
“Kamu ngerasa terusir? Sadar dateng jam berapa ke rumahku? Nggak salah dong aku lama-lamain buka pintu. Kupikir kamu bakal pergi, tapi bertahan juga bunyiin bel.”
“Waktu luangku ke sini Cuma sekarang. Terpaksa lah aku nungguin kamu ngebolehin masuk. Memangnya kamu udah tidur? Setelan kerja aja belum ganti.” Mengabaikan sorot peringatan Hartadi untuk tidak bersikap semena-mena, Parnita Bratadikara melangkah masuk ke dalam rumah pria itu.
Terdiam sejenak, dia memincing curiga ketika Hartadi berdiri seakan menghalangi. “Udah deh, minggir. Aku mau masuk.”
“Mbak, kamu nih kayak orang nggak punya tata krama. Gimana pun ini bukan kandang kamu, jadi sebaiknya pakai mulut untuk ngomong ‘permisi’. Atau, silahkan pulang kalau kamu ngerasa aku banyak aturan.” Hartadi menjejalkan kedua tangannya ke saku celana bahan yang telah menempeli tubuhnya lebih dari dua belas jam. Dia memperbolehkan saja, bila Parnita ingin bertamu dan memulai obrolan di dalam. Secara menjengkelkan, perempuan itu justru menyuruhnya menyingkir dari muka pintu tanpa sadar diri sedang di tempat siapa.
“Kamu nggak usah sok ngajarin aku sampai harus bilang-bilang permisi sebelum masuk. Aku datengin rumah adikku, bukan datengin rumah mertuaku.” Parnita menghela untaian rambut hitam panjangnya yang menutupi sebelah bahu. Kemudian, tangan kirinya bergantian dengan tangan kanan untuk mengapit Gucci Dionysus GG Supreme mini Bag-nya lebih santai. “Kok kamu kesannya terusik aku di sini? Ada siapa di dalam sana, hah? Mainan baru?”
“Rumah ini nggak terbuka untuk sembarang orang. Satu lagi, aku juga luar biasa mampu ngebayar kamar hotel kalau Cuma ‘Lepas Penat’ sama mainan baru. Cukup untuk ngejawab rasa penasaran kamu?” Hartadi tidak menerima anggukan maupun kalimat mengiyakan Parnita. Gampang letih memang, jika berbicara dengan perempuan itu.
Sangat tau Parnita tidak akan pergi tanpa diberikan kesempatan memasuki rumahnya. Maka dari itu, Hartadi melepas satu tangannya dari saku, lalu menunjuk ruang tamu luasnya yang menanti di belakang.
“Masuk, Mba. Duduk dan kasih tau ada urusan apa ke sini.”
“Sorry, aku nggak mau duduk. Udah bosen duduk di mobil, tadi macet nggak ada selesainya.” Parnita membuntuti Hartadi yang mengarahkannya pada sofa-sofa berbahan kulit hitam. Saking enggannya, dia hanya menjatuhkan tas Gucci-nya ke atas sofa.
Tanpa mengindahkan gedikkan dagu Hartadi yang mengkodenya agar segera duduk. “Kita ngobrol sambil lihat-lihat rumah kamu aja? Udah lama nggak nengokin kamu ke sini. Keseringan di Samarinda sih, gayamu ngerantau terus dan ogah pulang. Mana betah kamu tinggal di daerah. Buktinya permanen lagi di Jakarta.”
“Kamu tau dari siapa soal permanen atau nggak nya aku di Jakarta? Nggak usah berlagak jadi dukun yang nebak pergerakan hidupku gimana.” Hartadi kembali memutar tumit.
__ADS_1
“Aku nggak berlagak jadi dukun. Tiga hari lalu aku sempet pulang sambil ajakin anak-anak ketemu YangGeut sama YangTie nya, terus Ibu cerita kamu nggak balik ke Samarinda. Yah, kecuali ada hal penting yang harus kamu tanganin langsung. Menurutku, bagus kamu nggak absen di pusat lagi.” Ucap Parnita merangkul lengan adik bungsunya.
Orang-orang mengatakan bahwa mereka memiliki karakter yang hampir serupa, mungkin itu sebabnya dia dan adik bungsunya sering kali tidak menemukan kecocokan saat disatukan.
“Oh, Ibu?” Hartadi kontan tersenyum maklum dari mana Parnita mendapatkan ‘Statement’ bahwa dirinya tidak akan menetap di Samarinda untuk masa-masa ke depan. Suatu yang lumrah ibunya menyebarkan berita tersebut pada semua kakak-kakaknya. Bagi sang Ibu, itu merupakan berita baik yang tidak satu pun orang dalam keluarga mereka boleh abaikan. “Hm... Bisa dibilang gitu. Mulai sekarang aku memang ngisi kursi pusat lagi, tapi tanggung jawabku buat cabang Samarinda nggak pernah kendor,”
“Kamu sendiri habis acara apa? Masih punya anak kecil lebih baik udah di rumah jam segini. Mampir ke rumahku malah bikin kamu pulang kemaleman.” Hartadi menengok tangan Parnita yang mengait pada lengannya.
Dia biarkan saja, tidak menghentikan iringan langkah mereka yang hampir mendekati dua persimpangan—menuju ruang televisi dan ruang makan. Manisnya perhatian Parnita jarang sekali tampak di depan mata, tertutupi ketusnya perempuan itu tiap kali mereka bertemu.
“Har, nggak ke situ...” Parnita menahan Hartadi beranjak ke ruangan yang tidak dia inginkan. “Ke ruang makan.”
Kerutan dahinya terlukis jelas menyadari telunjuk Parnita mengarah tegas pada sisi kanan mereka, ruangan di mana dia dan Velo sempat menerabas diskusi terbuka yang seserius mengenai ‘Pernikahan’. Momen terputus kilat, sebab kehadiran sang kakak kedua terhitung di luar prediksi. Saat bel berbunyi, awalnya Hartadi memperkirakan Adiputra yang tau-tau datang.
Kejengkelannya semakin kuat, terlebih kini dia sadari kalau Velo pun belum meminum vitamin yang direkomendasikan dokter ortopedinya. Tak apalah, dia bisa menyempatkan waktu ke kamar Velo selepas Parnita pulang.
“Ngapain di ruang makan? Mau nyicip ‘Air Putih’ di rumah ini?” Hartadi tidak lekas membawa Parnita ke ruangan yang ditunjuk.
“Payah kamu. Kakaknya dateng disuguhin yang enak-enak dong. Kalo sekedar air putih sih aku juga bisa beli di Indomart sebelum sampai rumah kamu,” kritik Parnita sembari mencebikkan bibir. “Wah, bikin aku penasaran sama isi kulkas kamu aja kalau gini.”
Diam-diam, Hartadi melabuhkan pandangan pada tangga yang mengarah ke lantai dua. Dia belum tau apakah Mbok Niniek masih berada di sana atau tidak. Jika asisten rumah tangga itu masih membantu Velo buang air kecil, kemungkinan meja makan masih seperti sedia kala. Terkukung situasi, dia jelas akan kembali dikulik oleh Parnita yang ‘Maha Benar’.
__ADS_1
“Aku pengen liat interior ruang makan dan dapurmu, Har. Seingetku kamu paka Lentera Architeam? Mereka baru pergantian kepemimpinan, sekarang dipegang anaknya—Hada.” Parnita melepaskan belitan tangannya dari Hartadi.
“Malem ini aku dateng ke launching aplikasi Hellofood! Si acara itu aku ketemu Lentera Architeam, mereka menang projek buat rombak bangunan lama yang dibeli Helofood! Untuk gedung headquarter. Pulangnya, aku kepikiran bangun ulang satu restoranku yang mulai kalah saing pakai jasa mereka.”
“Kamu pengen tau hasil nyatanya dari sepetak ruang makan dan dapurku aja? Skala kecil itu, Mba. Satu rumah ini Lentera Architeam yang pegang sesuai arahanku sebagai owner. Mereka komunikatif, berusaha ngerealisasiin maunya owner gimana. Aku puas sama kinerja mereka, apalagi Cuma mantau dari Samarinda waktu mulai dibangun.” Hartadi hajar saja kemungkinan besar Parnita mengetahui ada ‘penghuni lain’ di rumahnya, dengan mengiring sang kakak mendekati ruang makan.
Lagipula, Velo sudah dia ungsikan ke kamar.
“Nah, aku pengennya team yang komunikatif dan bisa dipercaya tanpa harus kita awasin ketat—“ suara Parnita tertelan keterkejutannya. Awalnya Parnita memperhatikan meja makan yang ramai piring dan gelas, tetapi semua yang berada di atas meja berbahan marmer itu adalah sepasang. Sebuah piring dan mangkuk, serta sepasang gelas yang letaknya berjauhan.
Otomatis Parnita berpaling pada adik bungsunya. Mengulas seringai sinis seakan berkata ‘Aha!’, Parnita tinggalkan Hartadi dan mendahului adiknya mendekati meja makan. Mengamati meja tersebut sambil menaruh sebelah tangannya ke pinggang, dia punya jawaban mengapa Hartadi sangat lama membukakan pintu untuknya.
“Siapa perempuan yang kamu ijinkan masuk? Hebat loh sampai mampu duduk di sini. Aku aja kakakmu nggak bisa.”
“Masa aku ajak ngampar di lantai kalau di ruang makan punya kursi?” ucap Hartadi tidak menepis keingintahuan Parnita. Hartadi pun duduk di kursi yang tadi ditempatin Velo menatap kearah Parnita.
“Apa? Mau interogasi?”
“Dimana dia? Sini kenalin ke aku.” Parnita menggeser kursi samping Hartadi agar jarak pandangnya lebih nyaman, lalu menunduk dan akhirnya tawanya pun meledak. “’Indomie Date’, Hartadi Lewandowski Bratadikara?”
“Cepat dan praktis.” Hartadi tanggapi tanpa kehilangan harga diri. Dia balas dengan gelak tawa yang sama, namun tujuannya untuk mengejek Parnita yang cukup absolut terhadap makanan. “Aku nyari perempuan yang seleranya manusiawi. Nggak melulu hasil tangan chef terkenal untuk bikin kita puas. Beda sama kamu ya, Mba? Kalau bukan masakan chef, lidahmu kerasa kebas. Inget, kamu kerja di bidang Food & Bread. Hargai pengusaha kecil, meski mereka nggak ‘sekolah’.”
__ADS_1
“Kamu mau bilang selera ‘perempuanmu’ ini rendah?” ucap Parnita tawanya seketika sirna. “Dia bukan dari kalangan yang bisa kapan aja nyobain mewahnya masakan chef? Dia tipikal perempuan naif yang suka-suka aja ditraktir makan di pinggir jalan? Iya?”
“Kamu yang harus Mba ingetin. Hati-hati memilih perempuan untuk kamu jadikan pasangan hidup. Aku bukan nyombongin kamu, tapi kamu sadar siapa ‘Bratadikara’ kan? Jangan main pilih,” lanjut Parnita dingin sambil menatap Hartadi dengan tajam.