
“Hasil meeting konstruksi kabarin sekalian hasilnya ke gue,” potong Hartadi tidak ingin buta mengenai informasi dari rencana mereka membangun cabang baru. Sekaligus, menghalangi para sahabatnya membuat lelucon tentang mood nya lebih jauh.
Melihat Haris yang memijit pelipisnya seakan terserang migrain, Hartadi menimpali keinginan pria itu dengan berkata, “Jangan lupa bill kopinya lo kirimin ke gue. Kali ini gue bayarin, Ris.”
“Ck, baik di depan Velo doang.,” cibir Haris yang segera diseret Maestra menjauhi Hartadi dan Velo. “Eh, Mae! Maen tarik aja. Itu Velo ga dianter pulang nanti? Yang ngajak Velo ke sini kan lo sendiri.”
“Saya bisa pulang sendiri, pak. Transportasi online dimana-mana.”
Hari ini Velo memang meninggalkan mobilnya lagi di basement Almeda Group, karena agenda di luar kantor mengharuskannya satu mobil dengan atasannya.
Maestra menghentikan laju kakinya tanpa melepas rangkulannya pada bahu Haris. Pria itu menolehkan kepala, mengirim senyuman simpul yang penuh arti kepada Haris.
“Gue nggak mau cari mati nantangin Hartadi dengan anter pulang ceweknya.”
“Ck, minggat lo berdua!” usir Hartadi panas.
Kedua sahabat Hartadi yang memeriahkan suasana telah memasuki ruang kerja Maestra. Sekarang hanya tersisa dirinya dan Velo. Bentuk kesialan yang tentunya akan dia hadapi, sekalipun kilas erotis dari mimpinya terasa lebih nyata.
Lambat laun tatapan Hartadi menuruni wajah Velo. Perempuan itu bahkan menatapnya dengan kerutan di tengah alis. Hartadi jadi bertanya-tanya, apa kedua matanya memancarkan rasa ‘haus’ yang ditahannya sejak terbangun dari mimpi?
“Sekiranya Bapak sibuk, saya pulang aja,” ucap Velo yang merasa suasana di ruangan itu jadi sedikit canggung.
Hartadi mengedikan dagu mengarah ke mejanya, “Duduklah. Saya nggak sibuk!”
“Ruangan nggak pernah di renovasi, Pak?” Velo mulai mengitari ruang kerja Hartadi, dia sama sekali tidak menyangka pria itu mempertahankan interior lamanya sejak enam tahun yang lalu.
“Memangnya harus di revoasi? Biarpun saya di Samarinda, tapi ruangan ini selalu dirawat dan dibersihin selayaknya saya masih kerja Monday to Friday.” Ucap Hartadi mengambil tempat di sisi Velo, ikut memandangi hasil sentuhan perempuan itu desain interiornya.
“Pantes kondisinya masih sebagus dulu. Enam tahun rasanya kayak baru kemarin ya, Pak?” Velo menarik napas, dia tidak percaya kembali ke kantor Hartadi dengan komitmen pernikahan di antara mereka.
__ADS_1
Hartadi tidak lagi mengikuti arah pandangan Velo, karena sosok perempuan itu yang saat ini menyita atensinya. “Tapi, di enam tahun itu nyatanya kita melewati banyak hal. Setiap tahun ada tantangan hidup.
“Nggak semua manusia punya ambisi dan tujuan yang pasti dalam hidup. Kalau nggak digembleng tantangan, kemungkinan besar nggak akan naik level.” Velo memalingkan wajahnya pada Hartadi diselingi senyuman tipis.
“Saya suka pemikiran kamu,” Hartadi mengesampingkan tubuhnya, lalu mengisyaratkan three-seater sofa di belakang Velo. “Kamu nggak mau duduk? Ruangan saya kelihatannya punya magnet besar buat kamu, Ve.?”
“Royal WCS kantor pertama saya Pak, paling membekas sih. Satu tahun lebih kerja untuk Bapak di sini, bolak balik ke ruangan ini, dan ikut ngedesain ruang kerja ala karaoke ini…” Velo menggeleng gemas. “Jujur, ada kangen-kangennya.”
“Apa kita harus ngebahas perselisihan dulu lagi yang membuat kamu lepas dari kantor saya?” Hartadi bersidekap sambil mengamati Velo penuh perhitungan.
“Saya nggak mau ngerusak mood siapa pun kok, apalagi Bapak keliatan ‘haus’ terus. Nggak minat musuhan lagi ah. Kita skip aja, Pak.” Velo menghindar dengan lihai.
Tanpa dipersilahkan ulang oleh Hartadi, Velo beranjak duduk pada sofa yang tersedia dan melepas tasnya. Telapak tangan Velo tanpa sadar menyapu permukaan sofa yang masih selembut ketika pertama kali dia mendudukinya.
Dengan rok pensil di atas lutut yang membelit pinggangnya dengan ketat, Velo memposisikan kedua kakinya mengarah ke kiri agar tidak ada celah yang terlihat. Tetap mengusahakan sikap duduk yang sopan, meskipun pria di depannya adalah calon suaminya.
Sementara Velo yang langsung menelan ludahnya tidak tau harus menjawab apa? “Saya denger Bapak minta sekretaris tadi ngebawain tiga botol Equil. Artinya haus kan? Emangnya ada yang lain?” Velo berusaha rileks dengan mengedikan bahu, karena merasa Hartadi sedang menyimpan sesuatu darinya.
“Kamu nggak yakin sama pendapatmu sendiri.” Ucap Hartadi tampak mengintimidasi, pinggul pria itu bersandar di pinggiran meja kayunya yang kokoh dilapisi cat duco berwarna hitam. Meja tersebut melukiskan benar siapa Hartadi.
Dan, ya… Velo menyangkal pendapat aslinya.
Dari sepasang mata pria itu yang memperhatikannya tanpa main-main, satu pemikiran muncul di kepala Velo, apa dia sudah melakukan kesalahan? Atau, mengganggu waktu privasi antara Hartadi dengan sekretaris semampai yang ‘katanya’ baru saja dipecat itu?
Namun, sepanjang Velo bekerja untuk Hartadi, pria itu enggan sekali memikat perempuan yang satu gedung dengannya. Terlebih jabatan sekretaris yang erat dengan keseharian Hartadi. Karena itu, teman Hartadi selalu datang sebagai tamu-tamu cantik.
“Saya nggak mau sok tau tentang Bapak. jadi, menurut saya Bapak lagi haus secara harfiah aja.” Ucap Velo tidak suka jika nanti mendengar spekulasinya mengenai Hartadi dan sekretaris itu ternyata benar.
Hartadi hampir yakin akan menertawai Velo yang terang-terangan mengelak, namun dia alihkan dengan dengusan. “Sekarang lagi bermulut manis ya, Vel? Saya terkesan, karena kamu nggak berani ceplas-ceplos seperti biasa.”
__ADS_1
“Ceplas-ceplos juga harus tau kapan waktunya dong, Pak.” Timpal Velo atas kalimat Hartadi yang meremehkannya.
Di satu sisi, Hartadi tidak mengistirahatkan diri. Bunga tidur yang semalam menghabisi tubuhnya dengan sensasi panas, masih tidak berhenti memenuhi setiap benaknya. Sebab setiap matanya melihat ke arah Velo, proyeksi siluet polos perempuan itu mengotori kewarasannya.
“Kenapa, Pak?” Velo menyerah untuk tidak bertanya mengapa sekarang dia ditatap sedemikian rupa, tatapn yang tidak ramah sama sekali. “Penampilan saya nggak kucel kan? Meeting tadi emang alot sih, kepala saya sampai ikutan berasap.”
Okay, Hartadi harus membersihkan tenggorokannya dengan dehaman sebelum menjawab. Tidak mungkin dia tergagap seperti anak ingusan. “Penampilan kamu masih Oke. Saya Cuma perhatiin cara dudukmu itu, ngalahin pesinden.”
Pipi Velo memanas, namun dia mengangkat dagu bersiap membela diri. Sekalian saja dia usili Hartadi dengan kata-kata yang menohok. “Saya pakai rok, masa mau duduk asal? Rugi banget kalo ada yang jelalatan.”
“Jadi mata saya yang jelalatan, gitu?” ucao Hartadi sambil memicingkan mata, sebetulnya dia setengah geli terhadap Velo yang mulai mencair. “Saya kalau pengen ngeliat ‘punya kamu’, nggak pakai acara ngintip-ngintip segala. Yang ada nanti saya bintitan.”
“Oh, nggak pakai cara ngintip ya? Berarti ada cara lainnya kan? Bisa Bapak jelasin nggak?” Velo menegapkan punggung, posenya persis saat seseorang memandang saingannya. Kekanak-kanakkan memang, tapi Hartadi tidak ada bedanya.
Hartadi menarik sudut bibir, pancaran matanya semakin gelap dan mengartikan sesuatu yang lain. “Caranya gampang, saya langsung tanya kesediaan kamu. Karena saya nggak pernah setengah-setengah dalam menginginkan sesuatu.”
“Jadi…” Velo merapatkan kaki-kakinya, hilang sudah sikap kekanak-kanakan tadi. “… tergantung saya?”
Dengan berat, Hartadi mengusahakan suaranya keluar meskipun hasilnya terdengar parau. “Iya, tergantung kamu bersedia atau tidak.”
Tok…Tokk…
Tiba-tiba, ketukan pintu yang Hartadi tebak dilakukan oleh Karin memutus kontak matanya dengan Velo. Hartadi menurunkan kedua tangan yang terlipat di depan dada dan mempersilahkan orang itu masuk.
Dan benar saja, Karin yang memasuki ruangan kerja Hartadi, terdapat tiga botol Equil sesuai pesanan pria itu di atas nampan. Langkah Karin berubah kikuk ketika melihat kehadiran Velo.
“Permisi,” ucap Karin sambil melempar anggukkan singkat pada Velo yang tengah duduk di atas sofa Oscar milik atasannya.
Velo membalas perempuan itu dengan mematri senyum kecil. Membiarkan keingintahuannya mengobservasi interaksi antara Hartadi dan sekretaris itu, tapi nampaknya tidak ada tanda-tanda nampak keduanya terlibat hubungan di luar profesionalisme kerja.
__ADS_1