Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Mendapat Trauma Dari Sentuhan Adiputra


__ADS_3

Hartadi menekan saklar untuk menghidupkan exhaust yang berada tepat di atas closet duduk. Satu sisi tubuhnya bersandar pada kusen pintu dengan kedua tangan bersedekap.


Dia sengaja tidak mendekat karena memberi ruang untuk Velo leluasa menghirup udara dan memuntahkan isi perutnya. Mengejutkan, Hartadi tak pernah sekalipun menyaksikan Velo dalam kondisi terlemah.


Ini erat dengan psikologis Velo akibat pelecehan yang di perbuat Adiputra dua tahun lalu. Selama menjabat sekretarisnya di kantor pusat, jangan harap melihat Velo berantakan dan tidak fit. Perempuan itu selalu tampil menawan dan enerjik.


“Please, tunggu di luar, Pak." pinta Velo tanpa benar-benar memperhatikan Hartadi.


Satu tangan Velo sibuk merapihkan rambut yang lengket di kiri dan kanan wajahnya, karena dia berkeringat menghadapi rasa mual luar biasa. Sementara, tangan lainnya mencapai flush dan menekan tombol tersebut untuk membilas sisa-sisa muntahannya. Velo tak ingat lagi menjaga imejnya di depan Hartadi.


Velo meminimalisir mual yang terasa dengan menarik napas berulang kali. Kondisi ini terjadi, karena Velo belum mampu mengaburkan perasaan jijik dari alat vital ayah tirinya yang sengaja digesekan ke atas pahanya yang telanjang— setiap Velo mengingat atau menceritakan kronologi malam di mana dia dilecehkan.


“Saya nggak mau keluar,” kukuh Hartadi merasa bukan pilihan tepat membiarkan Velo sendiri, karena dia sangsi Velo memiliki tenaga setelah habis-habisan mengeluarkan isi perutnya. “Saya mau di sini dan menemani kamu. Nggak boleh?”


“Saya masih kepengen muntah, Pak.” Suara Velo terdengar sumbang.


Saat ini Velo tidak harus berkaca untuk tahu bagaiamana rupa wajahnya. Hidungnya sudah pasti memerah, bulu-bulu matanya pun sepertinya basah disebabkan air mata yang keluar melawan mual, dan bibir yang sewarna batu pualam.


Hartadi tetap bertahan. “Nggak ada yang ngelarang. Muntahin kalau memang merasa mual.”


Merawat perempuan dapat dikatakan bukan hal baru untuk Hartadi. Selain pernah merawat ibunya, Hartadi sempat memiliki mantan kekasih dalam hubungan serius.


Sekali dua kali selama bersama, dia tentu pernah membantu mantan kekasihnya ketika sakit. Sayangnya, kondisi lemah Velo sekarang ini tidak bisa disamakan dengan sakit fisik biasa.


Velo mendapat trauma dari sentuhan Adiputra, pikir Hartadi praktir.


Betapa sakit jiwanya Adiputra. Hartadi tidak tahu kalau Adiputra sudah berani memaksakan kehendak nafsunya pada Velo sampai sejauh itu. Itu tidak lagi disebut ‘hampir dilecehkan’, tapi ‘sudah dilecehkan’. Lalu, bagaimana nasib Velo tanpa Daniah?

__ADS_1


Hartadi berdecak kasar dengan bayangan kriminal di otaknya. Tentu saja kehormatan Velo dapat direnggut atas dasar pemerkosaan. Juga tamat hubungan keluarga mereka. Sial, Adiputra lebih berbahaya dari perhitungan Hartadi.


“Bapak mau nontonin saya muntah gitu?” Velo meringis sebal, tidak bisa menghalangi Hartadi. “Yakin, Pak? Emangnya nggak jijik?”


Hartadi berdecak malas. “Kurang ribet apa kamu, Vel? Nggak usah banyak tanya, saya tetap di sini. Muntah sepuas kamu nggak akan merubah keinginan saya.”


Belum sempat mengutarakan lebih banyak keberatannya, Velo segera menunduk ke arah closet dan mengalah pada rasa mual yang ternyata belum selesai. Suara muntahnya sudah pasti tak nyaman di dengar, namun dari ekor matanya dia lihat Hartadi tidak pergi.


Memastikan Velo belum pulih dari kondisi traumanya, Hartadi pikir tak ada gengsi yang harus dijunjung tinggi untuk saat ini. Kemudian, Hartadi menuju kabinet wastafel di dalam kamar mandi untuk mencari handuk bersih.


Hartadi membuka kabinet kiri, dia mendapati benda-benda yang diperuntukan bagi kaum feminim. Wajahnya berubah datar, dia memutuskan beralih dengan cepat ke kabinet kanan dan menemukan apa yang dia cari.


Beberapa tumpuk handuk bersih tersedia di sana. Tanpa pikir panjang, Hartadi meraih handuk yang tersusun di paling atas. Hartadi bangkit dari duduknya, dia putar keran wastafel dan membasahi sebagian handuk tersebut.


Memutar tumit, Hartadi bergabung di samping Velo. Perempuan itu terduduk di atas lantai, masih memegang pinggiran closet dengan kedua tangan dan rambut sepunggung yang acak. Kondisi perempuan itu jauh dari kata ‘baik’.


Velo menyunggingkan senyum tipis. “Nggak dua-duanya, Pak.”


Jangan anggap Hartadi sekadar memancing Velo bicara saja. Velo tahu benar sumbu kesabaran Hartadi, tipikal yang cepat panas dan mampu mengunggulkan arogansi jika pria itu mau.


Bilamana dia menjawab pertanyaan Hartadi tersebut dan memberi persetujuan, Hartadi tidak akan sungkan meninju atau menendang sang kakak. Memikirkannya saja Velo tak sudi.


“Nggak bisa selamanya kamu diam dan melindungi Mas Adi. Saya aja yang bukan korban, rasanya pengen cekik dia sampai mohon-mohon ampun,” kata Hartadi santai, dia beringsut dari Velo untuk menekan flush dan menutup closet.


Velo mengusap pipinya yang dingin. “Bapak kan udah tau semua alasan saya? Lihat sendiri kan kemaren sikembar B, mereka peduli dan protektif, kalau mereka tau kakaknya ini dilecehkan sama papihnya sendiri… apa nggak kejam?”


“Kejam,” jujur Hartadi mengingat anak laki-laki sering kali menempatkan ayah mereka sebagai role model.

__ADS_1


“Terus kenapa Bapak kesannya minta saya speak up? Saya diam, karena nggak mau nyakitin hati orang-orang sekitar saya.” Velo memaksakan kedua kakinya menopang tubuh, dia berdiri semampunya di hadapan Hartadi. “Saya pengen egois, pengen ngadu. Tapi, apa itu bijak?”


Hartadi sangat mengintimidasi. “Apa harus mengedepankan sikap bijak, kalau kamu tertekan menerima perlakuan kurang ajar kakak saya? Kita balik ke topik ini, murni karena saya nggak suka lihat kamu hanya ‘main cantik’.”


“Main cantik?” Velo tersentil, dia agak tersinggung.


“Sebelumnya, saya setuju permainan cantik kamu dengan menikah, karena saya pikir Mas Adi nggak bertindak jauh,” abai Hartadi pada Velo yang Nampak kurang senang atas pengibaratannya.


“Dan, ya. Saya memang punya harapan kamu speak up. Harus ada hukum sosial untuk Mas Adi. Orang seperti papihmu itu harus dibuat efek jera. Kamu mau membiarkan Mas Adi melenggang bebas?” serang Hartadi.


“Hukum sosial yang Bapak mau aka nada imbasnya untuk Mamih dan adik-adik saya. Sekali lagi, saya nggak bisa egois.” Velo tanpa intonasi, kedua kakinya yang agak gemetar diabaikan sejenak. “Atau harapan Bapak yang mau saya speak up ini, karena Bapak kembali ragu menikah sama saya?”


“Saya nggak kepikiran mangkir dari komitmen awal kita, Velo. Kamu tetap akan saya jadikan istri. Paham?” desis Hartadi membuat Velo membisu.


Yang jelas, Hartadi tidak senang diragukan oleh seseorang yang mulai dia percayai, namun kedua kaki Velo menggiring fokusnya tidak berada pada percakapan mereka.


Perempuan itu keras kepala untuk berdiri sok tegar, melupakan bagaimana serangan mual tadi menghabisi setengah tenaganya, hanya untuk menepis setiap kata-kata Hartadi.


Baiklah kalau begitu, Hartadi akan membuat Velo duduk tanpa harus repot mentitah. Dia Tarik sudut bibirnya dengan pemikiran tersebut, tak disangka Velo menyadari senyumnya dan membalas dengan kerutan di kening.


Mungkin perempuan itu bingung kenapa dia tiba-tiba tersenyum, sedangkan tensi emosi mereka sedang tinggi. Sengaja tidak memberi aba-aba, Hartadi meraih dua sisi pinggang Velo dan menghadirkan kesiap dari bibir perempuan itu.


Diangkatnya Velo sampai tidak menjejak lantai dan mendudukannya di atas closet yang sudah tertutup. Velo memandang tak percaya, mulut perempuan itu membuka dan Hartadi bertingkah seperti tidak melakukan apa-apa.


“Pak, kok saya diangkat? Berat, Pak. Weight goal saya masih kurang dua kilo lagi…” Velo terserang grogi, dia menggigit bibir sembari menatap ke sudut lain dan tidak mau memperlihatkan wajahnya pada Hartadi.


“Bilang ke saya nggak diet, tapi barusan sebut-sebut weight goal. Apa kata saya? Defisit kalori Cuma permainan kata kamu,” tandas Hartadi hampir menyentil kening Velo, namun dia mengurungkan niatnya itu dan mempergunakan handuk setengah basah yang diambilnya tadi untuk membasuh wajah Velo.

__ADS_1


Velo hendak membela dirinya mengenai diet dan defisit kalori yang disinggung Hartadi, tetapi sengatan dingin dari handuk yang diusapkan pria itu pelan ke wajahnya menyurutkan keinginan Velo bicara, bahkan menarik napas pun dia seakan berat melakukannya.


__ADS_2