Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Menyingkap Kebenaran - Violent Zone (4)


__ADS_3


BRAK BRAK BRAK!


Kaitlyn menggedor pintu kamar Leon dan Chelsea dengan keras. Pagi ini dia sudah memakai topeng rubah dan berperan sebagai Foxy.


"Ck, jangan-jangan mereka berdua masih tidur?" gerutunya karena pintu tak kunjung dibuka.


Selang beberapa detik kemudian pintu kamar itu terbuka, tampak Leon dan Chelsea yang sudah berpakaian formal dan tak ketinggalan topeng emas mereka.


"Sudah aku duga kalau itu kau, caramu mengetuk pintu sangat tidak sopan," ucap Leon dengan nada dinginnya.


"Oh, baguslah kalau kalian memang sudah siap. Ayo ikuti aku, pagi sampai siang nanti agenda kita adalah berkeliling kapal pesiar!"


"Baiklah, tunjukkan jalannya pada kami!" jawab Chelsea dengan antusias. Dia berpikir jika berkeliling kapal akan memberikan keuntungan padanya termasuk Leon. Dengan mengetahui segala sisi kapal ini, mereka akan mempunyai peluang lebih besar dan dapat menentukan jalur pelarian jika keadaan mendesak nanti tiba.


Tempat yang pertama kali Foxy kunjungi adalah sebuah restoran yang ada di dek 10. Sebenarnya terdapat banyak restoran yang tersebar di seluruh kapal ini, dan semuanya adalah restoran mewah dengan chef yang profesional.


Restoran di Violent Cruise bisa dibilang akan sangat memanjakan lidah pada tamu VIP. Karena di restoran ini menyediakan menu kuliner khas antar negara dan dari olahan seluruh penjuru dunia. Terlebih lagi dengan pelayanan superior yang berstandar internasional, tentunya dapat memberikan kepuasan tersendiri kepada siapa saja yang makan di restoran Violent Cruise ini.


Setelah semua menu yang dipesan telah tersaji di meja makan, Foxy memberikan instruksi lewat lambaian tangan. Beberapa pelayan bertopeng hitam itu mengerti, mereka langsung pergi dan hanya meninggalkan ketiga orang itu saja.


"Apa benar hanya kita saja yang makan di restoran ini?" tanya Chelsea yang ragu ketika hendak melepaskan topengnya. Pikirnya, restoran seluas ini hanya digunakan untuk 3 orang saja, ini rasanya seperti menyewa seluruh restoran untuk pribadi.


"Iya, memang untuk saat ini hanya kita yang menempati dek 10. Tamu VIP lainnya berada di dek lain. Untuk sekarang belum ada separuhnya, tapi mulai sore nanti para tamu akan mulai berdatangan," jawab Kaitlyn yang kemudian melepas topengnya dengan leluasa.


"Kenapa begitu? Kenapa mereka tidak naik ke kapal kemarin malam sekalian?" tanya Leon seraya mengikuti Kaitlyn melepaskan topeng.


"Karena mulai nanti malam acara Violent Zone yang sebenarnya baru akan dimulai. Para tamu yang datang lebih awal, mereka juga berniat menikmati liburan di kapal pesiar dulu sebelum melihat pertunjukan," jelas Kaitlyn sembari memotong daging steak miliknya.


Leon dan Chelsea saling memandang satu sama lain. Pada akhirnya saat-saat yang mereka tunggu-tunggu sebentar lagi akan tiba. Chelsea lantas melepas topengnya, ikut menyantap sarapan bersama.


Sarapan pagi ini tak berlangsung lama. Kaitlyn maupun Leon dan Chelsea tak mau membuang-buang waktu. Setelah sarapan berakhir, mereka bertiga kembali memakai topeng dan melanjutkan tur perjalanan mengelilingi kapal Violent Cruise.


Kaitlyn yang berperan sebagai Foxy menjelaskan satu per satu tempat dengan detail. Dan tempat selanjutnya yang mereka datangi adalah pusat hiburan. Berbagai macam pertunjukan berkualitas disuguhkan, mulai dari pertunjukan film bioskop ala sinematik, area minum seperti bar, konser musik, lantai dansa, pertunjukan komedi, hingga atraksi sirkus semuanya tersedia lengkap di Violent Cruise.


Setelah tempat hiburan, Foxy memandu Chelsea dan Leon menuju ke pusat tempat relaksasi. Jasa seperti spa, manicure, salon dan pijat tubuh disediakan dan dilayani oleh beauty therapist profesional. Fasilitas ini sangat cocok untuk memanjakan sekaligus merawat tubuh.


Dan tempat inilah yang paling Kaitlyn suka. Dia sempat menawarkan kepada Chelsea dan Leon untuk berlama-lama di sini dan melakukan perawatan, supaya dia sendiri juga bisa melakukannya. Namun, Leon dan Chelsea sama-sama menolak tawaran itu mentah-mentah. Pada akhirnya Kaitlyn melanjutkan tur dengan sedikit perasaan kecewa.


Meninggalkan area itu, Foxy beralih menuju ke tempat pusat perbelanjaan. Yap, di dalam Violent Cruise juga terdapat Mall supaya para tamu VIP bisa berpelesir dan berbelanja kebutuhan mereka. Ada banyak toko yang menawarkan suvenir yang khas, memiliki keunikan tersendiri seperti barang kuno dengan harga selangit. Meskipun dinamakan suvenir, mata Chelsea dan Leon tidak bisa tertipu. Karena mereka berdua tahu, jika barang-barang yang merupakan suvenir ini semuanya adalah barang-barang artistik yang hanya dijumpai di pasar gelap.


Selain suvenir, pusat perbelanjaan ini juga menyediakan barang-barang berkualitas orisinil. Seperti halnya tas, baju, minyak wangi, dan barang-barang lain yang berasal dari merek ternama. Sudah tidak mengherankan lagi, inilah dunia gelap kekuasaan para gangster. Melihat barang-barang semacam itu, tentu saja akan mampu memikat para tamu VIP untuk menghamburkan uang mereka di sini.


Sayang sekali Chelsea maupun Leon tak berminat untuk melihat-lihat barang-barang itu lebih jauh. Karena mereka berdua tahu jelas akan tujuan utama mereka kemari. Jadi, pada dasarnya mereka tak tertarik, sekaligus memang tak membawa cukup uang untuk berfoya-foya berbelanja di mall Violent Cruise ini.


Tempat terakhir yang ingin Foxy tunjukkan di tur ini adalah pusat fasilitas kebugaran dan olahraga. Di dalam kapal ini dilengkapi dengan bermacam-macam fasilitas kebugaran, antara lain jogging track, lapangan untuk bermain, gym bahkan kolam renang juga tersedia.


"Sudah cukup untuk tur kita hari ini!" ucap Foxy yang saat ini telah mengajak Leon dan Chelsea untuk berada di dekat kolam renang besar yang terdapat di dek paling atas.


"Sudah? Tapi aku rasa ini masih belum semuanya. Semua yang kau tunjukkan pada kami barusan cuma fasilitas-fasilitas yang juga terdapat di kapal pesiar yang lain. Kau belum menunjukkan pada kami di mana tempat spesifik Violent Zone diadakan," protes Chelsea dengan tatapan sinis dari balik topengnya.

__ADS_1


"Memang belum saatnya aku menunjukkan tempat yang menjadi simbol itu pada kalian. Bukan karena aku malas atau apa, hanya saja tempat itu masih belum sepenuhnya siap. Ada beberapa yang harus diperiksa dan diperbaiki demi menjamin acara nanti malam berjalan lancar. Tenang saja, aku akan tetap menunjukkan itu pada kalian, tetapi nanti malam."


"Kita berpisah di sini, untuk hari ini sudah cukup aku menemani kalian berkeliling. Kalian bebas melakukan apa saja yang kalian mau selama itu bukan hal yang melanggar aturan. Jika kalian ingin tahu soal Violent Zone, jam 9 malam tepat nanti datanglah ke sini! Aku akan menunggu kalian saat itu! Bersenang-senanglah selagi kalian bisa. Sampai jumpa~"


Foxy langsung pergi dan melambaikan tangannya setelah mengucapkan itu semua. Seakan sudah bersikap masa bodoh dan membiarkan Chelsea dan Leon begitu saja.


Sedangkan Chelsea, dia menghela napas panjang sambil menatap ke arah lautan yang biru itu. "Hahhh ... pada akhirnya nanti malam aku akan mengetahui segalanya. Penantian panjang ini akan segera berakhir."


Leon tersenyum, bergeser selangkah lebih dekat lalu merangkul tubuh Chelsea dengan sebelah tangan. "Iya, semoga saja kau bisa mendapatkan keadilan untuk mendiang kakakmu."


"Terima kasih Leon. Emm ... semoga saja itu benar akan terjadi. Karena kau sudah banyak membantuku, mungkin arwah kakakku akan merestui hubungan kita!" ucap Chelsea dengan tawa kecil.


"Haha, jangan mengada-ada seperti itu ...." Leon memalingkan wajahnya. Dia tak mau Chelsea melihat wajahnya yang tersipu malu. Dia tidak sadar kalau dia melakukan hal bodoh yang percuma. Karena wajahnya sudah tertutup oleh topeng, meskipun dia tidak berpaling, Chelsea juga tidak akan menyadari ekspresinya.


"Ehmm ... ini sudah tengah hari, ngomong-ngomong apa kau mau makan siang bersama?" tanya Leon yang bermaksud mengubah topik pembicaraan.


"Nanti saja, aku belum lapar. Sementara aku ingin di sini dulu dan melihat pemandangan laut," jawab Chelsea.


"Baiklah." Leon merespons dengan senyuman, dia juga melihat ke arah yang sama seperti Chelsea memandang. Sungguh panorama alam yang indah, permukaan air lautan biru yang luas itu tampak bercahaya karena terik matahari siang ini.


Andai saja mereka berdua berada di sini karena liburan, mereka akan bisa menikmati keindahan alam ini tanpa beban pikiran. Tetapi sayangnya, mereka ada di sini karena demi menyingkap kebenaran.  Setidaknya dengan begini mereka bisa merasakan ketenangan, walaupun hanya sesaat.


Suasana yang menenangkan ini tak berlangsung lama, hingga tiba-tiba terdengar suara baling-baling helikopter yang mendekat. Chelsea dan Leon menaruh perhatian mereka sepenuhnya pada helikopter tersebut. Ketika helikopter sudah mendarat di helipad yang ada di atas kapal, baling-baling berhenti berputar namun beberapa mesin masih tidak dimatikan.


Ada beberapa awak kapal bertopeng hitam yang menyambut kedatangan helikopter itu. Lalu tampak 4 orang yang memakai topeng putih turun dari helikopter. Setelah mereka sedikit menepi, baling-baling helikopter kembali berputar dan terbang.


"Sepertinya Kaitlyn salah, ini belum sore tapi para tamu VIP sudah mulai berdatangan," ucap Chelsea dengan tatapan yang terus memandang para tamu VIP yang baru datang.


"Entah, mungkin saja tamu-tamu itu hanya ingin datang lebih awal dari yang lain," sahut Leon.


Mereka berdua pun berjalan pergi menuju ke area restoran terdekat. Karena topeng emas mereka yang berbeda, mereka berdua sempat membuat perhatian tamu VIP lain tertuju kepada mereka. Namun, para awak kapal bertopeng hitam sudah pandai menjawab dan menjelaskan jika topeng emas itu tak begitu spesial jika dibandingkan dengan topeng putih.


***


Siang hari dengan cepat berlalu, waktu perjanjian Kaitlyn dengan Leon dan Chelsea telah tiba. Sesuai yang dia ucapkan, dia tiba di tempat pertemuan yang dijanjikan tepat jam 9 malam. Sedangkan Chelsea dan Leon, mereka datang 10 menit lebih awal.


"Kami sudah siap, cepat tunjukan pada kami jalannya!" pinta Chelsea dengan tidak sabar.


Foxy menyeringai di balik topeng dan berkata, "Baiklah, silakan ikuti aku!"


Kaitlyn lantas memandu Chelsea dan Leon ke sebuah tempat yang letaknya ada di tengah. Tempat yang begitu luas, banyak kursi yang ditata rapi sedemikian rupa. Posisi kursi itu melingkari sebuah arena pertarungan yang dibatasi oleh pagar besi. Jika berdasarkan ukuran, maka besar arena pertarungan itu 3 kali lipat dari arena pertarungan UFC yang biasanya.


Sudah banyak tamu VIP bertopeng putih duduk di tempat mereka masing-masing. Chelsea dan Leon duduk di kursi paling belakang, ditemani oleh Foxy yang justru duduk di tengah-tengah mereka.


"Hei, kenapa kau duduk di sini?" tanya Leon seakan tersinggung. Dia tidak terima dengan pengaturan ini karena dia ingin duduk bersebelahan dengan kekasihnya.


"Diamlah dan jangan banyak protes! Ini supaya memudahkan aku bicara nanti! Karena nanti akan sangat berisik, aku tak mau membuang-buang suaraku. Oh ya, aku hampir lupa bilang kalau ada ponsel yang sudah disediakan di samping kursi kalian, di dalam ponsel itu sudah diatur sistem aplikasi khusus untuk taruhan."


Tiba-tiba saja semua lampu menjadi redup, lantas beberapa lampu sorot mengarahkan cahaya terang ke tengah-tengah arena. Di tengah arena itu sudah terdapat seseorang bertopeng yang berperan sebagai pembawa acara.


Pria bertopeng kelinci itu mendekatkan mikrofon ke wajahnya. "Selamat malam para tamu VIP sekalian! Saya, Mr Rabbit! Sebagai salah satu eksekutif di sini dan sebagai pembawa acara yang akan menemani jalannya pertandingan!" ucapnya dalam bahasa inggris. Untuk membuat para tamu yang sebagian besar berasal dari luar negeri ini paham.

__ADS_1


"Para tamu VIP yang terhormat, mari kita langsung mulai saja! Turnamen Violent Zone! Malam ini akan dilangsungkan babak penyisihan dari setiap grup. Dan turnamen kali ini dibagi menjadi 4 grup! Masing-masing grup berisikan 10 orang petarung. Dan hanya 3 petarung yang akan dapat maju ke babak selanjutnya! Sesuai urutan, maka Grup A yang akan tampil terlebih dulu!"


"Para tamu VIP yang terhormat, silakan lihat ke arah layar besar! Di sana akan ditampilkan seluruh biodata lengkap para petarung!"


"Tidak berlama-lama, mari kita sambut peserta petarung pertama dari Grup A! Wren Carter! Pelaku pembakaran yang menewaskan 43 orang!"


Seketika muncul seorang pria berbadan kekar, memasuki area pertarungan dengan tanpa memakai pakaian yang layak. Dia hanya tampak memakai celana lusuh dengan kedua tangan yang dipasangi borgol. Dan sesaat berikutnya, di layar besar muncul segala informasi mengenai orang itu.


"3 miliar?" gumam Leon begitu menyadari jumlah taruhan yang tertera di layar.


Mr Rabbit kembali bersuara, "Bagaimana para tamu VIP? Jika ada yang tertarik jangan lupa bertaruh dan tekan tombol hijau di aplikasi Anda masing-masing! Jika tidak tertarik, silakan Anda tunggu petarung selanjutnya! Ingat, ini masih babak penyisihan! Para tamu VIP bebas ingin bertaruh pada siapa pun, maksimal 2 orang pada setiap grup! Pikirkan baik-baik, jangan sampai menyesal~"


"Foxy, apa ini? Apakah maksudnya kita harus bertaruh 3 miliar pada orang itu?" tanya Chelsea.


"Iya, itu jumlah uang yang harus kau keluarkan untuk bertaruh padanya. Jika petarung yang kau pilih kalah, maka uangmu hilang, jika petarung pilihanmu menang, maka uangmu akan dilipat gandakan. Tapi sebaiknya kau jangan tekan tombol hijau yang ada di dalam aplikasi itu. Kau tak akan sanggup untuk membayar taruhannya," ucap Foxy yang pada akhirnya bermaksud menghina.


"Humph, kalaupun aku punya uang, aku juga tidak tertarik datang kemari!" balas Chelsea dengan nada ketus.


"Selanjutnya peserta kedua, Jayne Steve! Pembunuh berantai yang telah membunuh 7 orang, serta pencabulan anak di bawah umur!" seru Mr Rabbit dalam bahasa Inggris. Dan sejumlah tamu VIP terlihat makin bersemangat begitu melihat sosok petarung yang baru saja muncul.


"6,5 miliar," gumam Leon ketika melihat biodata dan taruhan di layar besar. "Hei, apa semakin bejat kelakuan seseorang maka nilai taruhannya juga makin besar?" tanyanya pada Foxy.


"Ya, begitulah ...." jawabnya singkat.


Mr Rabbit melanjutkan memperkenalkan para petarung satu per satu. Hingga seluruh petarung dari Grup A telah lengkap, borgol yang mengunci tangan mereka dilepaskan. Mr Rabbit keluar dari arena, pertarungan berdarah pun dimulai.


Semua petarung itu tampak beringas, saling menghajar dan melukai satu sama lain tanpa pandang bulu. Darah mengalir keluar dari tubuh yang terluka, bahkan yang paling lemah dari mereka, sudah tewas dan terinjak-injak di tengah pertarungan brutal antara petarung yang lain.


"...." Chelsea tak bisa berkata-kata. Semakin lama dia melihat Violent Zone ini, dia semakin merasa mual.


Apakah ini yang disebut Violent Zone? Tapi ini sama sekali tidak manusiawi! Bagaimana bisa mereka memperlakukan manusia seperti ini? Aku kira hanya bertarung sewajarnya saja sampai ada yang kalah atau menyerah. Tapi orang-orang ini, mereka tidak kau berhenti sebelum mati. Pertarungan ini sungguh gila, sebenarnya apa yang para petarung yang punya catatan kriminal itu perebutkan?


Dan apa pula para VIP ini? Kenapa mereka bisa terhibur dengan menyaksikan hal semacam ini? Apa ada semacam kelainan di diri mereka? Aku sungguh tak tahu harus berbuat apa. Aku sungguh bingung sekarang, jika ini benar Violent Zone yang pernah dikelola oleh mendiang kak Liam, apakah artinya kakak yang menjadi asal muasal dari semua aturan ini?


Tapi ... aku tidak bisa menyimpulkan begitu saja. Selama ini kak Liam yang aku kenal adalah orang yang baik. Meskipun dia terlibat hal-hal semacam ini, tidak mungkin dia akan menjadi begitu kejam. Bisa saja ini cuma salah satu rencana Nisa untuk membuatku goyah dalam balas dendam.


"...." Di sisi lain Leon juga tak terlalu tertarik untuk menyaksikan ini semua. Yang ada di pikirannya adalah melakukan tugas dari ketua dan melindungi Chelsea semampu yang dia bisa. Sekilas dia melihat ke arah Chelsea, dia tahu jika kekasihnya ini tak nyaman untuk berlama-lama berada di sini.


"Hei, bisakah kau membawa kami ke tempat lain?" tanya Leon pada Foxy.


"Kenapa buru-buru pergi? Ini baru permulaan, lihatlah, baru 2 orang yang tumbang. Apa kau sudah bosan?" tanya Foxy yang sebenarnya sudah malas untuk meladeni Leon.


"Iya, kami bosan! Ini tidak ada bedanya dengan pertarungan hidup dan mati. Kami sudah melalui saat-saat seperti ini ketika bertugas. Rasanya memang membosankan kalau cuma menonton saja!" celetuk Chelsea yang menguatkan perkataan Leon. Dia berbicara tentang sembarang alasan supaya bisa pergi secepatnya dari tempat ini.


"Haiss ... baiklah, kalian berdua ini memang merepotkan. Padahal tadi siang begitu ingin sekali aku ajak kemari, tapi setelah di sini kalian justru rewel seperti anak kecil."


Foxy lantas berdiri dan melangkah menuju pintu keluar. "Ayo, ikuti aku!"


Leon dan Chelsea mengangguk, mereka beranjak dari kursi dan mengikuti Foxy berjalan, membawa mereka ke tempat yang baru.


"Kau mau membawa kami ke mana?" tanya Leon penasaran.

__ADS_1


"Hehe, tidak ke mana-mana dan tidak jauh-jauh. Kita cuma akan pergi ke ... tempat para petarung dikurung!"


"Apa?!" Leon dan Chelsea terperangah.


__ADS_2