Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Budak Korporat Atau Anak Start-Up


__ADS_3

Jalan Hartadi sudah tersendat dua kali demi memastikan Velo tidak beranjak ke mana-mana.


Selesai obrolan yang mengalir dari suatu topik ke topik lain, dia mencap Velo mabuk selepas meracaukan banyak hal yang membuat keningnya kian berkerut.


Tetapi ada pula momennya dia melepaskan tawa, karena merasa konyol meladeni perempuan mabuk yang tiba-tiba senang merayu.


Alasan mabuk bukan satu-satunya, Hartadi waswas di akibatkan muda-mudi di sekeliling mereka. Noru Jakarta memang diisi oleh mayoritas pengunjung usia muda. Apalagi wajah Velo memicu beberapa perhatian beberapa pria. Hartadi membaca lirikan dan perilaku tengil ‘mereka’ dengan jelas. Jika dia tinggal lebih lama, kaum adam di sini yang terlampau percaya diri tidak akan segan mendatangi Velo.


“Oh iya bisa... Mau minta tolong apa, Pak?!” jawab waiters itu sambil membungkuk hormat.


“Saya pengen kamu temenin... Mmmmh... Istri saya sebentar. Ada tip kok kalau kamu mau. Istri saya mulai excitement dan mau saya ajak pulang, tapi saya harus ngurus ini dulu.” Ucap Hartadi mengangkat Bill Holder untuk menunjukkan pada waiter itu ke mana tujuannya.


Di satu sisi, tidak sempat memikirkan lebih jauh ucapan lugasnya yang melabeli Velo sebagai istrinya.


Istri??


Kurang ajar sekali lidahnya.


“Boleh, Pak. Istrinya yang itu kan?” ucap waiter itu setuju lalu denting bel yang dibunyikan bartender memberikan hasil yang berbeda.


Tidak hanya disadari waiter tersebut, Hartadi pun segera berdecak memahami situasi yang enggan memihaknya.


“Eu... Anu... Maaf Pak, saya harus langsung anter. Rekan saya lagi ngelayanin di table lain, sisanya saya doang. Mohon maaf ya, Pak?” Waiter itu menunjuk bar menggunakan ibu jari. Tersaji beberapa gelas minuman yang harus diantarkan ke meja tamu.


“Oke Mas, thank you.” Hartadi tidak berbasa basi lagi, lalu bergegas menjauhi waiter dan membayarkan bill.


Bukan terlalu rajin dengan mendatangi bilik kasir, tetapi kebetulan Hartadi tidak menggunakan kartu kredit untuk kebutuhan dalam negeri. Orang lain cukup meletakkan kartu kredit dalam bill holder dan duduk manis, dilayani secara fleksibel tanpa harus menekan pin secara manual. Sayangnya, prinsip Hartadi berlainan dengan orang mapan kebanyakan.

__ADS_1


Kartu kredit yang tersimpan dalam dompet Hartadi untuk pemakaian tanpa limit.


Periode penggunaannya hanya pada saat dia bepergian ke luar negeri, memudahkan segala pembayaran. Bila isi rekeningnya cukup untuk membiayai semua kebutuhan di sini, Hartadi berprinsip kartu kredit bukan alat yang harus berkala dia pergunakan. Dia membuat kartu kredit demi memuluskan rencana tertentu terkait pekerjaan dan keperluan lainnya di luar negeri saja.


“Mulai teler tuh. Mau lo atau gue yang samperin?”


Suara mampir ke telinga Hartadi, berhasil menggiring fokusnya yang berantakan.


Sumber suara itu seorang pria berkemeja slim fit putih dan jeans biru muda pada barisan depan.



Hartadi menelisik pria itu dengan tenang seraya menunggu giliran maju. Baginya yang hatam dunia malam, bukan sesuatu yang asing jika berkenalan dengan orang-orang baru di tempat seperti ini. Lumrah saja, selayaknya perkenalan di kafe biasa. Bedanya, perkenalan di klub maupun lounge sering kali berujung membagi nikmat.


“Emangnya dia bener sendirian? Ntar dituduh nikung cewek orang.” Pria lain yang bersisian dengan si kemeja putih berkelit, tidak langsung mengiyakan. Pria yang mengenakan kaos abu-abu dan tartan ankle pants tersebut memutar ke belakang. Raut penasaran tergambar di wajahnya.


“Ya elah, Ka. Ngapain lo pikirin kerjaannya di mana?” si kemeja putih membuang muka seolah malas dengan bahasan mereka. “Gue tau mana cewek yang ngarep mangsa di sini, mana yang emang ngabisin waktu buat have fun! Kenalan random juga nggak ngerugiin lo. Ketemu cewek yang klik mah bisa dari mana aja. Lo sok ngapus Bumble sih!”


Hartadi mulai sedikit panas, walau tampang datarnya belum berubah. Pasalnya kedua mata pria itu menyambar ke area di belakang sana, tempat di mana Velo duduk seorang diri dengan bahu yang semakin lunglai. Namun Hartadi tidak mau cepat berprasangka, maka itu dia akan memasang telinganya baik-baik untuk mendengar percakapan mereka.


Memangkas satu langkah, tiba giliran kedua pria di depan Hartadi untuk menyelesaikan bill mereka. Atas luangnya kesempatan, dia ingin sebentar memastikan Velo.


Sukseslah dia dibuat berjengit, terkejut dan melebarkan mata melihat Velo sudah mengumbar bahu.


Scraf Velo melonggar ketika perempuan itu mencoba bersandar dengan stabil pada bantalan sofa.


“Resek banget sih kamu, Vel.” Geram Hartadi yang perlu memijat pangkal hidungnya untuk mengurai kekesalan. Bukan berlebihan, rasanya tidak senang kalau perempuan itu menjadi sasaran mata-mata lapar.

__ADS_1


“Ck, tau begini nggak usah minum sekalian.”


Enam tahun lalu di lingkungan kerja yang sama, Hartadi tidak pernah berkesempatan menyaksikan Velo berduel dengan alkohol. Kadang kala sewaktu pesta malam berkedok bisnis, Velo hanya menyesap sesekali, sekedar menghargai tuan rumah dan para rekan kerja.


Hartadi memperhatikan tanpa berkomentar, dulu mana dia peduli Velo menyukai alkohol atau tidak.


Pada waktu itu Hartadi berpikir sederhana, mungkin Velo ingin mempertahankan profesionalitas dengan tidak mabuk saat menjalankan tugas sebagai sekretaris.


Anggapannya dibuktikan keliru malam ini. Velo menghindari alkohol kala itu, karena menyadari kelemahannya sesudah minum.


“Ka, udah sana,” titah si kemeja putih yang sibuk memasukkan dompet dalam clutch kulit hitam. “Kaki tuh cewek lagi sakit. Pakai alibi aja, lo pengen anterin balik sampai depan pager.”


“Heh, yakin banget dia lagi nggak sama partner nya di sini?” dengus si pria yang sejak awal dicecar agar mendekati seorang perempuan. Pria itu menarik sikut si kemeja putih, agar tidak menghalangi barisan di belakang mereka yang ingin membayar pada kasir.


Hartadi mendapat kesempatan menyerahkan bill holder ‘sialan’ yang merepotkannya.


Dia mengeratkan rahang sembari menyodorkan kartu debit. Telinganya masih begitu awas, karena dia mau tau rencana kedua pria itu kepada Velo. Untungnya mereka belum menjauh, masih berkerumun di samping kasir.


“Gue perhatiin dia satu table sama cowok. Tapi, mungkin baliknya misah. Buktinya sekarang Cuma dia aja? Dari yang gue liat mereka nggak kayak punya something lah,” jelas si kemeja putih bak yang paling tau. “Gue ngebet gini, karena lo merhatiin cewek itu mulu. Dikasih peluang maju, malah ragu.”


“Nggak salah dong gue hati-hati? Daripada kena sepak lakinya akibat kesotoyan lo,” tepis pria berkaos abu-abu seolah tidak ingin dinilai sebelah mata.


Sesungguhnya, dia sudah siap mendekati perempuan yang terlanjur memerangkap pikirannya.


“Keribetan mikir. Misal lo ragu, ya biarin gue yang samperin. Gue nggak sia-siain kesempatan,” kekeh si kemeja putih percaya diri. “Tadi kita nggak sengaja papasan waktu gue foto city lights. Makanya, gue berani ngomong bukan muka tuh cewek aja yang sedap diliat. Gue yakin sih mulus sampai dalem-dalemnya.”


Senyum miring Hartadi teramat sekilas. Prasangkanya tidak salah. Noru Jakarta terletak di rooftof Hotel, pemandangan dari atas sini memang cukup memanjakkan mata. Velo pun sempat ikut-ikutan mengambil gambar pemandangan lampu kota bersama muda mudi lainnya.

__ADS_1


Perannya tadi hanya mengawasi Velo saat membaur dengan orang yang bergantian memotret pemandangan, walau kruk tetap terapit.


__ADS_2