
Velo menggugurkan kemungkinan tersebut. Bayangkan, Hartadi Bratadikara menjadikannya objek kegelisahan? Velo menjadi gara terdepan mengatakan tidak mungkin.
Kesimpulan terbaik, Velo harus membenarkan dalam hati bahwa kepedulian Hartadi, disebabkan pria itu menghargai komitmen mereka saja. Velo menekankan tidak ada hal-hal lain yang mempengaruhi sikap pria itu padanya.
Velo sekali lagi harus menggeleng, dia menolak percaya pada perkataan Livia.
“Nggak, Liv. Pengaruh gue nggak segede yang lo pikir. Dia nggak nilai gue, kayak gue nilai dia. Di cerita ini, gue yang ngejar dia, karena dia punya apa yang gue mau. Bukan sebaliknya.”
“Ck… Jangan salah, Vel. Laki-laki kadang bisa lebih ahli dari perempuan buat ngumpetin perasaannya. Makannya sering dibilang, kalau habis putus cinta kok laki-laki nggak ada nangis-nangisnya? Padahal, menghabiskan bir kalengan hampir selusin. Buktinya abang gue yang gagal nikah,” sambung Livia serius.
“Hmm… Paham gue, ngambil contohnya nggak usah jauh-jauh abang lo. Latar belakang Caesar kumat maen cewek lagi, itu gara-gara dia galau sendiri setelah Papa memutuskan nggak setuju gue sama dia.”
“Masalahnya, penerapan laki-laki bisa galau harus lihat-lihat orangnya siapa. Gue sempet jadi saksi kegalauan orang ini dulu, cara galaunya mahal dan beresiko. Gali tanah orang buat dijadiin ladang bisnis.” Ucap Velo sambil menghisap rokoknya.
“Siapa orangnya? Jangan Cuma dia, laki-laki, orang ini… Hadeuh.” Ucap Livia gemas sambil melihat ke arah Velo yang dengan antengnya menghisap rokoknya. “Sebut merek dilarang ya emangnya?”
“Nggak dilarang…” ucapny sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara, menimang-nimang sesaat. “Kalian tau kan gue pernah kerja di Royal WCS?”
“Iya, tau kok, terus?” respon Aruna cepat.
“Pendirinya tiga orang, salah satunya Hartadi Bratadikara, ya dia orangnya. Familiar sama namanya kan?” satu per satu ditatapnya dengan sebelah alis terangkat, namun Velo mendapati mulut kedua sahabatnya menganga tidak percaya.
“Hallo?! Ya!” ucao Velo melambaikan tanganya ke arah Livia dan juga Aruna.
“Vel…” Aruna menutuo mulutnya sendiri. “Har… Hartadi mantan atasan lo itu?”
“Izinin gue ngomong kalau… kalau…” kali ini giliran Livia yang berusaha memejamkan mata sejenak, lalu mengejutkan orang-orang yang ada di warung Mak Ida dengan suara khasnya yang melengking. “Lo menggaet Om lo sendiri?!”
“shuuuuut… kecilin dikit napa suara lo melengking banget.” Velo menipiskan bibir tanpa mau melihat sekeliling.
Kesialan di siang bolong, dia tetap menjaga wajahnya tetap tenang, walaupun pertanyaan Livia jelas mengundang kesalahpahaman dan ayara bisik-bisik. Tanpa menyadari satu pesan dari Ibu Hartadi sudah masuk ke ponselnya.
__ADS_1
Eyang putri
Velove, kamu lagi sibuk, Nak? Besok selepas kerja bisa maen ke rumah Eyang? Biasa kita akan makan-makan…
***
HARTADI POV
Jika ada yang penasaran bagaimana sensasi seluruh tubuh terbakar, maka gue akan dengan sukarela menjawabnya secara gamblang.
Panas seolah merayap di permukaan kulit, menyambar cepat ke bagian tubuh yang belum terlalui. Napas gue pun nyaris terputus-putus di tengah mata yang memejam kuat. Terbakar yang sekarang gue rasakan ini tidak biasa.
Nikmatnya melejit sampai gue tidak bisa menahan diri. Gue sangat bersedia merasakannya lagi untuk beberapa malam. Dan seseorang yang sedang ditindih dibawah gue ikut terbakar juga, saat gue lihat dia sedang berusaha menggapai kain yang melapisi ranjang.
Ya… Gue perhatikan di kedua pipinya semakin memerah saat kepalanya menengadah ke atas. Mungkin dia sedang menahan sentuhan panas bak lidah api yang berlalu di sekitar tubunhnya.
“Pak, permainan malam ini membakar saya dengan sangat hebat.” Ucap perempuan yang tengah meraih kepala Gue agar lebih merunduk dan bibir seksi perempuan itu dengan aktip langsung mengecup bibir gue dengan posisi gue masih dalam permainan panas ini, dan sudah dipastikan gue akan mengakhirinya sekarang. Saat gue merunduk lagi dan menciumi leher jenjang perempuan itu gye mencium wangi jasmine yang berbaur dengan aroma khas pacuan nafsu.
Karena apitan perempuan itu yang membuat kita tidak ada jarak lagi akhirnya gue menggertakan gigi karena gue melihat segaris senyuman jahil yang berusaha dia sembunyikan.
Dan sebagai hukuman atas kenakalan perempuan itu, gue hadiahi gigitan gemas pada salah satu puncak dadanya. Tentu saja perempuan itu tersentak, mencondongkan tubuhnya ke arah gue.
“Sssshh…” tangan perempuan itu refleks terulur keatas rambut Gue dan meremas lembut seiring gigitan yang ada di puncak dadanya berganti menjadi hisapan kuat. “Ah… udah—”
Gue bungkam mulut perempuan itu dengan ciuman yang liar, terlanjur gemas melihat perempuan di hadapan gue ini tiba-tiba merengek manja. Sejujurnya, bibir perempuan itu sering membuat gue jengkel. Memancing adu mulut segingga kita terlibat emosi.
Tapi… lihatlah sekarang? Perempuan itu sedang memohon untuk disudahi.
Tapi gue tidak mengizinkannya untuk bernafas lega. Gue belum selesai untuk mengerjainya, gue ingin melihat kedua lutut perempuan itu kehilangan energi. Lalu, seutuhnya bergantung sama gue, gue terdengar jadi seperti sadomasokis sekarang.
Malam ini gue ingin memenangkan malam ini, so gue hujam kembali. Dengan kesadaran penuh untuk memimpin gue melihat wajah sendu perempuan itu saat menikmati hujaman gue, dan dengan waktu yang tepat akhirnya gue mencapai ******* diikuti erangan puas.
__ADS_1
Lenguhan perempuan itu mengisi kebisuan diantara kita, sementara tubuh tidak semakin menjauh dan jemari pun masih saling mengait. Namun, otot-otot yag sebelumnya menegang berangsur-angsur melemas.
“Mau langsung tidur?” Perempuan itu membisikkan kata-katanya dengan suara serak, setelah bekerja keras menguasai desah yang hampir Ntidak mampu dia kontrol sendiri.
“Iya, langsung tidur aja.” Jawab gue sambil memberi kecupan di hidung perempuan itu, lalu menarik bed cover hitam dengan corak segi empat di ujung ranjang.
Selimut telah menutupi tubuh kita berdua. Tak lama gue merasakan tangan menelusup untuk memeluk gue dari samping. Tubuh polos kami sekarang berbagi kehangatan usai berjam-jam terbakar oleh wujud nyata dari sebuah gairah.
“Hari ini kerja?” rasanya tidak asing, seperti sudah lebih dari sekali gue menerima pertanyaan tersebut. Gue langsung melirik ke arah jam di kamar sudah jam dua pagi.
“Kerja, Vel.”
***
AUTHOR POV
Holy ****!!
Bener-bener sialan!
Hartadi hampir melarikan kedua tangannya ke atas kepalanya, dengan niat mengusir bayangan kurang ajar yang terus membuatnya haus. Tenggorokan Hartadi tercekat, kering bukan main.
Dengan desah gusar, dia rampas gelas di mejanya dan meneguk air di dalamnya sampai habis.
Mimpi semalam bagai menghantui Hartadi. Tidak peduli waktu, tempat dan situasi. Efisiensi kerjanya terganggu, karena setiap matanya menghadap layar iMac yang berada di atas mejanya, bukan halaman yang menjadi fokus utama. Benaknya justru memproyeksikan siluet terlarang dari mimpi yang menguasainya tadi malam.
Percaya diri, namun Hartadi merasa baik-baik saja tidak aktip melakukan hubungan seksual lagi, dia tidak ‘se-desperate’ itu sampai terbit hayalan melalui mimpi.
Lantas, kenapa dia mimpi tidak senonoh dengan Velo? Apa menjadi guling Velo kemarin menyebabkan dirinya korslet?
“Har, lo lagi gagal tender atau trading saham?” tebakan itu datang dari Haris. Menduduki kursi di seberang meja kerja Hartadi, Haris mengamati betapa kelamnya ekspresi empat puluh lima tahun tersebut.
__ADS_1
“Nggak usah nanya.” Hartadi mengingatkan Haris sembari mempersiapkan file yang sudah dikirimkan orang lapangan dari iMacnya.