Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Does love need prood? Should love require effort?


__ADS_3

Melihat tidak ada sela berarti dan desakan dari orang-orang yang ada di depannya, membuat Velo membelah orang-orang itu agar mendapatkan jalan sambil mengucapkan kata permisi, kemudian menarik Livia bersamanya kekuar dari lift.


“Daripada lo penasaran something apa yang gue punya pas cuti, gue mau kasih tau lo fakta penting tentang anaknya Pak. Tama,” ucap Velo menutup kalimatnya dengan senyuman kecil, lalu menarik Livia untuk duduk di salah satu sofa yang diperuntukan untuk tamu.


“Duh, fakta penting apa nih?” hati Livia sekarang berdegup-degup akan menerima informasi terkait seseorang yang dia taksir. “Vel, Pak Andre udah punya istri?”


“Ck… bibir gue nggak bakal senyum kalo ngasih fakta yang nyakitin kali. Nggak kok Liv, Pak Andre masih single dan kayaknya nggak punya pacar atau tunangan. Gue kemaren dikasih tau sama adik perempuannya,” papar Velo tanpa sadar memegangi kedua tangan Livia.


“Beneran Pak Andre single? Duh gue harus bersyukur atau langsung nyusun rencana buat pendekatan, Vel?” suara Livia seolah tercekat. “Terus gimana ceritanya lo ketemu dan nanya-nanya soal Pak Andre ke adiknya? Sepanjang gue kerja disini, ketemu Bu Kelly Cuma dua kali.”


“Kenalan gue temen suaminya Mbak Kelly, obrolan kemaren nggak sengaja aja sih nyerempet ke Pak Andre. Dan ternyata, emang bener belum berkeluarga. Lo nggak pernah kepo ke Pak Tama apa?” Velo mengernyitkan kening.


“Tengsin gue kalo ketauan nyari tau anaknya. Pak Andre harapan besar Ayahnya. Lagi di pupuk habis-habisan buat gantiin Pak Tama di sini. Boss gue ada ancang-ancang pensiun.” Livia memberitahu dengan nada getir.


“Loh, baguslah tar kan yang jadi boss lo Pak Andre? Anggap aja waktu yang tepat buat pendekatan setelah ayahnya lengser, Liv. Setuju nggak?” ucap Velo sambil menatap wajah Livia saat berbicara, namun lift yang berdenting membuat Velo menggeser tatapannya  ke arah lift.


Velo membayangkan Aruna yang keluar sambil menenteng camilan karena tak sempat sarapan pagi, namun pada saat pintu lift terbuka hadirlah sosok yang tidak disangka-sangka menginjakan kaki di kantornya. Pria berpakaian necis dengan rambut tertata rapih menggunakan gel.


Telinga Velo tidak menangkap apa yang dikatakan Livia sebagai balasan sarannya. Karena sosok yang keluar dari lift tersebut, sedang berjalan pasti ke tempat dimana Velo duduk bersama Livia. Seakan memang benar bahwa Velo yang ingin ditemui pria itu.


“Vel, pasti lo nggak nyimak omongan gue? Ngeliatin apa sih?” Livia ingin mencebik, namun ikut penasaran kemana mata Velo tertuju. Maka dari itu Livia menolehkan kepalanya ke belakang dan terbelalak mendapati Caesar Medika. Livia kemvali menatap Velo, lalu berbicara dengan satu tarikan napas. “Pas lo cuti dia dateng mulu!”


“Ck… Rajin banget!” ucap Velo sambil mendengus tanpa mengalihkan pandangannya pada Caesar yang tidak mempercepat langkahnya ataupun melambat, walaupun sudah bertemu muka dengan Velo. “Gue udah nggak ada urusan lagi sama ini orang.”

__ADS_1


“Lo ngeblock nomornya kan?” tanya Livia sembari mendekatkan wajahnya ke telinga Velo. “Kemaren Caesar bilang nyariin lo buat minta maaf, Vel. Gue Cuma bilang lo cuti. Siap-siap aja Vel kayaknya dia mau minta balikan.” Velo pun hanya mengangguk pelan.


“Makasih ya Liv, atas warningnya.”


“Gue tinggal masuk ya? Kalo butuh pertolongan keluar dari jerat buaya SCBD, telepon gue aja?” Livia menepuk bahu Velo lembut, tak lupa kembali memanasi Velo sebelum melenggang pergi. “Makin seger nih…” Velo kontan mendelik ke arah Velo.


“Cih… Lo pikir buah-buahan di All-Fresh.”


“Mantan terindah lo Vel,” koreksi Livia mengoreksi, lalu memberi cengiran menyebalkan.


Tanpa menunggu respon dari Velo , Livia bergegas memberi ruang untuk Velo ketika menyadari Caesar sudah menunggu. Perempuan itu berjalan menuju lorong yang diperuntukan bagi atasannya, menciptakan keheningan antara Velo dan Caesar.


Sofa di samping Velo selidiki melesak, menandakan seseorang sudah duduk di sana menggantikan Livia. Velo memutar bola mata malas mendengar dehaman sengaja pria yang datang behitu percaya diri sekali pagi ini, seperti yakin akan disambut dengan hati terbuka.


“Apa kabar Vel? Minggu lalu kamu ambil cuti full seminggu?” ucap Caesar memulai percakapannya. Pria itu terbilang tenang untuk meluluhkan sikap sinis Velo.


“Perhatian banget nanya kabar.” Velo mengukir senyuman datar, kali ini tidak menghindar dari Caesar dan bersitatap dengan pria itu. “Mau ngapain, jam sembilan teng gue masuk ke dalem.”


Caesar mengusap kedua telapak tangannya, lalu satu tangan terulur  ingin meraih tangan Velo namun kalah cepat dari perempuan itu  yang sigap menarik tangannya.


“Vel, aku beneran nyesel nggak mau berjuang buat kamu. Aku emang pengecut, karena masa lalu yang udah ngebuat aku stuck di tempat. Ngebiarin hati kita sama-sama terluka, terutama kamu…” Caesar memandang Velo kosong, sadar diri diperlakukan Velo di sebabkan ketidak mampuannya.


“Terutama gue? Pede banget lo? Lo pikir gue yang paling sakit di sini?” Velo menggilas kalimat Caesar dengan dingin. “Dan, Ya… Lo emang pengecut. Masa lalu nggak bakal hilang, tapi lo terlau takut masa lalu ngerusak semua yang lo punya sekarang.”

__ADS_1


“Vel, tapi Papih kamu…”


“Iya, Papih gue ngancem bakal ngebocorin masa lalu lo ke media bisnis kan? Bikin sulit tender NAT Contruksion kan? Ya udah, fine…  kenapa lo datengin lagi?” ucap Velo tidak suka berbasa-basi lagi.


“Aku masih cinta sama kamu Vel…” Caesar mengucapkan pelan sembari menundukan kepala. “Kamu terima apa adanya Audrey di hidup aku tanpa pernikahan, kamu sayangi dia, kamu nerima aku dengan kekuranganku.”


“Rasa cinta lo dan penerimaan gue, nggak cukup mampu menjadi alasan lo perjuangin hubungan kita. Dulu lo kemana aja? Semua ancaman Papih ngebuat lo takut kan? Lo nggak bakal maju buat gue.” Velo menggeleng miris.


“Aku mau mengusahakan hubungan kita berhasil, Vel. Aku janji bakal nemuin cara untuk Papih kamu yang nggak setuju sama aku…” tutur Caesar tulus. Aku mau dihidupku ada kamu. Kamu mau nerima aku lagi?”


Velo memandang pria yang dulu pernah dicintainya, “Sekarang yang gue butuhin bukan Cuma sebatas kata cinta dan janji berusaha. Does love need prood? Iya. Should love require effort? Iya. Karena, yang gue mau pernikahan. Tapi waktu dan kesempatan lo udah abis, Sar.”


***


“Nggak mungkin Velo terpengaruh bujuk rayu buaya SCBD”


Dalam hati Velo membenarkan perkataan Aruna yang sedang berjalan di depannya bersama Livia. Velo memilih untuk mengikuti dari belakang sembari merenungkan pertemuannya dengan Caesar Medika.


Seseorang yang pernah mengisi hari-hari Velo dan membahagiakannya hanya dengan kebersamaan. Hubungan lima tahun yang dipenuhi harapan, penerimaan dan Keikhlasan tersebut tidak berhasil Mencapai level yang dituju Velo.


Caesar gagal Memperjuangkan Velo, karena gertakan Adiputra telah meleburkan keberanian pria itu. Masa lalu Caesar yang kurang terpuji karena memiliki buah hati si luar pernikahan, menjadi senjata utama Adiputra untuk menjauhkan mereka.


“Kalo Velo balikan lagi sama buaya SCBD, tar buy one get one dong. Tapi nggak apa-apa deng soalnya anaknya cakep. Gue pernah liat Foto si Audrey, imut banget ya Lord…” Livia tampak gemas sendiri mengingat wajah Audrey Medika, gadis kecil yang berumur tujuh tahun memiliki warna rambut coklat ikal.

__ADS_1


 


__ADS_2