Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Sungguh Liar Pikirannya Bukan?


__ADS_3

awas ya.... episode ini banyak-banyak ngelus dada buat para cewek-cewek... gw kasih bonus Mas Har...


__________________


Mendengar tidak ada sahutan apapun darinya, Gemilang kembali mengajukan pertanyaan lain. Intonasi pria itu terdengar ragu-ragu.


“Velo, saya ganggu kamu? Kalau lagi nggak bisa terima telepon saya sekarang nggak apa-apa. Next time aja misalkan kamu senggang.”


“Nggak... Nggak ganggu kok, Pak. Saya lagi nyantai.” Velo tanpa sengaja membuat satu tangannya terangkat seakan-akan menenangkan seseorang. Kala sadar Gemilang bahkan tidak dapat melihatnya, Velo segera menempatkan tangan tersebut ke atas paha sembari membatin atas kekonyolannya.


“Oh, iya. Kabar saya baik. Bapak gimana?”


“Saya kabarnya baik.” Gemilang merespons kalem.


“Bapak ada perlu apa telepon saya? Saya minta maaf ya Pak, karena belum bisa balik kerja lagi.” Velo sejenak mendesahkan kerinduannya pada suasana Almeda Group dan segala rutinitas sebagai karyawan di lantai direksi.


“Mungkin lima sampai tujuh hari dari sekarang mulai balik ngantor. Aruna yang handle kerjaan saya kan, Pak? Kalau ada yang harus saya kerjain pun bisa kok Pak, saya siap dari sini. Email saya aktip terus. Bapak nggak usah sungkan. Cedera saya di kaki, jadi otak saya bisa dibuat kerja.”


“Wah, wah, tunggu...” Gemilang kewalahan menerima kata-kata yang tercetus dari bibir sekretaris ayahnya itu.


Tidak biasa berhadapan dengan perempuan yang berbicara cepat dan vokal seperti Velo, gelak tawa Gemilang meluncur bebas.


“Saya jadi gagap mau bales apa. Pelan-pelan aja ngomongnya Vel, biar saya nangkepnya gampang.”


“O-oh...” Velo meringis tidak enak hati. Demi membuktikan tanggung jawabannya dalam bekerja, dia lantas berceloteh cepat tanpa memikirkan apakah Gemilang bisa mencernanya atau tidak. “Gini Pak, kalau ada kerjaan yang sekiranya nggak kepegang Aruna ataupun Livia, bisa dilimpahin ke saya. Berhubung cedera ada di kaki, makanya otak saya mampu banget diajak kerja. Saya bisa wfh, Pak.”


“Ya, jangan. Kamu rehat total dulu. Jangan mikirin kerjaan di sini dipegang siapa, keteteran nggak, atau ngerasa lepas tangan—keabsenan kamu udah dihitung cuti spesial, nggak terbatas berapa lamanya.” Akhirnya, Gemilang jelaskan agar Velo tidak banyak pikiran.


“Saya udah ngomongin ke orang kantor, karena saya lihat sendiri kamu kecelakaan waktu itu.”


Saksi mata siang itu dibawah derasnya hujan memang Gemilang. Baiklah, Velo tidak akan mendebat hak istimewa yang diberikan pria itu sebab menonton langsung kecelakaannya.


“Makasih ya, Pak. Udah kasih saya waktu buat pemulihan.”


“Saya pikir Pak Gemilang akan ikut sekretaris direksi yang jengukin saya ke rumah sakit. Tapi, amplopnya aja yang nyampe dan nggak enak loh, Pak?” masih segar dalam ingatan Velo kala kedua sahabatnya menyodorkan amplop berisikan uang tunai.

__ADS_1


Mereka ditiipkan amplop tersebut oleh Gemilang.


Bimbang harus memberikan apa kepada dirinya, walhasil Gemilang menyiapkan ‘mentahan’ berupa uang.


“Jujur, saya niat ikut tetmen-temen kamu. Tapi nggaklah, supaya kalian bisa ngobrol bebas tanpa saya. Takutnya kalian mau cerita sesuatu, tapi kehadiran saya bikin kalian segan, malah nahan-nahan. Kan sayang waktunya.” Gemilang enggan membuat waktu sekretaris direksi sepulang kerja menjadi sia-sia, karena kehadirannya memberi batas bagi mereka saling bertukar cerita pada Velo.


“Eh, padahal mereka nggak mikir ke sana. Mereka seneng mau punya atasan seusia Pak Gemilang. Maksudnya, dalam hal-hal tertentu bisa lebih luwes ngobrol dan tuker pikiran. Maklum Pak, direksi Almeda Group bikin kita ngerasa kerja bareng orang tua sendiri,” balas Velo sesuai realita.


Dia menarik bantal sofa untuk diselipkan ke belakang punggung, sementara kedua kaki diluruskan memenuhi panjang sofa. Cukup menikmati obrolan telepon ini.


“Berarti saya disambut baik kalian dong?” Di rumahnya, Gemilang membiarkan senyumnya mengembang. Walau senyum itu memudar cepat, disebabkan wajah pria arogan yang mencegatnya untuk melarikan Velo ke rumah sakit mampir dalam benaknya.


“Disambut baik, Pak. Biarpun saya dan sekretaris direksi lain punya PR, buat membiasakan diri ngikutin rules dan ritme kerja direksi di atas kami nanti.” Velo memerhatikan kuku kakinya yang terkikir rapih dan di cat olive mengkilap.


“Kayak saya ke Pak Gemilang. Mulai sekarang saya harus punya catetan tentang Pak Gemilang nih, ajian paginya apa, seneng meeting di dalem atau di luar kantor—gitulah, Pak.”


“Bisa kita obrolin...” Gemilang menggantungkan ucapannya.


Tetapi pria itu tegaskan dalam hati untuk meminta ijin Velo, mengesampingkan apapun hasil yang dia dapatkan.


Sesaat Velo membuka mulut, namun buru-buru menggigit bibir merasa tersesat harus menerangkan alasan yang masuk akal.


Bila Gemilang memiliki apa yang orang-orang sebut ‘open minded’, dia akan tertolong dari asumsi mengerikan mengenai hidup serumah dengan seorang pria tanpa status. Meski kebenarannya dia hanya menumpang hidup sampai kakinya dinyatakan normal untuk kembali berkegiatan.


Nihilnya suara Gemilang membuat Velo percaya sedang diberikan kesempatan berpikir. Alhasil mereka sama-sama diam. Demi menemukan penuturan yang tepat, dia memutar otak seraya merotasikan pandangan ke sekitar.


Velo palingkan wajahnya kala suara air terdengar memercik. Hasil pencariannya amat mencenangkan, dia sampai terkesiap pelan tidak mampu mengontrol sikap.


“Vel, kenapa? Napas kamu kedengeran sesak gitu?” tanya Gemilang yang agaknya peka sesuatu terjadi di tempat Velo.


Velo mencengkeram kain dress rumahan yang dipakainya sembari mengerjap kikuk. Jantungnya bagai diremas mendapati pemandangan langka pemilik seisi rumah ini.



Pandangannya terus memaku Hartadi, biarpun dia sadar seharusnya mengalihkan pandangan sesegera mungkin. Jika pria di depan sana bukanlah Hartadi Bratadikara, dia berani sumpah tidak akan menatap senorak ini.

__ADS_1


“S—Saya baik-baik aja, Pak...” suara Velo memelan di akhir ucapan.


“Bener?” Gemilang menembak lagi.


Resahnya bukan main menyaksikan Hartadi mendaki anak tangga kolam renang dalam kondisi basah.


Velo otomatis menunduk agar diam-diam dapat memperhatikan Hartadi dengan bebas, tepat ketika pria itu keluar kolam renang hanya ditutupi celana speedo.


Dia gengsi ketahuan berlama-lama memandangi, karena Hartadi dapat menjadikan itu bahan sindiran ampuh bila mereka bertengkar.


Terkadang saat menyukai seseorang atau dihadapkan pada sesuatu yang mempengaruhi diri sedemikian rupa, Velo jarang sekali kalah dan berbalik pergi hanya disebabkan rasa gugup yang berlebihan.


Dia tidak akan beranjak ke mana pun. Sama halnya yang terjadi sekarang, dia duduk di sofanya semula walaupun grogi setengah mati. Sejak duduk di teras, udara rasanya memang sejuk, tapi mengapa detik ini dia malah kegerahan?


“Velo?”


”Vel?”


“Masih nyambung kok ini teleponnya...”


“Velo, kamu dengar saya?”


“Eu... Denger kok, Pak. Saya denger. Beneran ini kedengeran. Tadi agak tulalit aja,” kebut Velo memberikan reaksi atas panggilan Gemilang.


“Oh syukur deh, saya pikir kamu kenapa-kenapa.”


Lantas Velo menepuk pipinya sendiri, hampir terlena pada sosok yang belum menjadi miliknya itu. Berdiri di pinggir kolam renang tidak berkanopi, Hartadi mengumbar tubuh atletisnya tanpa ragu seraya menyugar rambut yang basah.



Kemudian bagaimana cara Hartadi menggapai segelas jus dan tampak menikmati cerahnya halaman di sayap kanan kediaman ini, dia jadi dibanjiri bayangan-bayangan masa depan jika mereka telah menikah.


Sungguh liar pikirannya bukan?


__ADS_1


__ADS_2