapak. Tolong, jangan mikir saya nuntut banyak. Saya cuman pengen kesadaran kita ngejalanin hubungan.”


“Kalau rumah tangga tanpa cinta di awal tetep bisa dibuat tempat pulang dan menetap, kenapa enggak? Masa pernikahan nggak ada yang tau, syukur-syukur kita nggak harus ngelakuin perceraian. Makanya, saya ngajak Bapak bahas hubungan pribadi kita. Thank you udah kooperatif ya, Pak?” Velo sadar sudah banyak bicara.

__ADS_1


Sirat Hartadi seakan menegur kata ‘Perceraian’, lekas dia mengukir senyuman kecil sambil lalu. “Nggak ada niatan saya buat ngebebanin Bapak. Saya sampai rewel gini, untuk kebaikan kita. Dan, janji Bapak tadi...”


“Siapa yang janji? Namanya sama-sama belajar, dibutuhin dua kepala buat nurunin keegoisan kita dan nyatuin visi-misi pernikahan. Bukan janji, tapi usaha yang bukan dari saya sendiri aja. Juga dari kamu. Sesuai yang saya bilang, kamu berhak kasih tau saya mana yang sekiranya belum tepat dari kita. Saya pun begitu.” Hartadi mengangkat kedua tangan, mulai melepas arloji yang terpasang pada tangan kiri. Dia tidak merunduk, tetap memincing tegas menghadap Velo. “Dari saya, lain kali nggak usah kamu ungkit keseriusan saya lagi atau tanya apa saya terpaksa ngejalanin ini semua. Mulai sekarang sampai seterusnya, saya nggak mau jawab pertanyaan semacam itu. Kamu udah simpen jawabannya.”


Setelah arlojinya terlepas, Hartadi meletakkan benda berwarna silver tersebut ke atas meja. Dia sekilas menyempatkan diri melihat ke belakang, dimana Mbok Niniek tampak menunggui rebusan mie yang berbeda diatas kompor. Memundurkan punggungnya sampai bersandar, Hartadi menegur Velo yang rupanya masih terpenjara lamunan.


“Vel, tolong jelasin poin-poin yang kamu punya. Yang kamu bilang pengen dilurusin sama saya sebelum masuk ke ranah pernikahan. Obrolan kita nggak langsung selesai, hanya karena saya barusan buka-bukaan soal pernikahan kan?” ucap Hartadi yang sontak saja Velo beri tanggapan dengan gelengan kepala. Hal-hal esensial mengenai hubungan pribadi mereka yang perlu dibenahi telah tersusun dalam pemikirannya, sejak Mbok Niniek masih mengarahkan energi untuk memijat beberapa bagian tubuhnya. Jelas saja, obrolan dia dan Hartadi belum selesai.


“Point pertama, menurut saya cara kita komunikasi satu sama lain harus sedikit diubah. Bapak satu pemikiran nggak?”


“Cara ngomong kita masih kental bos dan sekretaris, ya?” tebak Hartadi yang menyadari Velo ada benarnya. Senyum miring terbit, karena dia memiliki pembelaan untuk yang satu itu.


“Dari pertama, saya ngikutin senyamannya kamu. Kamu buka pembicaraan pakai gaya bahasa yang formal, ya saya ikutin. Kamu ngebedai cara ngomong kita antara di depan keluarga dan Cuma berdua aja, saya ikutin. Lucu ujungnya kamu gregetan sendiri?”


“Tunggu dulu, maen lucu-lucu aja,” desis Velo melipat kedua tangannya sambil menyipitkan mata. Sekalipun belum mencicipi mie rebus dengan potongan cabe rawit, dia siap menyongsong Hartadi yang menyimpan senyuman bermakna godaan itu.


“Sebelumnya saya biasa aja, soalnya terlanjur kebiasaan dulu di kantor. Sebetulnya kita juga nggak formal banget, kesannya Cuma kaku. Tapi sadar status saya sama Bapak sekarang, bagusnya lebih akrab dong. Saya nggak tau penyebutan kita ini ‘Pasangan’ atau bukan. Apapun itu, saya ngerasa ada sekat setiap kita ngomong gini. Kalau bisa nggak di depan keluarga aja ‘aku kamu-aku kamu’ plus ‘Mas’.”


“Bapak lupa, ya? Selama ini kita perang dingin, siapa yang melengos tiap kali saya panggil ‘Mas’? saya polos aja, langsung nyimpulin ‘berarti orang ini manunya dipanggil Bapak’. Nggak mau dimuda-mudain pake sebutan ‘Mas’.”

__ADS_1


__ADS_2