
Mobil tidak mengarah ke mana sepatutnya mereka kembali. Velo sedang malas banyak bertanya, maka itu dia hanya memindai segala sesuatu yang menarik mata sembari mendengarkan instrumen yang dilantunkan audio mobil. Instrumen berbagai soundtrack film barat yang begitu familiar dalam telinga, memutar kenangan terdahulu dimana hidupnya tidak terlalu seberat ini.
Velo membenarkan bila sering kali merindukan masa kecilnya, selepas menghadapi kehidupan dewasa yang melelahkan.
Walaupun lelahnya saat ini tidak Velo tanggung seorang diri, rasanya tetap sulit berpura-pura tidak terpengaruh oleh kesalahpahaman yang tertuju padanya. Velo mengusap kening untuk menjernihkan pikiran yang mulai meracik skenario terburuk.
Tidak, dia harus menyingkirkan perasaan tidak mengenakan seperti ini.
Dengan ambisi dirinya untuk terus merasa baik-baik saja, dia tolehkan wajahnya ke sisi kanan untuk membuat pria itu bersuara.
“Kamu mau ngajak aku kemana?” Setelah berkendara kurang lebih setengah jam, inilah percakapan pertama yang Velo suguhkan ketika Hartadi hanya diam memandang jalan. “Mau ganti lagu biar kamu nggak ngantuk?”
Kalau boleh jujur dan tak merusak suasana, Velo ingin memastikan apakah Hartadi jenuh menjumpai masalah yang serupa dari keluarganya? Tapi, dia mengerti keinginan tersebut hanya akan memancing amarah Hartadi berpusat padanya. Sebab itu, menghindari bentuk pertanyaan yang mengarah ke sana pastinya lebih baik.
“Aku nggak ngantuk kok,” cegah Hartadi ketika melihat gerakan tangan Velo yang hampir terulur pada head unit mobil. Teralihkan oleh titik-titik air yang mulai menerpa kaca, Hartadi segera memandang ke depan seraya menurunkan tuas wiper. “Dan yah... kita muter-muter aja berhubung sekarang weekend. Aku kasian kamu di rumah terus, Cuma ngeliatin aku sama Mbok Nik.”
Langit memang menggelap, namun Hartadi tidak lekas membawa Velo pulang ke rumahnya. Velo terbiasa berkegiatan di luar rumah, lalu beberapa lama diharuskan mendekam tanpa melakukan banyak hal, rasa bosan sudah tentu ada. Hartadi ingin Velo melepas penat dengan memutari jalan-jalan besar ibu kota. Lumrahnya akhir pekan, kemacetan menunggu di depan sana yang membuat kendaraan padat merayap seraya di guyur hujan.
Hartadi paham bila hari ini berjalan berat bagi Velo. Karakternya tidak pandai mengubah suasana hati seseorang yang tengah kelabu, menjalankan mobil ini seakan satu-satunya jalan keluar. Biarpun, dia sendiri kurang ide menghabiskan waktu bersama Velo di mana. Lama menjalani tahun di Samarinda, Hartadi hanya mengenal beberapa tempat di Jakarta yang akrab dengan kesehariannya enam tahun lalu.
“Kamu asal jalan, Mas? Awas ya nyasar ke hotel. Aku langsung pulang naik taksi.” Selang ucapan bernada jahil itu dicetuskannnya, Velo menyadari senyuman tertahan muncul pada bibir Hartadi.
Dia pun yang merasa pria itu lucu karena tidak mampu membendung tawa, karena tidak biasanya Hartadi nihil tujuan. “Sebenernya aku home based person, tapi suka-suka aja ngabisin waktu di luar.”
__ADS_1
“Aku sih bakal terus terang kalau mau open room, nggak main belokin mobil ke hotel. Otakku kan masih di dalem kepala, bukan bersarang di dalem celana,” kilah Hartadi sambil melempar lirikan bengis yang dibuat-buat untuk memeriahkan candaan di antara mereka. Cengiran Velo yang terlihat olehnya entah mengapa terasa meringankan pundak. “Vel, kamu beneran mau keliling nggak nentu begini? Nggak ada tempat yang pengen kamu datengin? Kecuali rumah ibu, bisa histeris dia liat kamu cedera dan lebam di mukaku.”
“Ck... Masa aku minta ke rumah Eyang? Nyari mati dong namanya.” Velo mendelik sembari merapatkan Wool GG Signature Scraf yang sengaja dia kenakan layaknya outer. Kebetulan sekali suhu di dalam mobil kian dingin bukan semata hembusan AC, karena tidak disangka hujan turun begitu derasnya. “Hati Eyang Putri tuh lagi tenang banget Mas, soalnya aku nyanggupin ikut reunian. Pas aku bilang ‘Oke, Yang’, nggak ngebom aku lagi lewat telepon buat ngerayu. Gemesin banget ibu kamu.”
“Seingetku, kamu nggak keberatan waktu aku minta nggak usah ikut. Kenapa sakarang tiba-tiba nyetujuin keinginan ibu tanpa ngasih tau aku dulu?” heran Hartadi yang seratus persen memastikan ingatannya tak meleset, bersamaan tangannya yang mengarahkan setir ke arah kiri setelah melewati Gelora Bung Karno.
Laju mobilnya melambat saat menemukan lampu merah di persimpangan Hotel Fairmont Jakarta, kesempatannya untuk menatap Velo.
Meremas sabuk pengaman demi menentramkan hati, Velo tak menampik kalau dirinya sedang mengalami fase terbawa perasaan.
Hartadi memberikan kesan seolah pria itu cemburu, meskipun dia percaya pria itu tidak bermaksud begitu.
Sebab, atas dasar apa dia menerima kecemburuan Hartadi? Walau memang salah satu agenda ibu Hartadi dalam reuni memperkenalkannya pada pria lain.
Walhasil, Velo jadi memikirkan kapan terakhir kali dia dicemburui seorang pria?
Mengusap wajah miris, Velo tersadarkan bahwa sudah lama dia tidak merasa cemburu dan dicemburui.
Sudut hatinya sedikit merindukan emosi kompleks yang kerap dirasakan antar pasangan tersebut. Velo yang pernah menjalani hubungan jangka panjang pun tau rasa kepemilikan tumbuh begitu cepat dengan seringnya kebersamaan.
Menghadirkan kecemburuan dalam dada jika mendapati pasangannya bersinggungan terlalu intens dengan perempuan lain.
Perempuan lain?
__ADS_1
Lintang.
Velo menggeleng pelan guna mengusir bayangan perempuan yang menyita hari-hari Hartadi beberapa tahun lalu.
“Mas, dengerin dulu kenapa aku berubah pikiran ikut reuninya Eyang Putri.” Velo merogoh saku dalam tasnya untuk mengambil sekotak Frozz. Dia jatuhkan dua butir permen ke atas telapak tangan, lalu disisipkannya bersamaan ke dalam mulut.
“Aku tuh mau nyenengin ibu kamu aja kok. Eyang Putri mulai kesepian, anak sampai cucu-cucunya sibuk sendiri. Nggak ada yang di rumah kecuali Eyang Tri.”
“Tahan, aku belum selesai ngomong.” Velo menyela cepat, sebelum Hartadi sempat mendebatnya dengan pola pikir saklek yang menjadi ciri khas pria itu.
“Hal kecil gini bikin Ibu kamu bahagia loh? Ibu kamu ngerasa masih ada yang diurusin. Tau sendiri sepupuku yang lain susah banget diminta nginep. Buat Eyang Putri, jadi nggak jadi persoalan belakangan yang penting aku ketemu dulu orangnya. Kenalan bukan berarti langsung jadian.”
“Oke. Setelah kenalan kalau laki-laki itu ngerasa kamu ngena di hati dan dia nyimpen ekspektasi, dikejar lah kamu. Nggak mikir ada plot twist nikah sama orang lain gara-gara ibu?” Hartadi menahan tangan Velo yang menyodorkan Frozz. Dia sedang tidak ingin memasukan apapun dalam mulut. Diam-diam dia tau perment mint adalah bentuk pengalihan Velo yang terbiasa merokok setiap hari.
Sedari pertama hidup serumah, sekali pun dia tidak menemui pertanda Velo merokok lagi.
“Yang ngejar nggak harus aku terima. Hitung-hitung bisa jadi temen atau rekanan, sekalian memperluas lingkungan sosialku. Ambil positifnya, buang negatifnya. Setuju, Pak?” dengan sengaja Velo senggol lengan Hartadi menggunakan sikut kenannya.
Pelan saja memang, tetapi berhasil membuat Hartadi menoleh sekilas ke arahnya dengan tampang cuek.
__ADS_1