Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Ini Calon Istriku, Mbok. Bukan Keponakan Lagi.


__ADS_3

“Ck! Ribut terus dari tadi!”


Keluarlah protesnya pria itu, saat tidak bisa menahan untuk tetap menjaga suasana tenang.


Rasanya, Hartadi ingin membanting MacBook yang sedang dia tempatkan diatas pangkuan demi meredam desir laknat yang berusaha meracuni isi pikirannya. Menatap layar MacBook nya yang kini sulit dilakukan, konsentrasinya bagai gelas kaca yang sudah terpecah belah. Menyorot tajam perempuan yang duduk berselonjor kaki di sampingnya, dia sangat terganggu atas lenguhan-lenguhan halus yang mengalir dari bibir perempuan itu entah apa tujuannya.


Yang jelas dia geram, sehingga hembusan napasnya terkesan kasar.


Hampir sepuluh menit yang lalu dirinya dan Velo sampai di kediaman pribadinya. Bukan langsung menuju kamar yang akan didiami Velo selama di rumahnya, mereka sepakat bersantai di ruang televisi.


Decak lidah Velo berkali-kali terdengar, memuji secara interiornya. Ruang televisi Hartadi di kelilingi kaca, diperkuat nuansa minimalis modern yang memadukan unsur kayu dan warna hitam.


Sofa recliner L menghias di tengah dan Velo jadikan spot mengistirahatkan kaki, sementara televisi delapan puluh lima inch terpasang pada temboknya yang bertekstur.


“Saya kenyang, Pak. Makanya ribut!” Velo melempar lirikan sengit sambil mengangkat kepala dari handphone. Satu tangannya tidak henti-henti mengusap perutnya yang penuh.


Dengan sengaja, dia mengeluh sekali lagi agar Hartadi semakin gemas ingin memarahi. Biar saja, kondisinya sekarang ada campur tangan pria itu sendiri.


Mulanya kening Hartadi mengernyit, kemudian sudut bibirnya terangkat selepas mencerna alasan konyol yang diungkapkan Velo.


Ekspresinya benar-benar mengejek perempuan itu. Tuhan memang menciptakan beragam manusia unik, termasuk perempuan yang kembali mematri pandangannya pada handphone itu.


“Bukanya bersyukur kamu kenyang. Di luar sana banyak yang kelaparan. Dikasih nasi malah ngeluh. Lagian, orang yang konsumsi obat harus ke isi perutnya. Nggak boleh kosong.”


“Tapi ini begah banget, Pak. Bapak sih maksa saya makan perkedel juga! Nasi dibarengin perkedel itu—“ Velo menutup kelopak matanya sejenak. Merasa sangat bersalah pada tubuhnya, sebab asupan karbonya hari ini terlalu banyak. Setelah mengingatkan diri bersabar lalu mengingat jasa-jasa Hartadi untuknya, Velo kembali itu bersama lengkungan senyum.


“Kita skip pembahasan ini ya, Pak? Silahkan kerja lagi. Saya nggak bakal ribut,”

__ADS_1


Hartadi tidak menjawab, dia sibuk menelan ludahnya. Sudah tidak minat menekuni email dan membaca sekian halaman purchase order truk tangki yang dikirimkan staf operasionalnya. Kedua mata Hartadi saja yang diusahakan terpancang ke layar MacBook, menipu diri sendiri bahwa keberadaan perempuan di rumahnya tidak mengubah apapun.


Rumah yang biasanya sunyi, tapi kini hal-hal yang mengujinya mulai silih berganti dalam hitungan menit. Mbok Niniek pun tampaknya hampir jantungan ketika Hartadi mengatakan seorang perempuan akan tinggal bersamanya untuk beberapa lama.


Asisten rumah tangganya itu kemudian mengucap syukur. Berikut ngengusap dada lega, karena mengenali wajah perempuan yang dia gendong keluar dari mobil. Dia inget bagaimana ramahnya Velo begitu melambaikan tangan pada Mbok Niniek. Perempuan paruh baya itu seketika luluh, senyum keibuannya muncul. Rupanya, Hartadi melupakan fakta keduanya saling mengenal. Dia lupa Mbok Niniek termasuk asisten rumah tangga ibunya. Puncaknya lagi, Mbok Niniek tanpa diminta segera menyiapkan sandal rumah untuk perempuan itu.


‘Tapi Neng Velo biasa pakai sendal di dalam rumah’.


Bela perempuan paruh baya itu, meskipun dia tekankan Velo sedang tidak membutuhkan sandal.


“Pak?” Velo menggeser duduknya mendekati Hartadi, berusaha tidak menyeret kaki kirinya berlebihan. “Pak, Mamih nggak berenti telepon saya. Harus diangkat atau kirim chat aja kalau saya di rumah Bapak untuk sementara?”


“Papih kamu juga nggak berenti telepon saya. Kalau diangkat, isinya pasti makian semua.” Hartadi tidak berkelit dari kenyataan. Mode senyap handphone nya sudah dia hidupkan demi menutup telinga dari rongrongan Adiputra yang kehilangan Velo.


Tapi, Ibu Velo tidak bisa menjadi pihak yang dikorbankan dan dilupakan keberadaannya. “Kamu boleh telepon atau chat. Mana yang buat kamu lega dan tenang, lakukan. Mbak Asri memang harus terima kabar kamu di mana dan sama siapa dari kamu sendiri.”


Ditengoknya pria itu, sudah kembali menatap layar amat serius. Menginap di rumah sakit pastilah membatasi pekerjaan Hartadi. Sekarang hati Velo puas menemukan pemandangan pria itu bebas mengerahkan kembali konsentrasinya pada bisnis, Cahari, atau apa saja yang ditampilkan layar tersebut. Pesona Hartadi membuatnya tidak tahan ingin menggigit jari. Pikiran sesatnya datang, dengan tinggal bersama—artinya dia akan sering disuguhi pemandangan karismatik pria itu. Velo mengerjap gugup, ketertarikan yang sumbernya pandangan mata itu benar-benar ada.


Leher belakang Velo sontak saja meremang saat Hartadi ikut menggeser kakinya lebih dekat tanpa bersuara, walaupun pria itu masih bertampang masam. Mungkin kaki kirinya yang dibalut gips terlihat berada di posisi yang kurang nyaman. Tidak lama Hartadi menunduk, bertukar pandang dengan dirinya yang merebahkan punggung dengan sandaran lebih rendah. Gulat benaknya mengenai seberapa mempesona Hartadi cukup mempengaruhi. Kedua belah bibir Velo memisah, bersiap mengucapkan kata. Namun saking buntunya, dia mengatupkan kembali bibirnya dan gerakan itu sialnya ditangkap Hartadi.


“Hm, Pak...” Velo berakhir bungkam. Handphone semakin tergenggam erat.


Untuk suatu perasaan yang tidak jelas, Hartadi membasahi bibir bawahnya.


Memaku netranya pada Velo, dia merasa sedang tersesat dalam kejernihan yang terkandung dalam kedua mata perempuan itu.


Maksudnya tersesat, dia jadi betah berlama-lama menatap. Alisnya menyatu ketika mendengar suara memanggil Velo, dia sedikit terkecoh, tapi tidak membentang jarak dan kian berani merunduk. Hening sesaat, Hartadi singkirkan benda di pangkuannya ke samping.

__ADS_1


Lengan mereka bersentuhan. Velo sudah tau akan mengarah kemana kalau Hartadi sudah menyudutkannya seperti ini.


Pria itu menyamping ke arahnya, menutupi tubuhnya dari sinar matahari yang menembus dari balik jendela-jendela kaca di belakang mereka. Velo hendak memejamkan matanya menunggu bibir Hartadi berlabuh, tetapi dengan kilat dia mendorong dada pria itu menjauh saat menemukan siluet seseorang pada layar MacBook.


Tanpa memperdulikan lehernya yang sesekali masih menyisakan sakit, Velo menengok sisi kanannya terlampau cepat sampai ringis tercetus tidak mampu dicegah lagi. Menghela napas lega seraya menjatuhkan kepala pada sandaran, Velo mengira siluet tersebut adalah neneknya. Dia memandang letih asisten rumah tangga itu.


“Mbok, kirain siapa? Ampun deh, masih deg-degan aku.”


“Kamar mandi udah Mbok sikat pakai Wipol. Neng nanti jangan nyikat-nyikat ulang ya. Kakinya gitu, Mbok takut Neng kepeleset.” Mbok Niniek menatap lembut Velo. Sudah lama tidak berjumpa dengan cucu majikannya yang perempuan.


Velo mengira kebiasaannya yang tidak spesial itu akan diketahui Hartadi usai menjadi suaminya. Takdir berkata Hartadi boleh mengetahui lebih cepat, jadi Velo tidak berniat menjadikannya teka-teki.


Lagipula, kebiasaannya bertujuan baik. Walaupun pipi memanas malu, Velo pun menjawab.


“Makasih, Mbok. Masih tau banyak kebiasaan aku,”


“Kuat banget dorongan kamu, Vel.” Sela Hartadi menahan deesis kesalnya. Bukan tenaga besar Velo saja, tetapi dia merasa ada salah satu kuku perempuan itu yang tidak sengaja mengenai dari luar kaos. Tajamnya menghadirkan nyeri. Di satu sisi, dia pun mendengarkan sesuatu yang baru tentang Velo dan baru diketahuinya berkat Mbok Niniek.


“Maaf, maaf! Nggak pengen dorong sampai gitu, tapi refleks aja.” Velo mengulurkan tangan. Dia mengusap bagian dada Hartadi yang sempat didorongnya sepenuh hati. Dia menyangka sang nenek datang dan memergoki mereka hampir menyatukan bibir dari pantulan siluet Mbok Niniek pada layar MacBook.


“Tadi saya kira Eyang Putri. Kalau besok-besok Eyang Putri kesini gimana? Keputusan tinggal sama Bapak kayaknya belum seratus persen tepat.” Ucap Velo sedikit menunduk dengan tangan yang tidak menjauh dari dada Hartadi. Melirik Mbok Niniek sekilas, dia membisikan apa yang melandasi kejadian tadi.


“Ibu nggak pernah ke sini. Kamu nggak perlu mikir kejauhan.” Hartadi meraih dagu Velo. Di depan Mbok Niniek, dia jatuhkan bibirnya pada bibir perempuan itu untuk beberapa detik.


Kesempatan besar sebelumnya, dia gantikan hanya melalui kecupan tanpa suara. Lalu, dia angkat wajahnya dan memberitahu Mbok Niniek yang pucat pasi dengan hati-hati. “Ini calon istriku, Mbok. Bukan keponakan lagi. Ke depannya, Mbok jangan kaget kalau liat kami deket-deket. Ya, Mbok?”


“Mbok lemes, Den.”

__ADS_1


Velo menjerit saat Mbok Niniek jatuh ke lantai dan pingsan. Sedangkan, Hartadi terburu-buru bangkit untuk menghampiri asisten rumah tangga itu biarpun diliputi keterkejutan yang sama seperti Velo.


__ADS_2