Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Velove Adalah Tanggung Jawab Saya


__ADS_3

***


Tidak ada manusia yang bersedia celaka. Namun manusia hanya sebatas ciptaan Tuhan, harus melalui takdir yang tidak peduli kesiapan hati. Takdir mempertimbangkan kapan manusia dijatuhi celaka, hanya manusia yang mengingkari dengan kata ‘andai saja’.


Sama saja dengan Velo, kejadiannya begitu cepat hingga dia tidak sadar sudah tergeletak di atas tanah sambil memandang langit sambil di timpa derasnya air hujan. Rasa nyeri di sekujur tubuhnya meloloskan ringisan kuat sampai dia merasa urat-urat lehernya tertarik.


Tak lama, wajah panik dari pegawai tadi muncul di pandangannya dan memanggil-manggil sekitar dengan teriakan yang memekakkan telinga.


Kenapa pengendara motor itu narik blouse Mbak nya? Kenapa bukan dompet atau pun handphone nya? Ucap pelayan itu dalam hati.


Air matanya tumpah begitu saja saat mengingat pesan ayah tirinya, dia akan di buat tidak bisa melakukan apa-apa. Isak tangisnya meledak atas rasa tidak terima  diperlakukan seperti ini. Velo merasakan sakit, sangat sakit.


Di ambang batas kesadaran yang mulai menurun, sebuah tangan mengangkat kepalnya dan samar-samar dia melihat ke arah pria itu.


“Ma-Maaf, Pak. Saya beneran nggak tau kalau ada motor yang kenceng banget di sebelah mbak nya, Pak. Sekali lagi saya minta maaf.”


“Mardi! Keluarin mobil!”


Rasanya Velo ingin sekali menjulurkan tangan ke arah Hartadi untuk meminta perlindungan dari semua rasa sakit, tapi dia tidak bertenaga. Suaranya berupa isak tangis yang kian menjadi-jadi.


Sangat bersyukur ketika pria itu mengangkatnya dari aspal yang keras dan kasar. Punggung Velo terasa kebas sekaligus basah. Dan tanpa peduli kondisi pakaian Velo, pria itu merapatkan tubuh dinginnya seakan membagi kehangatan.


Dalam gendongan pria itu kedua kaki Velo menggantung. Rupanya memperparah sakit yang menjalar hebat pada kaki kirinya membuat dia kontan mengerang. Velo merasakan tubuh pria itu membeku, tetapi tidak berganti panik.


Selanjutnya terdengar suara decitan suara khas rem mobil, tubuhnya telah berpindah ke atas permukaan empuk yang tidak bisa dibandingkan dengan kerasnya aspal.


“Kamu bisa kembali kerja.” Ucap Hartadi pada pegawai yang sekarang sedang berdiri merasa bersalah sampai dia lupa membawa payungnya. Dan ya memang benar itu bukan salah pegawai restoran itu yang menyebabkan Velo terluka.

__ADS_1


Hartadi membanting pintu mobil. Jemarinya membentuk kepalan yang saat ini menjadi sarang emosinya terpusat. Air hujan telah membasahi seluruh tubuhnya, tetapi tidak melunturkan rasa amarahnya yang mendidih sampai ingin sekali menghabisi nyawa seseorang.


Hendak membuka pintu kiri pengemudi, Hartadi menahan diri tatkala seseorang yang dia temui saat makan siang dengan Velo kini mencegahnya. Pria iru menahan bahu Hartadi, sama-sama kehujanan dan tidak lagi memerdulikan seberapa basah pakaian mereka.


“Ada apa? Saya buru-buru.” Ucap Hartadi dengan wajah mulai mengeras.


“Dia sekretaris saya, ditambah lagi saya yang mengajaknya makan di sini. Jadi biar saya yang membawanya ke rumah sakit.” Ucap Gemilang tak gentar walaupun Hartadi sedang mengumbar sorot meremehkan.


“Ck, hanya sekretaris kan?” nadanya kasar saat mengulang sepotong kalimat awal Gemilang. Masih dengan rahang mengetat, Hartadi tegaskan mengapa harus dia yang megambil peran.


“Velove adalah tanggung jawab saya. Kalau kamu sekedar atasan, saya lebih dari sekedar pacar. Saya harap kamu mengerti.”


***


HARTADI POV


“Hm… Boleh, Mar. Kamu tinggal ambil barang saya aja. Saya telepon Mbok Niniek sebelum kamu berangkat, supaya disiapin apa yang saya perlukan di sini.”


“Oh Bapak nggak pulang?”


“Ya.. Kamu juga ikut nginep di sini. Boleh tidur di mobil atau di kursi depan kamar ini. Terserah kamu yang penting sigap kalau di telepon.”


“Siap Pak! Kalo gitu saya keluar dulu.”


“Oke!” Selepas Mardi pergi gue pun langsung telepon Mbok Niniek, gue minta sama Mbok Niniek disiapin pakaian kerja juga tas tablet yang gue simpen di laci meja ruang kerja gue. Dan gue menambahkan kalau Mardi yang akan mengambilnya.


Gue merasa gue harus berada disisi Velo supaya nggak ada seorang pun yang memanfaatkan kondisinya yang terbatas. Setelah kejadian ini gue nggak keberatan menetap di kamar inap ini barang hanya sehari dua hari.

__ADS_1


Gue usap pipi Velo dengan lembut, suhu badannya pun mulai kembali normal tidak sedingin tadi. Dengan masih mengamati Velo yang masih terlelap damai seakan tidak mengalami apapun, kunci pandangan Gue sekarang bertahan pada wajah Velo yang masih belum membiaskan rona. Jujur saat ini dia terlihat sangat cantik.


Bagian hati kecil Gue berdesir nyeri saat mengingat tangisan pilu Velo yang tidak berdaya dibawah guyuran hujan. Gue Pahami sakit dan shok yang menyerang Velo saat itu, tapi Gue yakin pasti ada sesuatu dari tangisan Velo yang dia luapkan begitu saja seolah di batas kemampuan perempuan itu menanggung semua beban.


Goresan luka di atas tulang pipi perempuan itu menyadarkan Gue bahwa pasti kecelakaan janggal telah terjadi. Suara knalpot motor dikaburkan derasnya hujan, Gue yakin Velo tak was-was jika dia di pepet sebuah motor. Eksekusinya benar-benar sangat rapih dan berjalan dengan sangat cepat, bahkan mencatat plat nomor kendaraan pelaku pun Gue nggak sempet.


Gue bersandar pada kursi, tangan bersidekap sambil menutup mata rapat-rapat sedang menetralisir segala amarah yang bersarang dalam diri gue. Dan lagi, darah gue bergejolak tak karuan ketika menyadari nama bajingan yang mendalangi kejadian siang ini.


Ck… sial!!!


Dari kemeja sampai sepatu pun lembab, harusnya gue udah berdecak tidak betah sejak tadi, Tapi kemelut pikiran di kepala gue buat  nggak merasakan itu semua.


Kalau sampai benar mereka suruhan Mas Adi…


Rahang gue mulai mengeras atas dendam yang tidak di undang. Namun gue sambut dendam itu untuk singgah lebih lama, sebab Gue Nggak suka jika Velo diposisikan bagai boneka. ‘Boleh diperlakukan bebas, berikut disentuh dan dicelakakan semaunya.’


Bukan asal mengantongi nama atas kecelakaan Velo, gue menyaksikan sendiri bagaimana dua pengendara motor melintasi Velo secara Nggak masuk diakal. Dua pengendara motor di bahu jalan menggunakan kecepatan yang tidak wajar, dari situ aja udah menghadirkan dua tanda tanya besar. Apa mereka hanya pengendara yang melawan arus? Tapi gue sih pikir nggak, karena dari pakaiannya aja udah mirip orang bayarannya Adiputra.


Gue benar-benar inget, yang satu pakai jacket hitam dan satunya lagi mengenakan jacket berbahan dasar jeans. Walaupun belum bisa menemukan alasan kenapa Adiputra menginginkan putri tirinya itu celaka, keyakinannya tidak tergoyahkan. Jika orang-orang tersebut jambret, logikanya mereka akan mengambil barang dan pergi. Tapi tujuan mereka jelas hanya mencelakakan.


Pria berjacket jeans di bagian belakang pengendara motor menarik bagian blus Velo, membuatnya hilang keseimbangan sementara heels di kedua kakinya makin memperburuk keadaan. Alhasil pergelangan kaki Velo mengalami fraktura tertutup. Kaki kiri Velo sudah dipasang gips selama masa penyembuhan. Selain itu Velo harus mengkonsumsi obat untuk mengurangi rasa nyeri pada tulang yang retak.


Baiklah, Gue akan mulai dengan perlahan. Apapun rencana balasan nanti, sangat dilarang keras mengedepankan emosi yang mempengaruhinya bertindak gegabah. Menekankan tanggung jawab gue atas Velo kepada atasannya bukan upayanya bermain-main dan memenangkan ego, dia bersungguh-sungguh.


Pada titik ini, gue sadar keterlibatan gue dalam hidup Velo kian besar. Gue buka mata dan melihat sosok Velo diiringi perasaan mengasihani nasib buruknya.


 

__ADS_1


__ADS_2