
“Kayaknya kamu juga nggak rela kalau plot twist-nya bener-bener kejadian?”
“Ck... Pede banget kamu.” Hartadi mengabaikan introgasi Velo yang menggelitik. Bukan curang dengan menghindar, dia hanya belum mencaritahu jawaban tepat untuk hal yang satu itu.
Dia belum bisa memperhitungkan rupa diri dan perasaannya bila pada akhir cerita mereka, Velo tidak bersatu dengannya.
“Jodoh, rezeki, maut di tangan Allah. Tapi dipikir-pikir, aku beneran nggak ikhlas kalau suamiku bukan kamu. Amit-amit, semoga nggak ada plot twist.” Velo mengusap dada.
“Makanya lain kali... jangan nyeletuk sembarangan.”
“Iya, Maaf.” Tak lekas menambahkan ucapan, Hartadi lebih dulu menyembunyikan klakson ketika mobil di depan mereka berpindah jalur tanpa menghidupkan lampu sein.
“Coba tadi aku nggak singgung soal ibu, kira-kira kapan kamu ngomong mau pergi ke reunian? Satu hari sebelum acara?”
“Oh, jadi sekarang apa-apa aku perlu ngomong sama kamu? Udah siap adat ijin-ijinnya kayak pasangan lain?” begitu lugasnya Velo menodong Hartadi. “Aku siap ngejalaninnya, kamu gimana? Pergi ke kantor aja suka nggak ada kabar seharian. Terus pulang malem pas energiku udah mau abis, kelamaan di ruang tv kamu yang serem banget kalau malem. Aku nggak tau kamu inget Velove atau nggak setiap keluar sendiri.”
“Siap. Kenapa nggak? Aku nggak keberatan ngabarin kamu kalau mau kemana-mana. Apanya yang susah? Kamu nantang kayak aku nggak mampu aja,” tukas Hartadi sinis. Pegangannya pada setir mengencang, tersulut ucapan Velo yang secara halus memandangnya tidak sanggup.
“Oh, bagus kalau siap. Cuma kamu salah, aku nggak ada niat nantangin. Aku bilang gitu, karena kamu kelamaan ‘solo’. Jadi, semacem sangsi kamu rela ngabarin aku kalau di luar.” Velo menopang lengan kirinya pada doortrim, berakting menatap ke depan dengan santai.
Padahal aslinya, dia malu memberanikan diri menyentil eksistensinya pada Hartadi.
“Ngomong-ngomong, Pak Maestra nggak ada rencana nikah lagi? Anaknya umur berapa?”
“Selesai nyindir aku, langsung nanyain Maestra? Cerdas ya,” puji Hartadi diikuti seringai kesal. Dia tentu berkonsentrasi penuh mengemudikan mobil, biarpun kini tangannya menggapai handphone pada sisi kiri.
“Aku ngelarang pergi, supaya kamu nggak repot. Ibu jelas makin heboh sekali diturutin. Orang pertama nggak cocok, orang kedua ‘kemungkinan’ cocok. Besok-besoknya ada lagi orang baru. Percaya sama aku, itu ibuku.”
__ADS_1
Velo tidak berpikir ulang untuk menyanggah ucapan Hartadi.
“Nyenengin ibu kamu nggak kerasa repot. Dulu kan, ibu kamu yang selalu mastiin aku nggak terkucilkan sama keluarga besar. Ibu kamu yang bikin aku senyum setiap ngumpul keluarga. Sedikit demi sedikit, aku pengen bales kebaikan ibu kamu. Contohnya, ikut reunian.”
“Hah... Aku bisa ngomong apa setelah tau tujuan sensitif begitu? Aku nggak berhak ngelarang kamu ikut ibu reunian jadinya.” Hartadi memilih tidak bersikeras hati bila Velo sudah mengungkit seberapa berjasa ibunya untuk perempuan itu. Mudah memaklumi keinginan Velo menyenangkan sang nenek, karena memang sulit menembus keluarga besar Hartadi sebagai cucu tiri jika ibunya tidak ambil bagian.
Permen dalam mulut Velo telah habis disesap, menyisakkan rasa mint tiap kali lidahnya mengecap. Velo memutar kepalanya ke kiri dan kanan mencari letak tumbler berisikan air mineral yang dia ambil dari apartment.
“Bentar deh Mas, tadi aku bawa tumbler kan? Butuh minum nih.”
“Ck, Kamu masukin botolnya ke tote bag. Coba tengok di bawah bangku belakang, jatuh di situ.”
“Ah, bener. Kok aku lupa?” Velo mendumel sendiri, namun mengikuti arahan Hartadi mengecek bangku belakang. Dia menemukan apa yang dicarinya. Tote bag miliknya masih berada diatas jok, sementara tumbler berwarna ungu muda tergeletak di bawah.
“Ya Allah, gelinding keluar tote bag dong. Untung nggak ada yang pecah, bisa basah karpet mobil kamu.”
“Cari.”
“Hah? Cari apaan?” Velo yang kebingungan hanya mengamati handphone tersebut.
Hartadi menipiskan bibir kala Velo memincing penuh tanya dan sengaja menyembunyikan tangan di balik outer. Maka itu, dia jejalkan saja handphonenya ke tangan perempuan itu. Sedikit memaksa, meskipun tidak terhitung kasar.
“Buka maps. Temenin aku minum. Cari tempat yang menurutmu oke.”
“Minum?” Velo mengerutkan keningnya. Lalu menyentuh layar handphone yang legam. Seketika layar menyala dan tampilan lockscreen memenuhi pandangannya.
“Belum nyentuh jam enam, Mas. Kamu serius pengen ‘minum’? paling nggak, aku cari lounge yang sediain makanan berat juga. Terakhir kita makan jam dua belasan. Aku udah biasa kalau nggak makan berat lagi, tapi kamu—“
“Memang kamu insecure di bagian mana sampai ukuran badan segitu masih kukuh ngatur asupan? Makan. Kamu harus makan. Sama aku nggak usahlah diet, karena secara keseluruhan menurutku kamu ya... pas.” Bukan semata-mata sarkas, Hartadi penasaran pada letak motivasi Velo mengurangi konsumsi kalori.
__ADS_1
Menemukan restoran cepat saji McD, Hartadi membelokkan mobil ke sana. Dia memarkir mundur ketika mendapatkan ruang parkir yang kosong.
“Berhenti di sini dulu sebentar. Kamu cari lounge nya sekarang. Jangan PIK ya, Vel? Jam segini mau ke sana malah tua di jalan.”
“Iya, aku rekomen NORU di Kuningan buat santai...” Velo hendak mengetikkan nama lounge tersebut, tetapi seluruh kata-kata Hartadi menyita atensinya. Dia meletakkan handphone Hartadi ke atas paha, kemudian menyerongkan tubuhnya menghadap pria itu.
“Eh. Tadi kamu bilang ‘pas’? kamu yakin pas atau nggaknya badanku darimana?”
Belum menegak setetes pun alkohol, namun nalurinya mendorong Hartadi membebaskan apa saja yang batinnya bisikan. Maka itu, Hartadi mengeliminasi jarak.
Dia selipkan tangannya pada tengkuk Velo yang hangat. Hartadi mendengar kesiap pelan Velo, namun tidak menghalanginya untuk menaruh kecupan di atas kulit rahang perempuan itu.
“Hm, tanganku ngukur sendiri.” Bisik Hartadi lancar.
“Ih!” Velo kontan melengos ke arah yang berlawanan. Wajahnya merah padam. Dia tidak menyangka Hartadi akan sejujur itu mengakui sekian titik pada tubuhnya telah disambangi saat mereka beradu bibir. “Ck, Skill kamu genitin perempuan makin ngeresahin ya, Mas?”
“Aku ngerasa biasa aja,” Hartadi menjauh seraya mati-matian menahan gelak tawa. Terkadang mengerjai Velo adalah hiburan gratis yang menyenangkan.
****
Angin menyapa rambut Hartadi ketika membelah pengunjung yang berlalu lalang. Lampu-lampu strip menghias setiap sudut lounge yang menjadi opsi pertama Velo sejak dalam perjalanan.
Minimnya penerangan yang dihidupkan menimbulkan kesan temaram, untungnya tidak membatasi kemampuan Hartadi menemukan bilik kasir. Bill holder tergenggam santai serupa langkahnya, namun jauh dalam dadanya dia tidak seujung kuku pun tenang.
Singkat saja, Hartadi sedang gusar sebab memisahkan diri dari perempuan mabuk yang lupa tempat dan kondisi.
Mulanya Velo mencicipi segelas english potion yang direkomendasikan sebagai seasonal coctail, lepas itu mereka berbagi whiskey. Dia tidak berusaha protektif dengan menghalangi. Minum pun bersamanya, tidak ada yang patut dikhawatirkan. Dirinya yang meminta pada Velo ditemani minum, tapi yang terjadi di lapangan tidak begitu.
“Mas...” Hartadi menyergah seorang waiter Noru yang mendekap nampan hitam. Meskipun gelap, matanya nyalang untuk mengingat wajah waiter yang diajaknya bicara. “Bisa saya minta tolong?”
__ADS_1