Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Merekayasa Fakta


__ADS_3

Bahu Velo melemas jika ibunya sudah mempertanyakan alasannya tidak ingin kembali ke rumah. Lidahnya kelu untuk sekedar menjelaskan. Yang bisa dia lakukan hanya menerima, lagipula tidak akan lama sampai kakinya dinyatakan sembuh.


Matanya menghindari Hartadi kala pria itu berdiri menyorotinya tajam. Hartadi seperti mampu membaca reaksinya yang telah kehilangan semangat. Ingin menangis dan berlari ke dalam pelukan pria itu mengemis perlindungan, tetapi tidak bisa dia lakukan selama ibunya berada di ruangan yang sama.


‘Udahlah Vel, terima nasib kamu kali ini.’ Velo membatin.


Menghela napas, Hartadi menancapkan tatapannya pada ibu Velo.


“Mba, Velo pernah cerita kalau dia bukan nggak mau tinggal di rumahnya lagi. Velo punya janji ke dirinya sendiri. Kalau dia bisa beli hunian dari hasil kerja kerasnya, dia akan tinggal disitu sampai waktunya menikah dan ikut suami. Karena itu, Velo sering keberatan kalau diminta tinggal lebih lama di rumah oleh Mba Asri dan Mas Adi.”


Lamat-lamat, Velo melirik Hartadi seraya menahan sepasang matanya agar tidak basah begitu mereka bertatapan. Pria itu merekayasa fakta demi membantunya dipulangkan ke apartment. Sesak tangis terhimpit dada, kemudian Velo tundukan kepala dengan bibir terkunci rapat.


“Aku tau kalau Mba nggak bisa tinggalin rumah, karena Mba Ibu rumah tangga yang mengurus suami dan adik-adik Velo.” Hartadi menduduki kursi yang sama untuk kesekian kalinya. “Aku bisa jaga Velo selama masa penyembuhannya. Tenang, Mba. Aku nggak bakal nginap atau tinggal di apartment Velo, kalau itu yang Mba cemaskan. Sekalian aku bawa ART dari rumahku. Mbok Ninik bisa bantu keperluan Velo. Jadi apa Mba bisa kasih ijin Velo rawat jalan di apartmentnya?”


“Har, Masmu lagi marah banget. Susah kalau Mba memaksakan hal lainnya. Mba juga berharap Velo bisa di rumah, karena Mba pengen di samping Velo.” Asri merangkul bahu Velo. Memberi kecupan di pipi Velo, Asri menatap wajah putrinya dengan kasih saying bercampur sendu. “Vel, kamu mau tinggal di rumah kan? Sebentar aja. Mamih kangen banget sama kamu.”


Dan…. Hartadi juga Velo sudah dipastikan ‘Kalah’.


 


***

__ADS_1


Velo hendak membuka pintu mobil kala menyaksikan ayah tirinya menarik kasar bagian belakang kerah Hartadi. Sedangkan, pria itu tengah merunduk dari luar mobil dan belum menyelesaikan kata-katanya.


Begitu kesadaran menghinggapi kepala, dia teringat bahwa kaki kirinya belum dapat digunakan berjalan. Sebagai gantinya, Velo menurunkan penuh kaca jendela mobil dan terik matahari pagi segera menaungi wajahnya.


Sambil mengangkat tangan ke depan kening guna menghalau sinar matahari, Velo tidak bisa mendengar sedikit pun pembicaraan antara Hartadi dan ayah tirinya di lobi rumah sakit.


Namun, urat ketegangan tercetak jelas di pelipis dan leher Adiputra ketika mengucapkan sesuatu pada Hartadi. Sementara pria yang sejak tadi mendampinginya, tampak melawan dengan ekspresi serius lalu menepuk-nepuk bahu sang kakak.


“Mamih mau nyusul Papih kamu ke sana ya, Vel. Mamih ngeri kalau mereka makin terbawa emosi. Bisa-bisa main fisik di sini lagi. Ya ampun, mereka ini kok nggak akur banget…” Asri memperhatikan kakak beradik yang saling berhadapan dari balik punggung Velo. Cemas merambati hati, dia tau benar kemarahan suaminya sudah melindas batas kesabaran.


“Iya, Mamih susulin aja. Mas Har mungkin nggak bakal maju duluan, tapi Papih bisa terlanjur kemakan emosi. Mamih liat sendiri kan tadi di kamar Papih kayak giman?” Velo meluruskan tubuhnya yang semula mengikuti arah kaca jendela. Menyandarkan punggung, Velo tengok wajah sang Ibu yang dikuasai resah.


“Vel, Mamih keluar dulu ya. Semoga Papih kamu mau dengerin Mamih. Papih kamu kalau udah marah ngeyel orangnya. Susah kalau di kasih tau.”


Dengan lembut, Velo menahan tangan kanan ibunya. Membuat perempuan itu menoleh diiringi pendar penuh Tanya. Velo lantas menjauhkan tangannya.


“Mih, Mas Har itu baik dan bertanggung jawab sama aku. Kalau Mas Har nggak serius, buat apa dia nyusahin diri nginep di rumah sakit? Ngapain dia nawarin diri ngejaga aku selama penyembuhan di apartment? Mana penting Mas Har kasih unjuk citranya seperti apa ke Mamih dan Papih. Jadi, Mas Har ngelakuin semua itu atas dasar tulus. Apa adanya dia.”


“Mamih paham, Vel.” Asri mengusap lutut Velo. Matanya meredup saat melabuhkan tatapan ke wajah putrinya yang kembali pucat.


Bukan bermaksud keras pada sang Ibu. Namun, Velo harus memastikan perempuan itu memiliki perspektif positif terhadap Hartadi. Sebab, dia tau ayah tirinya akan mempengaruhi ibunya agar memandang Hartadi penuh cela pada setiap kesempatan.

__ADS_1


“Soal masa lalu Mas Har, apa kita yang harus hakimi? Jujur Mih, aku terima Mas Har mau seburuk apapun orang lain menilai masa lalunya. Terutama Papih, Papih Cuma liat sisi jeleknya Mas Har aja.”


Di kamar inapnya pun, perdebatan Hartadi dan Ayah tirinya sudah menunjukkan seberapa manipulative Adipura. Menyerang balik Hartadi melalui segelintir kalimat kurang terpuji yang seharusnya tak tercetus dari seorang kakak. Sisi terbaik Hartadi sudah pria itu buktikan.


Hartadi mengambil sikap lebih dewasa daripada Adiputra yang langsung merangsek kesetanan. Hartadi memiliki metodenya sendiri untuk menangkis kata-kata mencemooh dari sang kakak. Biarpun, dia tau benar ayah tirinya sudah melukai harga diri Hartadi.


Pengumuman dari bibir Hartadi yang ingin menikahinya jelas memancing ayah tirinya hingga berang. Alih-alih menikmati euphoria keberhasilan Hartadi mencetak kalimat tersebut di depan Adiputra, Velo justru kian tersadarkan bahwa obsesi pria itu padanya tidak main-main.


Selagi ayah tirinya masih diijinkan berbapas dan menghalang-halangi, mungkin benar jika dia akan sulit menikah. Kegelisahan seperti itu selalu menancap dalam dirinya sewaktu putus asa, setiap kali dia gagal merajut jalinan kasih.


Velo mengusap dadanya yang entah mengapa terasa nyeri. Semoga saja Hartadi sudi bertahan sampai akhir. Karena sekali lagi, tidak ada landasan senrimental yang mengikat mereka selain kenyataan pahit obsesi ayah tirinya. Velo menghela napas tidak kentara, berusaha melupakan kerumitan dalam benaknya.


Sementara, senyuman nya terukir saat bertukar pandang dengan ibunya.


Tangan tidak kasat mata secara tiba-tiba meremas tepat di hati Asri. Selesai menarik napas untuk menetralkan hati yang sesak, dia menjangkau tangan putrinya.


“Maafin Papih dan Mamih, Vel. Mamih sadar selama ini kami terlalu ngekang kebebasan kamu menentukan pasangan. Peran orangtua harusnya mendampingi putrinya sampai menemukan laki-laki yang tepat, bukan ngatur dan memaksakan keputusan. Ambisi kami jadi orangtua terbaik buat kamu salah. Kami salah.”


“Tenang ya, Vel. Sabar sedikit lagi. Mamih ada untuk kamu. Mamih usahakan bicara baik-baik sama Papih, supaya Papih kasih ijinnya buat kamu. Selain Papih, ada keluarga besar Papih kamu dan Har yang belum terima kabar ini.” Air matanya bisa tumpah dengan mudahnya jika Asri tidak kuat-kuat menekan tangis. “Kita nggak tau tanggapan mereka apa. Bisa aja nggak gampang untuk kamu ngehadapin mereka. Tapi sesulit apapun jalan kamu nanti, Velo harus inget punya Mamih.”


“Makasih, Mih.” Velo menatap tautan tangan mereka yang berada di atas pahanya. Menggigit bibir dengan kepala tertunduk, tidak rela rasanya mendapati sang ibu meminta maaf atas perbuatan suaminya. Kapan ibunya mengekang? Perempuan itu hanya mematuhi keputusan suaminya yang dituturkan sangat lihat, sehingga terdengar logis demi kebaikannya sebagai anak perempuan.

__ADS_1


__ADS_2