
“Kamu udah punya pacar?” secara mengejutkan, Gemilang mencetak tanya berbau privasi saat makan dihidangkan.
“Pacar?” jawabnya kembali bertanya sambil menatap Gemilang.
“Saya perhatiin kamu ngelirik handphone terus. Mungkin aja kamu lagi nunggu kabar dari pacar. Apalagi ini kan jam makan siang, waktunya kabar-kabaran dengan bebas.” Jelas Gemilang mengutarakan pemikiran logisnya.
Gemilang tidak tanpa alasan. Sejak duduk di kursi mereka sekarang ini, Velo sering menengok layar handphone nya yang tergeletak di atas meja. Pada detik berikutnya, perempuan itu menjauh sambil bergidik entah karena apa. Gemilang berfikir kalau Velo sedang bertengkar dengan kekasihnya, itu mungkin penyebab Velo enggan langsung memeriksa handphonenya.
Tandanya Velo harus berhati-hati bersikap di depan Gemilang.
“Saya emang lagi nunggu chat di bales, Pak. Tapi nggak dari pacar saya.”
Jangan mengira Velo akan lugas mengatakan iya, karena kurang sesuai melabeli diri memiliki kekasih. Pasalnya, hubungan dia dan Hartadi hanya sebuah misi sampai pernikahan. Jika diingat lagi, memang tidak ada adegan tembak-menembak isi hati yang menjadikan mereka pantas disebut berpacaran.
“Maksudnya kamu punya pacar, bukan chat dari pacar yang kamu tungguin.” Tanya Gemilang diirigi kerutan dahi.
“Saya nggak punya pacar, itu yang Pak Gemilang pengen tau kan?” Ucap Velo polos, jika berharap Velo tidak mencium niat asli Gemilang, faktanya dia bukanlah perempuan lugu yang tidak memahami cara kerja pria menggiring percakapan untuk sesuatu yang ingin mereka ketahui.
“Hm, masih sendiri...” gumam Gemilang.
Betapa terus terangnya perempuan itu, Gemilang ingin mengeluarkan kekehan tapi akhirnya dia hanya bisa tersenyum. Beberapa kali Gemilang menemukan tingkah unik Velo, sangat lucu dan menarik untuk diamati. Jabatan tinggi penuh resiko yang diembannya tidak lama lagi, bisa saja bertransformasi menjadi arena yang lebih menyenangkan berkat sekretarisnya itu.
“Saya makan ya, Pak.” Velo meminta ijin untuk melahap makan siangnya.
“Silahkan, Vel. Makanan disini jarang ngecewain, pasti cocok di lidah kamu.”
“Hari ini Bapak yang traktir kan?” ucap Velo berusaha mencairkan suasana, karena Velo menemukan usaha Gemilang yang mau repot-repot berbasa-basi. “Saya mau mastiin aja sebelum suapan pertama. Nanti saya kira ditraktir Bapak, taunya ditahan orang restoran karena ga bayar bill nya.”
Gemilang tanpa bisa menahannya lagi, langsung tertawa lepas lalu tak lama dia berdehem. “Please, let me pay.”
__ADS_1
“Sure, I’d like to.” Ucap Velo dengan senyum mengembang.
Layaknya magnet yang berbeda kutub, matanya justru tidak mau menjauh dari Hartadi. Tak lama ada punggung pria lain yang kini mengaburkan sosok Hartadi dari pandangan Velo, sepertinya Maestra menjadi teman makan siang pria itu.
Gemilang mengusap sudut bibir dengan tissue saat menyadari kemana atensi Velo terpusat.
Kepalanya menengok ke belakang, penasaran apa yang diperhatikan oleh perempuan itu sambil menyipit.
“Kamu kenal sama orang yang tadi ngambil meja?” Tanya Gemilang setelah mengembalikan tatapannya lagi ke arah Velo.
“Kebetulan kenal, Pak.” Jawab Velo sambil mengangguk.
“Kenapa nggak tegur-teguran?” cukup aneh memang bagi Gemilang melihat dua orang saling kenal tapi nggak bertegur sapa, kecuali kalau kedua orang itu ada sejarah hubungan yang kurang baik.
Sementara kedua halis Velo menyatu heran. “Ada kewajiban menegur orang yang kita kenal kalau nggak sengaja ketemu?”
“Ya… Tergantung satu sama lain. Kalo merasa oke-oke aja, mungkin kalian bakal bertegur sapa. Kalau nggak, menghindar atau pura-pura nggak kenal. Bener kan?”
Gemilang hanya mengangguk mengerti, dan tidak ingin melanjutkan perbincangan yang membuat Velo jadi tidak nyaman. “Anyway, ada yang mau take away untuk di kantor?”
“Nggak ada, Pak. Saya jarang kerja sambil ngemil.” Jawab Velo setelah selesai makan menyimpan sumpitnya rapih. “Mau kembali ke kantor sekarang?”
Selang melempar tanya, Velo dikejutkan dengan guyuran air hujan yang menciptakan percikan air pada kaca di sisinya. Begitu deras menghantam bebatuan di halaman restoran itu. Dengung risau pengunjung restoran memenuhi telinga Velo. Menyesap machatea nya, dia tidak mau ikut terseret atmosfer di sekitarnya tersebut.
Menarik napas panjang sambil memandang hujan, Velo berpikir dengan mayoritas pengunjung yang merupakan pekerja kantoran, tidak mungkin semua bersedia memaksakan diri berlari-lari. Imbasnya, hujan membuat basah kepala hingga sepatu. Apalagi kondisi parkiran yang dipadati motor dan mobil, yang satu harus menunggu yang lain agar dapat mengeluarkan kendaraan mereka.
“Pak Gemilang…” ucap Velo sambil mengingat dimana posisi mobil mereka di parkiran. “Mmhmm mobil Bapak diparkir di depan deket pintu masuk kan?”
“Iya… Mungkin dibelakang saya ada mobil lain. Sebentar, saya lapor dulu ke pegawai sini, biar mereka kasih tau pemilik mobil untuk mundur.” Ucap Gemilang lalu beranjak ke kasir untuk membayar makanan mereka, kemudian berlalu ke halaman parkir. “Kamu tunggu di sini aja, nanti saya telepon kalau sudah selesai.”
__ADS_1
“Loh, saya nggak ikut aja, Pak?”
“Hujan, Vel. Pakaian kamu warnanya terang. Nanti kalau kena cipratan air hujan gimana mau balik lagi ke kantor?” Velo hanya terdiam menyayangkan karena pakaian yang dia pakai hari ini tidak ramah kena air hujan. Namun dia juga tidak bisa membiarkan atasannya susah payah mengeluarkan mobil pada saat hujan. Sementara Velo yang hanya sekretaris menunggu di bawah perlindungan atap seakan menempatkan Gemilang sebagai sopir.
Sementara Gemilang sendiri hanya tersenyum melihat Velo yang seperti sedang bertengkar dengan pikirannya. “Beneran saya nggak apa-apa, Vel.” Gemilang menepuk bahu Velo untuk meyakinkan perempuan itu kalau dia tidak keberatan. Lalu dia terdiam sejenak sambil berfikir. “Vel, saya lupa minta nomor kamu.”
“Ya ampun, Pak. Saya belum ngasih nomor saya ya?” ucap Velo buru-buru menulis nomornya di handphone milik Gemilang.
Tak lama dering panggilan masuk dari Gemilang di handphonenya. “Tolong simpan nomor telepon saya ya, Vel.”
“Pasti, Pak.” Jawab Velo tegas.
Saat sosok Gemilang sudah menghilang dari pandangan Velo, dia pun buru-buru memasukan nomor Gemilang pada kontaknya, lalu tak sengaja dia melihat notifikasi yang masuk dari nomor yang tidak dikenalnya yang membuat Velo terhenyak. Dalam diam Velo was-was sambil menggigit bibirnya dengan mata yang mengamati sekitar, tapi rasanya tidak ada yang membuntutinya.
+628954268526
Dibiarkan bebas, malah semakin bebas. Apa sebaiknya dibuat tidak bisa melakukan apa-apa lagi?
“Papih…” ucap Velo menghela napas.
Tak lama dia hanya tersenyum hambar, karena sebaris pesan itu tidak akan membuat Velo tumbang. Dengan punggung menegap tegar, Velo kesampingkan Perasaan gelisah yang sedang meminta perhatiannya. Pesan berisi ancaman tersebut tidak akan Velo hapus. Siapa tau sewaktu-waktu dapat di pergunakan.
Sungguh, hatinya panas mendapat pesan ancaman dari Adiputra. Ingin memuntahkan kemarahannya dengan tangis yang mungkin tidak terelakan di depan keluarga, namun pupus saat wajah Mamih dan ketujuh adik kembarnya merajai benak Velo. Jiwanya kini ingin melakukan, tapi seperti yang sudah-sudah, dia tidak bisa.
Tangannya mengarah pada kening, memijat bagian itu pelan sambil berdecak. Ayah tirinya telah menyeret ancaman yang mengarah pada fisik, dan Velo benar-benar tak habis pikir.
Dering telepon memaksa Velo melepas tangannya dari kening. Masih dalam kondisi perasaan yang tidak menentu, Velo menerima telepon dari Gemilang tanpa menunggunya bersuara.
__ADS_1
“Udah ya, Pak?”
“Iya, mobil saya baru bisa keluar. Orangnya tadi agak lelet di minta pindahin mobilnya. Kamu nggak usah khawatir kalau dateng ke kantor telat. Kan sama saya ini.” Ucap gemilang panjang lebar diiringi suara samar air hujan yang berasal dari atap mobil.