Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
I promise, I will marry you


__ADS_3

Mendengar gumaman yang terlontar kasar, Velo pun mengerutkan kedua halisnya, lalu mengubah tidurnya menjadi terlentang. Dan di situlah dia menyadari eksistensi seseorang.


Matanya langsung melebar, Velo tidak siap menemukan seraut tampan yang memandanginya dari dekat dengan napasnya yang hampir beradu. Jika saja wajah Hartadi maju lebih dekat lagi, sudah dipastikan hidung mereka bertemu.


“Pak?! Kok disini?” akhirnya, pertanyaan yang tepat dia utarakan pada Hartadi.


“Saya nyamperin kamu, karena kamu tiba-tiba kabur di saat saya bicarain hal penting sama Ibu dan Bapak.” Kilah Hartadi beralasan dengan cerdas. Hartadi menjauhkan diri lalu duduk di pinggir ranjang. “Dan kamu malah tidur pulas. Harusnya kamu ikut dengerin tadi, ada sangkut pautnya sama kamu.”


Hartadi menyunggingkan senyumnya saat berhasil membangunkan Velo dari tidurnya, lalu memperhatikan wajah Velo yang sudah nampak segar dan jauh dari kantuk dengan bibir yang setengah terbuka mengundang Hartadi melupakan basa-basi dan ******* bibir Velo. Velo pun langsung mengerjap dan membalas ******* yang Hartadi berikan.


Saat kecupan mereka terlepas Velo pun beringsut duduk dan menurunkan kaos yang disadarinya agak tersingkap, Velo sendiri sulit untuk bergerak leluasa lantaran posisi Hartadi teramat sangat dekat. Cara Hartadi menungguinya intimidatif, dan kali ini dia mengenali tatapan dari pria itu.


“Saya pengen istirahat lebih cepet aja, Pak. Makanya langsung naek ke kamar. Mau bilang-bilang tapi pembicaraannya lagi serius. Masa iya saya potong?” ucap Velo sambil melepas ikat rambut yang menempel di pergelangannya, menggelung tinggi rambutnya lalu mengikatnya sambil menatap Hartadi.


Kadang Velo tidak berfikir jauh jika mengikat rambutnya akan memposisikan perempuan itu dalam bahaya. Mata Hartadi tidak mau lari dari leher Velo, ingin sekali menyentuh dan merangsangnya dengan hisapan. Tapi dia menunda untuk tidak terburu-buru.


Mata Hartadi lalu mengarah ke mata Velo, dia penasaran saat ingat sikap Sania yang menghindar setiap Ayahnya Sania masih berusaha untuk menyatukan putrinya dengannya.


“Kamu dan Sania ada omongan apa? Dia sadar kalau saya tolak?”


“Sadar. Saya buat dia makin bingung, kita punya hubungan atau ga? Tapi dia tau kalo dia nggak disambut baik.” Velo membenarkan seolah benar-benar menyimak, tetapi visual pria di depannya ini telah memaku segenap fokusnya.


Sinar lampu tidur menghadirkan suasana intim dan dia pun menyadarinya, telah memandang terus ke arah Hartadi, pipinya seketika merona. Jujur saja Velo tidak pernah bermimpi hubungan mereka mampu sedekat ini. Berterima kasih pun Velo sudah Velo kerahkan, kesediaan Hartadi untuk memilikinya sebagai pasangan sangatlah berarti.

__ADS_1


Menyadari ada yang ingin disampaikan Velo dari redup sepasang matanya, Hartadi menunduk dan mengarahkan tangannya ke samping wajah perempuan itu. Ibu jarinya mendarat di permukaan pipinya dan mengusap halus.


“Saya akuin kamu di depan orang tua saya, Velo.”


“Bapak nggak nyebut nama saya kan?” balas Velo masih dikuasai akal sehat. Sementara keinginan Hartadi yang tidak asing itu semakin membuatnya terpojok, alhasil niat untuk meluruskan beberapa hal yang terlewat di ruang makan tadi harus direncanakan ulang.


“Sania dan perempuan lain nggak akan diminta Ibu untuk kesini lagi. Kamu nggak harus jadi tangan kanan Ibu yang ikut menentukan calon istri saya.” Ucap Hartadi sambil menangkup sisi rahang Velo sambil menengadahkan kepala Velo, matanya menatap lurus tajam ke arahnya. “Perempuan yang akan saya nikahin nanti adalah kamu. Iya kan?”


“Promises!” ucap Velo sambil tanganya meremas rambut belakang Hartadi.


“Kamu tau saya bukan orang yang ingkar janji. Dan jika jawaban itu yang ingin kamu dengar akan saya tegaskan. I promise Vel, I will marry you…” ucap Hartadi tegas lalu membubuhi ciuman yang singkat tapi tidak meredam sedikitpun dahaga yang menghadirkan rasa tercekat pada tenggorokannya.


Hartadi tau benar suaranya serak, ingin kembali melangkah keluar dari kamar tapi rasanya berat. Pikiranya sedang bergelut dan berusaha kuat untuk memproteksi diri agar tidak kalap dan meniduri Velo layaknya binatang. Apalagi napas Velo menampar lembut dan hangat. Sepintar apapun dia menguasai diri, yang namanya nafsu akan mampu menggerus habis kepintarannya tersebut.


Sedangkan Velo yang saat itu sedang rajin-rajinnya mengenakan seragam putih merah.


“Buktiin kalau Bapak pegang janji. Dan inget ya pak, saya ga mau ada perempuan lain.” Perut Velo seakan melilit, dia belum bisa menerka ke mana malam ini akan berujung.


Mantan-mantan kekasihnya dulu menerapkan batas, takut diperkarakan oleh ayah tirinya dan berujung di miskinkan paksa.


Namun yang menyentuhnya sekarang ini justru hampir mencekik ayah tirinya menggunakan dasi. Dan, tanpa bisa dicegah Velo pun ternyata mendambakan hal yang serupa. Secercah keberanian bersatu padu dengan hasratnya sebagai perempuan dewasa yang memiliki fantasi.


Velo tidak henti mengingatkan Hartadi bermonogami. Sesungguhnya history mencatat Velo adalah saksi sekaligus pemusnahan kesetiaan Hartadi pada satu perempuan.

__ADS_1


Karena itu, Hartadi membalas Velo dengan tingkat keposesifan yang sama.


“Berlaku untuk kamu juga. Saya ngelarang kamu balikan sama mantan yang punya anak itu.”


“Ok, sepakat!” ucap Velo lalu mengendus leher Hartadi kemudian mengincar bibirnya, singkat tapi jelas.


Dan lagi-lagi, bagaimana Velo membalasnya tidak pernah dapat diprediksi. Sering dia dibuat emosi, tetapi hubungan mereka usai perang dingin selama enam tahun ini, semakin hari kian panas. Dan memang betul, laki-laki dan perempuan sangat mudah dihasut nafsu walau tak saling menyimpan cinta.


Tidak berniat melepaskan tangan atau sesuatu yang dimulainya, Hartadi pun menunduk demi menyuguhkan kecupan di sepanjang leher Velo. Di telusurinya dalam ketenangan, memusatkan indra perabanya pada kelembutan Velo. Remasan dikerah kemeja yang dibuat oleh Velo pun menguat, Hartadi sudahi dengan menghisap kulit leher perempuan itu.


Kepalanya bekerja keras, mempertimbangkan masak-masak sejauh mana dia dapat menyentuh Velo. Hartadi menimbang sendiri, tanpa bertanya langsung dia juga mengerti Velo belum pernah ditandai oleh pria lain. Apakah itu suatu keberuntungan untuknya? Absolutely not. Justru itu malah mempersulit ruang geraknya.


Sesaat Hartadi mengingat Ibunya, seakan diberi pencerahan. Hartadi tidak lagi mempertimbangkan sekaranglah dia meminta persetujuan Velo untuk melaju? Atau mewujudkannya  setelah melalui prosesi pernikahan?


Wening sangat menyayangi Velo. Sudah pasti Ibu Hartadi mengharapkan yang benar bagi sang cucu dalam moment malam pertamanya. Yakin benar, Hartadi bisa dibantai kalau Ibunya tau saat ini dia memiliki pikiran untuk melepas moment pertama Velo.


“Saya harus minum dan mandi air dingin lagi gara-gara kamu,” gerutu Hartadi sembari menyentak tangan Velo dan menghempaskan perempuan itu ke atas ranjang. Katakan saja mereka siap tenggelam. Hartadi berada di atas tubuh Velo, sementara perempuan itu menggerakkan tangannya yang semula diam.


Di kalungkan lengannya pada leher Hartadi yang mengambil alih peran memimpin. Ciuman yang pekat akan gairah pun langsung terjalin.


Tidak dilalui aba-aba, hanya berlandaskan dorongan hati yang menyala-nyala. Sentuhan Hartadi singgah di setiap jengkal tubuh Velo, tangannya menyelinap masuk kebalik kaos perempuan itu dan membelai halus disana selagi bibirnya bekerja memandu pagutan mereka.


Sambutan Velo menularkan asa, Hartadi tidak dibebankan keraguan. Biarpun kewarasan masih tertancap kuat dalam akar pikirannya, dia menjelajah ke pusaran yang lebih sensitif dan pribadi Velo. Tidak memperdulikan  berapa lama mendekatkan diri tanpa penyatuan yang di idamkan, mereka menikmati yang tersuguh karena begini saja sudah terlampau sesat.

__ADS_1


Di penghujung, Hartadi membentang jarak dengan susah payah disebabkan oleh kesadaran yang memintanya berhenti.


__ADS_2