Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Bersyukur Merasa Diterima Oleh Istri Sahabat Hartadi


__ADS_3

“Gila, gila banget.” Gumaman Haris kembali menyambangi pendengaran seluruh orang yang duduk bersama di meja makan pada teras belakang kediaman Resha, salah satu sahabat Hartadi.


“Lo persis kaset rusak tau nggak?” Hartadi sengaja memperlihatkan muka enegnya, sedangkan Haris tidak menanggapinya serius.


Sedangkan Istri Haris yaitu Valeri mengusap bahu suaminya disertai senyuman penuh arti. “Udah, Yang. Dari tadi kamu nggak berenti ngomong gitu. Nggak enak didengar yang lain.”


“Beneran gila tapinya, Yang?” Haris tak mau menutupi keheranannya sejak menemukan Gue berada di mobil Hartadi, "Aslinya Yang, Velo itu hadir dalam versi yang ‘manglingin’. Nampak lebih dewasa, matang tentunya cantik. Dulu dia nggak kayak gitu loh..."


“Setuju Ris,” sambar Resha sembari menyodorkan tangan kanannya pada Haris, keduanya kontan saling bersalaman sambil tergelak karena satu pemikiran. “Hartadi nunggu jodohnya gede dulu baru kerasa in love-nya.”


“Anjir, setuju lagi gue,” tanggap Haris menggeleng-geleng atas topik hangat siang ini, dia memperhatikan kembali dua manusia yang duduk berdampingan. “Dari dulu kemana aja gue? Bisa-bisanya nggak nyadar kalian secocok ini.”


Gue ngelirik Hartadi, terlihat dia menahan rasa geramnya dengan menyuap sebuah jamur shimeji Menggunakan sumpit ke dalam mulutnya. Lirikan tajam sudah diarahkannya pada Haris, mungkin dalam benak hartadi dia berharap ayah satu anak itu tidak bertingkah seperti remaja yang memergoki sahabatnya dengan sang gebetan.


Sejujurnya buat gue bukan masalah besar sih, karena gue pun emang menikmati makanan yang disuguhkan dan sesekali bertukar Senyum dengan istri-istri para sahabatnya itu. Dan harusnya tidak mengherankan bagi Hartadi Mendapati kemahiran gue yang bisa Menempatkan diri dan berbaur, pertemuan semacam ini hanya hal kecil sih buat gue.


Dan jangan lupa mobilitas Dan eksekusi gue sebagai Sekretaris Direksi.


“Vel, kamu yakin mau sama Hartadi?” Maestra yang dari tadi hanya diam tiba-tiba memilih angkat suara sambil memainkan senyumnya ke arah Hartadi yang sedang berwajah masam, sangat bersebrangan dengan wajah gue yang dari tadi megembangkan senyum melihat kelakuan Hartadi dan para sahabatnya.


“Galak, cepet emosian, saklek, perfeksionis dan segala sesuatu dipertimbangin banget sampai dia ngerasa dia udah oke. Nah, gimana itu?”


“Mae, lo ikut-ikutan mereka? Seriously?” ucap Hartadi yang mungkin udah gerah sekali atas humor Haris dan Resha yang serasi menggoda kesabarannya, sekarang orang yang dipikirnya paling waras sudah oleng rupanya.


“Ck, giliran lo ada waktunya. Gue lagi nunggu Velo ngejawab dulu." Kata Maestra yang tergolong kalem, tapi menusuk.


“Oh, oke... silahkan,” balas Hartadi tajam seraya mengambil gelas air mineralnya.


Pertemuan kali ini tentu akan terasa amat panjang, Hartadi seharusnya kembali ke Jakarta saja tanpa mementingkan formalitas mengabari Maestra dan Haris, jika ujung-ujungnya di jebak dalam situasi seperti ini.


“Saya nggak ada masalah kok sama pribadinya Pak Har.” jawab gue sambil menempatkan sumpit di samping piring, mengelap sudut bibir gue dengan tissu. “Hartadi yang saya kenal emang gitu kan? Saya seneng kok, dari dulu Pak Har konsisten sama kepribadiannya."

__ADS_1


Gue liat ke arah Hartadi yang sedang melihat ke arah gue sambil mengembangkan senyym simpul untuk gue dan itu pertama kalinya gue liat dia tersenyum ke arah gue . mungkin dia sadar kalo gue sangat menjaga ‘pride’ nya dia di hadapan para sahabat-sahabatnya.


“Mana panggilan sayangnya? Panggilan antar pasangan ngapain seformal itu sih? Saya gregetan sama kesopanan kamu Vel. Kita nggak lagi di kantor loh.” Tegur Haris mendengar gue yang terus-terusan manggil Hartadi dengan sebutan ‘Pak’, seakan kita berdua masih berduet di Royal WCS.


“Oh, saya hany menyamaratakan Bapak-Bapak yang ada di sini aja kok,” jawab gue yang seratus persen nggak benar sama sekali. “Biasanya Mas Har, tapi nggak saya pakai kalau lagi ngumpul-ngumpul gini. Apalagi di depan Pak Haris sama pak Maestra yang dulu sekantor.


Entah apa yang mengendap di dalam benak misterius Hartadi. Gue sadar pandangan Hartadi tidak lepas dari arah gue, mengawasi gue yang duduk bersebelahan dengannya, selagi gue menyambut setiap pertanyaan yang ditujukan oleh para sahabat Hartadi.


Mengenai panggilan gue pada Hartadi yang begitu formal dan tidak memperlihatkan hubungan dekat kami, sebenarnya tak ada masalah apapun. Hanya saja gue udah terbiasa dengan cara memanggil Hartadi ketika masih menjabat jadi sekretaris di Royal WCS Jakarta.


Panggilan asli dari gue untuk Hartadi tetaplah ‘Mas’, bukan Pak, apalagi Om. Hartadi sendiri yang meminta gue memanggilnya seperti itu, sejak kita dipertemukan untuk pertama kalinya dan gue tidak akan pernah melupakan moment itu.


‘panggil Mas aja, belum pantes dipanggil Om. Kamu dipanggil apa, Velo, Love?’


“Iya, Velo.” Valerie menimpali Ucapan suaminya. Saat ini rambut Valerie tergelung rapih di atas tengkuk dan mengenakan Pleated top cream yang memperlihatkan kedua lengannya. “Aku dan mbak Kelly exited banget loh waktu di kasih tau ada kemungkinan geng kita bakalan nambah satu orang lagi.”


Gue cuma menatap dua perempuan yang duduk dipisahkan oleh suami-suami mereka, dan gue amat merasa bersyukur karena di sambut hangat oleh mereka. “Makasih ya, Mbak Valerie, Mbak Kelly. Aku pikir kalian bakalan jutekin aku loh...” Ucap Velo bercanda membuat suasana lebih akrab.


Kelly Mengalihkan pandangannya ke arah gue usai memperhatikan suaminya berbicara. Perempuan yang anggun dan tak banyak bicara tersebut menyematkan senyumannya. “Kamu Velove L Williams kan?”


“Loh, mbak tau nama saya?” gue kaget bukan main, jujur selama ini nggak ada yang tau nama panjang dari ayah kandung gue, ya selain orang-orang terdekat, dan tentu saja di Almeda group.


"Biasanya kebanyakan orang tau nama aku 'Velove Bratadikara' mbak atau lebih patennya biasanya sih Velo atau lebih akrab lagi Vel."


“Soalnya Aku pernah liat namamu di linkedin.” Kelly otomatis jadi pusat perhatian semua orang yang ada di meja makan, khususnya Hartadi. Sementara Kelly hanya memperlihatkan senyum ramah kearah gue.


“Ayahku dari Almeda Group dan nama sekretarisnya Livia. Cuma yah aku sering absen aja di acara-acara dari Almeda Group, jadi kamu mungkin nggak familiar sama aku.” Lanjut Kelly dengan santai. “Kamu sekretarisnya Om Damar atau Om Ammar?”


“Oh, aku sekretarisnya Pak Damar. Mbak Kelly ini putrinya Pak Tama, ya?” melihat anggukan kecil Kelly, jujur gue kaget dan nggak nyangka bisa ketemu sama putri dari pak Tama, alhasil gue kembali melanjutkan topiknya. “Iya Mbak, setauku emang yang sering dateng ke kantor dari pihak Pak Tama ya Pak Andre.”


“Bang Andre emang mau gantiin Ayah. Makanya, sibuk diminta kemana-mana. Kebetulan belum berkeluarga juga, jadi masih bebas Ayah ribetin. And gratefully, I’m merried.” Kali ini Kelly dan sang suami saling lirik, lalu saling tertawa.

__ADS_1


Hmm... Mereka menikah karena cinta.


Iri? Oh hellow... of course i'am jealous. Nggak semua orang yang menikah dilandasi cinta bergaransi bahagia, tapi setidaknya orang-orang tersebut tau mereka dicintai.


Gue terpaku pada tangan sampai lengan Hartadi. Pikiran gue melayang bebas. Selintas hati gue mengungkap tanya,


Bagaimana Hartadi memperlakukan seorang istri? Adakah kehangatan yang dapat pria itu bagi, selain keromantisan fisik semata.


“Andre belum menikah, Kel?” Dengan seketika lamunan gue terpecah saat Maestra bertanya pada Kelly.


“Belum Mas,” jawab Kelly dan sedikit menggoda Maestra yang sudah menduda. “Ada niat cari pendamping bareng-bareng?”


“Ck.. berat ya pertanyaannya…” balas Maestra menghindar.


“Hmm, Pak Andre masih single…” gumam gue, dan ternyata secara nggak sadar udah menyuarakan isi pikiran gue, dan otomatis membuat kepala-kepala yang ada disana refleks menoleh ke arah gue.


Kedua mata gue memandang sup Miso tapi tidak benar-benar memandangnya.


Jujur saat ini gue malah sedang menahan diri supaya nggak kegirangan. Sangat kebetulan banget, gue mengantongi informasi buat Livia yang memang menyimpan ketertarikan pada Andre Almeda.


Apaan nih, denger Andre belum menikah kenapa dia kayak kegirangan gitu? - Hartadi.


Tidak cemburu, hanya penasaran.


Gue ngeliat Hartadi mengerutkan kening masih menilai ke arah gue.




Yes, ga bosen ngingetin kalian buat like komen sama klik Favoritnya jika kalian suka dan mau terus nunggu update'n nya ya......

__ADS_1


__ADS_2