Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Seperti Snow White & 7 Dwarf


__ADS_3

“Hei Guys!” Velo menyerbu pada ketujuh adik kembarnya seakan pilot yang bersemangat menjalankan pesawat selanjutnya mendekati mereka dalam langkah ringan ketika sudah dekat. “Lagi ngapain kalian? Kalian mau piknik di depan pintu apartemen kakak, Hm?”


“Loh Kak, lo bareng Om Hartadi?” Bara melejit bangun untuk bergegas menyambut kakak perempuannya yang hilang kabar beberapa hari. Begitu pun yang lainnya yang langsung menghambur juga ke arah Velo.


“Ck… kayaknya kita percuma khawatirin lo Kak, lo aja kayaknya habis liburan!” ucap Badar mencebik kesal dengan kelakuan kakaknya yang tidak ada kabar.


“Abis jalan-jalan dari mana sih Kak? Kopernya gede banget!” Badil ikut bertanya saat melihat koper yang dibawa Hartadi.


“Tau nih.. gue kira dia di culik, atau kabur karena ada masalah.. eh taunya malah liburan!” Bariq.


“Lain kali kasih kabar napa Kak, jadi kita nggak khawatir kayak gini, Cuma nungguin lo di koridor gini sambil makam Pop Mie, kayak pengemis” Basha.


“Atau ajakin kita liburan kek, biar kita bisa jagain lo, Kak.” Binad.


“Tau nih.. punya Kakak cewek suka banget bikin Mami naik darah.” Biyan.


Meskipun dicecar oleh ketujuh adik kembarnya Velo hanya bisa tersenyum melihat perhatian kecil dari ke tujuh adik kembarnya itu. “Dari kapan kalian ada di sini?”


“Ck… Nggak keitung dari kapan. Kita ke sini bolak balik kadang gentian nyariin lo Kak sampe kita minta Mbok Lin kerokin.” Bara.

__ADS_1


“Duh… Apes bangetlah kalo lo lagib kabur-kaburan gini, mirip anak ABG.” Badar.


“Lo kemana aja sih, Kak?” Badil.


“Nanti Kakak ceritain.” Velo tidak rishi dengah ketujuh adiknya yang sangat dekat dengannya. Saat mereka memeluk Velo secara bersamaan Velo menjadi seperti snow white diantara tujuh kurcacinya bedanya yang kurcacinya lebih tinggi dan besar dibanding Velo. Bertukar kasih sayang dengan si kembar seperti ini, Velo mensyukuri keputusannya untuk mendatangi Hartadi dan menegosiasikan harapan besar bagi kehidupannya.


Hatinya selalu optimis, karena Velo berharap ketujuh adik kembarnya itu menjadi adik yang hebat dan menyayangi kedua orang tua mereka. Sebisa mungkin tidak akan membendung rasa kecewa, yang didasari keegoisan dan sikap tercela Papah mereka. Velo tidak ingin psikologis si kembar tidak utuh. Mereka memasuki usia peralihan, amat ringkih dan membutuhkan perhatian.


Velo menyudahi adegan teletubbiesnya dengan ketujuh adik kembarnya itu, dia sempat melihat ketujuh adik kembarnya yang sedang memindai Velo dan Hartadi secara bergantian. Senyum Velo terbit ketika melihat kedua tangan Hartadi menumpang di atas handle koper yang sudah ditarik, sepertinya pria itu bosan menjadi penonton.


“Kenapa Om Har yang anter Kakak? Kalian ketemu di mana?” Bariq menyela siapapun yang akan bicara di antara mereka, kepalanya terisi penuh oleh tanda Tanya dan sebaiknya dia tidak menunda lagi untuk bertanya. Atau mungkin lebih tepatnya ketujuh kembarnya itu penasaran dengan kehadiran Hartadi disini bersama dengan Velo.


Mereka bertemu pandang, Velo dan Hartadi, namun Velo mengisyaratkan agar dia yang menjawab kebingungan ketujuh adiknya itu. “Boleh kan Mas Har anter Kakak? Kita baru aja sampai dari Samarinda dan selama di sana Kakak visit kantornya, Kakak tuh nggak kabur seperti yang kalian pikirin ya?!”


“Wah… kalo beneran lo diculik sama cowok kampret gue kejar tuh cowoknya sampe dapet trus orangnya gue kasih bogem mentah sampe pingsan.” Celetuk Binad berapi-api tapi tidak seserius ucapannya, tapi siapapun yang memperhatikan matanya akan tau kalau ucapannya itu sungguh-sungguh.


“Ck.. Om, lama banget nggak ketemu!” ucap Biyan menghampiri Hartadi, kemudian saling adu kepalan tangan sebagai pengganti salam. “Biar jarang ketemu Om, tiap weekend gue main ke Cahari sama temen-temen loh. Makin rame aja nih yang dateng? Padahal, membership fee lagi naik 30%.” Lalu ke enam adik kembarnya pun mengikuti Biyan menyalami Hartadi tanpa prasangka apa-apa. Karena bagi mereka sah-sah aja Velo dan Hartadi bersama karena mereka adalah keluarga.


Hartadi hanya mengangguk ringan, agak terhibur menemukan kebanggaan yang terselip dalam suara Biyan membahas rutinitas di Cahari. “Adanya kenaikan membership fee, karena area Cahari semakin luas dan beberapa kuda Jerman baru mulai didatangkan minggu depan. Kamu harus coba naikin salah satunya.”

__ADS_1


“Serius?” Biyan tidak sanggup menutupi antusiasmenya, dia melirik keenam saudara kembarannya dan mengedipkan sebelah matanya. “ kalian juga harus coba dan kita tanding. Kita sama-sama tunggangin kuda yang baru, we’ll see siapa yang paling jago. Gimana, gimana?”


“Ck… Siapa takut?” Bara mengangkat kedua bahunya tidak peduli, karena mereka bertujuh terbiasa berkompetisi di Cahari Stables dan Country Club— pacuan kuda yang dibangun, dimiliki dan dikelola Hartadi.


“Lo yang biasa main aman, masa nggak bisa lepas dari kuda sendiri? Gue sendiri aja pegang lebih dari satu. Kayanya kalian harus belajar dari ‘Masternya’. He’s here, Guys.” Ucap Bara untuk mematahkan kesombongan Biyan, namun mendapat perhatian seuthnya dari Hartadi.


Begitupun Velo yang lantas bertukar pandang dengan Hartadi. Kepalanya menggeleng pelan tak mengerti sikap dingin terang-terangan Biyan dan Bara di depan adik papahnya. Gelengan kepala Velo tersebut hanya dilihat Hartadi sebentar dan pria itu kembali memerhatikan si kembar.


Jangan bilang anak-anak ini seprotektif Papanya, pikir Hartadi mulai mengamati ke tujuh adik kembar Velo.


“Guys, sekarang ambil bekas Pop Mie kalian dan masuk ke dalem duluan.” Velo menepuk punggung salah satu adik kembarnya Bara, dia lalu menempelkan sidik jarinya pada smart door-lock seraya mengawasi ketujuh adiknya memungut mangkuk Pop Mie tanpa membantah.


“Kakak nggak ikutan masuk” Tanya Basha yang dari tadi melihat kelakuan Velo dan Hartadi agak sedikit curiga.


“Ada yang mau Kakak omongin dulu sama Mas Har. Kamu juga masuk dulua, ok? Jangan lupa langsung buang bekas Pop Mie di tempat sampah dapur.” Jelas Velo yang menemui gelagay tidak setuju Basha, tapi Velo dengan cepat meyakinkan pemuda itu. “Kakak nggak lama kok. Mas Har juga mau pulang.”


“Tenang aja kalau soal buang sampah.” Basha merendahkan suaranya. “Aku bukan nggak suka kehadiran Om Har. Aku cukup lega malah Kakak pergi sama orang yang kita kenal, Om Har ‘keluarga’ kita. Tapi, untuk apa disamperin ke Samarinda?”


“Kakak nggak bisa cerita sekarang.” Velo menipiskan bibir, Basha memang agak pendiam tapi sangat peka dari pada saudara kembarnya yang lain.”Bukan maksudnya mau main rahasia sama kamu Sha, tapi waktunya belum pas. Sha, kamu nggak akan maksa Kakak buat cerita kan?”

__ADS_1


“Nggak.” Basha menarik napas untuk menghilangkan sesuatu yang mengganja di pikirannya, ia pun mengangkat tangan—pada akhirnya mau menyapa Hartadi. “Om, kita masuk dulu. Sampai ketemu di Cahari, kalau emang kebetulan kita ketemu.”


“Pasti ketemu lagi di Cahari, atau bisa jadi di rumah Eyangmu?” Hartadi membalas pemuda itu dengan lambaian tangan serupa, masih tidak berpindah posisi dan bersandar pada handle koper. “See you, Guys.”


__ADS_2