Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Saya Boleh Peluk?


__ADS_3

Arogansinya Hartadi didasari oleh pengalamannya yang jarang sekali memainkan emosi dalam berkomitmen. Beberapa kali Hartadi menjalin hubungan, sayangnya hubungan Hartadi dan sang kekasih selalu tak cukup kuat untuk beranjak maju.


Sejauh ini komitmen Hartadi dengan perempuan didominasi oleh kebutuhan **** dan tak mencampur adukan perasaan sentimental. Dangkal dan klise sekali pembelaan Hartadi sebagai pria lajang dan bebas, namun Hartadi dan teman tidurnya sudah memahami konsep hubungan mereka sebelum bertindak jauh.


Sekali lagi ucapan Velo tidak meleset, Hartadi memang sangat berhati-hati menentukan teman tidur agar dia tidak terjebak dua garis merah. Hartadi tidak berminat mengalami kerugian fatal tersebut, jika ia tidak sepenuh hati menginginkannya. Karena itu, Hartadi tidak pernah menuangkan harapan agar teman tidurnya menyadari batasan mereka.


Pernikahan menjadi kolam yang dipenuhi misteri dengan kedalaman tak tersentuh, setidaknya itu pandandangan Hartadi mengenai komitmen yang tidak lama lagi diselaminya dengan Velo. Logika sangat menguasai setiap tindakan dan langkah hidup Hartadi. Dirinya sendiri pun tidak menyadari jika kata-kata yang keluar dari kesimpulan otaknya bisa menyakiti Velo.


"Kamu udah beli tiketnya?" Velo hanya menggeleng ke arah Hartadi. Mulutnya terkunci sesaat, karena tidak tau mengapa dia yakin Velo asal sebut saja tanggal kepulangannya ke Jakarta.


Hartadi meninggalkan kursinya untuk mendekati Velo yang sedang menempatkan gelas vanilla lattenya ke atas meja. Velo tampak bersiap mengangkat kepala saat Hartadi sampai di sampingnya. Memberi Hartadi kesempatan mengamati wajah Velo, jujur dia pantas dinobatkan menjadi bajingan yang beruntung.


Selama menjabat sekretarisnya, Hartadi tidak memandang Velo untuk dapat di perhitungkan menjadi pasangan. Didukung latar belakang kekeluargaan dan perbedaan usia yang jauh, lupakan saja kecantikan wajah dan kepribadian menarik Velo. Saat ini Hartadi seolah tak lagi buta, jadi perempuan muda selevel Velo ini yang alan menjadi istrinya?


"Biar saya yang nyiapin tiket ke Jakarta. Kita pulang bareng-bareng." Hartadi mengabaikan Velo yang membatu. "Hari ini saya ngerapatin dulu pemegang tanggung jawab Royal WCS Company Samarinda. Malemnya baru saya beresin keperluan ke Jakarta, kamu mau bantuin saya?"


"Yang bener?" Velo menyipitkan mata, dia tidak mau melambungkan harapan namun telinganya masih mendengar jelas setiap kata dari Hartadi. "Saya nggak mau nikah hanya sekedar status. Emangnya Bapak udah yakin? Tadi aja udah emosional banget ngebahas harus pindah ke Jakarta."


Hartadi mengingatkan dirinya untuk bersabar, tapi ketegasan tak berarti hilang dalam suaranya. "Saya nggak pernah nggak serius, Velo. Sepulang dari kantor tadi sore, saya mikirin kamu dan keputusan saya sendiri sampai sekarang."

__ADS_1


"Kamu sempet sebut satu tahun sebagai garansi kan? Saya anggap kamu nggak pernah mencetuskan itu. Kita jalani pernikahan ini dengan serius, seperti keinginan kamu dan juga keinginan saya sendiri. Bukan bertugas ngejagain kamu dari Mas Adi aja," sambung Hartadi menegaskan jika pernikahan mereka nanti bukan sekedar pertolongannya untuk masalah Velo.


Dengan gerakan lambat, Velo berdiri dari duduknya agar menghadap Hartadi secara leluasa. Lehernya harus sedikit dijenjangkan tiap kali ingin menatap Hartadi. "Saya boleh nggak peluk Bapak?" tanya Velo lugas, dia memang memiliki penyakit bernama nekat.


"Pelukan untuk apa?" Hartadi mengulur waktu sambil diam-diam memasukan kembali kunci mobilnya ke dalam saku celananya. Firasatnya bilang dia harus menunggu lebih lama lagi sebelum pulang.


"Harus ya, ada alasannya?" Velo memamerkan raut wajah jengah ketika ditanyai begitu. Berbanding seratus persen atas kondisi hatinya yang tidak karuan, akibat ungkapan keseriusan Hartadi.


"Setiap tindakan pasti ada alasan," ucap Hartadi tenang, mengamati perubahan wajah Velo yang terkadang cukup ekspresif. "Jadi apa alasan kamu minta peluk-peluk? Ada yang kamu minta lgi, Vel?"


"Saya bukan anak kecil yang ngerayu Papahnya pakai peluk-peluk." Velo menyimpan senyum kecut menyadari Hartadi yang dia kenal memang semenyebalkan ini. Sempat bertukar ciuman sepertinya hampir mengaburkan pemahaman Velo mengenai Hartadi.


"Main peluk-peluk aja kamu," komentar Hartadi mendapat pelukan dari Velo yang tidak begitu kuat, tetapi dilakukan dengan lembut dan hati-hati. "Mau kamu apa sih, Vel?"


"Saya cuma mau terima kasih aja kok," Velo menarik napas, tidak ingin terjebak dalam keharuan yang membuatnya dapat menangis. "Makasih ya, Bapak mau melangkah sejauh ini, kalau Bapak nggak mau, saya harus lebih lama nerima perhatian Papih. Saya nggak betah dan ngerasa makin bersalah sama Mamih, Pak."


Hartadi berdecak samar sambil memutar pandangan penjuru kamar. Sepertinya dia harus menggerakkan salah satu anggota tubuhnya untuk menghindari pegal. Tangan Hartadi yang semula berada di sisi tubuhnya, lantas terangkat mendekati puncak kepala Velo dan mengusapnya disana.


Sejujurnya, pegal hanya menjadi tameng Hartadi untuk mendapat pembemaran atas tindakan sok perhatiannya sekarang. Bagaimana menjelaskan ini? Ketulusan dan getir dari suara Velo mengambil alih keinginannya untuk tak melakukan apapun selama perempuan itu masih memeluknya.

__ADS_1


Sentuhan Hartadi pada rambut Velo begitu kaku. Velo ingin meringis sedih menyadari Hartadi yang katanya memiliki 'selusin' teman tidur tersebut, masih asing melakukan aksi simpatik yang sederhana. Gerak usapannya saja seperti tangan yang sedang membersihkan beling, was-was dan ala kadarnya.


Sepanjang pengalamannya, Velo dipertemukan dan merajut kasih dengan pria humble serta penuh perhatian, minusnya pengecut untuk memperjuangkan. Tak mengapa Velo dihadiahi pria cuek dan tidak romantis seperti Hartadi Lewandowski Bratadikara, namun memiliki nyali.


Menyudahi gelut pikirannya, Velo mengingat kenangan yang terdahulu dengar binar gemas. "Saya udah fight setiap pacaran, Pak. Pacar-pacar saya yang nggak berani melakukan sebaliknya, nyebelin kan? Di tambah papih punya uang dan koneksi yang selalu bisa cari kekurangan mereka sebagai bahan ancaman."


"Baguslah kamu nggak nikah sama salah satu dari mereka. Baru digertak sama Mas Adi aja udah ciut. Gimana mau jadi satpam kamu seumur hidup? Nggak ada prospek masa depannya laki-laki kayak begitu. Kecepetan nyerah dan anti berusaha," kritis Hartadi serius.


"Oh... jadi bagus kalau saya nggak nikah sama mereka?" ucap Velo sepotong dari kalimat Hartadi, kali ini bukan mati-matian menahan tangus tetapi senyuman. "Bapak menanggapi pakai cara apa kalau Papih ngancam? Saya sih udah bisa ngebayangin kemarahan Papih setelah tau rencana saya dan Bapak mau nikah."


"Gampang kalau ngurus ancaman Mas Adi," Hartadi menjatuhkan pandangannya pada Velo yang sedang menautkan alis seletika melonggarkan pelukannya. "Dari kecil saya dan Papih kamu nggak pernah akur. Saling tonjok dan tendang ibarat cemilan sehari-hari. Nggak usah ribet mikirin Mas Adi ngancam saya, tinggal bales."


"Nah ini nih..." dengan terburu-buru Velo mengambil langkah mundur, lalu dia menggelengkan dengan tatapan takjub yang dilebih-lebihkan. "Pak Har emang paling TOP. Nggak ada takut-takutnya nerobos badai, kapan lagi saya puji kan? Pacar terakhir saya si Dany , langsung keringet dingin waktu saya wanti-wanti punya papih proyektif."


"Ck... Paling TOP apanya?" Hartadi menghadiahi Velo jepitan di hidungnya. "Saya kasih sinyal nolak aja bilangnya 'berarti bukan Bapak yang saya cari'. Giliran diturutin kemauannya baru bilang TOP. Jago mulut kamu, Vel."


"Punya taktik bernegosiasi itu penting, iya kan? Saya juga nggak ngumbar kebohongan dari omongan saya, apalagi soal nggak punya cadangan laki-laki lain. Target saya cuma Bapak..." bisik Velo di akhir kalimat selagi menyentuh ringan lengan Hartadi.


Melihat gelagat Velo yang menggodanya, Hartadi menyematkan senyuman datar lalu dia tahan dagu perempuan itu agar mendongak ke arahnya. "Sebegitu gembiranya mau jadi istri saya? Mulai berani ngegodain saya terus daritadi. Saya makan beneran baru tau rasa kamu."

__ADS_1


"Bukan saya aja kok. Bapak juga mulai berani mau makan saya. Apa ketagihan sama taster?" ucap Velo tak kalah sengit dengan sinisnya. "Oh iya, jangan lupa pecat semua temen-temen tidur Bapak. Bilang ke mereka sebentar lagi Bapak punya pawang. Mulai bersih-bersihlah mulai sekarang ."


__ADS_2