Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Akal Sehatmu Udah Hilang, Mas


__ADS_3

Braaaaakkkkkk!!!


Seorang pria paruh baya dengan rahang yang sudah mengeras mencerminkan kemurkaan ada di dalam dirinya saat ini. Tak perlu menunggu barang yang ada di atas meja itu pun jadi korban amarahnya saat tau kabar yang telah diterimanya saat ini.


"Honey tenanglah...." Dan sang istri yang selalu setia di setiap suaminya berada tengah berusaha menenangkan sang suami yang benar-benar marah dengan kelakuan bejad Ayah tiri dari cucunya itu.


"Kau yakin dengan informasimu itu?" ucapnya lembut.


"Seratus persen yakin Nyonya Besar..."


"Siapa nama adik dari pria sialan itu?"


"Hartadi Tuan... Hartadi Bratadikara putra bungsu dari Triawan Bratadikara dan Wening Bratadikara..."


"Honey... kita sekarang bukan di wilayah kekuasaan mu, jadi tolong jangan bertindak macam-macam, negara ini punya hukum yang harus ditaati... keluarga Bratadikara bukan keluarga main-main."


"HM... saya akan berkonsultasi dengan dubes Inggris yang ada disini untuk permasalahan cucuku!"


"Kau harus ingat, cucumu sifatnya sama seperti putramu, alangkah baiknya kalau kamu bertemu dan bicara baik-baik dengannya..."


****


Hartadi menghidupkan lampu setelah memastikan pintu ruang kerjanya terkunci. Dia meninggalkan Velo di bawah seorang diri. Untung saja perempuan itu sedang memeriksa penghasilan usahanya yang sementara dikelola sang asisten. Ada rasa ingin memuji ketekunan Velo, karena sesungguhnya profit tas-tas luxury itu tidak sebanding dengan pendapatan keluarga mereka. Tapi sekali lagi, Hartadi memahami keengganan Velo untuk masuk ke dalam rantai bisnis keluarga Bratadikara.


Beberapa waktu tanpa kabar, sore ini penantian Hartadi berakhir saat menerima rekam jejak rekening Adiputra. Rupanya situasi cukup tepat karena fokus Velo teralihkan oleh hal lain, maka dari itu dia segera angkat kaki tanpa harus banyak beralasan. Dan wajar sekali dia merasa tidak sabar mencari celah dari data tersebut, baginya Adiputra sudah melampaui batas sejak membuat skenario ledakan ringan di area storage Royal WCS Company. Adiputra bertindak semena-mena, dia pun mampu, walaupun berpotensi dimaki keluarga, sebab mencoreng karir mulus kakak kandungnya yang terhormat.

__ADS_1



“Hmm, ya?” Hartadi menyahuti panggilan tiba-tiba dari Tam. Seraya menempati kursi, tangannya mulai menjangkau keyboard untuk membuka surel pribadi.


“Gue kirim data transaksi Adiputra selama enam bulan terakhir. Kalau ada data yang lo butuh secara terperinci, langsung kabarin gue,” Tam menjelaskan apa yang telah dikerjakan sesuai permintaan Hartadi tempo hari.


Data rekening Adiputra terbuka di depan mata. Hartadi telusuri sejak bulan pertama Velo mendatanginya di Kalimantan, ketika itu Adiputra sudah menaruh kecurigaan.


Sembari memperhatikan agar tidak satupun data terlewat darinya, dengan sengaja Hartadi mempertanyakan kinerja Tam.


“Rekening dua sulit ditembus? Bukannya sekarang lewat dari deadline ya?”


“Adiputra punya lebih dari satu rekening di bank yang berbeda. Rekening yang kita bongkar sekarang ini bukan kamuflase. Dia punya orang untuk pantau keamanan rekening, bisa jadi ada spesial treatment dari pejabat bank. Dia semacam was-was ditembus pihak lain.”


“Jadi, gue harus maen kucing-kucingan. Setiap orangnya nggak ‘in’, itu kesempatan gue ngebaca rekening Adiputra. Cuma itu kok yang bikin janji gue molor beberapa hari.”


“Special Treatment?” Kening Hartadi berkerut mendengar penuturan Tam. Walau begitu dia tidak merasa terkejut, karena tipikal manusia seperti kakaknya memang hobi menggunakan power dari sebuah kedudukan.


“Baik sementara data ini cukup. Thanks, Tam.”


Sunyi yang menemani Hartadi kini menjadi berbahaya. Mendadak tanpa diundang, banyak sekali yang melintas dalam pikirannya. Bahkan Hartadi teringat bahwa sepanjang usia dewasanya, pencapaian paling sulit memanglah ‘Menikah’. Tantangan agar sampai di tahap itu selalu besar. Bukan pengalaman bersama Lintang saja, hubungannya dengan Velo tidak jauh berbeda. Paling tidak dia harus memicu rasa terancam Adiputra agar jera mengulangi tindakan-tindakan bodoh. Itu mengapa rekening pribadi Adiputra dia telusuri.


Usaha-usaha semacam ini menjadikan Hartadi sisi yang terkesan lebih berkorban untuk memberi status pernikahan. Tapi membiarkan Velo terlantar pun bukan solusi bijak. Bahkan jika pernikahan ini berhasil dicapai, dia dan Velo tidak memiliki jangka waktu pasti. Mereka bisa bersama satu tahun, lima tahun, atau memang ‘Selamanya’. Sebab itu pembicaraan mengenai cinta dan waktu kebersamaan kerap Hartadi hindari. Menjalani apa yang telah dimulai atas kesadaran sendiri adalah dirinya saat ini.


“Cih... Akal sehatmu udah hilang, Mas,” monolognya pada layar beberapa menit kemudian. Hartadi dibuat menggeleng sekian kali, berusaha lebih teliti mencerna data sebelum menyudahinya. “Entah apa tanggapan Ibu dan Bapak kalau sewaktu-waktu kelakuan kamu ketahuan.”

__ADS_1


Berdiam sejenak, Hartadi melirik ponselnya penuh pertimbangan sebelum meraup benda itu. Melakukan diskusi bersama seseorang berpikiran jernih rasanya penting untuk situasinya.


Maestra menjadi orang pilihan Hartadi. Dia juga berani memastikan pria itu akan menerima teleponnya sesegera mungkin. Kegiatan Maestra begitu monoton di akhir pekan.


“Halo, Har?” Maestra terdengar menghela, tetapi tawa pria itu pun terselip ringan. “Sekarang hari sabtu. Lo telepon mau ngomongin apa coba? Mana Velo?”


“Jelas ngomongin hal penting,” ungkap Hartadi mengelak guyonan Maestra. Mengusap kening sesaat, dia coba mengesampingkan rasa sebal ketika membicarakan Adiputra.


“Denger dulu aja.”


“Gue nggak akan potong. Ceritain, Har.” Seolah memahami beban tersembunyi Hartadi, jawaban Maestra menjanjikan pendengar yang baik.


“Tentang kontraktor kita. Gue punya bukti mereka wanprestasi.” Sejujurnya Hartadi tidak mudah membagi kabar kecurangan di belakang Royal WCS bersama salah satu petinggi. Wajahnya seakan ikut tercoreng, karena kakaknya yang mengusahakan hal itu terjadi.


“Kita harus secara mandiri cari kontraktor lain. Coba lo kroscek ulang sama tim kantor. Gue yakin laporan terakhir mereka direkayasa, justru mereka sendiri yang bikin proyek kita dipatok terhambat. Asena Karya terima suap Mas Adi.”


“Asena Karya bisa ‘Kalah’ sama duit di luar proyek?” ulang Maestra memastikan. Tahun ini Maestra sebagai ujung tombak Royal WCS dalam proyek pembangunan cabang baru. “Kalau terbukti wanprestasi, kita bisa kalem dulu. Baiknya tahan dulu move ke kontraktor lain. Memang makan waktu sih, tapi kita nggak perlu bayar apa-apa. Lo tau isi kontrak, lo tau berapa jumlah penalty pihak kita. Pengerjaan proyek bisa dinegosiasi kok. Pertama, kita desak Asena Karya selesaikan lima puluh persen pembangunan.”


“Penalty bisa kita urus semua, Mae.” Hartadi memiliki pendapat lain. Membayar pinalti menjadi penyelesaian paling sederhana untuk Hartadi. “Kendala cabang baru bisa clear. Di satu sisi gue harus memutus campur tangan Mas Adi di Royar WCS. Dan, pihak kita punya PR untuk lebih selektif memilih kontraktor.”


Di samping pemain lama dalam bisnis, Hartadi yakin wawasannya cukup mumpuni sebagai keturunan dari keluarga pebisnis dan politikus di Indonesia.


Mendiang kakeknya dan sang ayah kerap menanamkan pengetahuan yang berelasi dengan dunia tersebut. Dia familiar ketika menjumpai nama-nama penerima dana Adiputra. Beberapa di antaranya dewan penasehat partai, rektor universitas negeri terkemuka, sampai tangan kanan pemilik kontraktor yang memenangkan lelang proyek Royal WCS.


Hartadi membaca keterlibatan Adiputra. Cabang baru memang menemukan kendala. Tanah pembangunan dinilai memiliki masalah di sana sini, tidak satu suara dengan tim lapangan Royal WCS yang sudah mempelajari lokasi tersebut. Anggaplah pemindahan dana yang cukup fantastis ke pihak kontraktor oleh Adiputra adalah ‘bukti’. Walaupun Adiputra berinvestasi pada proyek cluster di wilayah Bintaro dan Sentul, namun kedua proyek itu tidak ditangani Asena Karya. Ayah mereka bertukar cerita pada Hartadi sebulan lalu.

__ADS_1


__ADS_2