Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Wife- Material


__ADS_3

Beberapa menit berlalu dihabiskan Velo untuk meladeni Audrey. Saat dirasa waktu sudah dihabiskannya terlalu lama, Velo memilih undur diri biarpun anak perempuan itu masih tetap memintanya untuk main ke rumahnya.


Velo merapihkan anak rambutnya yang disentuh angin malam sambil melangkahkan kaki ke tempat Hartadi. Tanpa sadar Velo mengusap lengannya, mulai terasa dingin.


Hartadi menyambutnya terlalu tenang. Tidak ada kata yang di cetuskan selain duduk dengan mangkok rawon yang sudah kosong. Dan, Velo mengirim senyum tipis pada Hartadi saat menempati kursi di depan pria itu.


“Vel,” ucap Hartadi memecahkan keheningan diantara mereka.


“Iya?!” jawab Velo melihat ke arah Hartadi.


“Kamu itu termasuk wife-material loh. Kualitas yang dicari laki-laki untuk pasangan hidup. Saya harus bersyukur atau malah jadi protektif ya?!” Hartadi memindai Velo yang tengah melebarkan matanya, terkesima oleh pemaparannya yang mungkin berkesan tidak biasa.


Velo kehabisan ide untuk memberikan respon melalui tindakan atau ucapan, karena jantungnya telah mengambil alih untuk tugas itu dengan semakin berdebar-debar.


Oh my God, help me… jantung tenanglah…


 


***


HARTADI POV


“Har, ruangan lo kok kosong? Kemaren lo kabur bawa Velo kabur tanpa pamit, kali ini kemana lagi?” gue langsung menjauhkan handphone dari telinga  mendengar teriakan Haris yang tiba-tiba telepon ganggu istirahat gue.


“Gue cabut duluan, Ris.” Gue ambil gelas brandy dan menyesap cognac menikmati kesendirian yang sangat jarang gue dapetin.


“Ck, cepet pulang mulu nih Mas nya Velo! Lagi masa-masanya mengabdi sama cewek lo ya, Har? Cie..cie… nikmat kan punya pasangan beneran?”

__ADS_1


“Gue lagi mantau Cahari, bukan pulang cepet buat santai-santai.” Ucap gue sambil nyimpen gelas brandy ke atas nampan, yang sengaja tempatin di deck kayu di sisi kolam renang.



Gue kembali lagi bersandar ke kursi santai di tepi kolam renang rumah gue, menatap langit yang diselimuti udara segar.


Sesekali menyugarkan rambut yang masih basah akibat empat putaran bernang tadi yang membuat badan sedikit menjadi lebih segar karena kemarin gue bener-bener nggak sempat olah raga. Selain berkuda gue juga hobi berenang.


Dan hari ini gue mengambil hak istimewa sebagai salah satu pendiri Royal WCS untuk mempersingkat jam kerja dari yang diharuskan. Awalnya gue memang meninjau langsung bisnis gue selain Royal WCS, yaitu Cahari Stable & Country Club yang telah gue jalankan selama satu dekade.


Kondisi kuda-kuda dan pelayanan terhadap anggota club juga mengevaluasi kinerja pegawai adalah yang dilakukan selama gue berada di sana tadi sore, yang biasanya dilakukan oleh tangan kanan gue tapi khusus hari ini gue yang kerjakan, dan hasilnya lumayan melebihi target gue.


 


“Ok, lo hari ini ambil jam kerja cepet di kantor buat Cahari, gu ga akan ngelarang. Tapi, pertanyaan gue tentang nikmatnya punya pasangan ‘beneran’ itu nggak salah kan?” Hah… rupanya mahluk satu ini masih pengen ngebahas hubungan gue sama Velo.


“Oh… emang pasangan gue dulu sebelum Velo bohongan? Cuma rekayasa semata buat nantang keluarga, gitu?” gue mulai terpancing emosi.


“Lo repot-repot ingetin gue, gue juga sadar kok sejak memulai hubungan yang ditentang semesta. Gue hanya menyayangkan kenapa ga sekalian aja kami dibuat sedarah? Bener kan Ris?”


“Har, lo masih cinta sama dia?” Gue cuma diem, gue tau Haris nanya itu dengan hati-hati mungkin biar gue ga kesinggung.


Ya… memang pembicaraan ini begitu sensitif bagi yang mengenal gue, makanya Haris sangat begitu hati-hati masuk ke pembahasan ini. Karena bagi gue yang pernah menjalani hubungan yang tidak direstui meskipun kami sudah mempertahankannya sekian tahun , semuanya tidak berjalan dengan lancar.


Gue dan dia hanya manusia biasa yang dipertemukan dan jatuh cinta dalam takdir yang tidak mendukung. Satu sama lain tidak direstui untuk saling mengikatkan diri.


“Satu hal, Ris… gue nggak ngerti konsep cinta dan jodoh. Dan sekarang gue nggak memandang penting apa perasaan gue buat dia masih ada? Cinta kah? Atau hanya sebatas rasa tertinggal yang belum selesai gue damaikan sendiri.” Jelas gue, dan gue mendengar dia yang menghela napas.

__ADS_1


“Velo yang pisahin kalian, karena dia tau kalian salah. Jujur gue sangat ngedukung tindakan berani cewek lo. Sedangkan gue, Maestra dan keluarga lo sengaja nggak mencoba hal yang sama karena kita anggap lo bukan anak kecil. Lo punya otak buat lo pake.”


Duuhh… jujur ya, gue nggak perlu diingatkan dan didikte  mengenai masa lalu gue. Dan kalo diulang ke enam tahun yang lalu, gue dengan senang hati menginginkan kesediaan Velo untuk melakukan hal yang sama dan menampar kewarasan gue.


“Justru itu, Ris. Yang bikin gue  mengandalkan otak, dibanding sesuatu yang dinamakan perasaan. Makanya, ketika lo penasaran apa gue masih cinta sama Bintang… gue nggak bisa meraba cinta atau tidaknya lagi.”


Akhirnya nama itu terucap juga, Bintang. Nama yang gue hapus dai pikiran dan benak gue.  Nama yang tabu diucapkan oleh orang-orang terdekat gue.


“Bro, mau berlandaskan apapun hubungan lo dan Velo jalani saat ini, gue harap itu yang terbaik. Mungkin ada hal yang nggak bisa lo bagi sama dia dalam urusan cinta, tapi gue percaya Hartadi adalah laki-laki yang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.”


“Hah, lo tau gue siapa dan seperti apa. Artinya, lo nggak akan gue mainin Velo karena gue berkomitmen sama Velo tanpa cinta. Jujur, Ris… prinsip gue sama Velo dalam hubungan ini nggak rumit dan ribet. Tapi nggak mengurangi keseriusan kita. Dan untuk gue, cinta nggak menjadi keharusan selagi memegang niat dan menjalani dengan ikhlas.”


“Wait… boleh gue ketawa dulu ga, Har?”


“Hah, ketawa kenapa?”


“Kalimat lo tadi vibes nya orang yang dijodohin banget. Berlagak ikhlas dan legowo sama pendamping yang dipilihin orang tua, aslinya sih muak.” Ucap haris sambil tertawa ngakak. “kalian nggak dipaksa nikah sama Bu Wening kan?”


Kampret!! Emang temen nggak ada akhlak.


“Lo sering mikir kejauhan, makanya jangan nontonin drakor mulu sama bini, lo! Udahlah, Ris. Gue mau lanjutin lagi aktivitas gue, ketimbang dengerin lo yang nggak jelas!”


“Aktivitas apaan? Lagi enak—”


Ck… gue langsung tutup teleponnya, makin nggak jelas aja pembahasannya. Gue simpen handphone gue di deck kayu lalu menatap langit yang mulai gelap. Sekelebat wajah Velo melintas dipikiran gue dan alhasil gue pun langsung ngambil handphone lagi dengan niat perempuan itu.


Hartadi Bratadikara :

__ADS_1


“Masih di kantor, Vel?!”


Nggak ada salahnya kan gue pengen tau dimana dia?


__ADS_2