
Hartadi tidak melakukan pergerakan berarti sambil menunggu Velo selesai di kamar mandi. Yang dilakukannya sederhana saja, berfikir, berfikir dan berfikir. Velo tak memberi target kapan Hartadi harus menyetor keputusannya, dia sendiri yang menentukan hari ini sebagai batas akhir.
"Iisshhh dingin banget sih aernya..." gumam Velo sambil berjingkat keluar dari kamar mandi dan langsung memakai sandal hotel yang tipis.
Sembari berjalan ke tempat dimana Hartadi duduk, Velo tidak berhenti memaku pandangannya pada visual pria itu. Hartadi tengah mengepal satu tangannya di depan bibir dan matanya berfokus ke satu titik. Velo merasa ingatannya serasa diperbaharui, dia tahu pemandangan ini... Sikap tubuh Hartadi ketika merenungkan sesuatu.
"Hari ini nggak kerja?" Velo putuskan tidak melanjutkan sesi taster mereka dan duduk di seberang Hartadi. Sementara Hartadi menurunkan kepalan tangannya dari bibir seraya memalingkan wajah ke arah Velo.
"Kerja."
"Bukannya lebih baik Bapak pulang dan sempetin tidur? Masih ada beberapa jam untuk istirahat." Velo tidak harus bertanya, dia tau Hartadi belum tidur sama sekali. "Saya nggak maksa Bapak kasih kepastian secara SKS (Sistem Kebut semalam)."
"Kalau nanti tetap kasih jawaban 'tidak' dan minta kamu pulang aja ke Jakarta, what will you do then?" Hartadi mengangkat satu halisnya. "Kamu nggak rugi tadi udah kasih saya taster?" Velo pun menghela napas melihat Hartadi serius.
"Hah... A kiss is just a kiss. Saya nggak pengen mikir ruginya." Velo mengusap pelipisnya, agak ketar ketir sih memikirkan kemungkinan Hartadi menolaknya. "Yang saya lakukan di sini emang bisa dibilang berjudi. Saya nggak tau pulang dari Kalimantan nanti ngebawa hasil apa. Clueless."
"What will you do then?" Lagi Hartadi bertanya, karena Velo seolah melewatkan pertanyaannya yang satu itu. "Apa kamu punya opsi selain saya?"
Velo menggeleng singkat. "Saya nggak punya cadangan."
"Terus apa rencana kamu?" Hartadi menatap Velo dengan awas.
"Misalnya Bapak bersikeras menolak, berarti bukan Bapak yang saya cari. Saya harus mulai dari awal lagi untuk menemukan yang baru, kalau emang ada laki-laki lain yang mau perjuangan saya dan nggak takut resiko diancam," balas Velo tanpa melihat Hartadi, karena dia lebih sibuk menarik gorden di sampingnya agar menampilkan vitrase.
__ADS_1
'Berarti bukan Bapak yang saya cari''
Hartadi merasa kepalanya disirami air dingin dengan segelintir kata-kata Velo tersebut. Membalas Velo mrlalui ucapan pedasnya pun, dia rasa bukan waktu yang tepat. Hartadi tengok wajah Velo yang sedang menyamping, sikap hangatnya tadi sudah berganti menjadi Velo yang menarik diri.
Hartadi mengikuti kemana Velo terpaku. Langit gelap yang membayang dari luar vitrase memang indah. Hartadi jadi teringat langit Jakarta dari Apartment nya yang sudah lama tidak disinggahinya, sejak dia menjabat di Royal WCS Company Samarinda dan membiarkan asetnya itu tidak berpenghuni.
"Vel, saya kerja di Kalimantan dan kamu kerja di Jakarta. Ini yang belum kita bahas sejak awal. Kamu nggak merasa ada masalah kalau konsep pernikahan kita LDR?" Hartadi memancing Velo agar kembali pada obrolan yang sempat terputus.
"Kanapa Royal WCS Company Jakarta harus dipegang Pak Maestra? Direktur Utamanya kan Bapak? Saya nggak bisa ditipu dengan embel-embel Pimpinan Cabang." Velo masih ingin memandang ke luar. "Bapak rintis bertiga sama sahabat-sahabat Bapak, tapi mereka berdua stay di Jakarta kok."
"Cabang Samarinda ini anak saya. Dari masih kebun terbengkalai yang pemiliknya orang asli sini, saya beli dan bangun kantor-- apa harus orang lain yang pegang?" sengit Hartadi tidak senang, karena pengetahuan perempuan itu nol tentang perjuanganya berdiri di Samarinda.
"Kenapa harus Bapak sendiri yang pegang? bertahun-tahun capeknya Bapak makan sendiri." Velo menyempatkan diri melirik Hartadi. "Saya salut Bapak bangun Royal WCS Company Samarinda sampai sesukses sekarang, tapi yakin mau terus tinggal di tempat yang sejujurnya bukan dunia Bapak?" punggung Hartadi menegap disertai tatapan tidak bersahabat.
"Pak tahu nggak?" Velo tersenyum tatkala melihat wajahnya Hartadi. "Saya barusan ngetes, Pak Har."
Otak Hartadi berputar cepat mengingat percakapan mereka yang sempat berlangsung sengit. Dan tidak ada kejanggalan apapun, Hartadi menjatuhkan tatapannya pada Velo yang masih menyuguhkan senyuman.
Baiklah, sepertinya dia harus bertanya jika tidak ingin buntu sendirian. "Kamu ngetes saya?" ucapnya mengernyitkan dahi.
"Ide pernikahan datengnya dari saya. Ditambah lagi cerita tentang Papih, pasti nyisain beban buat Bapak. Saya punya feeling Bapak ujung-ujungnya setuju jadi suami saya. Dan kalau pernikahan kita bener-bener terjadi, saya tau kata-kata tadi pasti keluar lebih banyak lagi." Velo mengangkat bahu seperti tak ada beban. "As a wife, saya bisa lebih sakit hati dari sekarang."
Hartadi menahan agar harga dirinya tetap terjaga. Hari ini tidak terhitung berapa banyak kalimat kotor yang Hartadi keluarkan, karena kekesalannya pada Adiputra. Sekarang di depan Velo yang nampak santai, Hartadi ingin kembali memaki, tidak untuk orang lain tapi diperuntukan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Berubah jadi tolol Har? Ejek Hartadi dalam hati.
"Vel.."
"Dengerin dulu ih, saya belum selesai ngomong." ucap Velo merengut pada saat Hartadi akan mengambil alih pembicaraan, dia kembali bersuara selang Hartadi menghela napas tanda mengalah. "Saya tau kok Pak, saya ini banyak maunya. Iya kan?"
Hartadi enggan membalas. lebih baik ia dengarkan sampai habis apa yang ingin Velo sampaikan padanya. Sementara bagian dirinya yang lain berusaha mengabaikan rasa tak mengenakan yang terus bercokol, karena Hartadi sadar ia telah melukai Velo.
Velo menyandarkan dirinya dengan nyaman di sofanya. "Saya nggak mau Bapak buru-buru ambil keputusan, salah satunya karena kalimat-kalimat tadi. Suami istri nggak mungkin lepas dari konfik, Pak. Kalau Bapak belum bisa niat dan ikhlas nikahin saya, kalimat-kalimat tadi bisa terus keulang setiap kali kita konflik.
"Pernikahan yang baik atas dasar kemauan Bapak dan saya, bukan berat sebelah meskipun saya yang pertama kali minta. Hati saya nyeri loh Pak, waktu Bapak nyinggung keinginan nikah asalnya dari saya doang dan emang harusnya saya yang ngalah." Velo mengambil gelas kopinya dan kecewa saat dirasa vanila latte nya tidak panas lagi. "Kadang hati saya kayak mochi, lembek banget."
Kepintaran Hartadi bersilat lidah tidak berfungsi sama sekali ketika berhadapan dengan Velo yang seperti ini. Velo mengungkapkan perasaannya melalui kata-katanya yang halus. Tidak menunjukkan tanda-tanda sakit hati, namun itu lebih menusuk bagi Hartadi.
Sesungguhnya Hartadi sudah menyimpan keputuskan bagi Velo, ia akan menikahi perempuan itu. Namun pemaparan Velo membuat Hartadi harus menata beberapa tiang kehidupannya yang sudah lama diset dengan kuat. Menurunkan ego bukan perkara gampang, tetapi Hartadi memggenggam niat.
Hari ini agendanya tentu akan menumpuk. Dimulai dari mengabari Maestra dan Haris, sahabat-sahabatnya sejak kuliah, untuk meminta persetujan mereka kembali mengisi satu ruang kosong di Royal WCS Company Jakarta. Biarpun Hartadi sudah menduga mereka akan menyambut baik, bahkan bersorak-sorak heboh.
"Kapan rencana balik le Jakarta?" Hartadi hendak berdiri dari kursinya, pura-pura tudak menyadari wajah terkejut Velo karena pergerakannya yang semula diam mematung.
"Ke Jakarta?" Velo mengerjap beberap kali sembari beradu pandang dengan Hartadi yang kini memainkan kunci mobil di tangan pria itu. "Lusa Pak."
Hartadi mengangguk sekilas. Beban yang tidak disadarinya menghimpit dada, rasanya mulai terangkat. Benar ucapan Velo, dia harus ikhlas jika memang bersedia menikahi perempuan itu. Meskipun sempat tidak berhati-hati sebab memikirkan inti sebuah pernikahan saja, saat ini Hartadi sudah mengerti bahwa perasaan Velo pun akan menjadi tanggung jawabnya.
__ADS_1