Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Protektif


__ADS_3

Dipikir berulang kali pun, apalagi tujuan Adiputra ke lingkungan sepi dan rumah rahasia kalau tidak untuk tujuan kurang ajar.


Hartadi menurunkan kakinya dari paha. Mendengus terang-terangan ketika punggung Anto semakin merunduk setelah dirinya keluar dari dalam mobil, menjulang di depan pria itu dengan pincingan mengitimidasi. Tapi, Hartadi melewati Anto begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa.


Kaca gelap rayben yang tidak mampu ditembus dari luar tak mengurangi keyakinan diri Hartadi. Tidak menimbang sekali lagi sebelum bertindak, Hartadi menarik pintu mobil dan langsung beradu pandang dengan sepasang mata perempuan yang memancarkan sinar kelegaan.


Perempuan itu turun tanpa kata, lalu memaksakan satu tangannya masuk ke dalam genggaman Hartadi. “Makasih…” bisik Velo untuk penyelamatnya setelah merasakan udara segar di tengah kompleks elite yang dipenuhi pohon-pohon besar.


 


***


Semilir angin malam membuat suasana kian menegangkan. Untuk sesaat, lembutnya tangan Velo yang memaksa digenggam menjadi pengalihan terbaik dari panasnya hati Hartadi, menemukan sosok sang kakak yang duduk tercengang di kursi tengah.



Wajah Adiputra pucat pasi, namun keterkejutannya mendominasi pancaran matanya. Adiputra tentu tidak memprediksi kedatangan Hartadi. Dan, bajingan berkedok ayah tiri yang baik hati itu sukses membuat Hartadi ingin menghajarnya hingga memohon ampun.


“Mas, kamu kayak yang kaget banget ngeliat aku. Bukannya kamu udah terima info kepulanganku ke Jakarta?” Hartadi membuka lebar pintu Mercedez Benz yang sudah dicium oleh mobilnya dari belakang.


“Orang-orangmu yang ngikutin aku itu loh, Mas. Mereka bikin sepet mata terlalu mencolok!”


Perkataan Hartadi sangat menohok Adiputra, karena harga dirinya seakan dilucuti di depan Velo dan sopir yang harusnya memandang hormat. Terhitung tadi pagi, Adiputra memang menempatkan beberapa orang yang berpengalaman untuk membuntuti kegiatan Hartadi.


Namun, tidak Adiputra perkirakan jika Hartadi hanya memerlukan waktu kurang dari dua puluh empat jam untuk menyadari kehadiran mereka. Hartadi terlampau jeli dan cerdik, ke depannya Adiputra tidak bisa asal menghadapi Hartadi. Anggap saja kali ini dia tidak beruntung.


Ayah tiri Velo itu kemudian tergopoh-gopoh turun dari mobilnya dan meneriaki sang adik hanya untuk menutupi malu. “Bicara apa kamu, Har? Siapa orang-orangku yang ngikutin kamu? Jangan ngomong sembarangan!”

__ADS_1


“Jangan ngomong sembarangan?!” Hartadi mengulang kalimat terakhir kakaknya dengan ekspresi jenaka, menilai lucu apa yang baru saja diucapkan oleh Adiputra secara berapi-api. “Aku nggak salah denger, nih?"


Velo merasakan genggaman Hartadi melonggar dan benar-benar terlepas ketika pria itu maju selangkah. Menghentikan kedua kakinya tepat di mana Adiputra berdiri. Terlepas menjadi objek yang memicu keributan disini, Velo sengaja hanya sebatas penyimak. Hartadi ingin mengatasi situasi genting ini dengan caranya sendiri.


“Memang kamu nggak salah denger!” Sementara Adiputra mulai menyalak sembari berkacak pinggang, wajahnya semakin memerah akibat termakan emosi. “Sekarang urusanmu apa, Har? Dateng-dateng sok berlagak nantangin Mas!”


Di tengah kebisingan Adiputra, Hartadi sempatkan menengok Velo untuk memastikan keseluruhan  perempuan itu baik-baik saja. Tidak Hartadi temui bentuk kekerasan ataupun tanda pelecehan yang mungkin terjadi, mengingat keberanian Adiputra dua tahun yang lalu terhadap anak tirinya tersebut.


Kembali menghadap Adiputra, Hartadi dengarkan kakaknya tanpa interupsi. Adiputra harus berpuas hati memuntahkan  pembeaan diri, agar tidak punya hal yang dapat dikemukakan lagi untuk mengubur gengsi. Biasalah bagi Hartadi, jika seseorang berkoar-koar seperti pendemo ketika rahasianya ditelanjangi.


Terbiasa memimpin perusahaan dan bisnis, Hartadi sudah kebal pada sikap seseorang yang defensif karena melindungi citra dirinya dari setitik noda. Persis yang dilakukan Adiputra  saat ini, kakak keduanya yang disanjung bersih oleh keluarganya, namun menyembunyikan kerak dengan apik.


Tidak mengikuti emosi yang meluap-luap seperti Adiputra, Hartadi membalas dengan ringan.


“Kamu pikir aku sebodoh apa sih, Mas? Jelas kamu ganggu privasiku dengan nempatin orang-orang itu. Masih bagus orang-orang itu nggak aku samperin.” Ucap Hartadi dengan nada tinggi melebihi Adiputra yang sangat mendominasi, apalagi adik bungsu Adiputra tersebut sedang memainkan dasi pria itu diiringi ekspresi tidak tertebak. Tetapi tanpa terpikirkan oleh siapapun yang ada di sana termasuk Velo, Hartadi menarik kencang dasi yang dikenakan oleh Adiputra.


“Pak…”


Masih nampak santai, Hartadi menghentak tubuh pria itu ke arahnya dan bertanya dengan tenang, “Mas ngapain ngajak Velo ke daerah sepi begini? Aku mau tau dong kalian punya urusan apa?”


Adiputra mencengkram tangan Hartadi yang menahan dasinya, lalu memincing penuh kemarahan pada pria itu, “Lepas! Kamu ini preman banget, ya? Aku ajak Velo ke sini untuk ngecek rumah yang mau aku belikan untuk dia! Kenapa kamu sibuk mau tau, hah?!”


“Saudara memang paling getol nyari tau urusan saudaranya kan, Mas? Artinya, sah-sah aja kalo aku mau tau. Kecuali, rumah ini bener-bener kamu rahasiain dari orang lain.” Hartadi tersenyum ramah, tapi berkebalikan dengan kedua matanya yang menyorot dingin.


“Lepasin tangan kamu, Har. Lagipula nggak ada rahasia dan nggak ada kepentingan lain. Rumah ini aku beli untuk investasi Velo,” peringat Adiputra yang tidak kunjung di dengar oleh Hartadi.


Menghembuakan napas kasar, Adiputra menatap Velo yang tidak seutuhnya terlihat karena sebagian tubuh Hartadi menutupinya. “Velo, kamu ngapain diam aja ngeliat Papihnya diperlakukan seperti ini? Ke sini dan bantu, Papih!”

__ADS_1


“Pak, cukup segini aja…” ucap Velo berbisik di belakang punggung Hartadi. “Papih jangan sampai tau dulu kita mau ‘itu’ kan? Bapak yang bilang kok. Makanya jangan over ya, nanti malah cepet ketauan.”


Kening Hartadi mengernyit kala pikirannya tersumbat oleh sebuah kata dari Velo. Over? Hartadi jelas tidak setuju disebut berlebihan, sementara tindakan sederhana ini tidak cukup kuat untuk membuat Adiputra sadar, bahkan juga jera, dari obsesinya kepada Velo.


Namun mempertimbangkan kepentingannya dan Velo ke depan, Hartadi menarik kekangan dasi Adiputra lebih kuat sebelum melepasnya sampai sang kakak terhuyung ke belakang. Tidak menunggu Adiputra, Hartadi menggapi pergelangan tangan Velo dan mengajak perempuan itu menjauh.


“Har! Seenak jidatmu aja kamu bawa-bawa Velo! Aku dan Velo beum selesai.” Kesal Adiputra setelah menemukan keseimbangannya kembali, walaupun dasi dan kerah kemejanya sudah tidak serapih awal kedatangan Hartadi.


Reaksi tubuh Velo yang dihantarkan melalui tangan perempuan itu, Hartadi tau Velo cukup ragu untuk mengikutinya sebab tak ingin Adiputra mengetahui rencana mereka terlalu cepat. Kalau pun Velo kembali ke samping Adiputra, waktu Hartadi yang termakan untuk sampai di tempat ini akan sia-sia.


Hartadi memberi tekanan pada jalinan tangannya dan Velo. Mengirimkan kesungguhan bahwa semuanya akan sesuai dengan rencana mereka. Tidak semua orang satu kamus kehidupan, mengantar pulang seorang perempuan pun tak selalu mengartikan hubungan tersebut spesial.


“Anto, tahan Velo dan bawa anak saya ke sini! Jangan jadi patung aja kamu!” masih tak mau mengalah, Adiputra memberi perintah absolute kepada sang sopir di saat Hartadi hendak membukakan pintu mobil untuk Velo.


Hartadi melirik mantan sopir Ibunya sekian tahun lalu itu dengan tajam. Meminta Anto untuk tidak ikut campur hanya melewati mata saja. Dan sudah pasti pria itu mengkeret ketakutan, kepalanya seperti berat diangkat dan menjadi tidak berguna di mata Adiputra.


“Kenapa nggak kamu aja yang ke sini dan ambil Velo? Ck, gayamu nyuruh orang aja. Aneh juga sih Mas, kamu dulu nggak seprotektif ini sama Velo.” Hartadi menantang Adiputra yang kelihatan enggan berdekatan dengannya lagi, mungkin takut dasinya tidak hanya ditarik, namun senjatanya untuk dipakai mencekik.


“Semakin Velo dewasa, aku harus semakin protektif lah sama anak perempuan. Kamu nggak usah repot-repot kasih komentar, Har. Inget, kamu belum berumah tangga sama sekali dan nggak punya anak. Kamu nggak paham tentang parenting!” damprat Adiputra penuh kemarahan.


“Bener, Mas. Aku memang belum menikah, belum punya anak, dan pengetahuan patentingku nol. Tapi, aku punya mata yang masih awas. Dari gerak-gerikmu itu, jelas kamu terlalu protektif ke Velo,” tandas Hartadi serius, dia pikir harus ada yang mengingatkan kakaknya.


“Nggak ada yang terlalu. Sewajarnya seorang Ayah khawatir pada putrinya, begitulah aku bertindak. Tanya Velo kalau kamu berfikir yang enggak-enggak,” tekan Adiputra percaya diri, jika ‘Velo-nya’ yang lugu tidak akan mengadu pada siapapun. Perihal rasa menyimpang yang menghuni sisi lain di dalam hatinya.


Say hello to Velo and Mas Har... 😘


__ADS_1



__ADS_2