
“Kenapa, Mas?” Tanya Velo to the point. Menatap Hartadi yang tersoroti sinar matahari, Velo membasahi bibir saat menyadari betul ketampanan pria itu. Tersadar, dia mendelik atas pemikirannya sendiri. Lantas menekuk bibir yang membuat wajahnya kian kecut.
“Mas pikir kalian butuh kendaraan lain, Vel. Kebetulan mobil Mas muat untuk kamu dan orang tuamu. Mas bisa antar sampai ke rumah. Cepetan pakai mobil Mas, daripada kalian naik taksi atau nunggu mobil Mas Adi yang lain dateng.” Hartadi menawarkan tumpangan. Mengikuti suasana hati Velo, dia pun menghilangkan basa-basi.
“Emangnya mobil ini ada masalah?” Velo mencerna ulang maksud Hartadi. Dia mencermati ekspresi Hartadi, tetapi pria itu tidak menunjukkan gelagat janggal dan sebaliknya tampak serius. Sejenak melongokkan kepala keluar, Velo memindai badan Alpard kepunyaan ayah tirinya yang keseluruhan sepertinya baik-baik saja.
“Masalahnya bukan di body mobil, tapi di ban mobil.” Telunjuk Hartadi mengarah ke bawah. Mempertegas pada Velo di mana titik masalah yang menyebabkan mobil gagah tersebut tidak bisa dijalankan. Dengan santai, Hartadi memanggil kakak keduanya sembari melipat kedua tangan di atas bingkai jendela mobil. “Mas, kamu denger aku? Ban mobilnya kempes semua.”
Adiputra mendengar semuanya. Tidak mungkin dia tutup telinga saat Velo memiliki kesempatan berbicara dengan Hartadi. Dia menipiskan bibir ketika menemui wajah tengil adiknya. Sukses membumbungkan kembali amarahnya yang sempat terkikis.
“Kamu sekarang lagi bohongin Mas kan? Hah, ini pasti akal-akalanmu aja untuk ngulur waktu. Kamu nggak rela Mas pisahin dari Velo.”
“Mas boleh cek sendiri. Bener akal-akalanku aja atau ban mobil ini memang kempes semua. Mas, spesialis aku bukan bohong-bohongin orang. Di antara kita, aku yang paling suka mengatakan kejujuran.” Hartadi mengedipkan sebelah matanya diimbangi senyuman jenaka. Melepaskan tangannya yang terlipat, Hartadi mundur dan menunggu Adiputra atau siapa pun memeriksa kondisi mobil.
“Kamu ini ku—“
“Mas…” potong Asri yang dapat menebak apa yang ingin dikatakan suaminya. Tangannya merambat ke bahu suaminya untuk kedua kali, memberi remasan lembut di sana agar pria itu ingat untuk menyaring kata-kata.
“San, kamu cek ban mobil!” ucap Hartadi sambil mengeraskan rahangnya sambil memaki. Tentunya, makian itu tidak mengalir dari mulutnya sendiri. Sebab dia tidak ingin Asri mengingatkannya lagi seolah-olah dia anak kecil yang belum mampu memilah perkataan.
__ADS_1
“Iya, Pak.”
Dan selama supir ayah tirinya memeriksa benar tidaknya semua ban kempes, Velo tidak melonggarkan atensinya pada Hartadi. Namun matanya menelisik setiap gerakan yang dilakukan pria itu berharap bisa mendapatkan pencerahan. Dia percaya ini memang trik Hartadi.
Entah bagaimana seseorag dapat melancarkan aksi tersebut tanpa sepengetahuan ayah tirinya dan supirnya yang bernama Ikhsan. Andai otak di balik ban kempes ini beneran Hartadi apapun alasan perbuatannya, dia tidak bisa berkata-kata lagi.
Tanpa aba-aba, Hartadi merunduk ke arahnya. Nyaris tersentak, Velo tidak mempersiapkan diri pada saat menemukan wajah Hartadi menguasai pandangan matanya. Bukan momen yang tepat bila dia salah tingkah sebab wajahmereka begitu dekat.
Menelan salivanya mengurangi jantung yang kebat-kebit. Suara Velo berbisik saat memulai percakapan dengan Hartadi, dia ingat keberadaan ibu dan ayahnya. Velo bertanya tanpa melirik ke belakang di mana ayah tirinya duduk menyimak dalam diam.
“Sengaja ya, mau bikin Papih makin emosi?”
“Nggak juga. Saya pengen anter kamu pulang aja. Saya nemenin kamu semalaman, masa saya yang harus ditinggal di sini? Enak aja.” Bisik Hartadi.
Mendengar penuturannya, Hartadi menemukan sirat penasaran Velo. Dia pun mencapit hidung Velo guna menyingkirkan gemas, disaksikan mata penuh kecemburuan Adiputra. Pria itu jelas-jelas mendepaknya agar tidak bisa mendekati Velo. Maka dari itu, dia simpan niat menjaga dan memastikan Velo aman di kediaman orang tuanya hingga tuntas.
Dari sudut pandangan orang lain mungkin mereka bagai pasangan yang menghuni dunianya sendiri. Saling melempar bisik dan bertukar tatap tanpa halangan. Menarik sudut bibir menyerupai seringai congkak, Hartadi mencoba menyampaikan pada Adiputra bahwa sekarang dirinya berhak atas Velo. Kakaknya jelas tidak berkutik disebabkan eksistensi Asri, dia puas melihat pria itu menahan gertakan gigi.
“Kok bisa sih?” ucap Velo heran. Di sisi lain bersemu mendengar kejujuran Hartadi.
__ADS_1
Bicaranya memang terdengar sinis dan terkesan mengeluh, karena usaha menginapnya tidak dihargai. Tapi, Velo bisa menangkap tujuan Hartadi merencanakan pengempesan ban mobil ayah tirinya.
Tidak ayal, ada yang berjingkat senang di hatinya kini. Velo mengusap pelan hidungnya sepeninggalan jari telunjuk dan jari tengah Hartadi di sana. Dia tidak pernah mengeluh seberapa sering pria itu mencapit hidungnya. Anggap saja itu cara ‘memanjakan’ versi Hartadi.
“Pak, IIhh… saya nanya ini, dijawab dong. Kok bisa? Siapa yang kempesin? Bukan Bapak sendiri kan?”
“kalo dibarengi usaha, ya pasti bisa, Vel. Cukup saya yang tau siapa.” Ucap Hartadi hanya memberi jawaban mengambang. Velo mengejarnya dengan pertanyaan, meskipun begitu dia sadar keruh yang menguasai wajah perempuan itu sebelumnya perlahan mulai berkurang.
Hartadi menunduk semakin dekat ke telinga Velo. Menurutnya, masih takaran sopan dilihat kakak iparnya. Semata dia lakukan untuk mengantisipasi Adiputra mampu menguping pembicaraan mereka.
“Sekarang yang paling penting kamu pulangnya sama saya. Sekalian pengen mampir ke rumahmu sebentar. Adik-adik kamu lagi di rumah ga?”
“Harusnya di rumah. Mereka tadi dikabarin Mamih kalo saya jadinya pulang pagi ini. Mamih bilang mereka mau nungguin saya. Tapi, nyebelinnya sampai bela-belain bolos kelas.” Velo menghembuskan napas puas, lidahnya masih cakap. Mana bisa dia santai dihampiri Hartadi berikut jarak yang kurang dari satu jengkal.
Tulang punggung Velo menegap. Dia dan Hartadi tidak sedang berdua saja, jadi canggungnya bukan main. Matanya bergerak liar sembari memutar otak, lalu pertanyaan lain dia berikan pada Hartadi.
“Mau ngapain nanya si kembar?”
“Mau minta tolong mereka buat jagain kakaknya. Soalnya, saya nggak yakin dibukain pintu sama satpam kalau Papih kamu udah nitip pesen larangan saya masuk.” Hartadi mendapati pendar cemas dalam sepasang mata perempuan itu. Dia menggelengkan kepala. “Nggak usah mikir yang berat-berat. Handphone saya nggak di silent. Kalo misalnya mau cepet, masukin kontak saya ke favorit. Ada apa-apa langsung telepon.”
__ADS_1
Velo jauh lebih tenang mengetahui Hartadi akan mengawasinya. Bahkan bersedia singgah di rumahnya untuk meminta tolong pada adik-adiknya. Rasanya senyum Velo bisa kian lebar, tapi dia bertahan. Sebagai gantinya, tersungging senyuman kecil di bibirnya. Tetap harus punya gengsi, biarpun hatinya mengungkap lega Hartadi tidak pergi begitu saja dan lepas tangan.
Kemudian, Velo mengangguk atas saran Hartadi untuk menambahkan kontak pria itu dalam panggilan cepat. Dia mengetuk-ngetuk punggung tangan Hartadi yang berada di atas kaca jendela mobil dengan telunjuknya. Kali ini di bawah tatapan Hartadi, Velo mengungkapkan kengerian hatinya.