Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Keterbukaan Dan Kepercayaan


__ADS_3

All time favorite car. Begitu julukan Hartadi untuk mobil yang dijemput langsung sang sopir dari garasi rumah pribadinya. Hunian terpisah dengan Bratadikara senior, karena pria seusianya membutuhkan ruang tersendiri untuk menjalani kehidupan sehari-hari.


“Gimana, Mas?” Velo mengangkat wajahnya dari layar handphone dan mengangkat satu alisnya menuntut balasan, sinar geli terlihat jelas dari matanya. “Penting nggak sih orang ini tau aku siapa?”


Velo tidak tampak terpaksa mengangkat video call dari teman tidurnya. Hartadi yakin perempuan itu menikmati. Karena tak ada kegugupan samar dari suaranya. Amat percaya diri mengendalikan percakapan. Hartadi memberi pandangan mengolok pada Velo, menjadi tokoh antagonis memang menyenangkan.


Ada hal lain yang mengirim teka-teki dalam benak Hartadi. Enam tahun tanpa komunikasi seakan tidak membuat lubang besar antara dirinya dan Velo. Mereka terbilang kompak ketika menjadi atasan dan sekretaris, tapi apa yang sesungguhnya mereka andalkan sehingga tidak ada kecanggungan?


Sadar atau tidak, tangan kiri Velo masih menumpang diatas lututnya dan dia membiarkan saja berada di sana seolah mereka telah berkali-kali dalam situasi ini. Hartadi menggali kata yang tepat untuk mewakili, karena cinta belum menjadi landasan dalam komitmen mereka.


Keterbukaan dan kepercayaan, batin Hartadi.


“Mas Har ada di situ kan?! Mas! Mas! Aku mau ngomong dulu sama kamu! Ngapain cewek ini yang dikasih liat?!” teriak perempuan dari sambungan FaceTime tersebut, sangat tiba-tiba dan ikut mengagetkan Hartadi.


Velo memincing tidak suka kala perempuan yang semula mati kutu, berganti meraung-raung ingin diberi kesempatan berbicara langsung dengan Hartadi. “Mbak, jangan berisik! Aku yang kasih izin kamu boleh ngomong sama Mas Har atau nggak sama sekali. Kalian udah selesai kan? Terus kamu mau nuntut apa sekarang?”


“Kamu siapa sih? Sok tau banget urusan kami! Jangan haling-halangin ya! Kasih sekarang handphonenya ke Mas Har!” bentak perempuan itu semakin berani dan terlanjur marah. “Sepinter apa sih service kamu sampai Mas Har kasih privilege pegang handphonenya?!”


“Service—“ Velo menutup rapat mulutnya dengan tangan, karena refleksnya berhasil membuat tawa terpingkal-pingkal tak jadi menyembur keluar.


“Ya ampun… Mungut di mana sih Pak? Norak abis!” bisik Velo mencubit lutut Hartadi dari balik celana jeans yang pria itu pakai, menunjang tampilan santai dan cool.

__ADS_1


“Saya kan udah bilang di norak?” Hartadi mengambil handphone dari genggaman Velo, tidak mau membiarkan Elina meluapkan ketidak puasan atas hubungan mereka pada Velo.


Velo terdiam sesaat mengamati perpindahan iPhone dari tangannya ke tangan Hartadi, lalu dengan kebingungan nyata dia bertanya, “Ngapain, Pak?”


“Biar saya aja, Vel. Saya paling nggak suka lama-lama menghadapi orang yang langgar garis komitmen. Sekaligus mulai pusing denger dia teriak-teriak.” Hartadi menunduk menyamai kepala Velo dan membisikkan saran. “Kamu pakai headset aja. Omongan saya termasuk sadis kalua mutusin perempuan yang bandel.”


Velo mengerjap usai mendengar bisikan Hartadi, memang sebaiknya ia menggunakan headset dan memutar playlist nomor satunya dari Spotify—Mood Booster. “Oke, nanti colek bahu saya kalau udah selesai. Mau meremin mata sambil nunggu Pak Har.”


Hartadi menganggukkan kepala dan tangannya yang berkesempatan menjangkau lutut Velo, memberi tepukan halus yang persis dilakukan perempuan itu tadi. Lalu, ekspresi Hartadi benar-benar berubah pasa saat mengangkat handphone dan mempertemukan wajahnya dengan Elina.


***


Velo tersenyum kecut sembari mendekap boks makanan untuk di apartemen. “Saya bukan mau seksis Pak, tapi perempuan emang nggak bisa pergi tanpa ambil setengah isi lemari. Dari kecil Mamih juga ngajarin kalau travelling atau sekedar nginep, usahain bawa pakaian lebih untuk antisipasi. Kehujanan misalnya?”


“Berat koper kamu kayak bukan pakaian doang. Kamu masukin laptop sekalian ke sini?” hartadi merasakan bobot koper Lojel tersebut cukup berat, jika hanya terisi pakaian. “Koper ini maksa saya membayangkan situasi kamu travelling ke luar negeri. Mau koper segede apa yang akan kamu pakai?”


Seharusnya, Hartadi sedang diantar ke rumah pribadi dan segera membuat dirinya rileks kembali dengan berenang. Kurang baik apa Hartadi pada mantan sekretaris plus keponakannya tersebut?


Hartadi bersedia merepotkan diri mengantar Velo dan kopernya sampai ke pintu apartemen perempuan itu. Sialnya, boks makanan dalam dekapan Velo menjadi penyebab keberadaannya sekarang di lantai delapan.


Velo masih sempat-sempatnya meminta sopir mengantar ke Burgreens. Seingat Hartadi Burgreens seperti surga makanan sehat dengan kalori yang terhitung baik, Velo jelas saja menginginkan makanan dari tempat itu.

__ADS_1


Velo ikut beralasan jika tidak memiliki bahan makanan di kulkasnya, lalu malas sekali harus memesan melalui Gofood dan mengambilnya di lobi. Velo tetap anak pertama Mas Adi yang dimanjakan sejak kecil, piker Hartadi.


“Isi koper saya standar aja kok. Ada catokan, dua pasang sepatu, satu pasang sandal, terus ada iPad. Saya ninggalin laptop, karena nggak nyambil kerja. Ambil cuti sampai hari ini.” Velo hampir bersenandung, namun mulutnya terkunci ketika melihat ada tujuh sosok yang duduk di depan pintu apartemennya.


“Pak, Pak Har?” Velo tidak menoleh ke belakang di mana Hartadi mengikutinya, namun ia memanggil nama pria itu dengan cicitan kecil.


“Apa?” Hartadi mengernyit ketika Velo tiba-tiba berhenti, apalagi satu tangan Velo direntangkan ke samping dan menghalangi tubuhnya bergerak maju. “Ngapain kamu mendadak diam di sini?”


“Astaga, anak-anak ini…” Velo menghela napas diiringi rasa bersalah yang kurang ajar merambati hatinya dengan cepat. “Coba Bapak lihat siapa yang nungguin saya. Mereka ngapain coba duduk di depan pintu sambil makan pop mie segala?”


Hartadi menatap lurus ke depan melewati pucuk rambut Velo. Senyum tulus tersemat samar. Matanya tertumbuk ketujuh pemuda kembar yang sedang duduk bersila diatas lantai marmer dingin seraya menghabiskan Pop Mie.


Tanpa harus berpikir dua kali arti dari pemandangan tersebut, Hartadi dapat mengambil kesimpulan. Pemandangan yang sederhana, tetapi besar artinya untuk Velo. Ketujuh adik laki-laki, yang merupakan anak kandung Adiputra, sangat menyayangi kakak perempuan mereka dan tidak keberatan menunggu sang kakak pulang di emperan koridor. Hartadi tidak ragu lagi mengapa Velo memendam masalahnya dan Adiputra sendirian.


“Ck, males banget deh…” Velo memalingkan wajah sekilas untuk menyeka sudut matanya yang berair, tidak ingin keharuan dari tindakan adik-adiknya mengambil alih. “Samperin sekarang ya, Pak? Nanti mereka masuk angina kalo lama-lama duduk di situ. Untung mereka lagi pada makan Pop Mie, pinter banget sih mereka.”


“Saya gimana kamu,” singkat Hartadi tak ingin berkomentar banyak. “Mereka udah siap masuk angin kok. Kamu perhatiin aja Outfit-nya mereka.”


Biarpun posisi Hartadi di belakang Velo, Hartadi menduga perempuan itu baru saja mengendalikan diri dari tangis. Hartadi tidak menilai reaksi Velo berlebihan, karena pertimbangan terbesar Velo berlari kepadanya— menginginkan Hartadi menikahinya, disebabkan para pemuda itu.


Di sisi lain, Hartadi masih belum puas atas pencapaian sebagai satu-satunya yang mengetahui rahasia Adiputra. Pikirannya serumit kabel-kabel pada tiang listrik, karena tidak menemukan alasan pasti mengapa Adiputra menyimpan obsesi untuk Velo. Juga membuat anak tiri Adiputra itu harus terjebak dalam kasih sayang semu seorang Papah.

__ADS_1


__ADS_2