Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Kenapa Harus Dipertemukan Takdir Di Tempat Ini?


__ADS_3

Setelah nampan ketiga botol Equil diletakan Karin di atas meja, perempuan itu pamit di depan Hartadi dengan kepala menunduk dalam. Kembali menyisakan Hartadi dan Velo yang langsung bertukar pandang saat pintu tertutup rapat.


Hartadi hendak berbalik untuk membuka salah satu botol Equil, tetapi dia menghentikan niat tersebut. Ketika di saat yang sama, Velo menjauhi sofa dan berjalan mendekat dimana dia berdiri. Hartadi pun berupaya menerka pergerakan perempuan itu.


“Biar saya aja, Pak.” Ucap Velo singkat.


Jari jemari lentik Velo yang dihiasi kuteks nude meraih sebotol Equil dan membuka segelnya tanpa susah payah, lalu menuangkan air mineral tersebut ke dalam gelas goblet milik Hartadi.


“Sekretaris tadi harusnya lebih eksplor apa yang di sukai dan apa yang nggak di sukai atasannya, dibanding sibuk tebar pesona. I think I’m right?” ucapnya setelah memenuhi gelas Hartadi, Velo menaruh tutupan gelas ke atasnya. “Saya tau kebiasaan Bapak ini dua hari setelah hari pertama kerja.


Tanpa kata, Hartadi menatap mejanya yang rapih dan gelas sudah terisi penuh, kemudian mengangkat kepalanya untuk mengunci tatapan Velo. “Selama beberapa tahun ini, saya melakukannya sendiri.”


“Sekretaris yang di Samarinda juga nggak terapin ini? Serius, Pak?!” Velo tersentak dan mundur selangkah ke belakang. Dia terheran-heran sendiri kenapa sekretaris Hartadi berikutnya tidak melakukan hal yang sama.


“Kamu mungkin ‘berbeda’” Hartadi mengepalkan satu tangannya yang berada di dalam saku, tidak ingin terpengaruh dengan hasutan yang ada di dalam kepalanya.


Velo bergumam sebentar, lalu memberikan gelengan kepala. “Saya nggak ada bedanya dan belum tentu lebih baik. Kayaknya saya amatin Bapak aja, karena saya inget kata-kata Eyang Putri sebelum jadi sekretaris Bapak.”


“Kata-kata Ibu yang mana?” Hartadi tidak pernah tau hal ini.


“Sebagai anak bungsu laki-laki, Eyang Putri pernah jujur ke saya, kalau beliau memperlakukan Bapak nggak sama dengan anak laki-laki lainnya.” Velo mengingat penuturan Ibu Hartadi beberapa tahun yang lalu.


“Ibu saya pernah ngomong begitu sama kamu?” Hartadi hampir membulatkan kedua bola mata, karena bisa-bisanya sang ibu mengumbar dirinya yang ‘dimanjakan’ pada sang cucu.


“Salah ya?” Velo mendapati muka masam Hartadi. “Eyang Putri nggak bilang macem-macem kok. Beliau Cuma bilang memperlakukan Bapak dengan cara lebih dilayani aja kok. Contohnya minum dan makan disiapin sampe sendok garpunya.”


“Lagian saya yang buka percakapan itu, karena Eyang Putri sibuk ngurusin Bapak di meja makan,” sambung Velo lalu memberi usapan pelan di lengan Hartadi. “Jangan ngambek ya, Pak?!”


Hartadi menghela napas, enggan memenangkan emosi yang tidak penting. Lalu saat Velo hampir menjuhkan tangannya Hartadi dengan sigap menangkap tangan Velo,  dan menatapnya dengan intens. “Saya pikir itu sebabnya kamu layanin saya lebih detail dari sekretaris saya yang lain. Kamu memperhatikan saya, Velo.”

__ADS_1


“Mungkin…” jawab Velo dengan suara mengecil, tidak yakin perihal dirinya yang sadar atau tidak telah memperhatikan Hartadi.


Pegangan tangan pria itu di lengannya terasa kuat dan lembut menjadi satu. Seketika dia ketar-ketir. Dari mata pria itu pun, jelas ada sesuatu yang langka.


Tubuh Velo mulai tersudutkan. Hartadi menggiringnya masuk ke dalam belenggu pria itu. Caranya sangat halus, sehingga Velo kurang menyadari perubahan posisi mereka. Saat tersadar, Velo sudah diapit oleh meja dan tubuh gagah Hartadi sudah berada di depannya.


“Dulu kamu mungil dan pemalu. Pakai seragam dan rok kotak-kotak. Lucu.” Hartadi membisik ke telinga Velo dengan napas liarnya yang berhembus ke telinga kiri Velo. “Tapi, setelah dewasa, berani-beraninya ngerusak sistem kerja saya?”


“Kapan saya ngerusak sistem kerja Bapak?” Velo mengulang kalimat Hartadi dengan lancar.


Walaupun hati sedang bergemuruh atas kedekatan mereka, otak Velo masih bisa mencerna dengan baik semu yang tercetus dari bibir Hartadi.


Namun mulutnya kontan terkatup saat wajah tampan pria itu merunduk, sehingga kedua hidung mereka bersentuhan.


“Kamu nggak perlu tau kapannya, Velo. Yang jelas, saya harus cium kamu sekarang.” Hartadi membelai rahang Velo, merasakan kulit perempuan yang dia dambakan dalam mimpi. “Boleh saya yang kasih tester kali ini?”



Tidak mengapa jika nantinya Velo gelisah untuk yang kedua kalinya.


***


Nyatanya kegelisahan yang Velo pikir akan menguasainya, tergantikan oleh sesuatu yang lain. Walupun Velo menghabiskan sisa jam  kerja Hartadi dengan saling menyatukan bibir, kembali menguji keserasian mereka dan melahirkan  desas-desus terkini di Royal WCS.


Velo menarik napas untuk menyelaraskan sebentuk perasaan jengkel yang bersemayam sejak dia sampai di rumah makan kawasan menteng ini. Terlebih lagi, Velo tidak ingin merusak situasi damai yang menemaninya dan Hartadi karena memasang wajah kecut.


“Memangnya dia siapa?” Hartadi membalas pandangan sengit yang diarahkan oleh seorang pria padanya dengan tidak peduli.


“Mantan saya, Pak.” Ucap Velo memelankan suara, menjawab ogah-ogahan keingintahuan Hartadi.

__ADS_1


Velo membelah dua sebutir telur asin untuk mendampingi semangkuk rawon yang akan di santap Hartadi. Bukan belajar menjadi istri yang penuh perhatian bagi pria itu kelak, tapi dia hanya ingin dilihat sibuk.


Khususnya oleh keluarga kecil yang mendiami meja tak jauh darinya dan Hartadi.


Atensi yang dijatuhkan Caesar dan keluarga pria itu kepadanya benar-benar membuat risih. Velo tidak menghindari Caesar, dia hanya cukup puas telah menghadapi dan membeberkan alasannya menolak tawaran pria itu untuk kembali. Bagi Velo, mereka sudah selesai.


Sesalnya, kenapa harus dipertemukan takdir di tempat ini?


“Mantan yang masih usaha ngejar kamu kan?” duga Hartadi. Pria yang Velo katakan mantan kekasih itu menyimpan kecemburuan pada kedua matanya. Hartadi seolah diposisikan menjadi  pesaing.


Velo yang sudah membelah dua telur asin itu pun menempatkannya di sisi piring Hartadi, lalu memberi sendok dan garpu yang telah dibersihkannya dengan tissue ke tangan pria itu.


“Kalau ngejar waktunya telat, saya anggap omong kosong.”


“Segampang itu kamu menyimpulkan usahanya omong kosong?” Hartadi menunda keinginannya untuk menyentuh makanan, rasanya lebih seru membuka debat dengan perempuan yang telah dilibasnya dalam ciuman panas itu.


“Ya, segampang dia nggak jadiin saya prioritas.” Jawab Velo sinis sambil menanggalkan blazer, menyusakan inner satin berlengan pendek yang memperlihatkan kedua lengan putihnya.


Hartadi sudah menaksir mengapa hubungan Velo dan pria itu berakhir, namun tidak ada salahnya mendengarkan kilas percintaan lawas dari ‘calon istrinya’. Jika membandingkan, Velo akan lebih menguasai nama mantan kekasih Hartadi dan sepak terjangnya dari para perempuan.


“Kasih dong saya kisi-kisi hubungan kamu sama dia. Anak perempuan yang di sebelahnya itu bukan anak kamu kan, Vel?” tanya Hartadi sekaligus meminta diiringi kalimat usil untuk Velo.


“Ck… Sembarangan deh.” Tepis Velo cepat, semakin merenggut di saat Hartadi menyematkan senyum mengesalkan. “Selama jadi pacarnya, saya nggak pernah banyak minta. Sekalinya saya minta yang paling diharap dari hubungan kita, dia nggak bisa kasih. Klise.”


“Kenapa mantan kamu lembek semua ya? Itu yang bercokol dalam pikiran saya dan membuat saya heran. Harusnya Ibu ngejodohin kamu sama Arrow, saya jamin Mas Adi nggak bisa berkutik.” Hartadi mulai menuangkan kuah kehitaman rawon keatas nasi putihnya dengan sendok, lalu mengangkat kepala mendengar Velo menghela napas.


“Saya dan Arrow?” Velo berjengit memikirkan dia dan sang sepupu dalam ikatan pernikahan, karena Arrow merupakan anak sulung dari kakak laki-laki pertama Hartadi. “Kalau misalnya ada pilihan Arrow sama Bapak, saya tetap lari ke Bapak.”


Hartadi mencapit hidung Velo gemas sebagai hadiah dari jawaban jujur Velo. Dan, perempuan itu hanya memekik pelan tapi tidak memprotes kebiasaannya.

__ADS_1


 


__ADS_2