
“Tenang aja, Vel” desah Hartadi sambil memperingatkan dirinya untuk tidak terpancing emosi, karena diatur sedemikian rupa. “Orang tua saya nggak akan nanya kamu kesini naek apa, sama siapa, dari mana. Kamu bukan Velo yang masih SD.”
“Ok, Ok.” Ucap Velo mengalah tapi melempar tatapan sengit pada pria yang berada di balik kemudi. “Misalnya, Eyang dan Eyang Putri curiga kita yang udah lama perang dingin tiba-tiba dateng berdua— tugas Bapak nyari alasan yang masuk akal. Tadi udah janji loh.”
“Gampang,” ucap Hartadi tegas.
“Sebetulnya Ibu dan Bapak nggak bakalan mikir yang aneh-aneh biarpun kita masuknya bareng. Saya ngikutin kamu nunggu di garasi begini, karena inget Mas Adi. Kalau nggak, ya mana saya sudi.”
“Ck, bentar doang. Tapi kesannya kayak yang seharian nunggu.” Gerutu Velo sambil mencebik.
“Di sini panas. Satu exhaust nggak pengaruh apa-apa.” Ucap hartadi sambil menunjuk benda serupa dengan kipas angin yang terpasang di dinding paling pojok garasi. “Kayak kamu paling betah aja ngerasain panas dan gerah-gerahan.”
“Nyalain aja lagi mobilnya dan hidupin AC nya, problem solved kan?” ucap Velo sambil tersenyum tipis atas ide yang tidak brilliantnya, tanpa terpengaruh ekspresi masam Hartadi.
Meskipun keberatan diminta menunggu dalam garasi, Hartadi mengikuti saran Velo. Daripada dia mengacaukan tahap yang sudah disepakatinya dengan Velo, mengenai komitmen untuk menikah yang jangan sampai terdengar dulu ke telinga Adiputra.
Hartadi menghidupkan kembali mesin mobil. Suara raungan mesin kembali menyala seketika dari knalpot mobil. Jika orang tua Hartadi atau pekerja di rumah ini tidak sengaja melewati garasi, mereka tentu tau kehadiran Hartadi.
Di rumah ini tidak ada yang mempunyai mobil sport selain dirinya, karena sang ayah menyukai mobil-mobil klasik yang tidak menimbulkan kebisingan.
“Saya mau ngadem disini. Menuruti perintah keponakan yang rewel kalau nggak di iyain. Kamu masuk sana.” Usir Hartadi dengan sindiran halus, lalu menghempaskan punggung sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Velo menyematkan tali tas keatas bahu dan hendak angkat kaki dari mobil Hartadi, namun terpikir untuk membalas sindiran pria itu dalam bentuk lain. Mengusili Hartadi sama serunya seperti ajang debat mereka. Maka itu, Velo sengaja membuka mobil terlebih dahulu.
“Pak, emang ada ya Om yang cium keponakannya sampai dipangku-pangku dan ngeberantakin lip stick?” ledek Velo sambil tersenyum penuh arti.
Detik berikutnya, Velo bergerak gesit dan bergerak keluar dari mobil Hartadi sebelum pria itu menjangkaunya. Velo merunduk untuk melihat Hartadi dari pintu yang msih terbuka, kontan saja, dia tak dapat lagi menyimpan tawanya.
Sementara Hartadi Melebarkan mata atas kata-kata yang mengusik ketenangannya. Punggung Hartadi bangkit dari rebahannya, lalu refleks menyerukan nama perempuan yang nampak puas setelah berhasil menyentil ‘kegiatan’ mereka dalam ruang kerjanya di Royal WCS.
“Velo, sini kamu!”
__ADS_1
“Nggak mau!”
“Berani banget kamu ngegodain saya!”
“Nggak papa, sekali-kali doang, nggak sering kan?”
“Sini!”
Velo memegangi perutnya yang agak nyeri akibat mentertawakan Hartadi tiada henti. Ekspresi horor pria itu sukses membuatnya terhibur. Namun dia kontrol dengan susah payah, karena teringat sang kakek dan nenek yang telah menunggu kehadirannya di dalam rumah.
“Aku duluan ya, Mas.” Ucap Velo spontan seperti yang dia tampilkan di depan keluarga besar ketika tak sengaja diharuskan berbicara dengan Hartadi.
Menghela napas, Hartadi membiarkan perempuan itu pergi usai menghadirkan rasa malu yang setengah mati dia tutupi. “Ya udah, saya masuk tujuh menit lagi.”
“Iya, sesuai perhitungan.”
Velo kemudian melambai ke arah Hartadi yang tetap mengarahkan tatapan sengit. Masih bergelimang emosi berkat balasan dari Velo tentang ‘Om dan Keponakan’. Mundur beberapa langkah, Velo menutup pintu mobil Hartadi dan melangkahkan kaki meninggalkan garasi.
Sesampainya di luar, Velo menyebrangi taman untuk sampai di bangunan utama. Walau kondisi sudah gelap, rumah Bratadikara mempunyai pencahayaan yang baik. Membuatnya tidak takut berjalan seorang diri di tengah-tengah taman yang luas, yang sering digunakan untuk open house.
Tetapi cukup mengejutkan, wajah Ibu Hartadi yang pertama kali Velo temui, Wening Bratadikara.
“Loh, Eyang Putri…”
Sang Nenek memberi isyarat untuk menjeda apapun yang akan Velo katakan. Sebagai gantinya, perempuan yang paling dihormati dalam rumah ini menggiring Velo memasuki sebuah ruangan untuk bersantai, dimana pigura besar memajang foto keluarga besar mereka.
Pandangan Velo pun menyapu sekitar. Tidak ada siapapun yang menghuni ruangan tersebut. Sampai titik ini, Velo memahami jika sesuatu yang rahasia akan dibagi oleh Ibu Hartadi.
“Ada apa, Yang?” tanyanya sembari menduduki kursi kayu Jepara yang sangat disukai neneknya, lalu mengulurkan tangannya menggiring sang Nenek untuk duduk di kursi yang tidak jauh darinya.
__ADS_1
Wening turut duduk di samping Velo. “Kamu tau aja kalau ada sesuatu,” bisik Wening mengumbar senyuman antusias, kian menghadirkan tanda tanya besar dalam kepala Velo.
Ibu Hartadi mengenakan kerudung salem untuk menutupi ranbutnya yang sudah keabuan. Perempuan itu mengusap lengan cucu perempuan pertamanya dengan lembut. Mensyukuri keberadaan Velo saat ini. Kemudian mencium pipi kiri kanan sebagai kebisaan mereka sedari dulu.
Anehnya, Velo merasakan firasat kurang baik.
“Velo, beruntungnya Eyang karena kamu datang lebih dulu dibanding Har. Jadi, Eyang bisa jelasin situasinya ke kamu.”
“Situasi yang bagaimana?” Velo berusaha tidak terdengar mengulik.
“Eyangmu akan mengusahakan lagi pencarian istri untuk Har. Ada perempuan pertama yang Eyang pilihkan, dia dan kelurganya sudah datang malam ini. Kamu bisa bantu Eyang memfilter calon-calonnya kan?” senyum Wening kembali menghias.
“Pencarian istri?” ucap Velo dengan tubuh membeku karena penuturan sang nenek.
Sementara sang nenek tidak bisa menutupi keresahannya. “Vel, kamu tau siapa Hartadi dan kenapa anak Eyang tetap sendiri sampai sekarang. Eyang tau benar Har laki-laki yang mandiri, sudah siap hidup sendiri, dan nggak benar-benar butuh pendamping.”
“Tapi, usia Eyang semakin sedikit, semakin mengkhawatirkan banyak, khususnya bungsu kami. Eyang nggak sampai hati membiarkan Har mengambil pilihan hidup seperti itu.” Jelas sang nenek sambil menggelengkan kepala dan menghela napas berat.
Samar-samar Velo mendengar suara sekelompok orang yang sedang membahas sesuatu diselimuti tawa hangat dari sisi lain rumah ini.
Velo mengamati wajah sang nenek yang saat ini dinaungi sendu. Jauh dari kesan angkuh yang sesungguhnya melekat dalam dirinya.
Dari ucapan dan ekspresi Wening, Velo memahami seberapa besar keinginan dan niat baik neneknya untuk mencarikan Hartadi seorang istri. Namun yang disepakati Hartadi menjadi istri pria itu, tidak lain adalah dirinya sendiri. Seseorang yang dibebankan tugas oleh Wening.
Lalu bagaimana menjalankan tugas memfilter calon istri untuk calon suaminya sendiri?
Bahkan kalimat tadi terdengar sangat rumit.
Velo memaksakan suaranya untuk keluar. “Jadi malam ini Eyang ngebuat rencana makan-makan untuk mempertemukan Mas Har dan kandidat pertamanya, yang mau dijadikan calon istri?”
“Betul!” ucap Wening membenarkan sambil menggenggam satu tangan Velo. “Eyang mungkin ahli untuk menyaring dan Menyeleksi perempuan yang pantas untuk Har. Tata krama, latar belakang keluarga dan pendidikan.”
__ADS_1
Sudah jelas hati Velo diserang kalut. Velo berharap telapak tangannya tidak menghantarkan dingin yang kentara di dalam genggaman Wening. Senjata andalannya dengan menampilkan ketenangan palsu.